The Way Love

The Way Love
LIII


__ADS_3

Sya terbangun dengan jantung yang berdegup kencang. Keringat dingin muncul disekujur tubuhnynya. Bagaimana tidak, semalam dia tidak bisa tidur. Baru saja dia terlelap, sebuah mimpi sudah mampu membangunkannya.


Dengan tubuh yang terasa lemas. Sya bangun dari tempat tidur. Dia mencoba untuk membuka pintu kamarnya. Masih terkunci.


Rasa lapar yang sejak semalam dia tahan kini benar-benar membuatnya lemah. Beberapa kali Sya mencoba memanggil Arda, tapi tidak ada jawaban.


Akhirnya Sya memutuskan untuk mencari ponselnya. Entah kemana Arda kemarin melemparnya. Setelah menemukan ponsel itu didekat sofa. Sya mencoba menelfon Arda, tapi tidak ada jawaban.


Bagaiman mungkin Arda bisa lupa dengan Sya dan mengurungnya. Sya tetap tidak berfikir buruk. Dia hanya mengira jika Arda sedang sibuk, atau dia masih tidur.


"Aku harus menunggunya sebentar lagi."


Sya membaringkan tubuhnya yang lemas. Terbesit niat untuk menghubungi Ruka. Dia pasti akan membantunya. Hanya saja, niat itu langsung diurungkan oleh Sya. Dia tidak mau kakaknya dan Arda bermusuhan.


Walau begitu. Sya masih berfikir tentang foto itu. Bagaimna bisa ada foto semacam itu. Seingatnya, dia memang dekat dengan Jovi, tapi tidak sampai sejauh itu. Lalus siapa orang difoto itu.


***


Ruang kerja itu masih gelap. Hanya ada cahaya yang keluar dari laptop yang menyala. Aila yang merasa tidak nyaman langsung membuka tirai diruangan itu.


Arda masih terlelap disofa ruang kerja itu. Saat sedang tidur, Arda terlihat sangat tenang. Bahkan tidak ada yang menyangka jika Arda adalah orang yang mampu berbuat seenaknya.


"Arda. Bangunlah," lirih Aila di dekat Arda.


Beberapa kali Arda mengerjapkan matanya. Dia melihat sorot sinar matahari yang masuk keruang kerjanya. Dia menoleh dan mendapati Aila disampingnya.


Kenapa bukan Sya? pikir Arda. Dia tidak ingat jika sudah mengurungnya. Hal itu membuat rasa kesal dihati Arda semakin bertambah. Dia mengira jika Sya sudah mencampakannya karena foto itu.


"Apa kau mau sarapan sebelum pergi?" tanya Aila dengan lembut.


"Jika kau ingin makan. Makan saja, aku akan langsung ke kantor."


"Baiklah."


Senyuman Aila terukir. Saat ini, Arda tidak ingat jika sudah mengurung Sya. Bahkan, tanpa diketahui Arda. Aila sudah mengambil kunci itu dari Arda. Tentu saja, Aila tidak ingin Sya selamat begitu saja.


"Apa Sya dirumah?" tanya Arda.


"Aku tidak tahu," jawab Aila.


"Jika kau bertemu dengannya. Katakan jika aku ingin menemuinya."


"Baik."


Arda menatap Aila yang begitu penurut pagi itu. Dia merasa ada yang salah. Hanya saja, Arda tidak ingin memikirkannya. Setelah selesai mandi dan berganti pakaian. Arda bergegas menuju kantor. Hari ini, dia ada meeting dengan perusahaan milik Ruka.


***


Sampai di kantor Arda langsung masuk keruang meeting. Dimana beberapa orang sudah menunggunya. Hanya Ruka yang belum ada disana.

__ADS_1


"Dimana Ruka?" tanya Arda.


"Kami tidak tahu. Dia tadi berada disini, lalu keluar."


Arda melihat keluar ruangan. Lalu dia mencoba mencari kakak iparnya itu. Sampai di tangga darurat. Arda melihat Ruka sedang menelfon seseorang dengan raut wajah gelisah.


"Kenapa kau disini? kita ada meeting pagi ini."


Ruka menoleh dan mendapati Arda dengan setelan jasnya. Tentunya dengan senyuman khas Arda.


"Bagaimana kabar Sya?" tanya Ruka tanpa basa-basi.


"Kenapa kau tidak menelfonya saja. Ajak dia bertemu," kata Arda.


"Sejak kemarin malam aku menelfonya. Tidak ada jawaban sama sekali. Aku kira kau sedang bersamanya."


Arda mencoba mengingat ingat apa yang terjadi kemarin. Dia hanya ingat jika sudah bertengkar hebat dengan Sya. Lalu, dia tidak ingat setelah itu.


"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Ruka.


"Kemarin aku dan dia memang bertengkar hebat. Hanya saja, aku tidak ingat setelah pertengkaran itu."


"Sial," umpat Ruka sembari memukul tembok.


"Mungkin dia berada dicafe."


Mendengar hal itu. Tanpa pikir panjang Ruka melewati Arda. Dia merasa sangat khawatir pada adiknya itu. Apa lagi, nomornya juga tidak aktiv saat ini.


"Kemana lagi. Aku ingin menemuinya."


Arda menggelengkan kepalanya. "Lalu bagaimana dengan meeting kita."


"Aku tidak memikirkannya saat ini. Aku hanya ingin bertemu dengan adikku saat ini."


Mau tidak mau Arda mengikuti Ruka. Dia merasa khawatir sejak pagi, tapi enggan memikirkannya. Arda merasa jika foto itu sudah menjadi bukti kuat untuk penghianatan Sya.


Cafe itu terlihat ramai seperti biasa. Terlihat Eri sedang menemani beberapa tamu cafe. Seorang koki juga sudah dipekerjakan disana. Ruka masuk diiringi oleh Arda. Dia melihat kesegala tempat. Tidak ada Sya.


"Eri. Apa Sya kesini?" tanya Arda.


Eri tidak menjawab. Dia malah terlihat marah dengan Arda. Arda tidak tahu kenapa Eri bersikap seperti itu padanya.


"Eri, sejak kemarin aku mencoba menghubunginya. Dia tidak menjawab, saat ini ponselnya juga mati," kata Ruka dengan penuh kecemasan.


"Kenapa tidak kau tanyakan pada adik iparmu ini."


"Maksudmu?"


Ruka menoleh pada Arda yang terlihat biasa saja. Arda bahkan tampak tidak peduli. Seperti dulu, Arda yang hanya memikirkan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Semalam Sya menelfonku. Dia mengatakan jika akan datang kesini. Saat aku bertanya apa ada masalah. Ponsel itu tiba-tiba menjauh dari Sya. Aku hanya mendengar jika Sya dan Arda sedang bertengkar. Lalu ponsel itu mati."


"Apa benar yang dikatakan Eri?" tanya Ruka pada Arda.


"Aku tidak ingat setelah pertengkaran itu." Jawab Arda enteng tanpa beban.


Ruka terlihat semakin cemas saja. Sampai Arda tiba-tiba berlari keluar menuju kemobilnya. Dia langsung tancap gas dan meninggalkan Ruka.


"Tunggu apa lagi Ikuti dia," kata Eri.


Ruka pun mengikuti mobil yang dibawa Arda. Mobil itu melaju dengan sangat cepat, beberapa kali Ruka harus kehilangannya. Hanya saja Ruka merasa jika Arda akan kembali kerumahnya.


***


Dengan langkah panjang Arda masuk ke rumah. Dia bahkan tidak memperdulikan Aila yang sudah menyambutnya dengan senyuman.


Sampai di depan kamar Sya, Arda kaget. Kunci tidak ada di saku bajunya. Lalu dia masuk ke ruang kerjanya. Hanya saja Arda tidak menemukan apa yang dia cari.


"Kau mencari apa?" tanya Aila yang sudah tahu apa yang dicari oleh suaminya.


"Apa kau melihat kunci disini?" tanya Arda.


Aila menggeleng. Lalu dia pura-pura mencari apa yang sedang dicari Arda. Tidak lama Ruka sampai, dia mencari keberadaan Arda.


"Dimana Sya?"


"Dia didalam kamar," ucap Arda.


"Dimana kamarnya?" tanya Ruka dengan perasaan kesal yang amat pada Arda.


Arda masih membuka beberapa laci disana. "Aku sedang mencoba mencari kuncinya."


"Apa kau bilang!"


Mendengar hal itu Ruka hilang kesabaran. Dia menarik Aila dan menanyakan dimana letak kamar Sya. Takut jika terjadi sesuatu pada dirinya, Aila mengantar Ruka ke kamar Sya.


Tanpa basa-basi Ruka mencoba mendobrak kamar Sya. Beberapa kali terlihat tidak ada hasil. Akhirnya, Arda datang dan membantunya. Dua kali Arda dan Ruka bersama mendobrak. Akhirnya pintu terbuka.


"Sya." Seru Ruka yang langsung menghampiri Sya.


Dengan baju yang sama dengan kemarin. Sya tergeletak didekat sofa. Disampingnya ada sebuah bantal dan ponselnya. Beberapa kali Ruka mencoba membangunkan Sya. Hasilnya nihil.


"Kau sudah keterlaluan Arda."


Setelah mengatakan itu. Ruka membopong tubuh Sya dengan tangannya sendiri. Dia membawa Sya kerumah sakit.


Saat Arda akan ikut, Aila terduduk dan memegang perutnya. Ruka menoleh dan melihat wajah meringis kesakitan dari Aila.


"Urus istrimu yang lain. Biarkan Sya aku yang urus," ujar Ruka.

__ADS_1


Arda tidak bisa melakukan apapun selain mendekat pada Aila. Dia mencoba membantu Aila bangun dan masuk ke kamarnya. Tanpa Arda sadari, Aila tersenyum dengan penuh kemenangan.


***


__ADS_2