The Way Love

The Way Love
CLVI


__ADS_3

Danendra baru saja masuk ke dalam kamarnya. Dengan sembarangan dia melemparkan tas dan sepatu yang baru saja dia pakai. Wajahnya begitu murung.


Rasa marah dan benci menggantikan cinta dan kelembutan. Saat ini dia melihat foto Sya saat menggendong dirinya. Rasa sakit dihatinya muncul. Tanpa ragu, Danendra meraih foto itu dan melemparkanya ke sembarang tempat.


Crang. Kaca dari bingkai foto itu hancur berkeping-keping. Sama sekali tidak ada rasa penyesalan dalam diri Danendra. Bahkan dia merasa sedikit puas.


Samar-samar suara teman-teman sekolahnya kembali hadir diingatan. Dimana mereka mengatakan jika Sya sudah merebut idola mereka. Bahkan, teman-temannya mengatakan jika Sya hanya menginginkan harta Mike. Bukan cinta.


"Aaaarrrgghhh."


Danendra mengerang marah. Dia menjatuhkan barang-barang yang berada di nakas. Saat ini dia sangat ingin bertemu dengan Sya. Dia ingin mengatakan jika Sya bukan lagi ibunya.


Jika teman-temannya sampai tahu jika dia adalah anak dari Sya. Sudah pasti teman-temannya akan menjauh. Hal ini menjadi bayangan yang mengerikan bagi Danendra.


***


Beberapa pelayan datang membawakan makanan. Sya dan Mike sudah duduk di meja makan. Mike menjelaskan apa yang harus dilakukan Sya untuk dapat mengambil hak asuhnya.


Dengan tenang Sya mendengarkan apa yang dijelaskan. Rasa percaya dirinya muncul. Jika memang saat ini keputusan ada di tangan Danendra. Sudah jelas jika Danendra akan memilih dirinya. Bagaimanapun, Sya adalah ibu yang selama ini mengasuhnya.


"Apa kau siap?"


"Ya. Aku percaya jika dia akan memilihku."


Mike memegang tangan Sya untuk menguatkan. Sya menatap Mike dengan senyuman.


"Aku akan siapkan semuanya. Kau tahu, kau harus siap untuk segala kemungkinan."


"Ya."


Mereka makan siang dengan tenang. Beberapa hari ini Mike tidak terlihat pergi untuk pemotretan. Dia lebih sering memakai baju yang resmi untuk keluar.


Sudah beberapa kali Sya mencoba bertanya. Hanya saja Mike terus mencoba untuk menghindar.


"Mike."


"Ya."


"Jika bertanya padamu. Apa kau akan menjawab jujur padaku?"


Mike meletakan sendok dan garpu di tangannya. Dia menatap pada Sya yang memperlihatkan wajah seriusnya.


"Kau ingin bertanya tentang apa?"


"Apa pekerjaanmu sebenarnya? Kau tahu, kita sudah menikah. Kau tidak perlu menutupinya kembali."


Wajah Mike berubah menjadi lebih serius dari sebelumnya.


"Mike. Jika kau tidak jujur padaku. Bagaimana aku akan percaya padamu."


"Setelah ini. Bersiaplah. Aku akan mengajakmu melihat bisnisku."


Wajah Sya terlihat cerah.


"Baik."


Menunggu Sya bersiap. Mike mengirim pesan pad asisten Lee untuk menyiapkan segalanya. Asisten Lee yang paham langsung melakukan apa yang Mike minta.


Suasana di markas besar yang awalnya tenang langsung berubah. Mereka terlihat begitu sibuk mempersiapkan semuanya. Jika ada kesalahan, sudah tentu akan berurusan dengan Mike.


"Kalian juga tidak boleh memperlihatkan wajah seram. Nona Sya, wanita yang sangat biasa. Jangan buat dia takut," kata asisten Lee.


"Baik." Jawab anak buah disana dengan serentak.

__ADS_1


***


Langkah Lufas begitu panjang. Dia masuk dengan jas yang sudah dia lepas. Hari ini Mika datang ke kantor dan membuat ke kacauan. Hal ini menyulut emosi Lufas.


Dengan keras Lufas menarik tangan Mika. Mika melihat siapa yang sudah menahan tangannya. Begitu melihat Lufas, tatapan Mika melunak.


"Kau akhirnya datang," ucap mika.


"Apa yang kau mau?" Tanya Lufas.


"Aku ingin menemuimu dan meminta maaf."


Lufas mengernyitkan dahi.


"Aku tahu kau marah karena kejadian terakhir."


Terlihat jelas jika Lufas mencoba untuk mengingat sesuatu. Sampai akhirnya dia paham maksud dari Mika.


Melihat situasi saat ini tidak memungkinkan untuk Lufas mengatakan hal lain. Banyak karyawan yang saat ini sedang menatap mereka.


"Ikut aku," kata Lufas yang langsung berjalan.


mika mengikuti langkah kaki Lufas tanpa banyak bicara. Mereka masuk ke ruangan Lufas yang berada di lantai atas.


"Apa kau sudah memaafkan aku?" Tanya Mika sembari memeluk lengan Lufas.


Dengan senyum aneh Lufas melepaskan tangan Mika.


"Jika kau ingin dimaafkan. Aku punya hal yang harus kau lakukan lebih dulu."


"Apa? Dengan senang hati aku akan lakukan untukmu."


Lufas mendekat dan menyibak rambut Mika yang ikal. Dia membisikan sesuatu.


"Kau tahu. Aku dan dia tidak baik dalam hubungan saudara."


Mika terlihat ragu.


"Fas. Dia saudaraku. Jika aku mengganggu istrinya. Dia tidak akan tinggal diam."


Lufas tidak mengatakan apapun. Dia hanya menatap Mika dengan tajam.


"Baiklah. Baiklah. Aku akan melakukan sebisaku."


"Bagus."


Setelah itu, Lufas mendekat dan memeluk pinggang Mika. Mika yang memang sudah lama merindukanya membalas dengan rangkulan mesra di leher Lufas.


Rasa rindu itu mereka lepaskan di ruangan dengan banyak berkas. Tanpa ragu dan tanpa malu.


***


Mobil Mike berhenti di depan markas besar. Seorang pria mendekat dan membukakan pintu. Sya tersenyum dan langsung merangkul lengan Mike.


Mereka masuk. Wajah mike terlihat begitu serius dan tatapanya tajam. Beberapa karyawan bahkan menyapa dengan senyuman.


"Mereka sangat ramah," kata Sya.


"Ya."


"Lalu apa bisnismu?" Tanya Sya.


Mereka masuk ke ruang kerja Mike. Asiten Lee disana dan dengan senyuman menyapa kedatangan Mike dan Sya.

__ADS_1


Wajah Sya masih terlihat bingung. Dia belum paham dengan bisnis yang dimaksud oleh Mike. Sampai asisten Lee membuka sebuah tirai.


Mata Sya melebar. Dia terlihat begitu kaget, bahkan tanganya semakin erat memegang lengan Mike.


"Nona Sya. Kami disini bisnis senjata tajam. Jadi jangan kaget."


Sya menatap asisten lee dengan aneh. Bagaimana bisa dia tenang. Di depannya saat ini ada berbagai macam bentuk senjata. Memikirkan untuk apa saja senjata itu sudah membuat Sya takut.


"Negara sudah tahu akan bisnis ini. Bisnis ini legal," jelas asisten Lee.


"Kami adalah pemasok senjata paling besar."


"Untuk apa saja senjata itu?" Pertanyaan itu muncul begitu saja dari mulut Sya.


"Tergantung siapa yang memesan. Kami hanya menjualnya," jawab asisten Lee.


Sya menoleh pada Mike.


"Jangan takut. Mereka tidak bisa bergerak sendiri."


Wajah Sya malah semakin tegang karena perkataan Mike.


"Asisten Lee. Tolong bawa Sya untuk berkeliling. Aku masih ingin menyelesaikan banyak hal."


Dengan berat hati Sya melepaskan tangan Mike. Dia berjalan keluar ruangan dengan asisten Lee. Asisten Lee terus menerangkan tentang bisnis itu. Padahal, Sya tidak ingin mendengar hal itu lagi.


"Apa yang akan dilakukan oleh Mike?" Tanya Sya.


"Nona Sya. Tuan Mike sedang mengadakan meeting virtual. Satu jam lagi baru selesai. Jadi, selama satu jam kita akan berkeliling."


Sya hanya bisa menganggukan kepalanya.


Mike membahas beberapa hal dengan bos-bos mafia di luar sana. Dia terus mendapatkan permintaan senjata tajam. Meski begitu, Mike tidak ingin dicurangi. Jadi, setiap akan ada transaksi. Mike akan meminta bertemu dengan Bos mafia itu secara langsung.


Jika Sya tahu hal ini. Dia pasti tidak akan setuju, bagaimanapun pekerjaan Mike tetaplah seputar mafia.


Meski begitu, Sya masih belum tahu di balik gedung markas besar yang sebenarnya. Disana banyak sekali kekejaman yang dibuat Mike. Memang Mike tidak melakukannya untuk bersenang-senang. Dia melakukan hal ini, untuk menghukum orang yang berani curang padanya.


Satu jam berlalu. Sya kembali ke ruangan Mike berada. Mike menutup laptop dan mendekat pada Sya.


"Buatkan teh untuk Nona Sya," kata Mike pada asisten Lee.


"Baik." Asisten Lee keluar.


"Bagaimana? kau suka dengan gedung ini?"


Sya diam dan memegang tangan mike.


"Aku tidak nyaman disini. Bisakah kita pulang?"


Mike mendekat dan memeluk pinggang Sya. Sya kaget dan mencoba melepaskanya. Dia tidak mau asisten Lee melihatnya.


"Istriku tidak suka dengan pekerjaanku?"


"Bu...bukan begitu. Aku hanya tidak nyaman saja."


Mike mengangguk-angguk. Dia paham dengan apa yang dimaksud Sya.


"Istirahatlah sebentar lagi. Asisten Lee sedang membuatkan teh."


"Kalau begitu, temani aku untuk meminum teh."


"Baiklah istriku."

__ADS_1


Panggilan dari Mike untuk Sya membuat Sya merasa berbeda. Bahkan ada getaran di dalam hatinya.


***


__ADS_2