
Jam terlihat seperti tidak berjalan menurut Sya. Sejak tadi, dia mencoba menahan rasa deg-degan. Ya, dia akan keluar makan malam dengan keluarga Arda.
Sudah lama memang dia menikah dengan Arda. Namun, baru kali ini dia akan mengikuti makan malam bersama. Biasanya dia akan mengurung diri karena takut membuat kesalahan.
"Ada apa? apa ada masalah?" tanya Eri yang melihat Sya melamun.
Sya menggeleng, "Aku hanya merasa gugup."
Eri tahu apa yang membuat Sya gugup. Perlahan, Eri meletakan piring dan perlengkapan lain. Dia akan mengajari Sya untuk menjadi wanita pantas di keluarga Ken.
"Kita mulai," ucap Eri.
"Tapi..."
"Tidak ada tapi, kau harus membuktikan dirimu. Apa kau ingin melihat Arda dengan wanita lain?"
Sya membuang muka. "Aku tidak masalah. Tidak ada cinta diantara kami."
"Tapi kau terluka saat dia bersama wanita lain."
Helaan nafas Sya membuat Eri tersenyum. Eri tahu apa yang dirasakan oleh temannya itu. Cintanya bukanlah untuk Jovi sejak awal. Dia hanya merasa kagum pada pria itu.
Perlahan, Eri mulai mengajari tata cara untuk Sya. Awalnya Sya terlihat sangat kaku, bahkan dia seperti akan menyerah. Hanya saja, Eri dengan sabar mengajarinya.
Ada rasa kasihan di hati Eri pada Sya. Dia pernah merasakan hal itu. Posisi dimana hanya di rendahkan dan dihina karena miskin. Jika bukan karena mertuanya dulu, mungkin saat ini dia masih memiliki suami.
"Er... kenapa kau memalun?" tanya Sya.
"Tidak ada apa-apa."
Sya masih merasa ada yang salah pada Eri. Sudah lama mereka bersama. Baru kali ini Sya melihat sisi lain dari Eri. Dia begitu hebat dalam setiap hal, apa lagi tentang sebuah penampilan.
Merasa dirinya akan ditanyai, Eri memilih berpamitan pada Sya. Dia akan kembali ke kontrakkan untuk mengambil beberapa barang. Tentunya agar dia bisa tingal disini.
"Hati-hati," ucap Sya.
Eri mengangguk dan keluar dari kamar Sya. Mila berdiri dengan nampan di tangannya. Senyuman kecil menghiasi wajah Mila.
"Apa kau sudah selesai dengan Sya?" tanya Mila.
Eri tersenyum, "Masih banyak hal yang belum kami bagi. Silahkan masuk," kata Eri sembari membukakan pintu.
"Terima kasih."
Pintu kembali tertutup.
"Ini makan malammu," ucap Mila.
"Tidak perlu, Kak. Aku akan makan bersama dengan kalian."
Mila merasa jika Sya sudah sedikit berubah. Setelah pulang dari rumah sakit.
"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Mila.
"Ya. Aku merasa sangat baik. Jadi, Kakak tidak perlu khawatir padaku."
Rasa takut muncul di lubuk hati Mila. Jika rasa percaya diri Sya kembali. Sya akan terlihat sangat cantik dimata setiap pria. Jovi pasti akan kembali berpaling. Apa lagi dengan gaya baru Sya saat ini.
"Sya, sebaiknya kau makan disini saja. Mama pasti akan mengatakan hal yang menyakitkan nanti."
Sya mendekat pada Mila, "Apa ada masalah? Kakak bisa mengatakan padaku."
Mila berpaling dan kembali membawa nampan itu, "Aku tidak apa-apa." Setelah mengatakan itu Mila langsung pergi.
***
Dengan rasa gugup yang terus mendera. Sya mencoba tetap tenang dan membuka pintu kamar. Suara tawa membuat Sya menoleh. Terlihat jelas jika Aila dan Arda sedang bercanda dengan sangat dekat.
Sakit, Sya kembali merasakan hal itu di hatinya. Mata Sya tertutup, dia mencoba menahan rasa sakit itu dan meyakinkan dirinya sendiri. Jika dia tidak mencintai pria itu.
"Sya. Kenapa masih disini? katanya kau mau makan malam bersama kami."
Sya menoleh dan melihat Mila sudah berada di sampingnya. Seulas senyum terukir diwajah Sya. Lalu, Sya kembali menatap kearah Aila dan Arda.
"Mereka memang sudah dekat sejak kecil. Tidak ada yang memisahkan mereka," ujar Mila.
"Benarkah?"
__ADS_1
"Ya."
Tatapan Sya kini berpaling. Dia tidak ingin terus mentakiti dirinya sendiri karena pemandangan itu. Dia terus mencoba menenangkan hatinya sendiri.
Setelah merasa lebih tenang. Sya melihat kegelisahan yang hadir diwajah Mila. Mila juga mencoba menutupi rasa gelisah itu dengan menatap kearah lain.
"Apa ada masalah?" tanya Sya.
Mila diam. Dia terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Ada apa, Kak?" tanya Sya kembali.
"Apa sebaiknya kau tidak ikut makan malam."
"Kenapa?" Sya tidak tahu alasan apa yang membuat Mila seperti itu "aku ingin dekat dengan keluarga suamiku," imbuh Sya.
"Tapi aku tidak ingin kehilangan suamiku."
Deg, jantung Sya rasanya berhenti berdetak. Dia tahu maksud perkataan Mila. Kini, Sya tidak bisa menutupi apa yang sudah terjadi. Mungkin memang sejak awal Mila tahu tentang semuanya.
Sya mendekat pada Mila yang terlihat semakin gelisah. Dia memegang tangan Mila dengan lembut.
"Kau tahu semuanya?" tanya Sya.
Dengan anggukan dari Mila, Sya tersenyum tipis. Dia merasa sangat bersalah.
"Jadi, ini alasanmu baik padaku? kau tidak ingin aku dekat dengan Jovi?"
Kembali Sya hanya mendapatkan anggukan dari Mila.
"Aku tahu, kau pasti merasakan sakit di hatimu. Aku juga, bukan karena Jovi tapi karena adikmu."
Mila menoleh pada Sya.
"Awalnya, aku mengira jika itu adalah cinta. Ternyata aku salah, aku hanya merasa kagum pada suamimu. Hingga aku harus terjebak dengan pernikahan ini."
"Jadi, kau tidak mencintai Jovi?"
Sya mengangguk, "Ya, aku tidak mungkin merebut seorang suami dari istrinya. Apa lagi, seorang ayah dari anaknya."
Pertanyaan itu membuat Sya diam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Sya tidak bisa mengartikan rasa sakit dihatinya adalah cinta.
"Cinta akan tumbuh seiring waktu," ujar Mila.
Tidak lama, seorang pelayan berlari tergopoh-gopoh kearah Sya dan Mila. Dia terlihat takut dan tidak tenang.
"Ada apa?" tanya Mila.
"Kalian sudah ditunggu sejak tadi," ucap pelayan itu.
Sya dan Mila saling pandang, "Kita harus cepat," kata Sya.
"Ayo," kata Mila sembari menarik tangan Sya untuk melangkah lebih cepat.
Suasana ruang makan terlihat hening. Hanya ada suara tawa kecil dari Aila yang duduk di samping Arda. Sudah beberapa kali Arda mencoba menegur Aila. Hasilnya tetap sama, Aila terus mengajaknya bercanda.
Kali ini raut mengerikan terpancar dari wajah Nyonya Ken. Dia merasa jika Mila dan Sya sudah membuang waktu yang sangat berharga.
Tuk tuk tuk. Tidak lama Sya dan Mila datang dengan nafas terengah karena berlari. Semua tatapan tertuju pada mereka berdua.
"Apa yang sudah kalian lakukan hingga membuat kami menunggu?" tanya Nyonya Ken dengan tatapan tajam.
Mila tahu jika ibunya itu tidak bisa jika hanya memberikan alasan yang sederhana. Akhirnya, Mila mendekat dan membisikan sesuatu pada ibunya.
"Benarkah apa yang dikatakan Mila?" tanya Nyonya Ken pada Sya.
Mila mengangguk kearah Sya sebagai isyarat.
"Iya, Ma."
Kini Nyonya Ken tersenyum. Dia mempersilahkan Sya duduk. Saat akan duduk di samping Sima. Nyonya Ken mencegahnya. Sya merasa jika dia sudah melakukan kesalahan.
"Aila. Bangun dari tempat duduk itu, pemiliknya sudah datang."
Aila tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari nyonya Ken.
"Ma, biarkan dia tetap disini," bela Arda.
__ADS_1
Nyonya Ken tidak mendengarkan hal itu, "Sya adalah istrimu. Dia berhak akan tempat duduk itu. Cepat lakukan apa yang aku minta."
Dengan kesal Aila bangun dari tempat duduk itu. Bahkan dia sempat mendorong tubuh Sya dengan tubuhnya.
Acara makan malam itu sangat hening. Semua yang dikatakan oleh Eri memang benar. Tidak boleh membuat diri sendiri malu. Apa lagi sampai membuat kesalahan disana.
"Arda, Sya, kalian ikut mama. Ada hal yang harus kita bicarakan."
Sejak tadi Arda terus menatap kearah Sya. Dia merasa ada yang salah dengan istrinya itu. Dia tidak tampak seperti Sya yang biasanya. Kali ini dia terlihat lebih cantik.
"Arda. Apa kau mendengarkan mama?"
Arda menoleh dengan cepat, "Ya, Ma."
Nyonya Ken keluar dari ruangan itu. Diikuti oleh yang lain. Kini hanya ada Sya dan Aila. Beberapa kali Aila memandang kearah Sya, lalu dia mendekat pada Sya.
"Apa yang sudah kamu lakukan pada tante Ken? apa kau menyihirnya?"
Sya tidak menggubris dan bersiap untuk keruangan nyonya Ken.
Aila menahan tubuh Sya dengan tangannya, "Arda adalah milikku. Cepat atau lambat dia akan menjadi milikku."
Sya menoleh dengan seulas senyum, "Tapi dia adalah suamiku."
Sya menghempaskan tangan Aila begitu saja. Terlihat jika Aila sangat kesal dengan apa yang dilakukan oleh Sya.
***
Sya dan Arda sama-sama diam di dalam kamar. Mereka tidak tahu harus apa dan bagaimana. Baru kali ini mereka benar-benar di dalam satu kamar saat malam hari.
Biasanya, Arda akan memilih tidur di ruang kerja. Tentunya karena memang tidak ada cinta diantara Sya dan Arda.
Semua ini karena Nyonya Ken meminta seorang cucu pada mereka. Bukan cucu adopsi, tapi cucu kandung keluarga Ken.
"Apa yang sudah kamu katakan pada Mama. Dia sampai tahu segalanya," kata Arda yang memecah keheningan.
Sya menoleh, "Maksudmu apa?" tanya Sya yang tidak paham dengan ucapan Arda.
Arda berdiri dan kini mereka saling berhadapan, "Apa kau sudah jatuh cinta padaku. Kau sangat ingin kusentuh?"
"Aku tidak mencintaimu. Bukankah kamu yang mengatakan semuanya pada Mama. Kau lebih dekat dengannya," kali ini Sya tidak mau kalah.
Arda membuang muka. Begitupun Sya, mereka kini masuk ke alam pikiran masing-masing.
Entah siapa yang sudah mengatakan semua ini. Sampai Nyonya Ken tahu, bahkan Nyonya Ken juga tahu alasan sebenarnya Arda menikahi Sya.
"Minggir. Aku akan tidur," kata Arda yang langsung naik ke atas tempat tidur.
Sya hanya bisa memandang dengan kesal. Jika dia tetap tidur di samping Arda. Entah apa yang akan terjadi nanti malam.
"Kau tidur di lantai saja," ucap Arda tanpa memikirkan hati Sya.
Sya ingin menolak hanya saja tidak bisa. Akhirnya, Sya tidur di sofa kamar. Dia tidak ingin berdebat dan ada yang tahu hal ini. Sya terus meyakinkan hatinya jika dia tidak mencintai Arda. Dia hanya ingin membahagiakan ibunya. Hanya itu.
Suara dengkuran halus mulai terdengar. Bukan dari Sya, tapi dari Arda. Dia sudah tertidur lelap dengan nafas teratur.
Sedangkan Sya, dia hanya bisa duduk dalam diam. Dia tidak merasa mengantuk sama sekali. Kali ini, dia merasa sangat merindukan ibunya.
"Ma, aku rindu."
Dering ponsel Arda membuat Sya terhenyak. Suara ponsel itu berdering dengan cukup keras. Arda masih saja terlelap tanpa terganggu sedikitpun.
Mau tidak mau Sya mengangkat telfon itu. Suara perempuan yang terdengar. Sangat lembut dan menenangkan.
"Aku sangat merindukan kamu. Kenapa kau masih belum datang juga," ucap wanita di dalam ponsel.
Sya hanya diam. Dia sudah tidak kaget dengan apa yang dia dengar. Mungkin selama ini memang tidak ada yang tahu jika Arda dekat dengan wanita. Hanya saja, kenyataan itu sedikit menusuk hati Sya.
"Arda. Kapan kamu datang lagi, aku sangat merindukan kamu."
Sya mencoba tersenyum dan mengatakan, "Arda sudah tidur."
"Kau siapa?" tanya wanita itu lagi.
Sya tidak menjawab dan memilih untuk menutup telfon itu. Kembali dia meletakan ponsel itu ke tempatnya.
***
__ADS_1