
Berita tentang hubungan dekat Sya dan Mike beredar luas. Banyak yang mendukung, tapi banyak juga yang tidak suka. Bahkan ada yang menganggap Sya menggunakan guna-guna untuk mendekati Mike.
Sya yang membaca berita-berita itu memijit kepalanya sendiri. Saat ini, dia tidak akan aman jika keluar dan sampai terlihat oleh fans Mike. Mereka akan kembali mengumpat dan melempar barang pada Sya.
Saat ini, Sya hanya diam dan tidak mengatakan isi hatinya pada siapapun. Dia merasa takut, jika orang yang dia percaya ternyata berhianat. Sya mencoba belajar dari masa lalu.
Sudah lama Sya tidak melihat Ben dan Xiu. Kadang, Sya merasa rindu. Bagaimanapun, mereka pernah bersama dan bahagia. Meski akhirnya harus berakhir dengan rasa benci di hati Sya.
Ponsel Sya berdering. Bi sali yang menelfonya. Sya meninggalkan surat berita dan mengangkat telfon itu.
"Ada apa Bi?"
"Hari ini Nendra akan di pindahkan ke rumah Bapak Lufas."
Sya mengernyitkan dahi. "Bagaimana bisa?"
"Bapak Lufas mendatangkan dokter khusus untuk Nendra. Dia harus di rawat disana."
"Apa Nendra sudah setuju?" Tanya Sya kemudian.
"Sudah, Bu. Hanya Nendra mau Ibu datang dan menemaninya ke rumah Bapak Lufas."
"Baiklah. Aku akan segera datang."
Jika menurut dengan ego. Sya tidak mungkin membiarkan Danendra pergi ke rumah Lufas. Hanya saja, demi kebaikan dan kesembuha Danendra. Sya mencoba merelakannya.
Baru saja keluar dari rumah. Mobil putih dengan gambar abstrak terparkir di depan rumah Sya. Sya tahu, jika itu adalah Mike.
"Kau datang?" kali ini wajah Sya tidak terlihat senang.
"Aku mau menjemputmu untuk makan siang."
Sya berdecak.
"Aku sedang ada urusan lain." Sya melewati Mike begitu saja.
Mike yang tahu Sya marah dengan sikapnya di depan wartawan hanya tersenyum. Dia berjalan dan mengimbangi langkah kaki Sya. Sementara Sya mencoba fokus dengan tujuannya.
"Aku melakukannya agar tidak ada yang mengganggumu," ucap Mike.
Sya berhenti. Begitu juga dengan Mike.
"Kau tidak menyelesaikan masalah. Kau hanya menambah masalahku."
"Maafkan aku Sya."
Sya hanya diam.
"Aku janji tidak akan melakukan hal yang bodoh lagi."
Kali ini Sya hanya mengangguk. Dia kembali berjalan. Sementara Mike pergi mengambil mobilnya. Dia terus mengikuti Sya, Sya yang merasa risih memilih untuk masuk ke dalam mobil. Jika tidak, dia akan kembali menjadi pusat perhatian.
***
Sampai di rumah sakit. Sya melihat beberapa fans Mike yang begitu fanatik. Sya kembali teringat saat dilempar beberapa barang. Hal ini membuat Sya memilih untuk diam.
"Kau takut?" Tanya Mike.
"Ini semua salahmu."
__ADS_1
"Maaf. Aku akan mengurus mereka."
Mike mengirim pesan pada seseorang. Tidak lama beberapa orang dengan setelan jas hitam datang. Mereka membawa fans Mike pergi dari sana.
Sya menoleh pada Mike.
"Aku akan selalu menjagamu."
Setelah itu Sya turun. Dia langsung menuju ke kamar dimana Danendra di rawat. Sebuah pesan masuk ke ponsel Sya.
'Aku akan menemuimu lagi nanti.'
Tidak ingin membalas. Sya memilih untuk mematikan ponselnya. Dia melihat Nendra yang sudah siap di pindahkan. Hanya saja, disana tidak ada sosok Lufas.
"Apa dia tidak datang?" Tanya Sya pada Bi Sali.
"Tuan Lufas ada meeting. Dia akan menunggu di rumah."
Sya diam. Dia membantu suster untuk mendorong tempat tidur.
Di parkiran sudah ada mobil yang disediakan oleh Lufas. Bi sali dan Sya masuk, di dalam mobil Danendra terus memegang tangan Sya.
"Kamu akan baik-baik saja," bisik Sya pada Danendra.
Di rumah Lufas.
Mereka masuk ke sebuah ruangan. Terlihat seperti kamar hanya memiliki banyak peralatan medis. Disini, Sya merasa lega. Bagaimanapun, Lufas mencoba yang terbaik untuk Danendra.
Tidak lama seorang pria masuk dangan jas putihnya. Stetoskop terkalung dilehernya, Sya langsung tahu jika dokter itu yang akan mengurus Danendra nantinya.
Dokter itu menatap Sya dari atas sampai bawah. Hal itu membuat Sya mencoba melihat pad dirinya sendiri. Apa ada yang salah dengannya.
"Ya, Dok."
"Aku dokter Jo. Aku yang akan mengurus anakmu nanti."
"Terima kasih," ucap Sya.
Setelah Jo membicarakan hal mengenai Danendra. Sya merasa lebih tenang. Setelah itu, Jo memeriksa keadaan Danendra. Lalu pergi.
"Ma, nanti Mama tidur disini?" Tanya Danendra.
"Maaf sayang. Mama tidak bisa tidur denganmu. Tapi mama akan datang setiap hari untukmu."
"Mama tidak bohong kan? Nendra takut disini sendirian."
"Iya. Nanti Bi Sali akan menemani kamu."
Setelah itu Sya berpamitan. Sebelum keluar, Sya mencium kening Danendra dengan lembut. Sya masih ingin menemani Danendra. Hanya saja, dia merasa tidak senang berada di rumah mewah itu. Bagaimanapun, Sya dan Lufas tidak bersama lagi.
Baru saja Sya keluar. Lufas sudah berada di depan rumah. Melihat Sya berada di rumahnya, Lufas terlihat senang.
"Aku merindukan kamu," ucap Lufas.
Sya mencoba tidak mendengarnya. Sampai Lufas menarik tubuh Sya. Sya yang hampir jatuh memilih untuk berpegangan pada lengan Lufas.
"Sya. Aku merindukan kamu."
Sya mencoba berdiri dan merapikan kembali bajunya.
__ADS_1
"Sya."
"Lufas. Tidak ada hubungan lagi diantara kita."
"Lalu untuk apa kau datang?"
"Aku kesini karena anakku. Jangan berfikirkan yang lain."
Lufas terkekeh. Setelah itu membiarkan Sya pergi begitu saja. Saat ini rencananya berhasil. Danendra akan berada di rumahnya, hal ini sudah jelas. Sya akan lebih sering datang.
"Apa wanita itu yang membuatmu hampir gila?" Tanya Jo.
Lufas tidak menjawab.
"Sepertinya dia tidak lagi menginginkanmu," ujar Jo yang membuat Lufas langsung menatapnya.
"Wanita memang kadang begitu. Biar tidak dianggap murahan."
Mereka berdua tertawa. Lalu masuk ke dalam. Sampai di dalam suasana menjadi serius. Jo mengatakan hal yang sebenarnya pada Lufas. Tentang penyakit Danendra yang semakin parah. Meski begitu, Jo tidak memberi tahukan hal itu pada Sya. Takut jika Sya tidak dapat menerimanya.
"Apa dia bisa sembuh?" Tanya Lufas.
"Kemungkinan kecil."
"Aku tidak mau tahu. Buat Danendra terus bertahan. Setidaknya, hal ini akan mengurangi rasa sakit di hati Sya."
"Aku akan mencoba yang terbaik."
***
Sya terus berjalan lurus untuk keluar dari perumahan itu. Sebuah mobil mendekat. Sya masih saja tidak menghiraukannya. Mobil itu terus mengikuti langkah kaki Sya.
Sya mengira jika itu adalah Lufas, sampai kaca mobil diturunkan. Wajah Tom terlihat langsung. Kali ini Sya menghentikan langkahnya.
"Butuh tumpangan?" Tanya Tom.
"Tidak perlu. Terima kasih."
"Masih lama untuk sampai di jalan raya."
"Sudah aku bilang tidak perlu."
"Apa kau takut Lufas marah karena kau bersamaku?"
"Masalah itu tidak ada hubunganya denganmu."
Sya kembali berjalan. Tom turun dari mobil dan mencoba memblokir langkah kaki Sya. Sya terus mencoba untuk berjalan dan tidak menghiraukan Tom.
"Sya. Kau cantik, bagaimana jika kau menjadi simpananku saja. Kau akan mendapat segalanya."
Plak. Sya mendaratkan tamparan di wajah Tom. Entah bagaimana, Sya merasa marah saat Tom mengatakan hal itu.
"Kau berani menamparku? Aku tidak akan melepaskanmu."
Tom meraih tangan Sya dan mencoba membawa Sya masuk ke dalam mobil. Sya mencoba untuk pergi dan berteriak, tapi tidak ada yang datang untuk menolongnya.
Tom yang tidak mau Sya berteriak memilih untuk memberikan bius. Perlahan mata Sya buram dan gelap.
***
__ADS_1