
Malam semakin larut. Sya sudah mulai memejamkan matanya yang indah. Sementara Arda masih setia dengan ponsel juga laptopnya.
Dia meminta beberapa anak buahnya untuk mencari Dava Zein. Ya, dulu memang Dava terlibat dengan sebuah kelompok yang bertentangan dengan perusahaan Arda. Hal itulah yang memicu sebuah bentrok.
Sampai saat ini, Arda baru tahu jika pria bernama Dava itu adalah kakak Sya. Dia adalah anak dari penolong ibunya, juga kakak dari istri tercintanya.
Setelah meminta anak buahnya mencari. Arda duduk mendekat pada Sya yang sudah mulai berjalan menuju mimpi. Tangan Arda mulai menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Sya.
"Maaf, aku tidak tahu jika dia kakakmu."
Tidak ada jawaban dari Sya. Merasa kantuk juga mulai menyerangnya. Arda mulai masuk ke dalam selimut untuk menghangatkan tubuhnya. Tangannya juga memeluk tubuh wanita yang disampingnya.
Arda berharap jika cinta itu akan berjalan dengan semestinya. Walau banyak rintangan, Arda tidak akan meninggalkan Sya. Karena itu adalah janji sucinya.
***
Dering telfon terdengar nyaring di kamar Arda dan Sya. Walau begitu, Arda masih saja terlelap. Dering itu hanya mampu membangunkan Sya.
Dengan mata yang masih terpejam. Sya meraih ponsel Arda yang berada diatas nakas. Dia mengangkat telfon itu dengan suara khas bangun tidurnya.
"Siapa ini?" tanya Sya.
"Apa Arda bersamamu?"
"Ya. Dia masih tidur. Kau siapa?"
"Berikan saja telfon ini padanya."
Karena Sya masih diselimuti rasa kantuk dia menuruti apa kata sipenelfon. Dia mengguncang tubuh Arda dengan keras hingga membuatnya terbangun.
"Apa?" tanya Arda yang merasa kesal karena tidurnya terganggu.
Sya tidak mengatakan apapun dan hanya memberikan ponsel itu pada Arda.
"Siapa yang menelfon sepagi ini?" tanya Arda.
Terdengar suara tawa diseberang sana. "Kau bilang ini pagi. Lihatlah jam di rumahmu, kau pasti begadang semalaman."
Mata Arda mengerjap. Lalu dia melihat jam yang sudah menunjukan pukul 08.00 WIB. Tanpa aba-aba Arda bangun dan melihat siapa yang menelfonya.
"Ruka. Ada apa kau membangunkanku?"
"Kau sendiri yang memintaku datang ke kantormu jam 7."
Arda memukul kepalanya sendiri. Dia lupa jika meminta Ruka datang saat pagi. Akhirnya dia meminta maaf pada Ruka.
"Tunggu aku sebentar lagi. Aku akan datang," kata Arda.
Ruka kembali tertawa. "Ya."
Tut. Telfon itu terputus. Arda menoleh pada Sya yang masih terlelap dengan selimut hangatnya. Tidak ingin mengganggu, Arda memilih untuk pergi tanpa diketahui oleh Sya.
__ADS_1
Setelan jas dan jam bermerk kini sudah membalut tubuh Arda. Beberapa kali Arda mengecek ponselnya sebelum pergi. Dia berharap jika ada kabar tentang Dava waktu itu.
Sayangnya sampai Arda masuk ke dalam mobil belum ada kabar dari anak buahnya. Padahal Arda sangat ingin memberikan kabar bahagia saat Sya terbangun nanti.
Di dalam kamar. Mata Sya mulai terbuka. Dia bangun karena tidak mendapatkan Arda berada di sampingnya. Sampai dia menderang deru mobil dari luar rumah.
Langkah cepat Sya membawanya ke jendela kamar. Dia melihat mobil Arda yang sudah melesat dengan kecepatan sedang. Hal itu membuat Sya tersenyum. Dia bisa melakukan apa yang dia lakukan hari ini.
Tidak ingin membuat suaminya itu bertanya panjang lebar. Sya mengirimkan pesan kalau dia akan jalan-jalan diluar. Jadi, Arda tidak usah pulang saat makan siang nanti.
***
Sekat itu membuat Sya tidak bisa menampar pria yang saat ini sedang tertawa kecil. Dia membuat wajah yang sangat memuakkan bagi Sya.
"Apa menurutmu ini sebuah lelucon?" tanya Sya dengan nada ketus.
"Sya. Aku mengatakan yang sejujurnya. Apa kau punya bukti atas apa yang dikatakan suamimu?"
Sya tidak mengatakan apapun.
"Aku akan berikan alamat makam kakakmu."
Sya tidak begitu tertarik. Dia tahu, bisa saja makam itu palsu. Hanya untuk membuat dirinya yakin dan melakukan apa yang Jeremy katakan.
"Sebenarnya apa hubunganmu dengan kakakku?"
"Kami saudara."
"Ya. Kami masuk ke organisasi yang sama. Disana tidak ada musuh, yang ada hanya saudara."
Sya berdecak. Dia merasa jika apa yang diomongkan Arda ada benarnya. Dia bentrok dengan organisasi yang tidak sepaham dengan perusahaannya.
"Ini alamat makam kakakmu," kata Jeremy sembari menyodorkan sebuah alamat.
Sya tidak mengatakan apapun. Dia hanya mengambil alamat itu dan pergi dari sana. Melihat alamat itu, Sya merasa tidak asing. Bahkan sangat mengenalnya. Itu bukan alamat pemakaman, tapi alamat rumah yang dulu ditinggali Sya dan keluarganya.
Bruk. Sya menabrak seseorang dipintu masuk. Mungkin karena dia terlalu fokus pada alamat yang tertera di kertas itu.
"Sya."
Sya mendongakkan wajahnya saat mendengar seseorang memanggilnya. Ruka, dengan pakaian casualnya dia berjalan menghampiri Sya.
"Ka...Kak Ruka. Kenapa bisa kakak ada disini?"
"Aku mengunjungi temanku."
Sya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Kau sendiri sedang apa disini?" tanya Ruka.
Pertanyaan itu berhasil membuat Sya kebingungan. Dia tidak bisa mengatakan hal yang sejujurnya. Hanya saja jika dia berbohong saat ini akan sangat tidak mungkin.
__ADS_1
Tidak lama Sya melihat Eri juga baru saja keluar dari gedung itu. Sya merasa dirinya sudah terselamatkan oleh adanya Eri.
"Sya." Kembali Ruka memanggil Sya.
"Aku datang kesini dengan temanku Eri. Lihat dia datang," kata Sya yang langsung mendekat pada Eri.
Eri menatap wajah bahagia dari Sya. Dia merasa aneh karena Sya ada disana dan tiba-tiba datang dan merangkulnya.
"Kenalkan, ini Eri."
Ruka tersenyum.
"Eri. Ini adalah Kak Ruka, teman Arda."
Eri hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Kalau begitu, kami pergi dulu Kak. Daah."
Sya langsung menyeret Eri dari sana. Eri masih diam saja karena bingung dengan apa yang dilakukan Sya.
Sampai di luar gedung. Sya menoleh kesekelilingnya. Dia mencari apa Ruka mengikutinya atau tidak. Setelah merasa aman Sya menghela nafas panjang. Dia merasa lega saat ini.
"Maaf, aku memanfaatkanmu," kata Sya.
"Tidak apa. Apa yang sedang kau lakukan disini sebenarnya?"
Sejak awal Sya tidak bisa berbohong pada temannya itu. Akhirnya Sya menceritakan hal itu sembari berjalan. Dia juga tidak bisa memendam rasa itu sendiri.
"Jadi, kau mencoba mencari kakakmu?"
"Ya."
Eri tahu, sejak awal datangnya Sya ke kota memang untuk mencari kakaknya. Sampai saat Sya bertemu Arda dan melupakan tentang kakaknya. Kini hal itu kembali muncul.
"Semoga kau lekas menemukannya," ucap Eri.
"Do'akan saja."
Mereka berjalan sampai disebuah cafe. Sya mengajak Eri untuk minum kopi disana bersama. Eri menolak, dia memang ingin melakukan hal itu dengan Sya. Hanya saja dia memiliki pekerjaan lain.
"Maaf Sya. Lain kali saja, aku masih ada urusan."
"Kau selalu sibuk sampai tidak menemuiku. Saat bertemupun kau masih sibuk," kata Sya.
"Lain kali aku akan kabari. Kita akan makan di cafe tempat kita sering jalan dulu."
"Baiklah. Aku akan menantikannya."
Tidak lama setelah itu sebuah taxsi berhenti di samping Eri. Dengan sigap Eri masuk dan pergi. Sya yang tidak tahu akan melakukan apa memilih untuk masuk ke dalam cafe. Dia memesan kopi sebagai teman duduknya.
***
__ADS_1