
Sya terbangun begitu mendengar suara. Dia menoleh dan melihat Lufas masih terlelap dengan tenang. Perlahan Sya turun dari tempat tidur. Dia membuka pintu dan tidak melihat siapapun.
Saat akan menutup kembali pintu kamarnywa. Kembali Sya mendengar suara. Kali ini terdengar beberapa barang yang terjatuh. Alhasil hal itu membuat Sya keluar.
Ada rasa takut karena malam itu begitu gelap. Suara barang jatuh itu terdengar dari ruang keluarga. Dengan langkah pelan Sya datang kearah ruangan itu. Dia menghidupkan lampu.
Benar saja. Beberapa barang sudah terjatuh dan berserakan. Sya mengambil barang-barang itu dan mengembalikan ke tempatnya.
"Tidak biasanya seperti ini," lirih Sya.
Karena sudah diluar kamar. Sya memilih untuk masuk ke dapur. Air di kamar sudah habis, jadi Sya berniat mengambil botol air minum.
Disisi lain.
Lufas masih terlelap dengan tenang. Dia tidak sadar ada yang masuk ke dalam kamar. Siapq lagi yang berani masuk tanpa ijin ke kamar itu.
Anna menatap ruangan itu. Semuanya sudah berubah, kamar itu bukan miliknya lagi. Semua barang sudah diganti menjadi yang baru. Hal itu membuat Anna sangat kecewa.
Langkah Anna kini tertuju pada Lufas yang masih terlelap. Dia perlahan membelai wajah Lufas. Hal yang selama ini dia inginkan, tapi Lufas kini begitu membencinya. Seperti tidak ada lagi cinta dihatinya.
"Dulu kau bohong tentang kebangkrutan itu. Aku pergi, kini disaat aku ingin kembali. Kau malah memilih wanita peniruku."
Lufas merubah posisi tidurnya. Kini dia sedikit menjauh dari Anna. Sampai akhirnya Anna mendengar suara langkah kaki mendekat. Anna tahu jika itu adalah Sya. Dia sudah kembali, buru-buru Anna keluar dari kamar itu.
Sya membawa botol minum itu masuk. Tidak lupa dia menutup pintu dan menguncinya. Setelah itu dia kembali tidur di samping Lufas.
Saat mata Sya akan terpejam Lufas berkata lirih, "Lain kali jika keluar tutuplah pintunya. Dia berhasil datang kesini."
Sya tahu maksud Lufas. Dia pun meminta maaf. Kini Sya sadar, suara itu dibuat oleh Anna. Tentunya agar dia keluar dari kamar. Hal ini digunakan untuk Anna masuk ke dalam kamar tanpa ada yang tahu.
Diluar kamar, Anna menatap dengan kesal. Dia tidak tahu jika Sya dan Lufas benar-benar bersama. Rasa ingin memiliki Lufas kembali menggebu dihati Anna.
"Dengan identitasku saat ini. Aku akan kembali mendapatkan milikku."
Malam itu Anna kembali ke kamarnya dengan perasaan kesalnya. Dia kembali menyusun semua rencana di dalam kesendiriannya.
***
Tangan Sya kembali membenarkan anak rambut diwajahnya. Dia menatap pada dirinya sendiri di depan cermin. Hari ini ada seseorang yang meminta bertemu dengannya. Padahal Sya tidak tahu siapa itu.
__ADS_1
"Apa yang akan kau lakukan hari ini?"
"Aku ada urusan diluar. Oh ya, kak Xiu sudah menandatangani pembangunan gedung itu. Kau hari ini mau kemana?" Sya balik bertanya.
"Sebenarnya aku tidak ada hal untuk keluar, tapi karena kau keluar. Aku juga akan keluar dengan Ben."
Sya tersenyum. Dia tahu kenapa Lufas tidak ingin dirumah. Ada Anna dirumah itu, dia tidak ingin bersamanya. Apa lagi tanpa Sya disisinya.
"Jika kau ingin pulang. Telfon aku, aku akan langsung menjemputmu," kata Lufas.
"Tentu. Kalau begitu aku lihat Anna, dia sedang apa."
"Kapan kau akan mengusirnya?" Tanya Lufas saat Sya akan keluar.
Kali ini Sya tampak bingung. Dia diam di depan pintu. Melihat Sya kebingungan, Lufas mendekat. Dengan senyum Lufas memegang tangan Sya.
"Sya. Lakukan apa yang kau ingin lakukan. Aku akan terus berada disampingmu."
"Apa jika dia pergi kita bisa mulai dari awal lagi?" Tanya Sya.
"Ya. Kita akan memulai hubungan ini tanpa paksaan, tapi karena cinta kita."
Akhirnya Sya melepaskan pelukan itu. Dia menatap pada Lufas. Kembali dia berpamitan. Setelah itu keluar dari kamar.
Tanpa diduga Sya berpapasan dengan Anna. Dia baru saja keluar dari dapur. Terlihat jika Anna membawa beberapa buah yang sudah dipotong ditangannya.
"Sya. Aku sudah membuat sarapan untukmu dan Lufas," kata Anna dengan penuh semangat.
Sya tersenyum. "Kau bisa makan lebih dulu. Aku ada urusan mendadak."
Wajah Anna terlihat kecewa. Walau begitu dihatinya bersorak bahagia. Dia pikir bisa berdua dengan Lufas tanpa ada gangguan.
"Aku akan mengantarmu ke depan," kata Anna.
"Baiklah."
Baru saja Sya masuk ke dalam mobil. Anna sudah kembali masuk. Dia mengganti pakaiannya menjadi seperti Nita. Anna berharap dengan hal ini akan membuat Lufas kembali padanya.
Lufas turun menggunakan pakaian santai. Dia masih sibuk dengan ponselnya sampai Anna datang dan langsung menggandeng tangan Lufas.
__ADS_1
Lufas menoleh dan langsung melepaskannya. Dia bahkan mundur beberapa langkah. Melihat Anna saat ini Lufas merasa kembali ke beberapa tahun yang lalu. Nita.
"Aku sudah membuatkan sarapan. Aku juga sudah memotong buah untukmu."
Lufas memasukan ponselnya ke dalam saku. Dia sadar jika Nita yang dia cintai sudah tidak ada. Kini hanya Anna yang tidak disukainya.
"Apa kau tidak ingin pergi dari sini?" Tanya Lufas dengan nada tidak senang.
"Aku sudah kembali. Untuk apa aku pergi. Ini juga rumahku," kata Anna sembari berkacak pinggang.
"Ini rumahku dan istriku."
"Aku istrimu," kata Anna sembari mendekat.
"Istriku hanya satu. Syaheila."
Anna tertawa dengan keras. Bahkan suara tawanya sampai menggema. Hal yang mengerikan.
"Dia peniruku. Aku adalah istrimu satu-satunya. Nita."
"Nita yang aku cintai sudah tiada."
Perkataan itu membuat Anna tidak senang. Tanpa kata, Anna membanting vas dan beberapa barang lain diatas meja. Lufas tidak berkata apapun. Dia hanya menatap wanita yang sedang mengamuk itu.
"Kau yang membuat Nita tiada. Kau yang membohonginya dengan kebangkrutan palsumu." Isak Anna dengan mata menatap pada Lufas.
"Aku mencoba mengujinya. Hanya ujian itu terlalu berat baginya. Anna, tidak seharusnya kau melakukan ini. Aku sudah bahagia dengan pernikahanku saat ini."
"Jika begitu. Cintai aku lagi, kita mulai dari awal." Kali ini Anna bahkan terduduk dihadapan Lufas.
Lufas mendapat sebuah panggilan. Dia menelfon sebentar kemudian menatap pada Anna yang masih menangis.
"Ingat batasanmu disini. Kau itu teman istriku. Jika kau melakukan hal aneh lagi. Aku tidak segan mengusimu."
Setelah mengatakan hal itu. Lufas keluar, Ben sudah menunggu dengan sebuah mobil diluar. Ben juga mengajak beberapa teman, tentuny agar jalan-jalan mereka tidak membosankan.
Lufas setuju-setuju saja saat Ben mengajaknya kesebuah pantai. Dia mengatakan jika Lufas tidak akan merasa kesal lagi dengan apa yang terjadi.
Walau begitu Ben tidak melepaskan Anna begitu saja. Dia sudah meminta seseorang untuk terus mengawasinya. Dia tidak ingin kejadian dimasa lalu terulang lagi.
__ADS_1
***