
Kembali Sya menatap dirinya sendiri di deepan cermin. Dia kembali membenahi rambutnya yang masih terlihat berantakan. Setelah merasa puas Sya keluar dari kamarnya.
Dia melihat beberapa pelayan yang sedang sibuk disebuah ruangan. Mereka keluar masuk secara bergantian. Setiap keluar pasti membawa barang.
Sya mengikuti para pelayan itu. Sampai disebuah ruangan yang bahkan Sya belum pernah memasukinya. Ya, karena Lufas melarangnya.
"Kenapa semua barang dikeluarkan?" Tanya Sya pada pelayan yang lewat.
"Tuan Lufas ingin membuang semua barang diruangan itu."
Sya penasaran dan masuk keruangan itu. Dia melihat kmar yang tertata rapi dengan banyak barang. Sampai Sya melihat sebuah foto pernikahan.
Kali ini Sya tersenyum. Bukan senyum kebahagiaan. Entah senyum apa yang sedang dia tunjukan.
Sudah jelas jika kamar itu dulunya milik Nita. Kini, Lufas meminta semua barang Nita untuk dibuang. Tentu jelas jika saat ini Lufas benar-benar sudah melupakan wanita masa lalunya itu.
"Kakak Ipar."
Ben masuk dan berdiri di samping Sya. Dia tersenyum sembari memandang kearah foto itu.
"Apa kau tahu tentang Nita?" Tanya Sya.
"Ya. Walau aku baru beberapa kali bertemu dengannya."
"Apa Lufas begitu mencintainya? Dia bahkan menyimpan segala milik Nita."
"Begitulah, ceritanya sangat panjang. Hanya intinya, dulu Nita yang membantu Lufas dalam kesusahan. Dia bahkan tidak takut saat tahu siapa Lufas sebenarnya."
"Lalu?"
"Kau tahu, Kak. Tidak ada wanita yang benar-benar tulus cinta pada pria hanya karena wajah dan cinta."
"Maksudmu?"
"Setelah menikah. Lufas pura-pura hancur dihadapan Nita. Dia berkata jika bangkrut karena masalah dengan mafia lain."
Sya tersenyum dan berkata, "Lalu Nita bunuh diri agar bisa lepas dari Lufas? Benar bukan?"
Ben tidak menjawab. Dia mengambil foto pernikahan itu dan memberikannya pada Sya.
"Kau bisa menghancurkan foto ini," kata Ben.
"Tidak perlu. Kau bisa membuangnya. Aku tidak ingin melihatnya."
"Tentu."
Melihat tidak ada hal yang penting. Sya keluar dari ruangan itu. Dia berniat menemui Xiu di restoran. Xiu ingin membahas beberapa pekerjaan dan juga mengobrol dengannya. Dengan senang hati Sya menerima ajakan itu.
Sampai dilantai bawah Sya melihat seorang wanita duduk. Dari belakang saja Sya sudah tahu siapa itu.
"Anna. Kau disini? Apa ada masalah?" Tanya Sya.
Anna menoleh. Dia berurai air mata, bahkan matanya sudah sangat merah. Tanpa kata dia mendekat dan langsung memeluk Sya.
"Katakan padaku. Ada apa?" Tanya Sya lagi.
"Rumahku baru saja kebakaran," tangis Anna pecah.
Sya kaget mendengar itu. Lalu meminta Anna kembali duduk. Dia meminta pelayan mengambilkan air untuk Anna.
"Kenapa bisa kebakaran?" Tanya Sya.
Anna menggeleng. "Saat semalam aku pulang dari kerjaku. Aku melihat rumahku sudah rata dengan tanah."
"Kasihannya dirimu. Lalu kau akan tinggal dimana setelah ini?"
Anna menggeleng lemah. Sya mengambilkan air dan memberikannya pada Anna.
"Minumlah. Kau akan lebih baik," kata Sya.
Anna mengambil gelas itu dan mulai minum. Sya yang tidak tahu harus apa hanya bisa diam. Dia memikirkan cara untuk memberi Anna sebuah pelajaran yang berharga.
"Sya."
"Ya."
"Apa kau mau membantuku. Saat ini, aku tidak memiliki tabungan. Kau tahu, aku tidak bisa menyewa rumah begitu saja. Aku butuh waktu untuk memilihnya."
__ADS_1
"Jadi?"
"Bisakah aku tinggal disini sampai aku menemukan tempat yang cocok."
Sya terlihat berfikir. Jika Anna tinggal dirumah itu. Secara tidak langsung dia akan lebih dekat dengan Lufas. Hal itu tentunya akan sangat mengkhawatirkan.
Lufas memang sejak awal sudah mengatakan mencintainya. Hanya saja tidak ada kucing yang bisa menolak ikan. Lufas bisa saja jatuh kembali dalam pelukannya.
"Sya," panggil Anna sembari memegang tangan Sya.
"Aku akan katakan dulu pada suamiku. Aku bisa menempati kamar tamu disana," kata Sya sembari menunjuk kesebuah kamar.
"Terima kasih," kata Anna.
Sya hanya tersenyum. "Pelayan. Kau bantu Anna untuk berbenah."
"Baik, Nona."
"Anna. Aku harus pergi keluar. Anggap saja dirumah sendiri."
"Ya."
Sya merasa hatinya begitu gelisah saat menerima Anna tinggal disana. Ada rasa was-was yang bahkan tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.
"Ben. Apa kau bisa membantuku?" Tanya Sya yang melihat Ben sedang memberi makan ikan.
"Ada apa, Kak?"
"Tolong pindahkan semua barang Lufas ke kamarku."
Ben tersenyum dan berkata, "Ada apa memangnya?"
"Temanku Anna akan tinggal disini untuk sementara waktu. Aku tidak ingin dia tahu jika aku dan Lufas beda kamar."
Mendengar nama Anna wajah Ben langsung berubah. Sya tahu, hanya memilih diam.
"Aku mohon Ben. Aku sudah terlambat menemui Kak Xiu."
"Tenang saja. Aku akan mengurus semuanya."
"Jika Lufas kembali dari kantor. Kau langsung menghubungiku," kembali Sya berkata.
Sya mengangguk. Dengan berat hati dia masuk ke dalam mobil. Jika bukan karena pekerjaan yang diberikan oleh Lufas. Sya sudah pasti akan berada dirumah saja. Dia akan terus mengawasi Anna.
***
Lufas kaget dan langsung berdiri dari duduknya. Dia mendapat kabar yang mengejutkan dari Ben. Sya setuju Anna tinggal dirumah itu.
Walau begitu, Lufas kali ini diam saja. Dia akan melihat bagaimana Anna dan Sya nanti. Jika dirasa Anna sudah melewati batas Lufas akan turun tangan sendiri.
Hari itu Lufas kembali keruang meeting. Dia melakukan semua hal seperti biasanya. Saat ini dia tahu jika Sya tidak dirumah. Xiu dan Sya sedang membahas beberapa hal tentang pembangunan sebuah gedung.
Disisi lain.
Sya duduk dengan tenang. Beberapa kali Sya melihat berkas yang berada ditangannya. Sesekali dia memikirkan apa yang sedang dilakukan Anna dirumahnya. Apa Lufas sudah kembali?
Pikiran jika Lufas sudah kembali membuat Sya tidak tenang. Dia ingin mengirim pesan pada Lufas tapi hatinya kembali mengehentikan. Sya benar-benar gelisah.
Xiu tahu jika temannya itu sedang memikirkan sesuatu yang sulit. Perlahan Xiu memegang tangan Sya. Dia tersenyum dan berkata, "Apa ada masalah?"
Sya menggeleng. "Aku hanya merasa sedang tidak enak badan saja. Apa kita bisa bahas hal ini lain waktu?"
"Tentu saja. Lagi pula aku sedang tidak ada urusan lain."
"Kalau begitu aku pulang dulu."
"Aku sudah menelfon Lufas. Dia akan segera sampai."
Sya terlihat bingung. Kapan Xiu menelfon Lufas. Sejak tadi mereka sudah duduk bersama.
"Aku menelfonya saat kau melamun. Aku tahu jika kau ada masalah. Jadi, aku meminta Lufas datang."
"Kau tahu, dia sangat sibuk. Tidak mungkin dia akan meluangkan waktu untukku."
Sebuah tangan mendarat dibahu Sya. Sya menoleh dan melihat Lufas sudah berdiri di sampingnya. Tanpa sadar Sya tersenyum dengan manis.
"Kau sudah datang?"
__ADS_1
"Ya. Bagaimana aku tidak datang jika kekasihku sedang membutuhkanku."
Sya merasa malu karena Lufas mengatakannya saat masih ada Xiu. Sya mencoba membenarkan anak rambut yang jatuh.
"Lufas. Ajak pulang Sya, sepertinya dia butuh istirahat."
"Kalau begitu aku dan Sya pergi dulu, Kak."
"Hati-hati dijalan."
Di dalam mobil Sya hanya diam. Dia terus memikirkan bagaimana nanti dirumah. Apa Lufas akan kaget atau marah padanya.
Sya masih belum tahu cara memberitahukan tentang Anna. Walau begitu, Sya tidak bisa melakukan apapun kali ini. Dia hanya ingin melihat apa yang akan dilakukan Anna dirumahnya.
Setelah Sya tahu siapa Anna sebenarnya. Sya merasa marah dan kesal, tapi dia juga merasa takut. Ya, takut jika Lufas akan kembali memilih wanita masa lalunya dan bukan dia.
Walau begitu, Sya masih belum bisa mengakui jika dia mencintai Lufas. Sya masih meyakinkan dirinya sendiri jika Arda yang masih berada direlung hatinya yang terdalam.
"Sya."
Sya menoleh dan melihat Lugfas menatap padanya.
"Apa kau tidak mau turun?"
Mendengar pertanyaan itu Sya menoleh kesekitar. Sya kaget melihat vila Averest sudah berada di depan matanya. Sya merasa jika dia baru saja keluar dari kantor Xiu tadi.
"Aku akan turun sebentar lagi. Kau duluan saja," kata Sya.
"Baiklah."
Seperti biasa, para pelayan langsung mendekat begitu tahu jika Lufas sudah kembali. Kali ini ada yang berbeda. Diujung para pelayan ada wanita dengan dress merah. Dia membawa nampan dengan irisan buah.
Lufas tahu siapa dia. Sejak dulu hanya dia yang melaukannya dengan sangat teliti. Irisan buah itu selalu dimakan oleh Lufas saat kembali dari luar.
Sya melihat apa yang dilakukan oleh Anna. Tanpa pikirpanjang Sya mendekat dan menggandeng tangan Lufas. Lufas menoleh.
"Aku merasa sangat pusing. Apa kau bisa memapahku sampai dikamar?" Kata Sya dengan senyum.
Lufas mengangguk. Saat Anna akan mendekat, Lufas langsung menggendong Sya dipelukannya. Hal itu membuat para pelayan juga Anna terperanjat.
Anna tidak tahu jika hubungan Sya dan Lufas begitu mesra. Hal itu membuatnya kecewa.
"Anna. Lebih baik kau makan buah tu sendiri," kata Sya.
Anna menghentakan kakinya dengan kesal. Lalu dia memberikan nampan itu pada seorang pelayan. Pelayan disana sudah tahu jika Anna adalah nyonya majikan yang dulu.
Anna bukan hanya baik pada mereka, tapi dia juga bisa membayar mereka dengan pupuk kebencian pada Sya. Hal itu ternyata bisa membuat Anna menjadi nyonya dimata para pelayan.
Lufas membawa Sya masuk ke dalam kamar. Begitu sampai Sya langsung turun dan terlihat begitu sehat dan bersamangat. Sya tersenyum pada Lufas.
"Ada apa? Kenapa temanmu ada disini?" Tanya Lufas yang pura-pura tidak tahu.
"Apa kau sedang bercanda denganku?"
Lufas tidak tahu maksud dari perkataan Sya saat ini. Sya meletakan semua berkas ditangannya. Dia kembali menoleh pada Lufas dengan senyuman.
"Aku tahu semuanya. Kau menyembunyikan hal besar ini dariku dan membuat aku melakukan semua ini," kata Sya.
"Apa maksudmu Sya?"
"Aku mendengar semua pembicaraanmu dan Ben. Saat pagi, Anna datang dan pura-pura membuat drama rumahnya kebakaran."
"Jadi,..."
"Ya. Aku ingin Anna disini, aku ingin melihatmu yang sebenarnya. Apa kau benar mencintaiku atau aku hanya sebuah pelarian. Kau akan kembali dengannya."
"Sya. Jika aku mengatakan aku mencintaimu, itu adalah hal benar."
"Aku tahu, kita lihat saja nanti."
Sya masuk ke kamar mandi dan menguncinya dengan rapat. Sementara Lufas menghempaskan dirinya diatas tempat tidur.
Dia melihat semua barang-barangnya sudah berada ditempat itu. Bahkan laptop dan beberapa buku yang sering dia baca juga ada disana. Hal itu membuat senyum simpul diwajah Lufas.
Tanpa Sya sadari, dia sudah masuk ke dalam cinta yang diberikan leh Lufas. Walau masih ada saja nama Arda yang muncul dihatinya.
Bagaimana Sya akan menyikapi semua ini?
__ADS_1
***