The Way Love

The Way Love
LXXVI


__ADS_3

Ruangan itu terlihat seperti ruang kerja pada umumnya. Yang membuat berbeda adalah sang penghuni ruangan itu. Pria yang duduk dengan tatapan yang tertuju pada sebuah foto.


Foto seorang wanita dengan rambut pendek berwarna pirang. Sorot mata wanita itu membuat si pria merasa gagal dan kembali terluka.


Ya, siapa lagi jika bukan Lufas. Sampai saat ini dia belum bisa melupakan istrinya itu. Walau ada kemiripan pada Sya, bukan berarti cintanya juga mirip. Dia hanya ingin melindungi Sya.


Lufas mungkin setuju dengan pertunangan yang akan dilakukannya dengan Sya. Hanya saja Lufas tahu, Sya pasti akan menolak hal itu. Sya hanya mencintai seorang pria, yaitu Arda.


Pintu ruangan itu tiba-tiba saja terbuka. Seorang wanita dengan rambut hitam panjang masuk. Bukan tidak lain adalah Sya. Dia sengaja ingin menemui Lufas.


"Apa ada masalah?" Tanya Lufas yang langsyng berdiri dari tempatnya duduk.


Sya tidak menjawab. Dia duduk di sebuah sofa yang berada di ruangan itu.


"Sya. Apa ada sesuatu?"


"Apa kau setuju dengan perjodohan kita?" Tanya Sya yang hanya menatap lantai ruangan itu.


Lufas duduk di sofa single dekat Sya. Lalu dia menggeleng.


"Benar. Kita sama-sama tidak saling cinta. Jadi, tidak ada alasan untuk kita bertunangan apa lagi menikah," kata Sya dengan senyuman.


"Apa kau sudah mengatakannya pada Ruka? Apa dia setuju?"


Sya menghela nafas panjang. "Kau tahu. Aku kesini meminta bantuanmu. Aku ingin kau mengatakan pada Kak Ruka jika kita tidak mungkin bersama."


"Aku sudah mengatakannya. Namun, dia bersikeras. Aku kira, kau yang mampu untuk melakukannya."


Kini mereka hanya diam. Tidak ada kata lagi. Mereka sedang memikirkan hal yang sama, namun berbeda.


"Aku akan pikirkan lagi alasan untuk ini. Setidaknya aku sudah tahu kau juga tidak menginginkan hal ini," kata Sya.


"Ya."


"Aku pergi ke kamarku dulu."


"Baiklah."


Dengan menggunakan lift Sya menuju ke kamarnya. Sampai saat Arda masuk dari lantai yang sama dengan Sya. Mata Sya dan Arda bertemu saat itu juga, hal itu membuat Sya mencoba mengalihkan perhatiannya.


"Sya." Panggil Arda.


Sya tidak menjawab dan pura-pura melihat kearah ponsel.


"Aku mohon Sya. Jelaskan apa yang terjadi padaku."


Sya masih saja diam. Dia tidak ingin berada di lift itu bersama Arda. Apa lagi hanya berdua, pertahanan Sya bisa hancur saat itu juga.

__ADS_1


"Apa aku sudah melukaimu dimasa lalu?"


Kali ini Sya menoleh. "Aku tidak peduli dengan masa lalu. Selamat tinggal," kata Sya sembari melenggang pergi dari dalam lift.


"Tunggu Sya. Setidaknya jelaskan dulu padaku," kata Arda yang masih saja mengejar Sya.


"Jangan ikuti aku lagi."


Kali ini Arda melepaskan pegangannya pada tas dan menarik tangan Sya mendekat. Mata mereka saling menatap. Mengatakan makna yang tersirat.


"Sayang. Kau sudah kembali?"


Arda mendorong Sya dengan begitu keras. Baru saja Sya merasakan kenyamanan yang dirindukan kembali. Kini dia harus kembali ke dalam kenyataan.


"Kenapa kau bersamanya?" Tanya Aila.


"Aku sedang memberi tahunya. Mengejar pria yang tidak mencintainya itu salah."


"Maksudmu?" Tanya Aila lagi. Sementara Sya hanya menatap pada mereka berdua.


"Aku baru saja melihatnya keluar dari ruangan Lufas. Kau tahu, Lufas adalah anak buah Ruka."


Aila tertawa sembari menatap Sya dengan tatapan mengerikan.


"Apa kali ini kau memilih pria rendahan? Mungkin karena pria kaya yang sudah tidak ingin mengenalmu."


"Benarkah kau bahagia?" ejek Arda.


Sya menelan salivanya. "Ya. Aku bahagia karena aku akan bertunangan dengan Lufas."


Kali ini Aila dan Arda sama-sama menatap tidak percaya pada Sya. Setelah itu Aila tertawa dengan begitu kencangnya, namun tidak dengan Arda. Dia lebih terlihat kecewa dari pada mengejek Sya.


"Sya. Kau harus sadar, kau itu tidak pantas untuk semua pria. Kau itu pelakor. Apa kurang jelas, PE-LA-KOR."


Sya tersenyum. "Jika aku adalah pelakor. Kenapa kau malah senang. Seharusnya kau takut."


"Takut?" Tanya Aila.


"Ya, karena aku bisa merebut dia kapanpun aku mau. Paham?" kata Sya sembari menunjuk pada Arda.


Tidak ingin ada hal yang membuat Arda mengingat masa lalu. Akhirnya Aila mengajak Arda untuk pergi dari sana. Ya, mereka masuk kedalam kamar mereka.


Sementara Sya hanya diam. Dia tidak tahu apa yang baru saja dia katakan. Seharusnya yang dicap seorang pelakor bukan dirinya, tapi Aila. Ya, Aila lah yang sudah merebut Arda darinya. Dia juga membuat Jovi dan Mila bercerai.


Kini semua cap itu disandangkan pada Sya. Untuk sesaat Sya mengira Arda sudah mulai mengingatnya lagi. Sya hampir memiliki harapan, sampai perlakuan Arda kembali mengejeknya saat bersama Aila.


***

__ADS_1


Arda terlihat begitu marah sampai dia menancap gas tanpa ampun. Ya, dia merasa kesal dengan apa yang dikatakan oleh Sya. Dia akan bertunangan dengan Lufas. Yang sudah jelas Arda lebih memiliki segalanya dari Lufas.


Ingatan Arda memang belum pulih sepenuhnya. Hanya saja, bayangan Sya dari masa lalu beberapa kali hadir. Hadir saat dia tidak meminum obat yang diberikan oleh Aila. Hal itulah yang membuat Arda mulai merasa curiga pada Aila.


Sampai disebuah rumah dengan cat warna hijau muda. Arda menghentikan mobilnya, dia langsung masuk.


"Kau sudah datang?" Tanya Ruka pada Arda.


"Kau disini?" Tanya Arda kaget saat melihatnya berada di rumah dokter yang menanganinya.


"Ya. Aku sengaja menemuimu disini agar Sya tidak tahu."


Arda masuk dan langsung duduk. Disana tidak ada dokter, hanya ada Ruka.


"Apa maumu sebenarnya Arda? Aku sudah membantumu, kenapa kau masih ingin menghianatiku."


Arda menggebrak meja. "Aku masih mencintainya Ruka. Kenapa kau melakukan hal ini padaku."


"Aku membantumu karena kau temanku. Hanya saja, aku tidak ingin kau kembali menyakiti Sya. Jadi, lebih baik kau tidak kesini lagi. Lupakan semuanya."


"Ruka. Beri aku kesempatan."


"Kita masih berteman."


Selama ini memang Ruka yang mencarikan dokter untuk Arda. Niat Ruka hanya ingin Arda mengingat siapa Aila. Ruka baru sadar jika Arda kembali mengejar Sya saat mulai ingat masa lalu.


Hal itulah yang membuat Ruka meminta Arda untuk berhenti berobat. Dia tidak ingin, Sya kembali berharap pada Arda. Jika sampai itu terjadi, Sya pasti akan menolak Lufas.


"Dokter. Lanjutkan pengobatan ini. Aku akan bayar berapapun," kata Arda.


"Maaf. Aku tidak bisa melakukannya. Jika aku melakuannya, Tuan Ruka akan mengambil lisensi kedokteranku. Bahkan, aku tidak bisa membuka praktek lagi."


Arda menggeleng dengan cepat. Dia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Hanya dokter itu yang bisa memberikan obat agar dirinya lebih baik lagi.


Melihat Arda begitu putus asa. Dokter itu mengeluarkan sebuah kartu nama dan memberikannya pada Arda.


"Dia adalah guruku. Jadi, dia bisa menanganimu lebih baik."


"Terima kasih," ucap Arda sembari menerima kartu nama itu.


"Jangan katakan pada siapapun," kata Dokter itu.


"Ya. Aku janji padamu."


Setelah itu Arda langsung pergi dari sana. Dia hanya ingin ingat masa lalu. Kesalahan apa yang dia lakukan sampai Ruka tidak memberikannya kesempatan.


***

__ADS_1


__ADS_2