
Rasa sakit masih menyelimuti hati dan jiwa Sya. Sampai saat ini dia masih belum percaya dengan semua yang terjadi. Bayang-bayang Lufas masih begitu nyata bagi Sya.
Padahal Sya juga ikut mengantar Lufas ke tempat peristirahatanya yang terakhir. Tangan Sya memegang foto prnikahan yang dia miliki. Ada gurat senyum aat Sya megingat hari itu. Dimana dia masih belu merasakan cinta pada Lufas.
Saat ini, dia begitu mencintainya. Bakan Sya hampir melupakan egonya sendiri. Kini, kekasihnya telah pergi. Tidak akan pernah kembali.
Suara tangisan bayi menggema. Sya sadar dan meletakan foto di tangannya. Dia menghampiri anaknnya yang menangis. Perlahan Sya menggendongnya, dia menimang-nimang anak laki-lakinya hingga kembali terlelap.
"Danendra. Tenanglah sayang," ucap Sya.
Ya. Sya memberi nama anaknya Danendra, tepat di depan makam Lufas. Berharap Lufas juga mendengarnya dan ikut mendo'akan bagi anaknya.
Bel apartemen berbunyi. Sya kembali meletakan Danedra ke tempat tidur dengan perlahan. Lalu dia membuka pintu apartemennya.
Xiu datang dan langsung memeluk Sya. Xiu merasasangat bersalah karena tidak bisa menemani Sya sejak kemarin. Dia baru saja pulang dari perjalanan bisnis.
"Maafkan aku," ucap Xiu.
"Tidak masalah. Apa kau baru saja pulang?"
"Ya. Ben yang mengabariku."
"Masuklah."
Di dalam Sya menceritakan kejadian hari itu. Dia tidak terlalu tahu tentang penyebab kecelakaan yang terjadi pada Lufas. Sampai saat ini Ben yang sedang mengurusnya.
"Lalu apa Ben sudah memberi kabar?"
Sya menggeleng. Kembali anaknya menangis. Sya buru-buru masuk ke kamar dan menggendongnya lagi.
Mata Xiu berkaca-kaca, dia tidak tahu jika Sya sudah melahirkan. Bahkan saat ini Xiu hampir lupa dengan kehamilan itu karena kematian Lufas.
"Anakmu tampan," ujar Xiu.
"Ya. Seperti ayahnya," kata Sya dengan senyuman yang menyedihkan.
"Apa kau sudah memberinya nama?"
"Danendra."
"Bagus. Mulai saat ini, aku akan memanggilnya Nendra, Dia akan menjadi temanmu Sya, yang akan melindungimu."
Sya mengangguk tersenyum. Tidak lama Ben datang ke apartemen. Dia memberikan sebuah laporan yang dia dapat dari seorang polisi. Polisi itu yang saat ini menyelidiki kasus kecelakaan Lufas.
"Rem blong?" lirih Sya.
"Ya. Itulah yang di dapat setelah memeriksa mobil Lufas."
"Bagaimana mungkin bisa remnya rusak. Bukankah saat siang belum terjadi apa-apa. Lufas bahkan masih sempat makan siang denganku."
Xiu, Sya, dan Ben sama-sama diam. Mereka sedang berjalan dipikiran masing-masing. kemudian Xiu menoleh pada Ben, dia menganggukan kepalanya sebagai tanda.
Ben yang tahu maksud itu mencoba menenangkan Sya. Dia berjanji akan menemukan siapa yang sudah merusak mobil Lufas, juga tujuan dia melakukan itu.
"Kamu yang tenang ya," kata Xiu sembari memegang pundak Sya.
Sya mengangguk.
"Kalau begitu aku pergi dulu. Aku akan mengunjungimu lagi nanti," kata Xiu.
"Ben. Tolong antarkan kak Xiu," kata Sya.
"Baik."
Mereka berdua keluar dari apartemen Sya. Meninggalkan Sya yang masih dalam lautan duka yang mendalam.
***
Mata Anna membulat, bahkan dia tidak bisa mengatakan apapun saat melihat berita yang tayang di TV. Dia tidak percaya dengan berita itu. Saat memuka pnselnya, sudah banyak berita dengn judul yang sama.
Tubuh Anna membeku. Dia terus menggelengkan kepalanya. Lalu dia melihat keluar jendela. Saat iini, tom baru saja pulang dari kerjanya.
Tanpa pikir panjang Anna trurun dan menemui Tom. Tom yang melihat wajah iistrinya tu begitu ketakutan dia mendekat dan langsung memeluknya.
Reaksi Anna begitu mengejutkan. Dia mendorong Tom dengan sekuat tenaga. Tom bahkan terdorong dan hampir menabrak tmbok. Untung saja pengawalnnya sigap.
"Apa yang sudah kamu lakukan?" Tanya Anna dengan tatapan yang menyelidik.
Tom mendekat. "Seharusnya aku yang bertanya. Ada apa denganmu?"
"Apa yang sudah kau lakukan pada Lufas?"
Tom kini mengerti penyebab wajah ketakutan dari Anna. Dia mendekat kembali ppada Anna. Kali ini dia membawa Anna duduk dengan tenang
Anna hanya diam saja. Dia hanya menginginkan penjelasan saat ini.
"Tolong buatkan minuman yang menenangkan untuk istriku," kata Tom pada seorang pelayan.
"Aku ingin kau menjawab pertanyaanku," kata Anna.
"Sssshhhtt." Tom meletakan jari telunjuknya dibibir Anna. Dia ingin Anna tidak bertanya lagi mengenai hal itu.
Mnuman itu sudah datang. Tom membrikannya pada Anna. Anna menolnya dengan tatapan tajam.
"Minumlah, lalu aku akan beri tahu semuanya."
Anna pun menerima gelas itu. Dia meminum semuanya. Tom tersenyum dengan sangat puas.
"Kau ingin Sya dan Lufas berpisah bukan? Aku sudah melakukannya."
"Tapi tidak sehausnya kau membunuh Lufas. Dia tidak bersalah."
"Aku tidak membunuhnya. Orang lain yang melakukannya untukku."
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
Tom menunjukan tangannya. "Tidak mungkin aku harus mengotori tanganku untuk Lufas."
Anna diam. dia bahkan hampir menjatuhkan air matanya. Tom yang tahu hal itu menarik tangan Anna. Dia hendak menciumnya, Anna meenola dan masuk ke dalam kamar. Anna juga mengunci pintunya.
Tom tertawa dengan sangat keras. Dia sudah berhasil menyingkirkan penghalang dan musuh terbesarnya. Dia juga bisa memiliki Anna, bahkan dia juga bisa memiliki Sya untuk selanjutnya.
"Kirimkan sebuah hadiah indah untu Sya. Dia tidak boleh sedih karena kematian suaminya itu," kata Tom pada pengawalnya.
Pengawal itu mengangguk. Kemudian pergi untuk mencari hadiah yang tepat bagi Sya.
***
Air mata Sya masih saja terus mengalir. Dia tidak bisa memikirkan hidupnya tanpa Lufas. Apa lagi saat ini dia memiliki seorang anak yang harus dia jaga. Sya merasa beegitu bingung dengan keadaan ii.
Bahkan Sya terbesit cara untk menitipkan Daneendra ke panti asuhan.Sementara dirinya akan mencari pekerjaan untuk kelangsungan hidupnya.
Sampai dia mendapatkan sebuah notifikasi email dari seseorang. Dia menyebutnya sebagai teman Lufas yang akan membantu Sya menerbitkan buku. Sya tidak tahu dan mengirim balasan penolakan.
Tidak berapa lama orang itu kembali mengirim pesan pada Sya melalui email. Lufas sudah membayarnya untuk hall ini. Jadi, Sya harus tetap menulis.
"Apa yang harus aku lakukan saat ini," lirih Sya.
Sya kembali teringat beberapa hari lalu. Dia berjanji pada Lufas akan bersungguh-sungguh dalam membuat novel. Hanya saja, semangatnya kini sudah menghilang.
Bel pintu berbunyi. Sya membuka dan melihat seorang pria yang sama. Pria yang memberikan paket dari Tom untuknya.
"Ada paket untuk Nona Sya."
"Dari Tom?"
Pria itu mengangguk.
"Maaf. Aku tidak bisa menerimanya."
"Tuan Tom memaksa."
Sya mengambil bungkusan paket itu, "Aku sudah menerimanya." Setelah itu Sya membuang paket itu ke tempat sampah.
Pria itu menoleh pada Sya.
"Paket itu sudah menjadi milikku. Jadi, aku bisa melakukan apapun pada paket itu."
"Tuan Tom sangat berharap jika Nona Sya tidak bersedih lagi."
"Ya, katakan terima kasih padanya."
Sya masuk kembali dan menutup pintu. Dia kembali ke kamar, melihat Danendra yang terlelap dengan begitu nyaman.
Tangan Sya membelai lembut wajah Danendra. Dia memikirkan saat Danendra besar nanti, dia pasti akan bertanya terus tentang ayahnya.
***
Tom sedang duduk dengan Anna. Dia sedang mencoba menghibur Anna yang masih sedih karena Lufs. Tom kesal dengan tingkah itu, tapi dia tetap merasa menang saat ini.
"Masuklah ke kamar."
"Ya."
Anna begitu patuh. Dia langsung masuk ke kamar. Pengawal itu mendekat pada Tom dan membisikkan sesuatu.
"Apa?!" Tom meremas gelas yang berada di tangannya sampai pecah.
"Ya. Nona Sya langsung membuang tas bermerk itu tepat di depan saya."
"Apa ada yang dia katakan."
"Dia berterima kasih untuk itu."
"Jika berterima kasih kenapa di buang barang itu." Wajah Tom terlihat anh.
"Saya tidak tahu."
"Wanita ini begitu menarik. Sepertinya dia tidak menyukai barang mewah atau uang."
Pengawal itu kembali ke tempatnya. Sementra Tom memikirkan cara untuk mendekati Sya. Dia merasa Sya unik dan berbeda dari yang lain.
Di dalam kamar. Anna mendengar semuaya. Rasa kesal pada Sya kini semakin bertabah. Tom jug saat ini mengincarnya. Anna bagaikan sebuah mainan untuk Tom Dia hanya lat saja.
***
Pagi sudah datang. Meski matahari sudah menyapa, Sya masih enggan bangun. Semalaman dia terjaga karena Danendra yanag terus meminta susu.
Padahal Sya sudah memimpikan mengurus anak dengan Lufas bersama. Bergantian. Kini, Sya harus melakukannya sendiri, tanpa ada siapapun yang membantu.
Harta yang ditinggalkan Lufas memang banyak, tapi bukan berarti Sya harus berpangku tangan. Uang bisa habis kapan saja. Apa lagi tanpa ada yang mengelola.
Danendra juga pasti akan terus membutuhkan biaya. Bahkan tidak sedikit, jadi Sya juga memikirkan cara agar bisa bekerja. Tanpa harus menelantarkan Danendra.
Bel terus berbunyi. Sya menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. Dia enggan membuka pintu itu.
Kembali suara bel berbunyi. Kali ini tiada henti. Dengan kesal Sya bangun. Dia menggunakan piyama dengan rambut yang masih acak-acakkan.
"Apa ada masalah? Kenapa terus meembunyikan bel."
Xiu tidak mempedulikan Sya. Dia masuk diikuti oleh seorang anita paruh baya di belakangnya. Sya melihat hal itu hanya menatap saja.
"Kau mandilah dulu," kata Xiu pada Sya.
Sya berjalan melewatii Xiu. "Mana sempat aku mandi. Bayiku membutuhkan aku."
"Aku sudah membawa pengasuh yang juga bisa mengerjakan pekerjaan rumah."
Sya menoleh. Dia melihat wanita paruh baya itu yang sedang membersihkan dapur. Dia langsung menarik Xiu untuk masuk ke dalam kamar.
"Apa?" Tanya Xiu.
__ADS_1
"Keenapa kau membawanya. Kau tahu, aku tidak bekerja. Mana mungkin aku bisa membayarnya."
"Kau tidak perlu memikirkan hal itu."
"Apa kau yang akan membayarnya?" Tanya Sya.
"Tidak."
"Lalu?"
"Sya. Aku dan Ben sudah memikirkannya, kua teenang saja."
"Bagaimana aku bisa tenang dalam hal ini."
"Sya. Lufas meninggalkan banyak hal untukmu. Bahkan Lufas sudah mengatas namakan perusahaan untukmu."
Sya menoleh pada Xiu dengan tatapan tidak percaya.
"Lufas memang sengaja melakukannya. Saat itu Lufas hanya takut jika Anna akan meminta semuanya darimu."
Mendengar itu Sya hanya diam. Dia merasa malu saat ini. Suaminya meninggal dan dia menjadi seorang janda kaya. Padahal semuanya Lufas lah yang merintis.
"Kamu tidak perlu memikirkan hal aneh. Kamu hanya harus tahu, posisimu saat ini adalah bos perusahaan."
"Aku tidak mau."
"Kenapa?"
"Kau tahu, aku tidak pernah melakukan apapun dengan benar."
"Sudah aku bilang. Aku dan Ben akan mengurusnya. Aku dan Ben bertanggung jawab untukmu dan Danendra."
"Sampai kapan?"
"Sampai kau menjadi seorang ibu dan bos yang hebat."
"Bagaimana dengan geng mafia yang diketuai Lufas?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Sya.
"Kalau itu. Kau tanyakan saja pada Ben."
"Ya."
Mereka keluar dari kamar. Ruang tamu yang awalnya seperti kapal pecah kini terlihat rapi dan bersih. Beegitu pula dapur dan ruang keluarga. Sya bahkan sampai melongo dibuatnya.
"eenalan, ini adalh Sali. Kau bisa memanggilnya Bi Sali."
Bi Sali membungkukkan badanya sedikit.
"Sali, ini adalah bos mu yang baru. Panggil saja dia Nyonya Sya."
Sya menggeleng dengan cepat.
Xiu mendekat, "Ingat posisimu saat ini. Kau adalah Nyonya."
Sya hanya diam dan mengangguk pada Bi Sali. Bi Sali tersenyum dengan begitu ramah. Sya menjadi lebih tenang.
"Aku pergi dulu. Mulai besok, kau akan datang ke kantor."
"Tai, kak..."
"Ikuti saja alurnya."
Xiu kemudian pergi. Kini hanya ada Bi sali dan Sya. Kini Sya bingung harus melakukan apa.
"Nyonya mau sarapan apa?"
"Aku bisa memakan apapun. Bi Sali bisa masak makanan kesukaan Bi Sali. KIta akan sarapan bersama."
"Baik, Nyonya."
Di dalam kamar. Sya duduk merenung sendiri. Lufas baru saja meninggal dan dia harus langsung menggantikannya. Sya tidak dapatvv memikirkan apa yang akan dikatakan orang lain. Mereka pasti akan mengatakan jika Sya merasa bahagia dengan kecelakaan itu.
Sarapan sudah siap. Sya dan Bi Sali sedang memakan sarapan itu. Sampai aat Danendra yang berada dikamar menangis. Sya sudah bersiap untuk masuk ke kamar.
"Biar saya saja. Nyonya lanjutkan saja sarapan," kata Bi Sali dengan penuh perhatian.
"Terima kasih, Bi."
Bi Sali mengangguk. Lalu masuk ke kamar. Tidak lama tangisan Danendra sudah berhenti. Sya merasa hatinya lebih tenang.
Sore ini dia meminta pada Ben untuk datang. Dia akan menanyakan banyak hal pada ben. Dia juga ingin mengatakan keresahanya saat ini.
Sya hanya memiliki Xiu dan Ben. Dia tidak tahu harus percaya dengan siapa lagi selain mereka. Bagi Sya, Ben dan Xiu dalah kakak dan adik yang sangat berharga.
"Nyonya. Tuan Nendra sudah kembali tidur."
"Bi, jangan panggil dia Tuan. Bi Sali lebih tua darinya. Panggil saja Nedra," kata Sy.
"tapi Nyonya."
"Tidak ada tapi Bi."
"Bik, Nya."
"Bi Sali bisa lanjutkan sarapan. Aku ingin mengerjakan sesuatu di kamar kerja Lufas."
Sya masuk ke dalam. Dia melakukan hal yang bisa dia lakukan. Dia juga membuka laptop Lufas yang selama ini tidak memiliki sandi.
Ternyata Lufas memiliki banyak foto dirinya. Sya hampir menangis melihat semua itu. Dia awalnya tidak percaya jika Lufas benar-benar mencintainya. Akhirnya semuanya terjawab, disaat yang tidak tepat.
Hal itu membuat Sya ingin kembali menulis novel. Dia melanjutkan apa yang kemarin dia tulis. Dia begitu terhanyut sampa lupa waktu.
Untung saja saat ini ada yang menjaga Danendra dan mengurus rumah. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi.
***
__ADS_1