
Ruka sedang duduk dengan beberapa file yang menemaninya. Hari ini dia begitu sibuk, bahkan saat Sya menelfonya. Dia tidak menjawab. Bukan sengaja, hanya saja pekerjaan itu sangat penting untuk saat ini.
Sampai sebuah pesan masuk. Bukan hanya satu buah, melainkan banyak pesan yang masuk. Bukan hanya dari Sya, tapi juga dari Eri. Ya, Eri teman Sya sekaligus kekasih hatinya.
Setelah menyimpan file-file itu. Ruka mengambil ponselnya. Dia tidak ingin membuka pesan itu satu persatu. Dia memilih untuk menelfon Eri lebih dulu.
"Kenapa kau baru mengangkatnya? Apa ada masalah?"
Ruka tersenyum mendengar kekhawatiran dari kekasihnya itu.
"Ruka. Aku sedang tidak main-main."
"Ya. Aku sebenarnya sedang duduk dengan file-fileku. Kau tahu bukan, aku akan menemuimu."
"Aku tahu, tapi adikmu ingin kau menelfonya. Dia terdengar gelisah Ruka."
Mendengar kata gelisah membuat Ruka merasa bersalah. Dia memutuskan mengakhiri telfon itu dengan Eri. Dia kemudian menelfon Sya.
Setelah beberapa dering Sya masih belum menjawab. Hal itu membuat Ruka khawatir. Sampai hampir dering itu berakhir dan Sya mengangkat telfon itu.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Ruka langsung.
Sya tidak menjawab. Dia memikirkan cara untuk bertanya pada kakaknya itu.
"Sya. Apa ada masalah disana?"
"Kak. Aku mau tanya sesuatu padamu. Apa kau tidak keberatan?"
"Tentu. Tanyakan saja."
Sya menghela nafas. Dia mencoba untuk tetap tenang saat bertanya. Tentunya agar kakaknya tidak curiga.
"Aku mau bertanya soal. Soal. Kau tahu, Lufas..."
Belum sampai Sya selesai berkalimat. Lufas sudah mengambil ponsel itu dari tangan Sya. Dengan sebuah senyuman Lufas berbicara ditelfon.
"Dia ingin bertanya. Kapan kau akan datang berkunjung?"
Ruka tertawa. "Aku masih sangat sibuk. Jadi, tidak mungkin dalam waktu dekat."
"Kalau begitu. Aku akan katakan padanya. Sejak sampai, dia hanya memikirkan dirimu saja Ruka."
"Ya. Karena dia adikku satu-satunya."
"Baiklah. Kita akhiri dulu perbincangan ini. Aku dan Sya akan makan diluar."
"Jaga dia baik-baik."
"Tentu."
Klik. Panggilan itu telah usai. Sya menatap kesal kearah Lufas. Hari demi hari Sya berada di samping Lufas. Ada saja hal yang berubah dari Lufas.
"Kau ingin menanyakan apa pada Ruka?"
"Bukan urusanmu."
Lufas memberikan ponsel itu kembali. Sya merebutnya dengan keras. Setelah itu Sya membelakangi Lufas untuk pergi.
"Sya. Kau hanya perlu tahu jika aku mencintaimu. Kau tidak perlu tahu hal lain."
Tidak ada jawaban. Sya terus berjalan dan menghilang dibalik pintu kamarnya. Terkunci. Sya mengunci pintu itu. Dia memeluk dirinya sendiri.
Pikiranya kacau, dia tidak tahu orang seperti apa Lufas itu. Awalnya begitu perhatian dan baik hati, tapi kini perlahan sifat aslinya muncul juga.
Mengerikan. Lufas bisa melakukan apapun tanpa pikir panjang. Apa lagi menyangkut perasaan dan aturannya. Hal itu sudah mutlak baginya.
Kembali Sya menatap ponsel ditangannya. Jika saat ini dia menelfon kakaknya. Sudah pasti Lufas tidak tahu, tapi bagaimana mengatakan semuanya pada Ruka. Ruka begitu percaya pada Lufas.
"Aku harus diam sampai saatnya tiba."
Kemudian Sya duduk dengan tenang di balkon. Jika dia masih saja berada di vila itu tanpa teman. Sudah pasti dia akan terus menerus merasa bosan.
"Bagaimana bisa aku mendapatkan teman?"
Disaat Sya hampir putus asa. Dia melihat sebuah iklan di ponselnya. Aplikasi chat yang bisa melihat jarak orang yang saling berhubungan.
Tanpa pikir panjang Sya langsung mencobanya. Dia tidak mencari teman pria, dia hanya mencari teman wanita. Ya, dia hanya butuh teman untuk menemaninya bicara.
__ADS_1
Sampai dia menemukan sebuah akun yang bernama Anna. Sya langsung tersenyum, dia merasa sudah menemukan apa yang dia inginkan kali ini.
Pesan-pesan singkat mulai dikirim. Bahkan Anna langsung merespon dengan cepat. Hal itu membuatnya lebih senang lagi. Apa lagi, jarak diantara keduanya hanya beberapa ratus meter. Tentu saja itu tidak jauh.
Tanpa banyak waktu Sya dan Anna memutuskan untuk bertemu. Sya merasa memiliki banyak kesamaan dengan teman dunia mayanya itu.
Dengan kaus hitam dan celana jeans, juga dilengkapi sebuah blazer. Sya mengambil tasnya dengan semangat. Lalu dia keluar dari kamar.
Hampir saja Sya dan Lufas bertabrakan. Untung saja Sya masih sempat menghentikan langkah kakinya. Mata mereka bertemu.
"Kau mau kemana?" Tanya Lufas dengan seulas senyum.
"Aku ingin bertemu dengan seseorang."
"Apa itu pria?"
"Bukan."
Kini mereka saling diam. Sya yang merasa tidak ada gunanya diam seperti patung memilih melangkahkan kakinya.
"Tunggu."
Sya menoleh. "Apa lagi sekarang? Apa kau tidak ingin aku keluar rumah? Aku hanya ingin memiliki teman."
"Bukan begitu Sya. Aku tidak ingin kau salah jalan."
"Aku bukan anak kecil lagi. Kau bilang aku tifak perlu tahu tentang hal lain selain kau mencintaiku. Jadi, aku tidak ingin mencari tahu. Hanya saja aku minta, biarkan aku bebas."
Lufas yang tidak ingin kehilangan Sya memilih untuk mengalah. Walau begitu, dia tidak akan tinggal diam begitu saja. Dia akan terus mengikuti Sya. Kemanapun dia pergi dan dengan siapa dia berhubungan.
Sya berjalan dengan tas yang dia mainkan. Ada rasa aneh yang bersembunyi di hatinya. Lufas, masih menyembunyikan sesuatu darinya. Hal itu sangat mengusik hatinya.
***
Sampai disebuah kafe yang berada di pinggir jalan. Sya melihat seorang wanita dengan pakaian yang dideskripsikan oleh Anna. Tanpa pikir panjang Sya langsung mendekat.
"Apa kau Anna?" Tanya Sya tanpa basa basi.
Wanita itu menoleh dan memberikan senyuman lebar.
"Kau pasti Syaheila?"
"Tentu."
"Apa kau baru pindah kesini?" Tanya Anna.
"Ya. Aku sudah lima hari disini."
"Wow. Tapi kenapa aku baru melihatmu."
Sya tersenyum tipis. "Aku mengurung diri di rumah."
Ada gurat penasaran di mata Anna. Walau begitu, Anna tidak bertanya lagi. Cepat atau lambat, Sya akan mengatakannya sendiri.
"Aku senang bertemu dirimu," lirih Sya.
"Aku juga senang. Baru kali ini aku merasa nyaman dengan seseorang."
"Benarkah?" Sya terlihat senang.
"Ya. Aku juga baru saja mengurung diri. Bukan hanya lima hari, hampir satu tahun lebih aku diam di rumah."
Sya kaget mendengar hal itu. Dia kira hanya dirinya yang melakukan hal itu. Ternyata tidak.
"Kenapa kau melakukan itu?" Tanya Sya. Dia tidak menyembunyikan rasa penasarannya.
"Aku merasa bersalah. Aku menghianati kekasihku."
"Kau pasti punya alasan untuk melakukan hal itu."
Anna tersenyum. Dia mencoba kembali ceria dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sudahlah. Oh ya, apa kau memiliki kekasih?"
"Aku memiliki seorang suami. Kami menikah beberapa hari yang lalu."
"Apa dia baik padamu?" Tanya Anna.
__ADS_1
Sya merasa Lufas bukanlah orang baik. Hanya saja, dia tidak mungkin mengatakan hal itu pada Anna. Anna baru saja dia temui, rasa nyaman memang sudah ada. Hanya saja, rasa percaya masih belum seutuhnya.
"Dia sangat baik. Hal itulah yang menjadi alasan dia membawaku kesini."
Anna mengangguk-angguk dengan senyuman lebar. Lalu mereka mulai berbicara hal lain. Tentang hobi, hal yang mereka benci. Walau begitu, Sya mencoba terus menutupi masa lalunya dari Anna.
Sampai tiba-tiba ponsel Anna berdering. Dia menjauh dari Sya dan mengangkat telfon itu. Setelah itu, dia kembali duduk di samping Sya.
"Maaf sekali. Aku ada urusan mendadak. Aku akan mengantarkanmu."
Sya menggeleng. "Jika kau ada urusan mendadak. Kau tidak perlu mengantarku."
"Tidak. Aku akan mengantarkanmu. Sebagai tanda maafku."
Tidak ingin menyinggung perasaan Anna. Sya mengangguk dan setuju untuk diantarkan olehnya.
Sampai saat mereka bertemu dengan Lufas di depan kafe. Sya tidak tahu apa yang dilakukan Lufas disana.
"Lufas. Kau ada disini?"
Lufas terlihat kaget melihat Sya disana. Disamping Sya juga ada seorang wanita. Hal itu membuat Lufas langsung menyunggingkan senyum.
"Aku berniat menjemputmu," kata Lufas.
Sya menoleh pada Anna. Dia tersenyum.
"Suamimu sangat baik. Dia menjemputmu. Aku jadi tidak bisa mengantarmu."
"Maaf," ucap Sya.
"Tidak masalah. Aku pergi dulu ya. Daaah."
Sya melambaikan tangannya. Lufas mendekat dan langsung bertanya, "Siapa dia?"
"Temanku."
"Kau sudah mengenalnya lama?"
"Baru tadi."
"Jangan terlalu dekat dengan orang yang baru saja dikenal."
"Aku tahu."
Lufas menarik Sya dengan keras masuk ke dalam mobil. Entah kenapa, Sya melihat Lufas panik saat ini. Hal itu semakin membuat Sya bertanya-tanya tentang siapa Lufas sebenarnya.
Mobil dilajukan dengan kecepatan tinggi. Wajah Lufas begitu fokus. Sementara Sya berpegangan dengan sangat erat. Dia tidak tahu apa yang terjadi. Sya hanya mendengar suara tembakan beberapa kali.
"Ada apa ini? Apa kau seorang kriminal?" Tanya dengan nada marah.
"Diam dan tenang!" Perintah Lufas.
Bentakan itu berhasil membuat Sya diam. Walau begitu Sya masih saja merasa kesal. Sampai disebuah belokan. Mobil itu berjalan dengan perlahan. Lalu berhenti.
"Kenapa berhenti disini?"
"Turun."
"Kau bilang apa?"
"Aku bilang kau turun."
"Apa kau sudah gila?" Tanya Sya tidak percaya.
"Turun."
Sya masih saja duduk. Dia tidak beranjak sedikitpun dari duduknya. Hal itu membuat Lufas turun tangan. Dia turun dan menarik Sya keluar dari mobil.
Tanpa kata. Lufas kembali masuk ke mobil. Dia juga tancap gas tanpa menoleh lagi pada Sya. Sya menghela nafas panjang. Dia duduk di pinggir jalan.
Entah apa yang dipikirkan Lufas. Sampai dia tega meninggalkan Sya sendiri di tempat yang begitu sepi. Sampai saat Sya sadar, tas dan ponselnya tertinggal di mobil Lufas.
"Tamat sudah riwayatku," lirih Sya.
Hampir saja Sya menangis. Dia tidak tahu harus kemana. Dia barimu dikota itu, ingin bertanya tapi dia tidak tahu harus tanya apa. Akhirnya Sya melangkahkan kakinya. Dia hanya mengikuti kata hatinya.
Jika dia tersesat dan tidak ditemukan lagi. Sya sudah pasrah dengan semua itu. Kali ini, dia hanya berusaha sekuatnya.
__ADS_1
***