The Way Love

The Way Love
LXXV


__ADS_3

Mobil berhenti tepat di depan bandara. Ya, Sya harus menjemput Ruka saat itu juga. Padahal baru kemarin Sya mengantarkannya untuk pulang.


Dengan baju yang sederhana Sya duduk di samping mobil. Sembari menunggu kakaknya keluar dari bandara. Lufas yang diperintah untuk menemaninya sedang tidak bisa. Dia ada meeting mendadak di hotel saat ini.


Hampir setiap menit Sya melihat kearah jam tangannya. Hanya saja Ruka masih saja belum datang. Sya memutuskan untuk menelfon saja, dia takut terjadi apa-apa pada Ruka.


"Dimana ponselku. Kenapa aku tidak bisa menemukannya," lirih Sya sembari terus mengobrak abrik isi tasnya.


"Apa kau mencari ini?"


Seseorang datang dan langsung menyodorkan ponsel Sya. Sya mengambil ponsel itu dan menoleh pada penolongnya itu.


"Terima..."


Sya tidak sempat melanjutkan kalimatnya. Dia sudah kaget dengan keberadaan Arda.


"Kenapa bisa ponselku ada bersamamu?" Tanya Sya kemudian.


"Menurutmu?"


Tidak ingin memperpanjang percakapan dengan Arda. Sya hanya menatap ponselnya dam berkata, "terima kasih ponselnya. Aku harus pergi."


Saat Sya akan menjauh. Arda menahan tangan Sya dengan erat. Beberapa kali Sya mencoba untuk melepaskan diri. Hanya saja kekuatan mereka tidak seimbang.


"Banyak orang yang melihat. Lepaskan aku," kata Sya.


"Untuk apa kau memikirkan pendapat orang lain. Bukankah kau mencintaiku?"


"Ada apa ini?"


Sya dan Arda sama-sama menoleh kearah suara. Ruka mendekat dengan koper ditangan kanannya. Melihat peluang itu, Sya langsung melepaskan tangannya dari Arda.


"Kakak sudah sampai. Sejak tadi aku menunggu," kata Sya.


"Masuk ke mobil," kata Ruka dengan nada perintah.


"Baik."


Sya langsung masuk ke dalam mobil. Sementara Arda dan Ruka terlihat sedang berbincang. Sya tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Hanya saja, dia tahu jika Ruka marah padanya.


***


Dalam perjalanan kembali ke hotel. Sya hanya diam. Sesekali dia melihat jam di ponselnya. Waktu terasa tidak berjalan baginya. Apa lagi dengan diamnya Ruka karena marah.


Padahal Sya belum jelaskan apapun pada Ruka. Wajah Ruka yang memancarkan ketegasan membuat Sya hanya bisa diam. Jari jemarinya bermain dipangkuan.


"Apa kau masih berhubungan dengannya?" Tanya Ruka kemudian.


Sya menggeleng.


"Apa kau masih mencintainya?"


Kali ini Sya tidak bisa menjawab. Bagaimanapun, dia masih menyimpan kenangan manis itu. Walau ada juga luka yang ditorehkan oleh Arda dimasa lalu.


"Kenapa hanya diam. Bukankah kau sudah berjanji padaku. Sya, aku tidak mau kau sampai terluka lagi karenanya."


"Aku tahu kak. Hanya saja, aku..."

__ADS_1


Belum selesai Sya berucap. Ruka sudah berkata, "Mulai saat ini. Aku yang akan mencarikanmu pria. Kau tak boleh menolaknya."


Wajah Sya berubah. Dia menoleh pada Ruka yang hanya menatap kosong ke depan. Sya tidak percaya jika kakaknya begitu ingin dia melupakan Arda.


"Kak. Aku bisa mencari pria sendiri."


"Jika kau bisa. Kenapa sampai saat ini tidak ada pria yang kau dekati."


"Kak..."


"Kali ini dengarkan aku. Aku tidak bisa tenanh jika kau terus seperti ini Sya."


Kali ini hanya helaan nafas yang keluar dari bibir Sya. Dia benar-benar tidak bisa berbuat apapun. Baginya, cinta yang sudah dia berikan pada Arda. Akan sangat sulit untuk diberikan pada orang lain.


Akhirnya mobil berhenti di depan hotel. Sya dan Ruka turun dengan sambutan dari Lufas. Seperti biasa, Sya tidak terlalu memperhatikan Lufas. Bahkan, Sya terkesan ingin menjauh dari sana.


"Kak. Aku akan ke kamar dulu."


"Ya. Temui aku saat makan malam nanti."


"Tentu."


Mira langsung mengekor pada Sya yang baru saja masuk ke hotel. Beberapa hari ini Mira disibukan dengan tugas dihotel itu. Walau masih menjadi pelayan pribadi Sya.


Sejak datang ke hotel. Sya lebih suka melakukan apapun sendiri. Dari Mira, Sya belajar banyak. Berdandan dan memilih pakaian, walau sebelumnya dia juga sudah belajar dengan Eri.


Mengingat nama Eri. Sya jadi terpikirkan dengannya. Sudah lama dia tidak menelfon Eri, untuk sekedar mendengar kabar darinya.


"Mira. Bawakan aku segelas teh hijau. Aku ingin meminumnya saat ini," kata Sya.


"Baik, Nona."


"Halo. Ini siapa?"


"Apa kau tidak kenal denganku?" Tanya Sya tidak percaya.


"Ini nomor baru. Jadi aku tidak bisa memastikan siapa dirimu," kata Eri.


Sya menepuk kepalanya sendiri. Dia lupa jika sudah mengganti nomornya.


"Aku Sya. Maaf aku tidak memberitahumu tentang nomor ini."


"Kenapa kau baru mengabariku? Apa disana begitu menyenangkan?"


Sya tertawa kecil. "Tidak terlalu menyenangkan. Aku bahkan ingin kembali kesana."


"Kenapa? Apa ada masalah? Apa Ruka melakukan sesuatu?"


"Sebenarnya...."


Sya cerita tentang banyak hal. Tentang Arda, Ruka, Lufas dan juga Aila. Tidak hanya itu, Sya juga mengatakan jika dirinya akan dijodohkan oleh kakaknya. Entah dengan siapa nanti.


"Apa kau setuju?" Tanya Eri kemudian.


"Kau tahu kakakku. Aku tidak mungkin bisa menolaknya."


Mira datang dengan tergesa masuk ke dalam kamar Sya.

__ADS_1


"Tuan Ruka dan Tuan Lufas sedang menunghu Anda diruangan kerja."


"Baiklah. Aku akan segera kesana," kata Sya.


Mira kemudian pergi kembali.


"Sudah dulu. Nanti aku telfon lagi."


"Ok."


***


Lufas masih terus menolak. Dia tidak ingin memaksa Sya yang jelas-jelas tidak menyukainya. Walau Ruka bersikeras untuk menikahkan Sya dengan dirinya.


"Aku akan mengurus semuanya. Kau hanya perlu mengatakan ya."


"Tidak semudah itu, Ka. Kau tahu aku tidak bisa memaksa seorang wanita."


"Lalu bagaimana agar kau mau mengatakan mau?" Tanya Ruka.


Lufas diam. Dia tidak tahu harus dengan cara apa lagi untuk menolak hal itu. Dalam hatinya, dia juga belum lepas benar dari mendiang istrinya.


"Baiklah. Aku akan menanyakan pada Sya. Jika dia mau, kau juga harus mau."


Setelah itu Ruka keluar dari ruangan. Saat berada di lorong. Sya datang dengan senyuman beserta ponsel ditangan kirinya.


"Ada apa, Kak?" Tanya Sya langsung.


"Ikutlah ke kamarku."


Sampai di dalam kamar. Sya duduk sembari menatap sekeliling ruangan itu. Benar-bwnar seperti kamar yang berada di rumahnya.


"Aku akan menjodohkan kamu dengan Lufas."


Sya terbatuk karena tersedak mendengar kabar itu.


"Lufas?"


"Ya. Dia pria yang baik, aku tahu jika dia mampu bersamamu."


"Apa kakak sudah hilang akal? Aku tidak mencintainya."


Ruka duduk berhadapan dengan Sya.


"Aku tahu. Bukankah kau sudah terima saat di dalam mobil."


"Kak. Aku tidak mau seperti ini. Aku akan cari pria lain. Lagi pula, aku bukanlah gadis. Aku seorang wanita yang pernah menikah."


"Apa kau kira Lufas adalah pria yang belum menikah. Dia pernah menikah."


Kali ini Sya diam. Dia sedang mencari alasan agar bisa menolak hal itu. Tidak mungkin dia harus bersama Lufas. Dia merasa pria itu begitu baik padanya. Hanya saja, Sya memang tidak memiliki rasa cinta untuk Lufas.


"Aku sudah aturkan tanggal pertunangan kalian," kata Ruka.


"Kak. Kenapa Kakak tidak mendengarkan aku."


"Lupakanlah Sya. Kau hanya perlu menyiapkan dirimu untuk hal ini."

__ADS_1


Entah apa dan kenapa. Ruka begitu menginginkan Lufas dan Sya menikah. Mungkin karena Arda yang terus mengejar Sya atau karena hal lain.


***


__ADS_2