The Way Love

The Way Love
CL


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Sya sudah bangun. Di rumah ini, Mike begitu berkuasa. Tidak akan ada yang berani membantah perkataanya. Hal ini membuat Sya merasa jika Mike memang berbeda. Dia bukan hanya seorang model saja.


"Pagi, Nona Sya."


"Pagi juga asisten Lee."


Setip pagi asisten Lee memang selalu datang sebelum Mike bangun. Dia akan menyiapkan semua kebutuhan Mike. Dia juga yang mengatur makanan dan pakaian untuk Mike


"Tuan sudah bangun?" Tanya Asisten Lee.


Sya menoleh. Saat ini Mike sedang turun dari tangga dengan kaos rumahan. Ketampanan Mike semakin terpancar.


"Ya. Mulai saat ini kau hanya mengurus pekerjaanku. Selain itu, biarkan Sya yang mengurus."


Sya hampir tersedak dengan perkataan Mike.


"Kau calon istriku. Beberapa hari lagi kita akan menikah." Kata Mike, "Sudah kewajibanmu menyiapkan semuanya untukku," imbuhnya.


Sya hanya tersenyum.


Kali ini asisten Lee benar-benar merasakan jika Mike sudah berubah. Dia mau diurus orang lain, biasanya dia akan selalu menolak.


"Asisten Lee. Sarapan lah bersama kami," kata Sya.


"Maaf, Nona Sya. Saya ada hal lain yang harus diurus lebih dulu."


"Baiklah."


Sya dan Mike duduk berhadapan. Dengan tenang Sya menyiapkan makanan untuk Mike. Mike merasa senang dengan sikap yang diberikan Sya padanya.


"Apa kau akan menemui Nendra hari ini?" Tanya Mike.


"Tidak. Aku akan pergi dengan Rista."


"Rista? Apakah dia temanmu?"


"Ya."


Mike mengangguk-angguk.


"Jangan lupa untuk meluangkan waktu untuk dirimu sendiri Sya."


"Aku tahu."


"Jika kau butuh sesuatu. Katakan saja padaku."


"Ya."


Mike melihat Sya tidak semangat pagi ini. Pasti sudah terjadi hal yang salah.


"Kenapa kau sedih?"


"Tidak ada apa-apa Mike. Kau pergilah saja kerja."


"Jangan menyembunyikan masalah dariku. Aku pasti akan tahu."


Sya tersenyum. "Cepatlah berangkat. Kasihan asisten Lee menunggu."


"Kau bahkan begitu perhatian pada asistenku."


"Kita hanya teman." Ucap Sya.


"Setelah empat hari lagi. Kau akan jadi milikku."


***


Rista sedang memilih sebuah baju untuk pesta. Rista terlihat lebih cantik dari biasanya. Dengan dress merah cerah dengan motif bunga.

__ADS_1


"Halo."


"Hai. Kau terlambat," kata Rista.


"Maaf, jalanan macet."


"Alasan yang bagus."


"Sangat bagus."


Mereka mencari sebuah tempat untuk minum kopi bersama.


"Kau ingin mengatakan apa padaku?" Tanya Rista.


"Kita cari tempat yang nyaman dulu ya."


"Pasti hal penting."


Sya hanya tersenyum.


Sampai di sebuah cafe. Sya dan Rista memesan minuman yang sama. Mereka membicakan kondisi Nendra saat ini. Sampai pada saat Sya mengatakan jika dia akan menikah.


"Menikah?"


"Ya. Mike melamarku dengan cara tidak sewajarnya. Dia memberikan donor untuk Nendra, sebagai gantinya. Aku harus setuju menikah denganya."


"Mike? Mike yang seorang model itu?"


Sya mengangguk.


"Apa kau mencintainya?" Tanya Rista.


"Kau tahu. Aku hanya menganggapnya teman. Tidak lebih."


"Lalu kenapa kau mau menikah dengannya? Bukankah nantinya akan membuatmu terluka."


Rista memeluk Sya. Saat ini, dia merasa sakit dengan apa yang dikatakan oleh Sya. Bagaimanapun, Rista sudah terpikat dengan Mike. Tahu jika Sya menikah tanpa cinta, membuat Rista ingin merebut kembali Mike.


"Jangan bersedih," kata Rista.


"Ya. Terima kasih sudah mau mendengarkan aku."


"Kita kan teman."


Mereka kembali menikmati kopi yang sudah di pesan. Setelah itu mereka kembali untuk berbelanja. Sya juga menyempatkan dirinya ke salon. Sudah sangat lama dia tidak datang ke tempat seperti itu.


***


"Tembak dia," kata Mike dengan wajah datarnya.


Beberapa anak buahnya langsung bersiap untuk menembak. Sementara seorang pria dengan rambut coklat terlihat berlutut di tengah ruangan.


"Aku mohon maafkan aku. Aku tidak akan mengulangi hal ini lagi."


"Aku bilang tembak dia," kati Mike.


Dor Dor Dor. Pria berambut coklat itu tergeletak dengan darah yang mengalir. Beberapa orang mendekat dan membawa pergi jasad itu.


"Cek kembali semua pengiriman. Aku tidak mau ada kesalahan lagi."


"Baik, Tuan." Asisten lee bergegas untuk melihat pekerjaan semua anak buah.


Mike duduk dengan segelas anggur di tangannya. Dia masih saja memikirkan Sya saat ini sampai sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.


'Aku ingin menemuimu. Ada hal penting yang akan aku bicarakan padamu.'


'Cafe bougenvile. Setengah jam lagi.'

__ADS_1


Mike setuju. Dia langsung meluncur ke cafe yang dimaksud. Tidak membutuhkan waktu lama. Mike akhirnya sampai di tempat tujuannya.


Cafe itu terlihat begitu ramai. Mike meminta asisten Lee menyiapkan topi untuknya. Dia juga meminta asisten lee untuk tetap berada di dalam mobil saja.


"Bagaimana jika ini jebaka?" tanya Asisten Lee.


"Tenang saja."


Mike turun dan langsung masuk. Dia melihat wajah yang sama saat melihat Sya dibawa pergi lufas. Mike mendekat dan duduk di hadapan Rista.


"Mau minum apa?" tawar Rista.


"Tidak perlu. Katakan saja kenapa kau ingin bertemu. Apa ini tentang Sya?"


"Ya. Ini tentangnya."


"Ada apa dengannya?"


"Sebenarnya. Aku ingin mengatakan semua ini padamu untuk kebaikanmu."


Mike menatap pada Rista.


"Dia tidak mencintaimu. Dia menikah karena kau telah memberikan hati untuk anak Sya."


"Lalu?"


"Hanya itu. Kau dibohonginya," kata Rista.


Mike mengulas senyum.


"Lain kali tidak perlu menghubungiku lagi. Jika perlu, hapus saja nomorku."


"Dia sudah menipumu."


"Kau tidak perlu memikirkan hal ini. Aku dan Sya, baik-baik saja."


Mike kembali ke dalam mobil. Dia melepas topi dan menyandarkan dirinya pada kursi. Rasanya lelah dan ingin segera bertemu dengan Sya.


"Apa perlu saya laporkan ini pada Nona Sya?"


"Jangan. Biarkan saja, saat ini hanya dia yang dekat dengan Sya. Jika dia tahu, dia akan sedih."


Asisten Lee mengangguk.


Rista merasa kesal dengan sikap Mike. Dia bahkan tidak memandang Rista dengan baik. Apa yang dikatakan Rista pada Mike pun seperti tidak di dengarnya.


Dengan hati yang marah. Rista memilih untuk pergi. Meski Mike sudah memintanya untuk menghapus nomor telfon itu. Rista tidak melakukannya.


'Selamat untuk pernikahanmu. Maaf, aku tadi tidak sempat mengatakanya.'


Sya tersenyum mendapat pesan dari Rista itu.


'Ya. Terima kasih, lain kali kita pergi belanja lagi.'


'Tentu.'


Sya turun dari taxi. Dia membawa beberapa tas belanja. Saat masuk dia tidak menemukan Mike dimanapun. Akhirnya Sya memilih untuk mandi dan istirahat dulu. Dia akab membicarakan pernikahan itu dengan Mike nanti.


Sya mengambil beberapa buku dari tas belanjanya dan meletakan di meja. Dia juga meminta pelayan untuk memberi tahunya jika Mike sudah kembali.


"Baik, Nona."


"Oh ya. Tolong buatkan teh hijau untukku."


"Baik."


Sya masuk ke kamar mandi dan mulai menyalakan air hangat. Dia berendam untuk sedikit melepas penat. Padahal pikirannya selalu tertuju pada Danendra. Sedang apa dia saat ini?

__ADS_1


__ADS_2