
Suasana rumah sakit begitu ramai. Banyak orang yang keluar masuk dengan tujuan masing-masing.
Mobil Lufas masuk ke area parkir rumah sakit. Sya melihat Lufas begitu tenang. Setelah mobil berhenti, Sya membuka pintu untuk turun tapi Lufas menariknya masuk lagi.
"Ada apa?" Tanya Sya.
"Aku merasa takut."
Sya mengernyitkan dahi mendengar perkataan Lufas.
"Aku takut saat bertemu dokter nanti."
"Apa yang kamu takutkan?"
"Entahlah, aku hanya merasa takut saja."
"Kalau begitu aku akan masuk sendiri, kau bisa menungguku saja."
Sya turun dari mobil dengan sebuah buku ditangannya. Sya mencoba memaklumi apa yang dilakukan oleh Lufas. Bagaimanapun, Lufas masihlah belum siap menerima anak itu saat ini.
Setelah mendaftar untuk bertemu dokter. Sya duduk dengan tenang diruang tunggu. Dia begitu menantikan hari ini, dimana dia akan melihat bayi yang masih berada di dalam perutnya.
Tidak membutuhkan waktu lama sampai akhirnya nama Sya di panggil oleh suster. Dengan semangatnya Sya berjalan masuk.
"Dengan suaminya ya, mbak?" Tanya suster yang baru saja memanggil nama Sya.
Sya mennoeleh ke belakang. Lufas sudah berdiri mematung de sana. Sya tersenyum dan langsung menggandengan tangan kosong Lufas.
"Iya,sus. Dia suami saya."
Suster itu tersenyum dan mempersilahkan Sya dan Luas masuk.
Seorang dokter wanita menyambut mereka berdua dengan senyuman. Sya diarahkan untuk menjalani USG. Saat USG, Lufas duduk diam di samping Sya.
Tidak lama terdengar suara detak jantung yang begitu keras. Lufas terlihat bingung saat mendengarnya.
"Ini adalah suara detak jantung bayi ibu dan bapak," kata dokter itu.
"Benarkah?" Lufas terlihat tidak percaya dengan yang dikatakan dokter itu.
"Ya. Semuanya terlihat normal dan sehat."
Semua pemeriksaan sudah selesai. Sya dan Lufas keluar dari ruangan itu. Kali ini ada yang terlihat berbeda, Lufas terlihat begitu senang dengan apa yang baru saja dia saksikan.
"Apa yang kamu bawa?" Tanya Lufas yang melihat Sya membawa sebuah tas kecil.
"Ini adalah vitamin untukku dan bayiku."
"Kenapa kau mengatakan bayiku?"
"Dia memang bayiku," jawab Sya.
"Bukankah aku juga ayahnya. Dia adalah bayi kita,"kata Lufas yang langsung berjalan lebih dulu.
Tidak bisa dipungkiri lagi. Sya senang dengan apa yang dikatakan oleh Lufas. Lufas perlahan akan menerima anak itu sepenuh hatinya.
Lufas sudah menunggu di smaping mobil. Begitu Sya mendekat, Lufas langsung membukakan pintu. Sya duduk di samping kemudi.
"Setelah ini kita mau kemana?" Tanya Lufas.
"Pulang. Kemana lagi?"
"Apa kau tidak mau jalan-jalan dulu?" Tanya Lufas lagi.
Sya menggeleng.
__ADS_1
"Apa kau yakin?"
"Lufas. Kau sudah mengatakan jika akan ada rapat di kantor."
"Aku bisa saja membatalkannya."
"Tidak."
"Kenapa? Aku adalah bosnya."
"Tidak boleh mencampur antara urusan pribadi dengan urusan kantor."
Lufas menghela nafas mendengar penuturan Sya itu. Apa yang dikatakan Sya memang benar, tapi saat ini Lufs hanya ingin bersama Sya. Mendengarkan sekali lagi suara detak jantung bayinya.
Meski begitu Lufas tidak bisa menunda rpat kali ini. Dia akan bekerja sama dengan sebuah perusahaan yang lebih besar, jadi Lufas harus menunjukan performa yang baik dan berkualitas.
***
Sya terlihat begitu tidak nyaman saat menggunakan baju yang biasa dia pakai. Ya, perut Sya yang saat ini sudah memasuki usia empat bulan sudah semakin mmbuncit. Mana mungkin Sya akan tetap memakai baju lamanya.
Mata Sya mencari baju yang nyaman unuk saat ini. Hanya semua bajunya berukuran sama. saat itu Sya mmiliki niat untuk memakai baju milik Lufas. Ukuran tubh Lufas dengan Sya begitu berbeda. Sya bisa menggunakannya kali ini.
"Leganya," lirih Sya begitu memakai baju milik Lufas.
Bel apartemen berbunyi. Sya ytanpa pikir panjang langsung membukanya. Xiu terlihat anggun sepperti biasanya, dia datang dengan tujuan melihat keadaan Sya.
"Kau datang?" Tanya Sya denngan wajah yang sumringah.
"Ya. Baju apa yang sedang kau pakai?" Tanya Xiu langsung.
Sya tertawa kecil, dia menggandeng xiu untuk masuk ke rumah.
"Ini adalah baju milik Lufas. Hanya baju ini yang aku rasa nyaman sekarang."
"Apa Lufas tidak memberikan kamu baju hamil?"
"Kami belum sempat membelinya."
"Ya, dia begitu sibuk. Mana mungkin dia ada waktu untukmu."
Sya datang dengan dua cangkir teh ditangannya. Dia tahu jika saat ini Xiu masih marah dengan apa yang Lufas lakukan. Xiu masih mengira jika Lufas tidak mau menerima anak itu.
"Sekarang dimana dia?"
"Dia baru saja ke kantor."
Xiu melihat jam tangannya. Ini bukanlah jam dimana Lufas aka pergi kerja.
"Apa dia benar-benar baru berangkat kerja?" selidik Xiu.
Sya duduk dan memberikan satu cangkir teh pada Xiu.
"Dia baru saja mengantar aku periksa kandungan."
"Uhhuk, uhhhuk." Xiu terbatuk saat mendengar perkataan Sya. Dia tidak percaya jika Lufas mau mengantar Sya periksa kandungan.
Sya mengangguk-anggukan kepalanya. "Sejak dia dan Anna berpisah. Lufas jadi lebih perhatian padaku, saat ini dia juga mulai mengamati kandunganku."
"Aku ikut bahagia dengan apa yang kamu katakan. Aku juga baru tahu jika Lufas dan Anna sudah resmi berpisah."
Sya hanya diam.
Xiu kembali menatap jam ditangannya. Dia sudah harus pergi saat itu juga. Seorang client sudah menunggu di restoran dekat apartemen yang ditinggali Sya.
"Aku harus pergi dulu. Ada rapat."
__ADS_1
"Kenapa hanya mampir sebentar. Aku ingin mengatakan banyak hal lagi denganmu."
"Lain kali aku akan datang lagi."
Sya mengantar Xiu sampai masuk ke dalam lift. Setelah itu Sya kembali ke dalam apartemen. Dia berniat membuat camilan sehat untuk dirinya, karena baru saja makan dan sudah merasakan lapar lagi.
***
Air mata terus mengalir dan tidak bisa dibendung lagi. Apa yang dia rasakan begitu menyakitkan. Walau begitu, dia merasa pantas dengan apa yang akan di dapatnya.
Anna menatap langit-langit kamarnya. Dia kembali mengingat malam tadi setelah ditinggal oleh Lufas.
Anna tidak tahu jika Tom ada disana dan melihat semuanya. Hal itu memicu emosi Tom meledak, baginya wanita yang saat ini dekat dengannya tidak bisa mendekati pria lain.
Flash back.
Mata Anna tertutup saat masih berada di dalam mobil Lufas. Dia mencoba terus mengingat rasa sakit yang Lufas berikan. Namun bukan rasa sakit yang dia ingat, dia malah mengingat semua kenangan indah dan manis.
Disaat itulah seseorang meraih tangannya dan menarik paksa tubuh Anna. Anna masih mencoba menyadari apa yang terjadi. Sampai saat mata bertemu mata dengan Tom.
"Kenapa kau begitu murahan dalam cinta," kata Tom dengan tangan memegang dagu Anna dengan keras.
"Apa maksudmu?"
"Kau fikir aku tidak melihatnya? Aku melihat semuanya Anna. Saat ini kau adalah milikku. Kau tidak bisa dekat dengan siapapun."
Anna menatap dengan tatapan aneh.
"Bukankah kau seharusnya memikirkan rencana kita. Kau hanya memiliki tubuhku sampai saat yang ditentukan. Jika kau masih belum menyelesaikan semuanya. Perjanjian itu akan batal."
Plak. Sebuah tamparan mendarat diwajah Anna. Tom memang sudah lama menginginkan tubuh Anna, bukan hanya tubuhnya tapi juga cintanya. Saat ini dia memang berhasil memiliki tubuh Anna, namun tidak dengan cintanya. Hal itu membuat emosi Tom semakin naik.
"Aku akan membuatmu menjadi milikku."
Anna hanya diam. Dia sudah terperangkap dengan perjanjian yang dibuat Tom. Dia akan menjadi milik Tom dengan cinta atau tanpa cinta saat Tom menyelesaikan tugasnya.
"Bawa dia ke mobilku," kata Tom pada anak buahnya.
Dua orang mengantar Anna masuk ke dalam mobil Tom. Tom akan membawanya kesebuah Vila yang belum pernah Anna lihat sebelumnya.
Tidak membutuhkan waktu lama sampai Tom berhasil membawa Anna ke vila. Anna terlihat lemah dengan pipi yang merah karena tamparan yang Tom lakukan.
"Dimana ini?"
"Kau akan melihatnya saat sudah masuk ke dalam."
Anna yang hampir terjatuh tanpa sadar meraih tubuh Tom. Pintu terbuka, banyak orang yang menyambut kedatangan mereka berdua.
Saat ini.
Tangis Anna kembali pecah saat mengingat kejadian itu. Dia memeluk dirinya sendiri dengan rasa sakit di hatinya.
Kedatangannya pada Tom bukan untuk menjadi istri Tom. Dia berniat menghancurkan Sya dan Lufas. Kini pernikahan sudah sah, Anna dan Tom menjadi pasangan suami istri. Sementara Lufas dan Sya menikmati hari yang bahagia.
"Sayang. Apa kau masih ingin berbaring saja disini?" Tanya Tom yang melihat Anna masih di dalam selimut.
Anna tidak menjawab. Tom langsung mendekat dan membalik tubuh Anna.
"Jika kau menurut kau akan bahagia. Pernikahan ini akan membuat Lfas hancur. Seharusnya kau bahagia."
Anna masih saja diam.
"Jadilah penurut untukku. Aku mencintaimu," kata Tom dan langsung mengecup kening Anna dengan lembut.
***
__ADS_1