
Para tamu sudah mulai berdatangan. Dengan senyum lebar Sya menyapa mereka. Ya, hari ini adalah hari dimana Sya membuka cafe. Karena baru pertama buka, dia menyediakan banyak promo.
Hasilnya tidak diduga. Banyak pengunjung yang datang. Untung saja ada Eri dan Ruka yang membantunya. Jika tidak, entah apa yang akan dia lakukan.
Dering ponsel Sya membuatnya harus keluar sebentar. Suara bising di dalam cafe akan membuatnya tidak bisa mendengar apapun.
Nomor tanpa nama.
"Halo."
"Apa kau tidak merindukan suamimu?"
"Siapa ini?"
"Kau tidak perlu tahu aku. Aku hanya ingin mengatakan jika lebih baik kau menjauh sejauh-jauhnya dari Arda. Dia sekarang begitu bahagia, apa lagi dengan hadirnya bayi dalam kandunganku."
Senyuman di wajah Sya mengembang. Dia tahu siapa yang menelfonya. Walau Sya tidak tahu bagaimana bisa Aila tahu nomor itu.
"Aku tidak tahu apa yang kau ucapkan. Sampai saat ini dia adalah suamiku. Aku masih bisa kembali padanya kapanpun aku mau. Kau juga harus ingat, anak yang berada dalam kandunganmu bukanlah anak Arda."
Tidak ingin berdebat dengan Aila terlalu lama. Sya memilih untuk menutup telfon itu. Dia kembali masuk dan melayani para pelanggan.
Sampai akhirnya cafe itu mulai sepi. Kali ini Sya, Ruka dan Eri bisa beristirahat dulu. Mereka duduk di sofa dekat TV.
"Mau aku pijat?" tawar Eri pada Sya.
"Tidak perlu. Aku tidak begitu lelah."
"Kau pasti bahagia karena pengunjung cafe ini banyak," kata Ruka.
Sya mengangguk. "Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa mengandalkan orang lain. Jadi, aku berinisiatif untuk membuka cafe ini."
Ruka dan Eri mengangguk. Mereka sepaham dengan Sya. Jika mereka mengandalkan orang lain terus menerus. Bukan tidak mungkin saat orang yang diandalkan pergi. Mereka tidak bisa berbuat apapun selain gigit jari.
***
Wajah Aila memerah dia benar-benar kesal dengan apa yang dilakukan Sya padanya. Walau dia sudah pergi dari hidup Arda. Tetap saja Sya mampu membuat Aila diam dan terluka.
Melihat wanitanya sedang marah. Ayah kandung dari anak Aila mendekat. Perlahan dia memijat bahu Aila. Dia juga mencoba untuk menenangkan hati Aila.
"Jika kau terus marah seperti ini. Kau tidak akan mendapat apapun Aila."
"Kau hanya perlu diam. Jika kau sudah bercerai dengan Mila. Apa kau akan mengakui anak ini?" tunjuk Aila kearah perutnya.
Jovi tersenyum dan duduk di hadapan Aila. Dia memegang tangan Aila dengan erat. Dia tahu wanita yang berada di depannya saat ini hampir menyerah pada Arda.
"Kau hanya perlu membuat Arda sibuk. Sampai aku berhasil bercerai dengan Mila."
"Baiklah. Jika terlalu lama, kau tahu apa yang akan aku lakukan."
"Iya, Sayang. Kau sudah mau mengandung anakku. Mana mungkin aku akan mencampakkan dirimu."
Sampai saat ini memang Arda belum tahu jika Jovi sudah keluar dari penjara. Dia hanya fokus pada pencarian Sya saja. Dia juga terus menerus mengembangkan bisnisnya. Hingga tidak mungkin dia bisa memikirkan Jovi.
Mila yang sudah diancam hanya bisa diam mengenai perceraian itu. Setiap malam dia hanya menangis sendirian. Saat di depan Sima dan Nyonya Ken, Mila akan tersenyum dan tertawa seperti tidak ada beban.
Tangan Arda masih beradu dengan keyboard laptopnya. Dia terus mencoba melacak dimana keberadaan Sya. Dia terus merasa bersalah dan menyesal.
__ADS_1
"Aku bisa gila karena mencarimu Sya."
Brak. Arda menggebrak meja dan memilih untuk keluar dari ruang kerjanya. Dia ingin melihat Aila sedang melakukan apa. Sejak tadi malam Aila tidak datang untuk mengganggunya. Hal itu membuat Arda penasaran.
Beberapa ruangan sudah Arda lihat. Tidak ada Aila dimanapun. Sampai Arda juga melihat ketaman belakang. Disana juga tidak ada. Sampai Arda melihat sebuah mobil datang ke pekarangan rumahnya.
Arda mendekat, tapi tidak menimbulkan suara apapun. Dia melihat Aila turun dengan banyak tas belanja di tangannya. Di dalam mobil itu juga terlihat ada seorang pria memakai kaca mata hitam.
"Ternyata kau tidak berubah sama sekali Aila," lirih Arda.
Di dalam rumah Arda pura-pura tidak tahu apapun. Dia bersikap seperti biasa pada Aila. Hal itu membuat Aila bisa bernafas dengan lega. Arda tidak mencurigainya sama sekali.
***
Beberapa kali Sya harus bolak balik ke dapur untuk membuatkan pesanan bagi pelanggan barunya. Pikirannya yang terpatri pada Arda membuatnya selalu salah. Hal itu sungguh mengecewakan.
"Bagaimana?" tanya Sya pada pelanggan itu untuk kesekian kalinya.
"Apa kau sedang ada masalah?" tanya pelanggan itu kemudian.
Sya memegang wajahnya. Apa terlihat jelas jika dia sedang memiliki masalah saat ini. Dia sudah mencoba menutupinya sebisa mungkin. Kini, orang lain sudah bisa membacanya.
"Jika kau terus seperti ini. Cafemu tidak akan maju, selesaikan dulu urusanmu. Kau akan maju dengan cafemu."
"Terima kasih sarannya," ucap Sya.
"Kalau begitu aku pergi dulu. Aku akan kemari lagi nanti."
"Baiklah."
Awalnya memang dia berniat tidak kembali. Hanya saja hatinya terus meronta dan menjerit memanggil nama Arda. Rasa rindu dan cinta yang beradu membuat Sya tidak berdaya.
"Hei. Apa kau sedang melamun?" tanya Ruka yang datang dan langsung menepuk pundak Sya.
Seulas senyum diberikan oleh Sya. "Kak Ruka."
"Apa ada masalah?"
"Tidak, Kak. Kak, apa aku boleh bertanya pada Kakak?"
"Tentu."
Sya tampak ragu dengan kalimat yang akan dikeluarkan dari mulutnya.
"Katakan saja Sya."
"Kak. Apa aku salah jika menghubungi Arda lebih dulu. Kau tahu, aku meninggalkannya tanpa ada kata."
Ruka tersenyum. Dia tahu Sya akan melakukan hal itu. Hal yang memang seharusnya dia lakukan sejak awal.
"Ya. Kau harus melakukannya. Arda sangat terpuruk tanpamu."
"Bagaimana Kakak tahu?"
"Dia selalu merengek padaku agar aku mau membantunya mencarimu."
Wajah Sya langsung berubah bahagia. Dia tahu Arda akan mencarinya. Bahkan Arda sampai meminta Ruka untuk mencarinya juga.
__ADS_1
"Dapatkan apa yang seharusnya kamu miliki. Aku ada di sampingmu," ucap Ruka.
Sya mengangguk. Sejak awal, Arda adalah miliknya. Bukan milik Aila, dia datang dan menjadi istri Arda karena sebuah kesalahan. Kini, Sya akan kembali dan merebut haknya.
Mata Eri berkaca-kaca mendengar apa yang dibicarakan oleh Ruka dan Sya. Bagaimana bisa Ruka bisa mendukung hubungan Arda dan Sya. Padahal dia sendiri mencintai Sya melebihi siapapun, pikir Eri.
Tanpa sadar. Rasa kagum di hati Eri mulai tumbuh pada Ruka. Kagum karena ada pria yang mau melepaskan cintanya untuk orang lain.
***
Cafe itu terlihat romantis setelah sore hari. Beberapa pelanggan masih berada di sana dan menikmati menu yang disediakan. Sementara sang pemilik cafe sedang merasakan dilema yang tidak bisa ditahan.
Degup jantung rasanya bisa didengar oleh semua pelanggan. Sesekali Sya akan melihat kearah luar berharap yang dinanti segera datang.
"Kamu kedalam saja. Biar aku yang mengurus disini," kata Eri.
"Nanti."
"Apa kau sedang menunggu seseorang?" goda Eri. Padahal dia sudah tahu siapa yang ditunggu oleh Sya.
Sya mencubit lengan Eri. Lalu dia kembali fokus menatap arah luar cafe. Hatinya terus berharap dan berharap. Sampai akhirnya sebuah mobil hitam berhenti di depan cafe.
"Apa dia datang?" tanya Eri.
"Aku tidak tahu. Baru kali ini aku melihat mobil itu."
Eri mengangguk-anggukan kepalanya. Sya mendekat pada mobil itu, dia melihat seorang pria turun dari mobil. Bukan Arda, dia adalah pria lain.
Sebuah senyuman membuat Sya bergidik. Rasa takut kembali muncul setelah melihat senyuman itu. Senyuman yang membuatnya sampai masuk ke rumah sakit.
"Halo, Sya."
"Kenapa kau bisa disini?" tanya Sya sembari berjalan mundur.
"Aku mendengar ada cafe baru disini. Jadi, aku ingin melihatnya."
Eri yang tahu keadaan Sya langsung mendekat. Dia berdiri di depan Sya dengan mata tajam menatap kearah Jovi.
"Kami tidak menerimamu disini," kata Eri.
"Begitukah? hanya cafe kecil tapi sudah berani sombong."
Eri dan Sya hanya diam. Mereka tidak sombong, mereka hanya ingin merasa tenang dengan hal yang mereka lakukan.
"Biarkan aku bicara dengan Sya. Sudah lama aku tidak melihatnya," kata Jovi.
Sya menggeleng dengan cepat. Bahkan jika dibayarpun Sya tidak akan mau bicara dengan Jovi hanya berdua.
"Aku tidak mau."
"Kau menolakku?" tanya Jovi dengan mata yang memerah.
Jovi sudah siap untuk mendekat dan menarik tangan Sya. Sampai sebuah tangan menahan tangan Jovi.
"Kau berani denganku?"
***
__ADS_1