
Suasana pagi yang begitu berbeda. Ya, pagi hari pertama di dalam sebuah apartemen mewah. Sya bangun dan mendapati dirinya sendirian diatas tempat tidur.
Kembali dia teringat dengan apa yang dibicarakan Lufas tadi malam. Semuanya begitu nyata hingga mampu membuat dada Sya sesak.
Dalam hati Sya berfikir. Apa mungkin Lufas membebaskannya bekerja di kantor karena alasan ini. Lufas ingin Sya mandiri, bagaimanapun Lufas tidak akan memberikan perhatian penuh lagi padanya.
Saat Sya masih di dalam lamunan. Suara denting barang di dapur membuat Sya kaget. Aroma makanan yang enak juga masuk ke dalam kamar Sya.
Sya mengambil sebuah mantel dan kelar dari kamar. Dia pergi menuju ke dapur. Seorang pria dengan celemek ditubuhnya. Dari arah belakang Sya sudah tahu siapa dia. Lufas.
Lufas sengaja bangun lebih awal. Di apartemen itu mereka hanya berdua. Jadi, Lufas berinisiatif untuk memasak. Sya mengambil air minum sembari terus menatap. Baru kali ini Sya melihat Lufas yang begitu menawan.
"Pagi," ucap Lufas.
Sya tersenyum.
"Aku kira kau sudah pergi," kata Sya kemudian.
Lufas meletakan piring berisi masakannya. Lalu dia mendekat pada Sya. Perlahan Lufas mencium kening Sya dengan lembut.
"Kemana lagi aku harus pergi. Hanya kamu tujuanku."
Wanita mana yang tidak meleleh mendengar gombalan macam itu. Pagi itu mereka sarapan dengan tenang. Tidak ada beban dan masalah, Sya juga lupa akan adanya wanita lain di hubungan mereka.
"Apa hari ini kau ada janji keluar?" Tanya Lufas pada Sya.
"Tidak. Ada apa?"
"Maukah kau masak makan malam untukku nanti. Aku akan pulang dari kantor lebih awal."
"Baiklah."
"Kalau begitu aku pergi dulu. Ada meeting di kantor."
Sya mengantar Lufas untuk pergi ke kantor. Setelah itu Sya kembali ke dalam apartemen lagi. Hari ini dia berniat untuk melihat apartemen itu secara menyeluruh. Kemarin belum sempat karena emosinya yang masih meledak-ledak.
Langkah Sya masuk ke sebuah ruangan. Dimana ruangan itu memiliki sebuah tempat tidur dan almari. Semua benda diruangan itu berwarna cerah. Seperti di desain untuk anak-anak.
Suara bel dipintu membuat Sya langsung melihat jam. Dia tidak memiliki jadwal apapun. Lalu siapa yang datang di jam seperti ini. Sya mau tidak mau membuka pintu, dia penasaran dengan siapa yang datang.
Raut wajah Sya yang awalnya cerah langsung berubah. Dia menatap dengan penuh kebencian kali ini. Rasa ingin menampar juga membuat tangan Sya gatal, hanya saja Sya menepis rasa itu. Dia ingin terlihat baik-baik saja saat ini.
"Lufas sudah pergi," kata Sya.
Anna tersenyum dengan wajah mengejek.
__ADS_1
"Aku datang karena ingin bertemu denganmu."
"Sepertinya kita tidak memiliki hal untuk dibicarakan."
"Kau sangat tidak sopan padaku. Seharusnya kau memanggilku Kakak. Aku adalah istri pertama dari Lufas." Anna langsung masuk begitu saja.
Sya merasa sangat marah, tapi dia masih ingin menahan rasa marah itu.
"Aku kesini untuk mengatakan tentang Lufas. Aku tahu, Lufas menikahimu karena wajahmu yang sangat mirip denganku. Hanya saja wajah kita sudah berbeda. Kau tahu maksudku? Aku ingin kau pergi dengan wajah itu dari hubungan kami."
Sya tidak menanggapi apapun. Dia hanya menatap Anna yang berjalan sembari meliat kesemua sudut ruangan.
"Kita sudah sangat berbeda Sya. Kau harus sadar akan hal itu. Kau hanya pengganti saat aku tidak ada. Kini aku sudah kembali."
Anna dan Sya saling bertatapan. Disaat ini Anna terlihat begitu mengejek dengan adanya Sya. Sya tidak menampakan rasa takut atau lemah. Dia hanya balik menatap Anna dengan senyuman.
"Jika kau sudah selesai bicara. Kau bisa pergi," kata Sya.
Merasa dirinya dihina. Anna mendekat dan mengatakan tentang Arda. Dia mengancam jika Sya tidak pergi dari sisi Lufas. Arda akan dalam masalah.
"Apa kau sedang mengancamku?" Tanya Sya.
"Menurutmu?" Wajah Anna begitu tampak rasa kemanangan.
"Sayangnya ancamanmu tidak berguna sama sekali. Aku dan Arda tidak memiliki hubungan apapun. Jika kau ingin melukainya atau apapun itu, silahkan. Saat ini suamiku adalah Lufas."
mengira jika dengan nama Arda, Sya akan menyerah tapi ternyata tidak.
***
Hujan perlahan turun membuat Sya harus berjalan lebih cepat. Dia baru saja berbelanja bahan makanan untuk di apartemen. Baru kali ini Sya berbelanja sendiri. Biasanya para pekayan yang akan belanja saat masih di vila.
Setelah memiliki partemen itu. Sya menjadi mandiri. Dia melakukan segalanya tanpa memerintah orang lain. Bagi Sya ini adalah kebahagiaan tersendiri. Dia bisa merasakan menjadi wanita rumah tangga yang sebenarnya.
Pakaian yang dipakai Sya sudah terlanjur basah. Hal itu membuat Sya tidak nyaman. Hingga dia memutuskan untuk menaiki tangga. Lift banyak yang menggunakannya saat ini. Dengan pakaian yang basah akan mengganggu semua orang.
"Kenapa ini membuatku lelah," kata Sya.
Sampai di lantai sepuluh. Sya mengatur nafasnya, kemudian dia kembali berjalan masuk ke apartemennya.
Seorang pria berdiri di depan pintu apartemen Sya saat ini. Merasa ada yang tidak beres. Sya langsung mendekat, ternyata Ben yang sedang menunggunya.
Sya tersenyum. "Ada apa kau kesini? Ayo masuk."
Ben mengikuti Sya masuk ke apartemen. Ben terlihat sedang mengamati apartemen itu.
__ADS_1
"Kamu duduk dulu. Aku akan buatkan minuman untukmu."
"Terima kasih, tapi tidak perlu Kak."
"Kenapa? Apa kau sedang buru-buru saat ini?" Tanya Sya penuh pengertian.
Ben terlihat bingung saat akan mengatakannya. Sya yang sedang menaruh belanjaan ke dalam kulkas memilih berhenti. Dia mendekat dan duduk diseberang Ben.
"Apa ada masalah dengan Lufas?"
"Sebenarnya bukan Lufas, Kak."
"Lalu?"
"Anna baru saja mengalami kecelakaan. Saat ini dia sedang dirawat."
Sya menghela nafas.
"Kenapa kau mengatakannya padaku?" wajah Sya berubah menjadi tidak senang.
"Lufas memintamu untuk datang melihat Anna. Bagaimanapun, kalian pernah dekat. Itu kata Lufas."
Sya berdecak. Lalu mengambil ponselnya. Dia berniat menelfon Lufas dan menanyakan alasan gilanya itu. Niat itu langsung diurungkan saat Ben menerima telfon dari rumah sakit. Mereka meminta seseorang untuk datang. Kondisi pasien saat ini kritis.
"Aku ikut denganmu," kata Sya saat Ben akan pergi.
Ben langsung tersenyum. Sya mengikuti apa yang dikatakan Ben. Saat ini Sya tidak memikirkan perasaanya sendiri. Dia memikirkan Lufas yang seharusnya bertanggung jawab. Bagaimanapun Anna juga istrinya saat ini.
Tidak butuh waktu lama mereka sampai dirumah sakit. Ben yang mendapat telfon dari kantor langsung pergi. Kini hanya ada Sya yang akan menemui Anna.
Perasaan Sa campur aduk saat ini. Dia ingin membantu, tapi saat ingat perlakuan Anna padanya. Membuat dia mundur beberapa langkah. Kemudian bayangan Lufas muncul dihadapannya.
Sya tidak bisa membayangkan jika suaminya dicap tidak bertanggung jawab. Karirnya juga akan hancur pastinya. Hal itu membuat Sya kembali melangkahkan kakinya ke depan.
Sampai diruangan yang dimaksud. Sya hendak membuka pintu ruangan. Terlihat sepasang kekasih didalam. Sya menghentikan tangannya membuka pintu. Dia tahu siapa yang di dalam saat mendengar suaranya.
"Maafkan aku. Aku janji tidak akan membentakmu lagi," kata Lufas.
Sementara Anna menangis di dalam pelukan Lufas. Sya hanya diam dan masih mendengarkan.
"Aku tidak mau tahu. Malam ini kau harus bersamaku," kata Anna disela tangisnya.
"Ya. Aku akan disini menemanimu."
Saat merasa hatinya tidak bisa bertahan lagi. Sya memilih berbalik badan dan pergi. Dia tidak ingin terus menerus menangis karena sakit yang diberikan Lufas.
__ADS_1
Sya memilih kembali keapartemen. Dia mengurung dirinya dalam kesunyian dan rasa sakit. Cinta yang dia berikan tidak mendapat balasan yang sepadan. Kini hatinya hancur.
****