The Way Love

The Way Love
XXXVIII


__ADS_3

Beberapa pelayan terlihat sibuk pagi itu. Mereka sedang menyiapkan sarapan pagi untuk Arda dan Sya. Ya, tidak biasanya Arda meminta sarapan di rumah. Biasanya dia akan memilih untuk makan di kantor.


Mungkin karena kemarahan yang masih menggelayut pada Sya. Sampai detik ini, Sya masih belum keluar dari kamar Sima. Dia memilih diam di kamar dengan lagu yang mengalun dari ponselnya.


Nada-nada yang terdengar mampu membuat Sya berlari jauh dalam khayalan. Khayalan indah yang dia buat sendiri dalam kalbu. Cinta dan kepercayaan yang selama ini dia simpan.


Tok tok tok.


Suara ketukan itu membuat semua khalayan Sya menghilang begitu saja. Hal itu membuat rasa kesal kembali datang pada Sya. Dengan keras Sya membuka pintu.


"Ada apa?" tanya Sya langsung.


"Nona. Tuan sudah menunggu di meja makan."


"Katakan padanya. Aku tidak lapar."


Tangan Sya langsung menutup pintu kamarnya kembali. Dia duduk di tepi tempat tidur dengan perasaan yang sama. Perasaan sakit saat dihianati.


Semalaman Sya terus memikirkan hal itu. Sampai dia memutuskan untuk bercerai dengan Arda. Ya, dia akan mengatakan pada Arda tentang hal itu.


Walau dia masih mencintai Arda, namun perasaan sakit itu begitu menusuk ke dalam hati.


"Apa aku benar harus bercerai?" tanya Sya pada dirinya sendiri.


Tok tok tok.


Sya tidak berniat untuk membuka pintu itu. Dia mengira jika Arda yang datang dan membawa sarapan untuknya. Hal itu akan membuat Sya kembali dilema akan perasaanya.


Tok tok tok.


Kembali pintu diketuk oleh seseorang. Merasa sangat terganggu, Sya membuka pintu itu. Seorang pelayan terlihat menundukan kepalanya.


"Apa lagi. Sudah aku katakan aku tidak ingin bertemu dengan Arda."


"Maaf Nona, tapi Tuan sudah berangkat ke kantor. Ada tamu yang datang."


"Siapa?"


"Dia mengatakan jika ingin bertemu dengan Anda."


"Baiklah. Kau siapkan saja minum untuknya. Aku akan segera turun."


Sebuah jaket Sya kenakan untuk menutupi tubuhnya yang hanya menggunakan baju tipis. Dia turun dengan tanya, siapa yang datang untuk menemuinya.


Seorang pria berdiri di dekat jendela. Dia terlihat sangat familiar untuk Sya. Hanya saja, Sya kembali ingat jika dia bukanlah siapa-siapa. Dia hanyalah Ruka teman Arda.


"Kak Ruka," panggil Sya, "ada apa Kakak kesini?" tanya Sya.


"Aku ingin menemuimu dan meluruskan masalahmu dan Arda."


"Tidak perlu, Kak. Aku bisa mengurusnya sendiri."


"Dia temanku. Aku tidak ingin hubungan baik kalian hancur karena masalah ini."


Sya diam. Dia menundukan kepalanya. Sementara Ruka mengambil ponsel di dalam saku bajunya. Dia memberikan ponsel itu pada Sya.

__ADS_1


"Apa?" tanya Sya.


"Lihatlah video itu."


Mata Sya beralih pada ponsel di tangannya. Dimana dia melihat apa yang sebenarnya terjadi tadi malam. Apa yang dia lihat ternyata salah. Apa yang dikatakan Arda ternyata benar. Hal itu membuat Sya langsung menutup mulutnya.


"Sya. Walau kita baru bertemu, aku sudah menganggapmu sebagai adik. Aku tidak ingin pernikahan ini hancur karena salah paham."


Sya juga merasakan hal yang sama. Setiap dekat dengan Ruka, Sya merasa sangat dekat dan tidak asing. Bahkan, Sya ingin bertemu dengan Ruka terus. Dia merasa tenang saat bersama dengan Ruka.


"Sya," panggil Ruka.


"Ya."


"Aku mohon jangan marah lagi pada Arda. Dia sangat tulus padamu."


"Aku tahu," jawab Sya.


"Kalau begitu aku akan pergi. Aku tidak ingin ada yang melihat kau dan aku bersama."


Setelah mengatakan hal itu Ruka langsung pergi dengan mobilnya. Dia datang hanya untuk memberikan bukti yang Sya minta pada Arda.


Setelah melihat video itu. Sya merasa lega, ternyata suaminya tidak berkhianat. Hanya dirinya yang tidak mau mendengarkan penjelasan yang dia buat. Hal itu membuat komunikasinya dengan Arda putus sampai saat ini.


***


Senyuman Arda mengembang ketika mendapatkan pesan dari Ruka. Ruka berhasil membuat Arda kembali padanya. Sejak awal pertemuan Ruka dan Sya, Arda melihat ada sesuatu yang berbeda.


Tidak seperti awal bertemu dengannya. Sya terlihat tenang dan nyaman saat didekat Ruka. Hanya saja Sya memilih untuk tidak mengatakan pada Arda.


"Arda. Apa kau akan memecatku?"


Aila melangkahkan kakinya mendekat.


"Berhenti disana. Aku tidak ingin dekat denganmu."


"Dulu kau tidak seperti ini padaku. Apa karena Sya? apa bagusnya dia dimatamu."


Dengan pelan Arda meletakan ponselnya. Lalu dia menoleh pada Aila yang tampak akan menangis, namun Arda tidak akan terjebak di hal yang sama.


"Siang."


Arda dan Aila menoleh secara bersamaan kearah pintu. Sya masuk dengan rantang makanan di tangannya. Tanpa pikir panjang Sya masuk dan mendekat pada Arda.


"Maaf aku tidak mendengarkanmu kemarin," kata Sya.


"Tidak masalah. Aku tahu kau akan menerimaku kembali," kata Arda sembari mengambil rantang makanan yang dibawa Sya.


Sya melirik kearah Aila. Dia terlihat marah dengan tangan mengepal. Sya merasa sangat tidak suka pada wanita itu.


"Arda," panggil Sya dengan lembut.


Arda menoleh pada Sya. "Ada apa?"


"Kenapa dia masih disini? bukankah kau berjanji akan memecatnya."

__ADS_1


Belum sempat Arda menjawab Aila mendekat dan langsung menarik Sya menjauh dari Arda. Begitu berhasil menangkap Sya, Aila mendorong Sya dengan kedua tangannya.


"Apa kau merasa sudah menang?"


Sya tidak menjawab. Dia dibantu Arda berdiri dari lantai. Beberapa kali Sya mengelus lengannya yang terluka.


"Aku tidak akan membiarkan kau menang begitu saja."


"Cukup!" teriak Arda "apa kau tidak merasa malu dengan apa yang kau lakukan. Kau wanita, seharusnya kau sadar dengan apa yang kau lakukan."


"Kau mengatakan aku harus sadar. Aku melakukan hal yang dulu juga dilakukan istrimu. Bahkan dia lebih menjijikan dariku."


Plak. Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Aila. Sya menatap Aila dengan tatapan yang tidak bisa terbaca.


"Aku memang pernah melakukan kesalahan itu, tapi aku sudah sadar. Aku sadar karena aku memiliki pendamping yang bisa membimbingku."


"Benarkah? kau tidak tahu seberapa bajingan Arda saat dulu bersamaku."


"Aku tidak peduli dengan masa lalu Arda. Yang aku tahu saat ini, dia suamiku dan aku tidak akan memberikannya pada siapapun. Apa lagi pada wanita sepertimu."


Hampir saja Aila membalas tamparan Sya, tapi dua orang satpam masuk dan menarik Aila dengan paksa. Hal itu dilakukan oleh Arda karena tidak ingin Aila berbicara terlalu jauh. Dia tidak ingin Sya melangkah menjauh darinya.


"Sya." Panggil Arda.


"Ya."


"Apa kau benar akan menerimaku dan melupakan masa laluku?"


"Ya. Asal kau jujur padaku."


"Aku selalu jujur padamu."


Sya mendekat dan menatap mata Arda.


"Kalau begitu, aku ingin bertanya satu hal padamu."


"Apa?"


"Apa kau yang membunuh Kakakku, Dava Zein?"


Kali ini wajah Arda berubah. Dia menundukan kepalanya. Dia tidak tahu harus menjawab apa pada Sya. Entah jujur atau bohong, Sya pasti akan tahu.


"Katakan, aku janji aku tidak akan meninggalkanmu," kata Sya.


"Sebenarnya, aku tidak membunuh siapapun. Aku tidak sengaja menembak kakakmu. Waktu itu, dia satu kelompok dengan musuhku. Aku tidak menyadari jika dia adalah anak dari ibu Zein."


Sya lemas. Dia duduk di depan Arda. Dia tidak tahu harus berekspresi seperti apa. Satu sisi dia hancur mendengar kabar itu, disisi lain dia senang karena Arda sudah jujur.


"Sya. Aku tidak tahu dia mati atau tidak, aku hanya menembaknya satu kali."


"Apa aku masih punya harapan untuk kakakku?" tanya Sya.


"Aku akan membantumu mencarinya. Aku juga harus minta maaf padanya."


Arda menarik Sya kedalam pelukanya. Dia tahu saat ini Sya pasti merasa sangat terluka dengan apa yang sudah dia katakan. Apa lagi, dia mengatakan jika dia sendiri yang menembak Dava.

__ADS_1


Sya memikirkan apa yang dikatakan Jeremy. Jika Arda benar Dava masih hidup. Jeremy pasti tahu sesuatu. Hal itu mendorong Sya untuk kembali menemui Jeremy dipenjara.


***


__ADS_2