The Way Love

The Way Love
CVI


__ADS_3

Matahari sudah kembali hadir. Pagi yang cerah disambut oleh banyak orang. Beberapa orang bahkan sudah memulai aktivitasnya. Walau lebih banyak yang memilih bersembunyi di dalam selimut.


Banyak orang yang saling bertegur sapa. Mereka terlihat akrab. Sya melihat itu tersenyum manis. Dia masih Sya yang dulu, belum terlalu mengenal lingkungan yang kini menjadi tempat tinggalnya.


Sampai seorang nenek mendekat dan memegang tangan Sya dengan erat. Sya menoleh dan mengernyitkan dahi. Dia tidak tahu siapa nenek yang menggandengnya itu.


"Wanita hamil tidak boleh jalan sendiri."


Perkataan nenek itu membuat Sya tersenyum sekaligus kaget. Bagaimana bisa si nenek tahu jika dirinya sedang hamil. Sya bahkan tidak mengatakan apapun.


"Bagaimana nenek tahu?" Tanya Sya yang penasaran.


"Wajahmu yang menunjukannya."


Sya langsung memegang wajahnya. Dia berfikir jika nenek ini tahu karena wajahnya. Lufas juga pasti akan tahu nantinya. Hal itu sedikit membuat Sya khawatir.


Nenek itu menggandeng Sya sampai di gedung apartemen. Setelah sampai nenek itu tersenyum sembari menatap Sya.


"Rumahku di lantai dasar. Kau bisa datang jika merasa kesepian."


"Baik, Nek."


"Anggap saja aku nenekmu. Jangan sungkan," kata nenek itu lagi.


Hal itu membuat Sya tersentuh. Dia mengangguk dengan semangat pada nenek sebagai jawaban.


"Jaga bayimu ya."


"Tentu saja, Nek."


Nenek itu kemudian masuk lebih dulu. Sementara Sya masih memirkan tentang Lufas. Bagaimana jika dia tahu, apa yang akan dia lakukan. Pikiran Sya begitu kacau.


Lufas turun dengan tas kerja di tangannya. Dia melihat Sya yang sedang melamun di depan gedung. Sendirian.


Perlahan Lufas mendekat dan berbisik padanya, "Apa kau sedang memikirkan aku?"


Sya langsung menoleh. Kaget dengan kedatangan Lufas yang sudah berada di sampingnya.


Lufas tersenyum melihat ekspresi wajah Sya. Sya sadar dan langsung menutup wajahnya.


"Apa kau melihat sesuatu diwajahku?" Tanya Sya.


"Tentu saja."


Jantung Sya serasa berhenti mendengar perkataan Lufas. Dia benar-benar takut jika Lufas tahu.


"Naiklah. Tidak baik melamun disini. Aku pergi kerja dulu," kata Lufas kemudian.


"Ya."


Lufas mendekat dan memyentuh kening Sya dengan tangannya.


"Apa kau sakit?" Tanya Lufas.


Sya menggeleng.


"Masuklah. Aku akan kembali untuk makan siang nanti."


"Aku menunggu."


Sya kemudian masuk. Dari cara bicara dan tingkah laku Lufas, jelas dia tidak tahu akan kehamilan itu. Hanya Sya yang terlalu takut untuk semuanya.


***


Berkas sudah menumpuk di meja Lufas untuk dia tanda tangani. Banyak proyek dan hal baru yang Lufas kerjakan. Dia berniat berhenti dari dunia mafia karena ingin tenang bersama dengan Sya.


Ben yang merangkap sebagai anak buah mafia sekaligus sekretaris pribadi Lufas. Sampai saat ini hanya Ben yang begitu dekat dengannya.

__ADS_1


Suara langkah kaki masuk ke ruangan. Ben duduk dengan tenang di mejanya. Sementara Lufas masuk dan langsung duduk tanpa kata.


"Apa ada masalah?" Tanya Ben yang melihat raut wajah Lufas.


Lufas menggeleng. "Aku hanya kelelahan."


"Oh ya. Apa kau sudah mendapat kabar tentang mafia baru dikota ini. Mereka begitu mencari masalah," kata Ben.


Lufas mengangguk. "Aku tahu, tapi kita tidak akan bertindak sekarang. Amati saja untuk saat ini."


"Baik."


Tangan Lufas menyentuh berkas-berkas di mejanya. Dia merasa menjadi orang paling sibuk saat ini. Satu demi satu akhirnya Lufas menandatangani berkas itu.


Seorang OB masuk dengan dua minuman di nampan. Perlahan dia memberikan minuman itu ke meja Ben dan Lufas. OB itu langsung keluar lagi begitu menyelesaikan urusannya.


Ben menggeser kursi duduknya agar lebih dekat dengan Lufas. Dia ingin menanyakan sesuatu pada Lufas.


"Apa Sya sudah kembali?" Tanya Ben.


Seketika Lufas menghentikan tanganny yang sedang bekerja. Dia menoleh pada Ben yang terlihat begitu ingin tahu.


"Kemarin dia kembali. Ada apa?"


"Apa aku boleh bertemu dengannya?"


"Untuk apa?"


"Dia begitu baik memperlakukan aku. Aku menganggap dia sudah seperti kakakku sendiri. Aku hanya ingin melihatnya baik-baik saja."


Lufas mengangguk-anggukkan kepala. Memang baru kali ini ada yang bersikap tidak dibuat-buat pada Ben. Pantas jika Ben mengatakan hal demikian.


"Nanti ikut aku pulang makan siang. Sya juga pasti senang melihatmu."


Ben mengangguk dengan semangat.


Mereka kembali ke dalam pekerjaan masing-masing lagi. Tanpa mereka sadari mereka begitu menunggu waktu untuk makan siang. Kembali dan melihat Sya yang menyambut dengan senyuman.


***


Cuaca yang cerah tidak mempengaruhi hati yang penuh amarah. Hati itu akan lebih merasa sakit dan kesal, karena semesta seperti mengejeknya.


Hal itu sedang terjadi pada Anna. Dia menatap keluar jendela dengan tatapan kosong, tapi tangannya memegang pisau. Pisau itu dia tusukan pada boneka yang dia bawa berkali-kali. Bahkan kini boneka itu terlihat tidak berbentuk.


Tok tok tok.


Suara ketukan pintu menghentikan tangan Anna. Dia menoleh dan pintu itu masih tertutup. Anna melempar boneka itu ke atas tempat tidur dan berjalan kearah pintu.


Anna membuka pintu itu secara perlahan. Berharap Lufas datang dan menenangkan hatinya yang sedang hancur. Hati yang membutuhkan kehangatan cinta.


Pelayan berdiri dengan wajah menunduk. Terlihat dia memawa sebuah amplop berkas berwarna merah. Anna yang melihat itu merasa kecewa.


"Tuan Lufas mengirimkan ini," kata pelayan itu sembari menyodorkan amplop ditangannya.


"Apa yang dia kirim untukku?"


Pelayan itu menggeleng.


Anna mengambil amplop itu dengan kasar. Dia langsung membanting pintu membuat si pelayan terhenyak.


Mata Anna mengamati amplop itu. Dia menerka-nerka apa yang ada di dalamnya. Apa sebuah kejutan menyenangkan, atau kejutan yang akan membuat Anna semakin hancur.


Tangannya meletakan pisau ke atas nakas. Lalu dia duduk di samping tempat tidur. Dia perlahan membuka amplop itu. Dia mulai membaca tulisan yang terlihat.


"Aaaaarrrrgghhh."


Anna berteriak sembari menyobek kertas dalam amplop itu. Baru saja tadi malam dia menyobek surat perceraian itu. Kini surat itu kembali datang.

__ADS_1


"Aku sangat membencimu Sya. Aku tidak akan pernah memaafkanmu."


Dendam dalam diri Anna begitu memuncak. Dia mengirim pesan pada seseorang untuk membantunya. Hari ini dia akan memberikan peringatan pada Sya. Tentunya agar dia menjauh dari Lufas untuk selamanya.


***


Dengan tangannya sendiri Sya memasak makanan untuk siang itu. Sya tidak mengira jika Lufas akan kembali dengan Ben. Takut makanan tidak cukup, Sya memilih untuk mengatakan sudah makan dan menyiapkan makanan itu untuk Lufas dan Ben.


"Kalian makan dulu. Aku akan duduk menonton TV."


"Baiklah." Jawab Lufas.


Sya menyalakan TV dan menontony sendiri. Lufas dan Ben akan tinggal setelah makan, jadi mereka akan banyak berbincang. Sampai bel apartemennya berbunyi.


Dengan malas Sya bangun dari duduknya. Dia membuka pintu dan melihat nenek yang tadi pagi menyapanya. Sya cukup terkejut melihat nenek membawa sebuah bungkusan.


"Masuk dulu, nek."


Nenek itu tersenyum. "Tidak perlu. Aku hanya ingin memberikan kue ini untukmu."


Sya menerimanya. "Terima kasih."


"Aku akan menemuimu lagi besok."


"Baik, Nek."


Nenek itu kemudian turun menggunakan lift. Sya masuk, Lufas dan Ben sudah selesai makan dan mereka sedang menonton tv.


"Siapa?" Tanya Lufas.


"Nenek yang tinggal di lantai dasar. Kami bertemu tadi pagi."


Sya membuka kue yang diberikan nenek. Belum sampai selesai membuka kotak kue. Bel apartemen kembali berbunyi. Sya berbalik dan akan membuka pintu, tapi dicegah oleh Ben.


"Biar aku saja yang buka, kak."


"Baiklah."


Sementara Ben membuka pintu. Sya dan Lufas menyelesaikan membuka kotak kue itu. Mereka berniat akan langsung memakannya saat itu juga.


Ben kembali dengan kotak berwarna hitam ditangannya. Sya dan Lufas menatap kotak itu dengan penuh tanya.


"Tidak ada nama pengirimnya. Hanya ada nama Syaheila."


Sya menerima kotak hitam itu. Rasa takut tiba-tiba muncul di hati Sya. Membuat tangannya bergetar saat membuka kotak itu.


Mata Sya membulat saat melihat apa yang ada di dalamnya. Dia benar-benar dibuat kaget oleh isi kotak itu. Lufas yang melihat itu langsung membuang kotak itu jauh dari Sya.


Ben yang penasaran mendekat kembali pada kotak itu. Dia mengambil kain putih yang memiliki tulisan berwarna merah. Bukan tinta, melainkan darah.


Aku akan kembali merebut semuanya darimu. Kau akan sengsara selamanya.


Itulah kalimat yang tertulis disana. Lufas memberikan air putih pada Sya. Tentunya agar Sya merasa lebih tenang dari sebelumnya.


"Buang saja kotak itu," kata Lufas pada Ben.


Tanpa bicara Ben membuang kotak itu keluar dari apartemen. Lufas yang tidak tega melihat Sya seperti itu langsung membawanya ke kamar. Dia meminta Sya untuk istirahat dan tidak memikirkan hal itu lagi.


Lufas menemui Ben yang sedang duduk menonton tv.


"Cari tahu siapa yang mengirimnya."


"Aku sudah melakukannya. Belum ada hasil."


"Lakukan semaksimal mungkin."


"Siap."

__ADS_1


Lufas terus berfikir siapa yang mengirim hal itu pada istrinya. Setahu Lufas dia tidak memiliki musuh disini. Lufas merasa harus melindungi Sya dengan benar atau Sya akan dicelakai oleh orang lain.


***


__ADS_2