The Way Love

The Way Love
LVII


__ADS_3

Matahari sudah mulai tinggi. Cahayanya pun sudah terpancar dengan teriknya. Banyak orang yang sudah memulai aktivitasnya.


Seperti pagi ini. Sya bangun dengan ditemani ponsel yang berdering. Semalam dia tidak bisa tidur. Dia merasa gelisah. Bayangan Arda terus datang menghantui.


Sempat beberapa kali dia ingin mengirim pesan karena rasa rindunya. Perkataan Ruka membuat niat itu Sya urungkan begitu saja. Dia takut jika Arda tidak mau menerima anak itu.


"Hallo," ucap Sya dengan suara khas orang bangun tidur.


"Apa kau masih tidur. Sejak pagi aku sangat sibuk."


Sya menjauhkan ponsel dari telinganya. Lalu dia melihat nama yang tertera dilayar ponsel. Eri.


"Apa kau tidak ingin membantuku? Aku sangat butuh bantuan," teriak Eri.


"Ya. Ya, aku akan datang sebentar lagi."


"Cepatlah atau akan kututup usahamu ini."


"Iya. Iya."


Tangan Sya menekan sebuah tombol yang mengahiri percakapan itu. Dia mulai menyibakkan selimut dan bangun dari tidurnya. Dia membuka korden, suasana diluar sana sangatlah cerah.


"Ternyata memang sudah siang," lirih Sya.


Baju tidur yang dia kenakan membuatnya tidur sangat nyenyak semalam. Walau begitu, pagi ini dia harus tetap ke cafe. Jika tidak, Eri pasti akan kembali berteriak padanya.


Selesai mandi Sya melihat sarapan yang berada diatas meja. Dalam rumah itu, dia begitu diperhatikan. Bahkan, makanan yang dia makan juga penuh dengan nutrisi.


Jika saja dirumahnya sendiri dia diperhatikan. Sya sadar, tidak mungkin dia mendapatkan hal itu dirumahnya. Disana ada istri lain yang juga perlu diperhatikan dan dicintai.


Mengingat hal itu, bayangan Arda dan Aila datang kepelupuk mata Sya. Sya membayangkan jika Arda dan Aila sedang bermesraan. Hal itu memicu rasa cemburu dan amarahnya keluar.


"Sya."


Sya menoleh dan melihat Ruka sudah ada disampingnya. Sya tersenyum melihat kakaknya sudah duduk dengan manis.


"Kau sedang memikirkan apa? Apa ada masalah disini?"


Sya menggeleng dengan cepat. "Tidak, Kak. Aku senang disini. Hanya saja, aku teringat dengan Arda."


"Tahan sedikit rasa rindumu itu. Cepat atau lambat dia akan datang menjemputmu."


"Bukankah kakak melarangnya datang?"


Ruka mengangguk. "Aku hanya ingin dia tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kau tidak mau kan terjadi sesuatu pada kandunganmu."


Kali ini Sya hanya bisa diam. Apa yang dikatakan kakaknya benar. Dia harus bersabar sampai saatnya tiba.


"Aku pasti akan sangat merepotkanmu," ucap Sya.


Ruka mengacak rambut Sya. "Kau adikku. Sudah sewajarnya aku melakukan hal ini."


Sya hanya bisa tertawa saat ini. Kakaknya masih sama saja. Dia begitu perhatian dan selalu menganggap Sya sebagai anak kecil.

__ADS_1


Mata Ruka melihat baju yang dipakai Sya. Dia tahu jika adiknya pasti akan pergi kesuatu tempat. Dia memilih diam dan menunggu Sya mengatakannya.


"Kak. Aku mau ke cafe. Bolehkan?"


"Mau apa?"


"Kakak tahu, Eri disana hanya sendiri. Dia kesusahan. Aku juga butuh jalan-jalan."


"Baiklah, tapi jangan sampai kelelahan. Kau harus ingat dengan kandunganmu."


Sya mengangguk. Lalu sebuah telfon masuk ke ponsel Ruka. Hal itu membuat pagi mereka selesai. Ruka harus segera ke kantor, sementara Sya harus segera ke cafe.


***


Ruang kerja Arda terlihat seperti biasa. Hanya saja, ada seseorang yang duduk dengan tatapan tajam. Pria itu sedang menunggu Arda selesai membersihkan diri.


Setelah Arda keluar. Arda tersenyum melihat siapa yang datang. Dia sangat berharap jika ada kabar baik yang diberikan pria itu padanya.


"Bagaimana?" tanya Arda langsung.


"Maaf, Pak. Saksi yang kami mintai keterangan, tadi malam dia menghilang dari tempat tinggalnya."


"Apa maksudmu?"


"Kami sedang menyelidiki hal ini, Pak."


"Kalau begitu lakukan secepatnya. Aku butuh kebenaran itu."


"Siap Pak."


Buk. Arda bahkan memukul meja dengan begitu keras. Jika kebenaran foto itu belum juga muncul. Dia masih harus menahan rasa rindunya pada Sya. Walau rasa marah kembali muncul jika mengingat apa yang dikatakan Jovi padanya.


"Arda. Aku bawakan sarapan untukmu." Aila masuk tanpa permisi keruangan Arda.


Arda hanya meliriknya, tidak berkata sepatah katapun.


"Apa dia karyawanmu? Aku baru pertama kali melihatnya."


"Bukan urusanmu. Jika sudah tidak ada yang dibicarakan. Kau bisa pergi."


Aila masih diam ditempat. Dia meletakan nampan keatas meja. Lalu duduk di sofa, hal itu membuat Arda menoleh padanya.


"Ada apa lagi? Apa kau butuh uang?"


Aila menggeleng.


"Lalu ada apa?"


"Apa kau tidak ingat hari ini?" Tanya Aila.


"Hari ini Rabu."


"Maksudku. Apa kau tidak memiliki hal penting hari ini?"

__ADS_1


Arda mencoba mengingat sesuatu. Lalu dia mengecek sesuatu di laptopnya. Aila berharap Arda ingat dengan janjinya malam itu.


"Ya. Kau benar, aku ada meeting hari ini."


Kali ini Aila merasa kesal. Dia mendekat pada Arda dengan tatapan yang menusuk.


"Kau sudah berjanji akan mengantarkan aku kerumah sakit. Apa kau lupa?"


"Ma...mana mungkin aku lupa. Kau lihat, aku baru saja mandi. Jadi, kau keluar dulu. Aku akan mengantarkan dirimu."


"Baguslah jika kau ingat. Aku akan menunggu dibawah."


Arda mengangguk. Aila pergi dari ruangan itu dengan langkah cepat. Arda memperhatikan langkah Aila. Bagaimana bisa seorang wanita hamil menggunakan sepatu hak yang begitu tinggi. Walau begitu, Arda tidak memikirkannya.


Dia sedang memikirkan cara bagaimana agar bisa bertemu dengan Sya. Walau hanya sebentar. Jika dia menelfonya, Ruka pasti tahu. Jadi, Arda memilih untuk mengirim sebuah pesan singkat pada Sya. Dia berharap Sya tahu isi hatinya saat ini.


***


Langkah Sya terhenti saat sebuah pesan masuk keponselnya. Dia mengira jika itu adalah Eri atau Ruka. Ternyata tidak, pesan itu dikirim oleh Arda. Dengan perasaan senang, Sya membuka pesan itu.


Kata manis membuat Sya melebarkan senyumannya. Bahkan kalimat itu semakin membuat Sya merasakan rindu didalam hatinya.


Tidak ingin membuat masalah. Sya tidak membalas pesan itu. Dia kembali memasukan ponselnya kedalam tas. Lalu dia masuk ke cafe.


Suasana cafe terlihat cukup ramai pagi itu. Eri terlihat sibuk dengan beberapa pelanggan. Seorang koki juga terlihat sibuk di dalam ruangannya.


"Kau sudah datang?" Tanya Eri.


"Baru saja."


"Apa kau sendiri?"


Sya menggeleng. Eri melihat kesekeliling Sya, disana ada seorang wanita dengan rambut sebahu. Memakai pakaian pelayan.


"Siapa?"


"Pelayan pribadiku. Kak Ruka yang memberikannya."


"Dia memang begitu perhatian."


"Apa?"


"Ti...tidak. Apa kau kesini hanya untuk melihat. Bantulah aku," kata Eri yang mencoba mengalihkan pembicaraan.


Mira langsung mendekat. Tanpa disuruh dia berkata, "Maaf. Aku yang akan membantu Nona. Saat ini, Nona Sya tidak boleh sampai kelelahan."


Eri menatap penuh tanya. "Apa maksudmu?"


"Nona Sya sedang hamil muda."


Mendengar jawaban itu Eri menoleh pada Sya. Tidak ingin menyembunyikan hal baik itu. Sya menganggukan kepalanya. Hal itu langsung membuat Eri tersenyum.


Hari ini, Eri sengaja tidak bekerja dicafe. Dia meminta Mira untuk berada di cafe membantu koki. Sementara dirinya membawa Sya pergi jalan-jalan. Tentunya untuk merayakan kabar baik itu.

__ADS_1


***


__ADS_2