
Suasana malam itu sangatlah dingin. Bahkan jika bukan karena janji, Sya akan memilih untuk tetap di dalam rumah. Hanya saja Dava meminta bertemu malam ini. Di sebuah cafe yang cukup jauh dari rumahnya.
Sya sudah mencoba memberikan alasan jika cafe itu jauh. Tidak mungkin jika dia harus datang sendiri, tapi Dava bersikeras bertemu Sya tanpa ada Arda.
"Kau terlihat cemas. Ada apa?" tanya Arda yang langsung duduk di hadapan Sya. Dia juga mengambil ponsel dari tangannya.
Sya tidak menjawab. Dia memilih mendekat pada Arda dan mendekap tubuh Arda dengan erat. Sya takut jika dia datang dan ternyata ditipu oleh Dava.
"Katakan padaku Sya."
"Kau tahu. Orang yang mengaku kakakku meminta bertemu saat ini. Dia ingin aku datang ke tempat yang cukup jauh. Aku takut," kata Sya.
"Kenapa harus takut. Aku akan selalu menemanimu."
"Dia memintaku datang sendiri. Dia bilang sangat merindukan aku."
Arda terlihat berfikir. Lalu, dia menggenggam tangan Sya dengan erat. Dia menatap mata Sya, ada rasa takut disana.
"Datanglah kesana. Dia kakakmu, sudah jelas jika dia merindukan kamu."
Apa yang dikatakan Arda dibenarkan oleh hati Sya. Sebenarnya dia juga sudah lama merindukan kakaknya itu. Walau rasa tidak percaya terus saja menjelma.
"Aku akan menemuinya."
Arda mengangguk. "Kabari aku selalu ya," ucap Arda kemudian.
"Pasti."
Sya mulai berbenah. Dia mengganti pakaian dengan yang lebih hangat. Sya juga tidak lupa untuk membawa ponselnya.
"Apa kau tidak ingin mengantarkan aku?" tanya Sya.
"Maaf, malam ini aku harus mengantar Mama ke bandara. Untuk sementara ini dia akan tinggal dengan Mila."
"Kalau begitu aku pergi dulu. Kau hati-hati di jalan."
Ya. Mila memang sudah pindah ke kota lain setelah kepulangan Sima dari ruma sakit. Dia ingin memberikan apa yang Sima inginkan. Sima ingin tinggal di tempat yang banyak pemandangannya.
Mungkin hal itulah yang membuat nyonya Ken juga ingin kesana. Dia ingin menenangkan dirinya setelah kejadian itu. Terlihat sekali jika nyonya Ken masih trauma saat di rumah itu.
***
Jalanan yang sepi membuat Sya sesekali menoleh kearah belakang. Baru kali ini dia datang ke tempat itu. Tempat yang gelap dan sepi.
__ADS_1
Beberapa kali Sya menanyakan alamat cafe yang dia tuju. Sampai di sebuah gang kecil terlihat lampu yang berkelap kelip di sebuah rumah. Sya merasa jika itu adalah tempat yang dimaksud Dava.
"Benar. Disini tempatnya," lirih Sya.
Sya masuk ke dalam tempat itu. Bukan sebuah cafe, tempat itu lebih ke sebuah tempat hiburan malam.
Banyak mata yang menatap Sya. Mereka memandang aneh karena apa yang dipakai Sya. Hampir semua wanita disana mengenakan pakaian sexsi dan minim, tapi tidak dengan Sya. Dia malah memakai pakaian yang cukup tertutup.
"Kau sudah datang?"
Sya terlonjak kaget mendengar sapaan itu. Lalu dia menatap pria yang berada di depannya. Apakah benar dia Dava. Sya mencoba mengingat lagi bagaimana wajah kakaknya itu.
"Ikuti aku. Disini terlalu bising," kata pria itu.
Sya hanya mengikuti apa yang dikatakan pria itu. Sampai dia masuk ke sebuah ruangan. Ruangan itu terlihat rapi, tidak seperti ruangan yang penuh orang tadi.
"Sya. Aku sangat merindukanmu," kata pria itu sembari memeluk Sya tanpa permisi.
Sya yang masih ragu langsung mendorongnya dengan keras. Dia tidak mau disentuh oleh sembarang orang.
"Ada apa Sya. Apa kau tidak merindukan aku?"
Sya memilih duduk di sebuah kursi. Lalu dia menatap pria itu yang mengaku sebagai kakaknya.
"Aku bisa jelaskan Sya."
"Apa mungkin kau bukanlah Dava kakakku," kata Sya.
Terlihat jika Dava merasa kesal. Dia mengira Sya akan percaya begitu saja. Ternyata wanita yang ada di depannya ini tidak mudah.
"Apa kau tidak percaya dengan kakakmu ini?"
"Aku perlu bukti. Mungkin kau sudah mendapat cinta dari ibuku. Hanya saja aku masih tidak percaya."
Dava membuka sebuah almari berisi kotak. Dia mengeluarkan kota itu dan meletakannya di atas meja. Satu persatu barang dari kotak itu dia keluarkan. Mulai dari baju, celana, sepatu, dan beberapa foto.
"Lihat. Apa kau ingat, ini adalah baju saat pertama kali aku pergi dari rumah," kata Dava.
Sya menatap lekat baju itu. Perlahan bayangan kakaknya saat dulu berpamitan hadir di pelupuk mata.
"Ini. Ini adalah foto masa kecil kita. Apa kau tidak ingat?" kali ini nada suara Dava cukup keras.
Tes. Sebuah tetes air mata jatuh ke pipi Sya. Dia merasa sangat merindukan kakaknya itu. Walaupun begitu, Sya masih belum percaya dengan orang yang saat ini berada di hadapannya itu.
__ADS_1
Dava yang melihat air mata itu merasa jika Sya sudah percaya penuh kepadanya. Perlahan dia mendekat dan akan kembali memeluk Sya.
"Tunggu, aku masih belum percaya padamu."
"Apa semua ini belum cukup?" tanya Dava.
"Kakakku memiliki tanda lahir. Jika kau memang kakakku, kau pasti akan mempunyainya."
Dava tertawa. Dia terlihat senang dengan apa yang dilakukan oleh Sya.
"Akan aku tunjukkan."
Dava membuka bajunya dan memperlihatkan sebuah tanda lahir di dada kananya. Dia bahkan meminta Sya untuk melihatnya dengan jelas. Tentunya agar Sya percaya.
Kali ini Sya tidak bisa mengelak lagi. Orang yang berada didepannya ini benarlah kakaknya. Setelah Dava memakai kembali bajunya dia mengambil sebuah minuman dan dia berikan pada Sya.
"Aku tahu. Kau masih tidak percaya, tapi ini benar-benar aku. Aku kakakmu, Dava Zein."
"Maaf, aku tidak bisa mengenalimu Kak."
Tangis Sya pecah. Dia langsung memeluk Dava dengan erat. Orang yang selama ini dia anggap sudah meninggal kini berada di depannya. Rasanya seperti mimpi.
Malam itu Sya dan Dava menghabiskan waktu dengan banyak cerita. Saat mereka kecil, saat Dava mencoba hidup di kota besar itu. Banyak hal yang mereka bagi, sampai pada akhirnya Sya harus kembali. Dia sudah tidak sabar bertemu dengan Arda dan menceritakan segalanya.
***
Arda merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Sya. Dia kira orang yang berada di foto itu yang akan menemui Sya. Ternyata tidak. Arda merasa jika ada sesuatu yang salah.
"Aku perlihatkan fotonya jika kau tidak percaya," kata Sya.
Arda melihat foto di ponsel Sya. Benar mereka sangat berbeda. Walau memiliki nama yang sama.
"Apa kau masih tidak percaya padaku?" tanya Sya.
"Aku percaya padamu."
Akhirnya Sya tersenyum. Setelah itu Arda kembali masuk ke dalam ruang kerjanya. Dia langsung menelfon orang kepercayaanya.
"Kau sudah salah memberikan informasi padaku," kata Arda dengan nada marah.
"Kau cari tahu kebenarannya. Jangan sampai istriku tahu," kata Arda lagi.
Lalu dia memutuskan telfon itu. Dia duduk sembari berfikir. Baru kali ini orang yang dia suruh salah membuat informasi. Untung saja Sya tidak tahu mengenai kebakaran itu. Jika dia tahu yang sebenarnya, dia pasti akan marah pada Arda.
__ADS_1
***