The Way Love

The Way Love
LXVII


__ADS_3

Hujan deras menyelimuti kota. Bahkan bulan dan bintang tidak bisa terlihat karena terlalu deras. Hawa dingin juga sangat menusuk, membuat setiap orang lebih senang mengurung diri didalam rumah.


Jendela kamar Sya terbuka. Membuat beberapa tetes air masuk kedalam kamar karena terbawa angin. Sya menikmati hal itu, setidaknya dia bisa merasa lebih tenang karena hujan yang menemaninya.


Suasana hati Sya masih saja hancur. Tadi siang sudah diputuskan bahwa hubungannya dengan Arda telah berakhir. Perasaan cinta kini harus perlahan dikubur, atau Sya akan terus terluka karena hal itu.


Ruka hanya bisa menatap Sya dari arah pintu. Dia tahu apa yang dirasakan oleh adiknya saat ini. Dia pasti merasa sangat terluka. Jika bukan karenannya, mungkin perceraian itu tidak akan terjadi.


Alasan Ruka tetap memisahkan Arda dan Sya bukan karena tidak ingin mereka bersatu. Dia hanya ingin Arda dan Sya sama-sama belajar tentang apa cinta dan hubungan pernikahan.


"Sya. Tidurlah, ini sudah malam. Besok pagi kau sudah harus pergi dari sini."


Sya menutup jendela. Ruka mendekat dan memberikan sebuah handuk untuk mengeringkan tubuhnya. Dalam air hujan diwajah Sya, disana juga ada derai air mata.


"Aku sudah pesankan tiket untukmu dan Mira. Selama disana kau bisa tinggal dirumah yang aku sediakan. Mira akan selalu menemanimu."


"Kak. Kenapa juga aku harus pergi. Aku tidak apa-apa."


Ruka tersenyum. Dia mendekat dan memeluk Sya dengan lembut.


"Jika kau tetap disini. Kau pasti akan selalu ingat dengan masa lalumu."


Sya menghela nafas. Matanya menerawang jauh.


"Ganti pakaianmu dan tidur. Aku juga akan kembali kekamarku."


"Ya."


Kini pakaian Sya sudah diganti. Dia berbaring dengan ponsel ditangannya. Beberapa pesan dan panggilan tidak terjawab muncul. Semua dari Arda. Hanya maaf yang dia tulis dan beberapa alasan.


Tidak dipungkiri lagi, sampai saat ini Sya maaih memiliki rasa itu. Rasa yang dulu bahkan seperti tidak mungkin ada. Kini, rasa itu harus dikubur karena alasan yang menyakitkan.


Tidak ingin larut dalam kesedihan. Sya memilih untuk mematikan ponselnya. Dia meletakannya diatas nakas. Lalu, dia mengambil sebuah buku untuk menemaninya malam itu.


***


Arda terus saja menekan bel dan menggedor pintu rumah Ruka. Pagi ini dia bertekad untuk membawa Sya kembali. Apapun yang terjadi.


Belum ada yang membuka pintu itu. Arda kembali menekan bel dan menggedor pintu. Sampai seorang pelayan membukakan pintu rumah itu.


"Dimana Ruka?" Tanya Arda.

__ADS_1


"Tuan Ruka baru saja pergi," kata pelayan itu.


Arda menghela nafas lega, lalu dia bertanya. "Dimana Sya. Cepat panggilkan untukku."


"Nona Sya baru saja pergi. Dia pergi bersama dengan Tuan Ruka."


"Apa kau tahu kemana mereka pergi?"


"Saya mendengar jika mereka akan kebandara. Untuk mengantar Nona Sya."


Mendengar hal itu. Arda masuk kembali kedalam mobil. Dia melajukan mobilnya dengan begitu cepat. Bahkan dia tidak peduli dengan lampu merah.


Sampai saat menerobos lampu merah yang kedua. Sebuah truck sedang melintas dengan kecepatan tinggi. Lalu, Brak. Terjadilah kecelakaan yang tidak bisa terhindarkan lagi.


Sementara itu. Sya dan Ruka sudah sampai dibandara. Mereka sudah siap untuk pergi, tapi tidak dengan Ruka. Sya pergi didampingi oleh Mira.


Beberapa orang sudah mulai membahas tentang kecelakaan yang terjadi. Hanya saja Ruka dan Sya tidak peduli. Mungkin karena mereka tidak tahu siapa yang mengalaminya.


"Hati-hati dijalan. Jika sudah sampai kabari aku secepatnya," kata Ruka.


"Tentu."


Sya memeluk Ruka sebelum dia pergi. Dia sudah mengatakan pada Eri tentang kakaknya. Jadi, Sya tidak perlu khawatir lagi dengan kakaknya itu. Sya sangat berharap hubungan Eri dan Ruka bisa terjalin.


"Siap, Tuan."


Mereka berpisah. Setelah Sya tidak terlihat. Ruka masuk kedalam mobil. Dia melajukan mobilnya dengan sangat tenang. Sampai sebuah telfon masuk dari kantornya.


Ruka mengangkat telfon itu. Dia mengira jika dikantor sedang ada masalah. Ternyata tidak, dia mendapat kabar atas kecelakaan yang menimpa Arda.


Awalnya Ruka mencoba acuh, tapi mengingat kedekatan mereka sebelum ini. Ruka merasa tidak tega, dia akhirnya tancap gas menuju kerumah sakit. Dia berharap Arda baik-baik saja.


Ruka datang bukan sebagai kakak ipar atau mantan kakak iparnya. Dia datang dan menjenguk sebagai teman yang sudah lama dekat.


"Semoga saja Sya tidak mendengar kabar ini," lirih Arda.


Ya. Jika Sya tahu tentang hal ini, mungkin dia akan mengurungkan niatnya untuk pergi. Apa lagi, rasa cinta itu masih sangat jelas bagi Sya.


***


Sampai dikota D, Sya disuguhi pemandangan yang sangat indah. Bahkan, baru kali ini Sya berkunjung ke kota itu.

__ADS_1


Mira memasukan barang-barang kedalam mobil yang memany disediakan untuk menjemput mereka. Ya, kali ini Sya akan tinggal disebuah hotel milik Ruka.


Awalnya Ruka berniat untuk membawa Sya kerumahnya. Hanya saja disana tidak ada keamanan yang kuat. Jadi, Sya diminta tinggal dihotel. Sekaligus melihat dan memimpin hotel itu selama tidak ada Ruka.


"Nona, semuanya sudah siap."


"Ya."


Mira dan Sya masuk kedalam mobil. Perlahan mobil itu mulai berjalan meninggalkan bandara. Pemandangan kota itu masih terlihat asri. Walau banyak gedung pencakar langit disana.


Banyak pohon dan bunga-bunga yang tumbuh disamping jalan. Jadi, para pengunjung tidak akan bosan jika berlama-lama dijalan.


"Apa disana ada yang meminpin. Maksudku, selain Kak Ruka."


"Disana ada wakil dari Tuan Ruka. Namanya, Lufas."


Sya mengangguk-anggukan kepalanya. Setidaknya Sya tidak akan merasa bosan karena tidak ada teman. Dia akan mencari teman dan belajar mengelola sebuah hotel.


Karena tidak ada yang dilakukan. Sya iseng membuka ponselnya. Banyak pesan dan juga pemberitahuan dari akun media sosialnya. Banyak yang menyebut dirinya disana.


Sya membuka itu. Kali ini mata Sya tidak bisa berkedip. Dia hanya bisa menahan dirinya agar tidak berteriak karena berita itu. Akhirnya Sya memutuskan menelfon Ruka.


"Akhirnya kau menelfonku. Apa kau sudah sampai dihotel? Apa hotel itu indah?" Tanya Ruka.


"Aku belum sampai dihotel. Aku masih dijalan."


"Lalu ada apa kau menelfonku?"


"Apa benar Arda mengalami kecelakaan?" Tanya Sya.


"Ya."


"Apa dia baik-baik saja?"


Ruka tidak ingin Sya kembali fokus pada Arda. Sudah sejauh ini dia membuat Sya dan Arda berpisah. Dia tidak ingin rencana ini gagal begitu saja.


"Kak. Apa Arda baik-baik saja?" Kembali Sya bertanya.


"Kau sudah berjanji untuk melupakannya. Jadi, kau hanya perlu menjadi dirimu dan melupakannya."


Sya mematikan telfon itu. Dia merasa sangat menyesal karena tidak menemui Arda lebih dulu. Jika saja dia bisa bertemu untuk yang terakhir kalinya.

__ADS_1


Apa yang dilakukan Ruka pada Sya membuat Sya harus berjuang. Berjuang melawan raza rindu dan cinta. Sya harus belajar melupakan, walau itu sangat menyakitkan.


***


__ADS_2