The Way Love

The Way Love
CXXXVI


__ADS_3

Langkah kaki Sya begitu buru-buru. Dia masuk ke gang kecil dan jarang dilewati orang. Sya juga mencoba menghindar dari kerumunan. Dia tidak ingin ada yang mengenali wajahnya.


Berita tentang skandal itu langsung menyebar luas. Sya tidak bisa menghindarinya. Saat ini, Sya hanya perlu untuk bersembunyi dari para wartawan.


Keluar dari gang dan berbelok sedikit Sya akan sampai di rumahnya. Hanya saja niatnya untuk kembali harus diundur. Para wartawan sudah menunggu di depan rumah. Padahal selama ini tidak ada yang tahu tentang kehidupan Sya.


Sya menghela nafas dan berhenti di gang. Saat ini dia harus kembali untuk berganti pakaian. Danendra sudah menunggunya di rumah sakit. Sya tidak mau jika anaknya menunggu terlalu lama.


Sebuah tangan menarik Sya ke dalam jalan sempit. Sya melepaskan tangannya dan melihat siapa yang sedang mencoba membawanya.


"Bi Sali."


"Ya, Bu. Ada jalan sempit ini untuk ke rumah kita. Ayo," Bi Sali kembali menarik Sya.


Kali ini Sya tidak menolak. Tidak berapa lama mereka sampai di taman belakang rumah. Sya masuk. Semua jendela rumah dan pintu tertutup.


"Saya mengira dengan cara seperti ini mereka akan pergi," kata Bi Sali.


"Aku berharap mereka juga pergi."


Bi Sali mencoba melihat kearah luar. Wartawan semakin bertambah.


"Bi. Aku akan mandi dan langsung kembali ke rumah sakit."


"Bagaimana keadaan Nendra, Bu?"


Pertanyaan itu membuat Sya ingat dengan kondisi Danendra saat ini. Wajah Sya berubah menjadi sedih. Bi Sali tahu, keadaan Danendra belum membaik.


"Saya akan buatkan makanan kesukaan Nendra. Tolong nanti diberikan padanya," ucap Bi Sali.


"Ya."


Sya masuk ke kamarnya. Dia mandi dan kembali bersiap untuk ke rumah sakit. Pemberitahuan di ponselnya masih berbunyi. Banyak artikel muncul dan terus membenarkan skandal itu.


Sya tidak tahu siapa yang mengirim artikel dan yang membuat skandal itu. Sya tahu, dia dan Mike memang dekat, tapi bukan untuk hal lain. Mereka hanya berteman.


'Kau bisa jelaskan ini pada semua orang?'


Pesan itu Sya kirim pada Mike.


'Ya. Kau tenang saja, aku akan mengurus semuanya.'


'Terima kasih.'


Tok tok tok.


Sya membuka pintu kamar. Bi Sali tersenyum.


"Ada apa Bi?"


"Tuan Lufas sudah menunggu di taman belakang."


"Untuk apa dia datang kesini?"


"Ingin bertemu dengan Anda."


Mengingat saat ini banyak wartawan yang mengincarnya. Sya memilih untuk bertemu dengan Lufas.


"Apa benar yang dikatakan di berita?" Pertanyaan itu langsung dilontarkan Lufas saat Sya datang.


"Fas. Aku mau dekat dengan Mike atau tidak, itu bukan urusanmu lagi."


"Kau masih istriku. Aku tidak suka dengan semua berita ini."

__ADS_1


"Kita tidak ada hubungan lagi. Paham. Kau jelaskan saja pada mereka."


Marah. Lufas mendekat dan langsung memeluk Sya. Bahkan dia juga mencium Sya dengan begitu kuat. Sya terus berontak, beberapa detik kemudian Lufas menghentikan ciuman itu.


"Kau sudah gila." Ucap Sya dengan keras.


"Sya. Kembalilah padaku."


"Tidak."


"Untuk Nendra."


"Jangan membawanya untuk alasan ini."


"Ini yang dia mau," kata Lufas kemudian.


Sya diam. Dia menatap pada Lufas, tatapan itu bukanlah tatapan penuh cinta. Kini hanya ada tatapan benci pada Lufas.


"Jangan paksakan kehendakmu. Aku sudah putuskan. Aku tidak mau kembali lagi padamu."


Kali ini Lufas membalas tatapan Sya dengan ejekan.


"Apa kau mau jadi janda untuk ke dua kalinya? Kau pasti akan selalu dicemooh dan dihina."


"Aku tidak peduli."


Sya masuk dan mengambil makanan yang Bi Sali buat. Setelah itu dia keluar untuk kembali ke rumah sakit.


Lufas memukul meja dengan keras. Dia sudah tidak memiliki cara lagi untuk mendekat pada Sya.


"Dengan cara apa lagi agar kau mau kembali," lirih Lufas.


***


Ini sudah kali keberapa perawat datang dan akan menyuapi Danendra. Dia selalu menolak dan terus meminta Sya datang.


Perawat itu hampir marah saat Sya membuka pintu. Wajah perawat itu kembali terlihat cerah. Sya mendekat dan bertanya, "Apa Nendra mau makan?"


Perawat itu menggeleng. "Dia hanya menginginkanmu."


"Terima kasih sudah menjaganya."


Sya tersenyum.


"Apa Mama datang dengan Papa?"


"Tidak."


"Bukankah Papa menjemput Mama?"


Ada gurat kecewa di wajah Danendra. Sya mendekat dan membelai wajah anaknya itu.


"Papa mungkin sedang sibuk. Kamu jangan meminta hal yang aneh. Sekarang makan ya, Mama akan menyuapimu."


"Apa Mama dan Papa selalu marahan. Kalian tidak pernah bersama?" Pertanyaan itu berhasil membuat Sya kebingungan.


"Sayang, Mama dan Papa...."


"Mama dan Papa baik-baik saja. Papa hanya menyelesaikan pekerjaan, jadi tidak bisa dengan Mama."


Lufas datang dan langsung merangkul Sya. Dengan pelan dan tidak ingin terlalu mencolok Sya melepas rangkulan itu.


"Sekarang kamu makan. Mama dan Papa kan sudah disini."

__ADS_1


Danendra akhirnya mau makan. Dengan penuh perhatian Sya menyuapi makanan yang dibuatkan oleh Bi Sali. Sesekali Sya dan Danendra bergurau, Lufas hanya memperhatikan mereka. Dia tidak ingin mengganggu tawa lepas Sya.


"Ma."


"Ya."


"Semua temanku memiliki adik. Kapan aku akan memilikinya?"


Sya tersedak. Dia langsung batuk-batuk mendengar penuturan anaknya itu. Mana mungkin Sya membuatkan adik untuk Danendra. Itu tidaklah mudah.


"Papa akan buatkan, asal Mamamu setuju."


Sya menoleh pada Lufas dan menggeleng. Bagaimana bisa dia langsung setuju tanpa memikirkan akhirnya.


"Lufas. Mama keluar sebentar ya. Ada urusan."


"Ya."


Dengan langkah kaki cepat Sya langsung melewati Lufas. Tanpa menatap ataupun melirik. Lufas sedikit tertawa geli melihat tingkah laku Sya.


Danendra terlelap karena pengaruh obat yang dia minum. Lufas mengecup keningnya dan pergi. Saat keluar, Lufas melihat Sya yang sedang duduk sendirian di kursi tunggu.


"Apa kamu mau membuatkan adik untuk Nendra?" Tanya Lufas tanpa ragu.


"Kamu gila?"


"Aku serius. Saat ini, Nendra butuh teman."


"Diam. Kamu bisa pergi jika kau mau. Jangan ganggu aku."


"Nendra ingin adik."


"Kau saja yang memberikannya. Aku tidak bisa."


Sya kembali masuk. Kali ini Sya mengunci pintunya dari dalam. Dia tidak ingin Lufas kembali masuk dan memancing emosinya. Meski Sya menghindar, Lufas tetap saja datang dan mengejarnya.


***


'Aku dengar anakmu sakit. Di rumah sakit mana?'


'Di rumah sakit pusat. Bagaimana kau bisa tahu?'


'Bi Sali yang mengatakannya. Aku akan datang kesana.'


'Tidak perlu. Merepotkanmu nanti.'


'Aku tidak merasa direpotkan.'


'Jika begitu. Terserah padamu.'


Itulah cuplikan pesan dari Mike dan Sya. Setelah itu Sya meletakan ponselnya. Sudah saatnya Danendra untuk minum obat. Dengan telaten Sya membantu Danendra untuk minum obatnya.


Tidak lama Mike datang. Dia masuk ke ruangan dengan topeng super hero. Wajah Danendra terlihat ceria dan bahagia.


"Om bawakan mainan untukmu. Ayo terima," Mike memberikan sebuah mainan. Satu set mainan super hero.


"Terima kasih Om." Ucap Danendra.


"Terima kasih sudah datang Mike," kata Sya.


Mike tersenyum pada Sya.


Sementara Danedra sibuk dengan mainanya. Sya dan Mike duduk di sofa. Mereka membicarakan skandal yang sedang terjadi. Mike sudah berhasil membuat para wartawan diam. Bahkan berita itu tidak lagi terdengar heboh.

__ADS_1


Saat ini Sya hanya ingin Danendra sembuh. Dia tidak ingin membahas percintaan apa lagi tentang skandal perselingkuhan.


__ADS_2