The Way Love

The Way Love
LXV


__ADS_3

Mata Ruka terlihat begitu cerah. Tidak seperti biasanya dia akan berkutat dengan pekerjaanya. Hari ini dia duduk di teras rumah dengan pakaian olahraganya.


Ya, hari ini dia tidak pergi kekantor. Jadi dia memilih untuk lari pagi berkeliling komplek. Sebelum itu, dia sempat melihat Sya di dalam kamarnya. Wanita itu masih terlelap dengan tenang.


Tidak ingin mengganggu. Ruka memilih langsung pergi. Dia berlari dengan senyuman. Sesekali dia menyapa beberapa pengguna jalan.


Saat Ruka sedang berlari. Tidak sengaja dia bertemu dengan Eri. Dia berjalan dengan celana jeans dan kaus lengan pendek. Buru-buru Ruka mendekat.


"Kau mau kemana?" Tanya Ruka dan berhasil membuat Eri terlonjak kaget.


Eri menatap Ruka yang masih saja berlari ditempat saat itu.


"Aku sedang menuju kerumahmu."


"Apa kau ingin menemuiku?" Tanya Ruka dengan sangat percaya diri.


"Apa terlihat seperti itu?"


"Ya."


Eri tersenyum. "Mungkin kau belum sepenuhnya bangun. Aku ingin menemui Sya."


Kali ini Ruka berhenti lari ditempat. Dia mendekat pada Eri. Sementara Eri melanjutkan jalannya tanpa peduli pada Ruka.


"Cantik," lirih Ruka.


Eri menoleh. "Apa yang kau katakan?"


"Aku bilang cantik."


Kali ini Eri tersenyum dengan lebar. "Aku memang sudah cantik dari dulu."


"Maksudku bukan dirimu. Kalung yang sedang kau pakai," kata Ruka.


Wajah Eri berubah merah dengan apa yang dikatakan Ruka. Kalung yang dipakainya adalah kalung pemberian Ruka waktu itu.


Melihat wajah Eri memerah Ruka merasa menang. Dia berjalan cepat agar bisa berada disamping Eri. Sementara Eri sedang mencoba mengatur rasa malunya itu.


"Aku bercanda. Bukan kalung itu yang cantik, tapi kau."


Untuk sesaat Eri hampir jatuh kedalam kata-kata Ruka. Walau begitu, Eri tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia karena pujian itu.


"Apa kau tidak ingin melanjutkan olahragamu?" Tanya Eri.


"Aku sudah selesai. Jadi kita bisa pergi bersama."


Padahal, Ruka baru saja berlari beberapa meter. Hanya karena Eri dia mampu berbohong untuk alasan yang manis.


Ya, Ruka memang sejak awal sudah punya rasa pada Eri. Hanya karena Eri terlalu cuek membuatnya sulit untuk mendekat. Meski begitu, Ruka masih mencoba mendekati Eri dengan alasan Sya.

__ADS_1


Sampai di depan rumah. Eri tidak masuk, dia memilih duduk dikursi yang berada di teras. Dia bilang pada Ruka, dia akan masuk jika Sya sudah bangun nanti.


"Mau minum apa?" tawar Ruka.


"Apa saja. Aku bukan tipe pemilih."


Ruka meminta pada pelayan untuk membawakan dua minukan keteras. Beberapa kali Ruka mengajak Eri berbincang. Hasilnya sama, Eri memilih untuk menjawab dengan asal, singkat dan padat.


"Bisakah kau bangunkan Sya. Dia yang memintaku datang pagi-pagi. Jika kesiangan, aku tidak bisa membuka cafe."


"Kenapa kau tidak bangunkan sendiri."


"Baiklah. Tunjukan saja kamarnya," kata Eri.


Ruka mengantarkan Eri kedalam kamar Sya. Setelah itu dia pergi untuk mandi dan menyiapkan diri di depan laptop.


Eri mendekat ketampat tidur Sya. Beberapa kali Eri mengguncang tubuh Sya. Setelah beberapa saat akhirnya Sya mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Bangunlah. Aku sudah tidak ada waktu," kata Eri.


Sya yang mengenali suara itu langsung membuka mata. Cahaya matahari yang masuk membuat Sya kembali menutup matanya. Silau. Dia duduk dan mencoba menyesuaikan mata dengan cahaya itu.


"Kenapa kau datang sangat pagi," kata Sya dengan suara khasnya.


"Lihat jam."


Sya menoleh pada ham dinding yang terpasang diatas meja riasnya. Benar, ini sudah tidak pagi lagi. Sya menoleh pada Eri dan tersenyum. Hal itu membuat Eri hanya bisa menghela nafas panjang.


***


Tidak lama Sya keluar dengan handuk yang membelit tubuhnya. Banyak hal yang Sya lakukan sampai akhirnya selesai dan duduk disamping Eri.


"Kau ingin mengatakan apa padaku? Aku sudah telat untuk membuka cafe."


"Maaf. Aku memintamu kesini karena..."


Tok tok tok. Sya tidak jadi bicara, dia memilih untuk membuka pintu lebih dulu. Beberapa pelayan berdiri di depan kamar Sya dengan makanan ditangan mereka.


"Bukankah aku tidak meminta sarapan pagi?"


"Memang bukan Anda yang meminta. Tuan Ruka yang meminta kami datang membawa makanan," kata Mira.


"Bawa semua masuk. Aku akan makan dengan temanku."


Pelayan itu masuk dan meletakan semua makanan keatas meja. Eri tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Sya begitu diperhatikan, bahkan pelayanannya juga sangat baik. Eri merasa tenang dengan keadaan ini. Setidaknya, Sya masih memiliki banyak orang disampingnya.


"Ayo makan. Kau pasti belum sarapan," kata Sya.


Eri memang tidak sempat sarapan pagi itu. Dia buru-buru datang karena perkataan Sya semalam. Walau mereka tidak memiliki hubungan darah. Eri begitu sayang pada Sya, seperti pada adik perempuannya sendiri.

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan padaku?"


"Kita bicarakan sambil makan ya."


"Ok."


Sya mengatakan apa yang berada didalam hatinya. Dia mengatakan semua keluh kesahnya pada Eri. Apa yang membuatnya begitu tersiksa karena cinta.


Sampai akhirnya cerita itu selesai saat sarapan mereka belum habis. Eri meletakan sendok yang berada ditangannya. Lalu melihat kearag Sya.


"Apa kau sudah mengatakan semua ini pada Ruka?" Tanya Eri.


"Aku takut. Kau tahu Ruka sangat tidak suka pada perlakuan Arda padaku. Apa lagi saat Arda meminta aku menggugurkan kandunganku."


"Sya. Bagaimanapun kau masih memiliki kakak. Dia juga sangat menyayangimu. Jadi, lebih akan lebih baik jika kau mengatakannya pada Ruka lebih dulu."


Sya mengangguk. Dia takut Ruka akan marah dengan keputusan yang sudah dia buat. Bagaimanapun, Sya tidak mau jika harus dimadu sampai nanti.


"Aku pulang dulu ya. Banyak bahan dicafe yang sudah habis," kata Eri.


Tok tok tok. Kembali ada yang mengetuk kamar Sya. Sya membuka pintu dan ternyata Ruka yang mengetuknya.


"Ada apa, Kak?" Tanya Sya.


"Aku hanya ingin mengatakan padamu. Aku mau kekantor karena ada urusan mendadak."


Sya tersenyum lebar. "Kebetulan sekali. Eri bisa ikut dengan kakak, kan? Kalian searah," kata Sya.


Ruka diam. Dia melihat kearah Eri yang sedang bermain dengan ponselnya.


"Jika Eri mau. Aku bisa mengantarkannya."


Sya berbalik badan. "Eri. Apa kau mau pergi bersama Kak Ruka."


"Jika tidak merepotkan," kata Eri.


Belum juga Sya menjawab. Ruka sudah menjawab lebih dulu.


"Kau tidak merepotkanku."


Sya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kali ini dia tahu kenapa Ruka meminta bantuannya saat itu. Eri adalah incaran Ruka. Bisa dilihat dari pancaran mata Ruka.


"Aku pergi dulu, Sya. Nanti aku kabari lagi."


"Baiklah. Kalian hati-hati dijalan. Kak Ruka, aku nitip Eri ya. Jangan sampai dia tergores."


"Tentu."


Sya mengantarkan Ruka dan Eri sampai teras. Sebelum mereka masuk kemobil. Sya sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah lagi. Dia meminta Mira untuk membersihkan kamarnya yang baru saja digunakan untuk sarapan.

__ADS_1


***


__ADS_2