The Way Love

The Way Love
LXXI


__ADS_3

Para pegawai hotel terlihat sangat sibuk hari itu. Bahkan beberapa tamu juga tidak bisa masuk lagi. Kamar penuh, kata resepsionis. Hal itu membuat Sya bingung. Setahunya banyak kamar yang belum terisi. Apa lagi, dikamar lantai paling atas.


Sya hanya bisa melihat sembari mengamati. Beberapa pelayan mencoba membersihkan aula dihotel itu. Seperti akan ada acara besar saja.


Bruk. Sya terjatuh karena menabrak seseorang. Setelah bangun dan membenarkan posisi bajunya. Sya melihat kedepan, siapa orang yang sudah menabraknya.


"Maaf, aku sangat buru-buru," kata Lufas.


"Jika kau buru-buru apa hal itu bisa menjadi alasan kuat menabrak orang lain?"


Lufas menghela nafas. "Sya. Aku sudah minta maaf."


"Aku tidak akan memaafkan kamu," kata Sya kemudian.


"Terserah kau. Setidaknya aku sudah mengatakan maaf."


Sya berlalu sembari menabrak tubuh Lufas. Mira yang melihat itu langsung mendekat pada Lufas. Sya memang sudah keterlaluan.


"Maaf Tuan Lufas. Nona sudah bersalah."


"Tidak masalah. Kau ikuti saja dia. Aku tidak mau dia sampai tersesat lagi."


"Baik, Tuan."


Mira kembali mengikuti langkah Sya. Dia terus berlari, rapi Sya tidak terlalu memikirkannya. Sejak kejadian tersesat itu, Sya masih marah pada Lufas dan Mira.


Sifatnya juga berubah saat tahu Aila keluar dari penjara. Dia masih belum menerima perpisahannya dengan Arda. Apa lagi perpisahan itu karena Ruka yang menginginkannya.


Kemarahan itu kini Sya lampiaskan pada orang yang akan menjaganya. Padahal, dimalam Sta menghilang Ruka, Lufas dan Mira begiry khawatir. Hanya saja kekhawatiran itu tidak terlihat oleh Sya.


Sya berhenti saat ponselnya berdering. Nama Ruka tertera pada layar ponsel Sya. Dengan senyum Sya mengangkat telfon itu.


"Kak. Ada apa Kakak menelfonku?" Tanya Sya langsung.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Ruka.


Sya memutar bola matanya. "Apa Lufas dan Mira mengadu lagi padamu?" Tidak menjawab Sya malah berbalik tanya.


"Apa kau marah pada Lufas dan Mira. Aku yang menyuruh mereka lapor jika ada sesuatu."


"Tapi mereka begitu pengadu, Kak."


"Sya," kali ini nada suara Ruka begitu keras. Hal itu membuat Sya diam seketika. "Aku menyuruh mereka melaporkan. Mereka bukan pengadu."


"Kaak."


"Cukup Sya. Cintamu pada Arda sudah membuatmu menjadi wanita lain dihadapanku."

__ADS_1


"Kakak. Kakak." Beberapa kali Sya memanggil, tapi Ruka sudah memutuskan telfon itu.


Sya hanya bisa menghela nafas sembari menahan kekesalannya. Lalu dia menoleh dan melihat Mira berada disampingnya. Ada rasa bersalah saat melihat Mira. Mira tidak salah dalam hal ini, apa lagi perpisahannya dengan Arda. Sya sudah dikuasai oleh rasa cemburu dan amarah.


***


Arda sudah siuman sejak beberapa hari lalu. Hanya saja dia hilang ingatan beberapa tahun. Dia hanya mengingat Sya sebagai perebut suami orang. Hal itu terlihat saat tahu Mila sudah bercerai dengan Jovi.


Hal itu dimanfaatkan oleh Aila. Dia terus saja memupuk rasa benci dihati Arda pada Sya. Hal itu akan sangat menguntungkan baginya. Apa lagi, Jovi sudah tidak bisa dia andalkan.


"Aila. Apa kau mau ikut aku ke kota D nanti malam?"


"Tentu. Jika bukan aku siapa lagi, aku kan istrimu satu-satunya."


Arda tersenyum. Dia memeluk Aila dengan erat. Bahkan Arda juga mendaratkan sebuah kecupan manis dikening Aila. Tentu saja hal itu membuat Aila terbang melayang.


"Aku juga ingin mengunjungi Mila dan Ibu," kata Arda kemudian.


Aila langsung menahan tubuh Arda agar tidak pergi.


"Kau sudah janji padaku. Kau akan mengunjungi mereka saat kau berhasil membuat Sya merasakan sakit hati. Seperti yang Mila rasakan."


"Kau benar," kata Arda.


Aila tersenyum. "Lebih baik. Kita bersiap untuk ke kota D."


Sejak Arda siuman dan Aila mengaku menjadi istri satu-satunya. Aila bisa bebas tanpa syarat lagi. Mungkin karena Arda sudah ditipu oleh Aila dan mau membatalkan gugatan pada Aila.


Kini Aila begitu tenang dan bahagia. Dia sudah berhasil membuat Arda menjadi miliknya. Tanpa harus lelah berfikir, bahkan Aila juga bisa menggunakan Arda sebagai alatnya untuk membuat Sya terluka.


"Dokter. Aku mohon jangan katakan tentang kebenaran itu. Jika kau mengatakan pada Arda, dia tidak akan percaya," kata Aila pada dokter yang menangani Arda.


"Dia harus tahu semuanya," kata Dokter itu.


"Diam dan jalankan apa yang aku katakan. Aku akan berikan berapapun kau mau."


Melihat apa yang diberikan oleh Aila. Dokter itu mengangguk dan setuju akan hal itu. Bagaimana bisa orang yang sedang butuh ajan menolak uang itu.


***


"Apa?!"


"Ya, Tuan Ruka sudah sampa untuk pesta malam ini."


"Apakah pesta ini begitu penting Mira?"


Mira tersenyum. "Malam ini adalah pesta untuk merayakan hotel ini Nona."

__ADS_1


"Kenapa kau baru mengatakannya?"


"Bukankah sejak tadi Nona memintaku diam."


Sya hanya bisa menggeram kesal. Lalu dia meminta Mira untuk mencarikannya baju yang cocok. Bagaimanapun dia harus siap saat bertemu dengan Ruka nanti.


Didalam kamar Sya mencoba untuk mengurus dirinya sendiri. Mulai dari mandi sampai mengeringkan rambut. Bahkan Sya juga memoleskan makeupnya sendiri. Hal itu sedikit menguras waktunya.


"Nona, baju ini akan cocok untuk pesta ini."


Kali ini Sya tersenyum sembari menerima baju yang dibawa oleh Mira.


"Mira. Terima kasih," kata Sya.


Mira tersenyum. Dia merasa senang mendengar kalimat itu. Setidaknya kalimat itu sudah memancarkan kebaikan Sya selama ini.


"Nona bisa bersiap. Saya akan menunggu diluar."


"Ya."


Setelah selesai. Sya duduk di depan TV. Kali ini dia mendapat kabar tentang pesta itu. Pesta yang begitu megah. Bahkan membuat para wartawan ingin datang dan mendapat liputan terbaik.


Ada rasa gelisah dihati Sya. Dia takut jika Arda datang. Apa lagi bersama dengan Aila. "Bagaimana bisa aku menahan perasaanku?" lirih Sya.


Kegelisahan itu terlihat jelas saat jari jemari Sya mulai memainkan pinggiran bajunya. Sementara itu, Ruka membuka pintu kamar Sya dengan sangat perlahan.


Hal itu dilakukan agar Sya tidak menyadarinya. Benar saja, Ruka masuk dan melihat Sya diam didepan TV.


"Sya. Kau sangat cantik malam ini," kata Ruka.


Sya tersadar dari lamunanya. Dia menoleh pada Ruka yang sedang berdiri. Tanpa pikir panjang Sya menghambur kearah Ruka. Sebuah pelukan hangat mendarat diantara kakak beradik itu.


"Apa kakak datang sendiri?" Tanya Sya sembari menoleh kearah belakang Ruka.


"Apa kau mengharapkan seseorang?"


Sya menggeleng. "Tidak. Aku hanya berharap kau memiliki pasangan malam ini."


"Kau tidak perlu memikirkan aku. Malam ini, aku ingin kau bersinar. Tidak ada kata masa lalu untuk malam ini. Jadilah diri sendiri, aku yakin kau bisa."


Sya tidak paham dengan maksud perkataan Ruka. Dia hanya diam sembari menatap mata kakaknya itu.


"Bersiap saja untuk pesta ini. Aku harus menemui seseorang dulu."


"Baiklah," lirih Sya.


Setelah Ruka pergi. Sya duduk dan berfikir tentang perkataan Ruka. Ada makna tersirat dibalik kata-kata itu. Hanya saja, Sya belum paham.

__ADS_1


***


__ADS_2