
Sudah beberapa hari Sya dan Arda menghabiskan malam di kamar yang sama. Walaupun begitu, mereka tetap tidak tidur di kasur yang sama. Sya memilih tidur di sofa kamar.
Semua mengira jika hubungan Arda dan Sya membaik. Tidak ada yang tahu apa yang dirasakan Sya selama ini. Dia terus memendam luka karena seorang wanita yang terus menelfon Arda.
Tidak ada niatan untuk bertanya atau tahu. Sya memilih diam dan menahan semuanya sendiri. Dia hanya fokus belajar menjadi menantu yang baik di keluarga itu.
Semua demi Ibu Zein. Ibu yang sudah merawat dan membesarkannya. Tidak mungkin Sya tega membuat hati seorang ibu terluka.
"Sya, ada apa? sejak tadi kau tidak fokus," kata Eri yang sejak tadi memperhatikan tingkah laku Sya.
"Tidak. Mungkin aku sedang tidak enak badan, aku merasa lelah."
"Apa karena Arda?" tanya Eri kemudian.
Sya hanya tersenyum dan kembali fokus dengan apa yang ada dihadapannya. Dia mencoba memikirkan hal lain.
Eri memilih duduk di samping Sya. Dia tahu jika ada masalah yang membuat Sya seperti itu. Entah karena perlakuan keluarga Ken atau karena suaminya.
Tok tok tok. Seorang pelayan membuka pintu kamar Sya.
"Ada apa?" tanya Eri.
Pelayan itu mendekat, "Nona Sya di panggil ke ruang keluarga."
Sya berdiri mendekat ke pelayan itu, "Aku akan segera kesana."
Pelayan itu mengangguk, lalu pergi. Sementara itu Sya mencoba untuk merapikan dirinya sebelum keluar. Entah apa yang akan terjadi lagi saat ini.
"Perlu aku temani?" tawar Eri.
Sya menggeleng dan langsung keluar dari kamarnya. Dia masuk ke ruang keluarga. Disana sudah banyak orang, termasuk Aila. Walau Sya tahu jika Aila bukanlah bagian dari keluarga itu.
"Duduklah," kata nyonya Ken pada Sya.
Sya duduk di samping Mila. Ada sebuah pertanyaan di hati Sya, tapi tidak dia ucapkan. Dia hanya diam dan mengikuti semua yang dilakukan Mila.
Sya tidak tahu jika Nyonya Ken akan mengirim Sya dan Arda bulan madu. Ya, nyonya Ken sudah menginginkan cucu. Tidak mungkin dia akan diam dengan kelakuan Arda.
Terlihat jelas disana jika Aila merasa tidak setuju. Dia masih tidak suka melihat kedekatan Arda dan Sya. Padahal sudah jelas jika nyonya Ken yang memberi ijin mereka menikah.
"Mama sudah belikan tiketnya. Mila sudah menyiapkan barang kalian."
Arda terlihat tidak setuju, "Ma, bagaimana kantor jika tidak ada aku."
"Kantor kamu nanti akan ada yang mengurusnya. Kamu tenang saja dan cukup berikan mama keturunan."
Arda hanya bisa berdecak. Dia tidak bisa terus menerus menolak. Nyonya Ken pasti akan marah nantinya.
Sementara Sya tidak tahu harus bagaimana. Dia tidak ingin pergi hanya berdua dengan Arda. Ada rasa takut jika mengingat kemarahan yang Arda berikan padanya.
__ADS_1
"Kalau begitu, Jovi akan mengantarkan kalian sampai ke bandara."
Di rumah itu, perkataan nyonya Ken adalah sebuah perintah. Tidak ada yang bisa membantahnya. Sekalipun anak tercintanya, Arda.
***
Eri tersenyum mendengar apa yang dikatakan nyonya Ken. Dia setuju akan hal itu, hanya saja dia tidak ingin Sya pergi hanya dengan Arda. Sya pasti hanya akan pasrah jika Arda melakukan hal lain.
Setelah pertemuan itu bubar. Eri masuk ke ruang kerja nyonya Ken.
"Ada apa kau kesini?"
"Nyonya, aku hanya ingin memberi saran saja."
Nyonya Ken menoleh, "Maksudmu apa?"
Eri mengatakan segalanya. Setidaknya nyonya Ken mengangguk karena dia tahu tabiat Arda. Tidak mungkin dia akan langsung menyentuh Sya.
Akhirnya nyonya Ken setuju dengan rencana itu. Eri memang berniat menyatukan Sya dengan Arda. Tidak seperti nyonya Ken yang hanya menginginkan seorang cucu.
"Baiklah. Kamu urus semuanya," kata nyonya Ken.
Eri tersenyum, "Bagaimana dengan Nona Aila. Dia ..."
"Dia akan jadi urusanku."
Jika nyonya Ken tidak suka pada Sya. Tidak mungkin dia membayar mahal Eri untuk menjadi asisten Sya. Dia juga tidak mungkin meminta cucu dari Sya.
"Eri, aku mencarimu."
Perkataan Sya membuat Eri kaget.
"Mencariku untuk apa?" tanya Eri.
Sya menundukan kepalanya dan mengatakan apa yang dilakukan oleh nyonya Ken. Sya tidak ingin bulan madu saat itu.
Eri menepuk pelan pundak Sya, "Ikuti saja. Jika kau dan Arda memang tidak bisa. Kau bisa menjelaskan pada nyonya Ken setelah bulan madu ini."
"Bagaimana dengan ibuku. Aku tidak bisa mengunjunginya selama aku bulan madu."
Eri mencoba menenangkan Sya, "Tidak usah mencari alasan. Aku yang akan menjaga tante Zein."
Mendengar hal itu, Sya hanya bisa pasrah. Mau tidak mau, suka tidak suka Sya harus tetap menjalankan bulan madu itu.
Sementara itu, di kamar Aila. Aila mengacak acak rambutnya sendiri. Dia datang untuk menjauhkan Arda dari Sya, tapi kini nyonya Ken malah mengirim mereka bulan madu.
"Ada apa denganmu?" tanya Arda yang melihat Aila begitu berantakan.
Aila menoleh dan menatap kearah Arda. Dia mendekat dan langsung memeluk pria itu dengan sangat erat.
__ADS_1
"Apa ada masalah dengan temanmu lagi?" tanya Arda yang masih tetap tenang.
Aila mendongakkan wajahnya, "Apa kau akan tetap pergi. Bagaimana denganku? tante Ken sendiri yang mengirimmu bulan madu."
Arda mengusap pelan pipi Aila. Dia tahu wanita yang dihadapannya ini sudah lama jatuh hati padanya. Hanya saja, Arda memang tidak tertarik pada Aila.
"Kita masih akan menjadi teman."
Jawaban Arda membuat Aila menjauh beberapa langkah. Aila sudah terlalu berharap akan kedekatan yang terjadi padanya dan Arda. Walau sampai saat ini Arda tidak memandangnya untuk menjadi seorang kekasih.
"Aku mencintaimu," lirih Aila.
"Aku juga mencintaimu, Aila."
Mendengar kata cinta. Aila kembali mendekat dan memeluk Arda. Setidaknya, Aila masih memiliki harapan dibalik hubungan pertemanan itu.
Diam, Sya hanya bisa diam melihat pemandangan itu. Tangan kananya meremas baju yang sedang dia pakai. Dia merasa sudah hancur.
***
Semua orang sudah menunggu di bawah untuk mengantar kepergian Arda dan Sya. Walaupun begitu, tetap saja tidak ada kemesraan yang terjadi diantara Sya dan Arda. Sekarang, Sya malah terkesan menjauh.
Dia turun lebih dulu dari pada Arda dengan koper kecil menemaninya. Banyak yang bertanya tentang Arda. Namun, Sya menjawab dengan senyuman.
"Kenapa Arda belum juga turun?" tanya nyonya Ken.
Sya menoleh, "Mungkin dia tidak ingin melakukan perjalanan ini."
Eri menatap tatapan putus asa di mata Sya. Awalnya, Sya bersemangat untuk membuat suaminya itu jatuh cinta. Setelah dia melihat adegan Arda dan Aila. Sya merasa dirinya memang tidak diinginkan oleh pria manapun.
"Aku disini, Ma."
Semua orang menoleh pada Arda. Dia datang dengan pakaian yang resmi. Seperti bukan orang yang akan melakukan bulan madu.
"Arda. Lakukan apa yang mama mau. Setelah itu, Mama tidak akan meminta apapun lagi darimu."
Sya hanya diam mendengar ucapan nyonya Ken pada Arda. Tidak lama, Mila datang dan langsung memeluk Sya. Tidak tahu kenapa, Sya melihat jika Mila baru saja menangis.
"Buatlah mama bahagia," bisik Mila.
Sya hanya bisa mengangguk pelan. Dia tahu apa yang di maksud oleh Mila. Mila memang tidak bisa memiliki anak. Hal itulah yang membuat nyonya Ken menginginkan Sya memberikan cucu.
Alasan itu juga yang membuat Jovi ingin berpisah. Mila memang cantik dan kaya, dia juga wanita yang cerdas. Hanya saja, dia tidak bisa memberikan seorang anak.
Dulu, dia mengalami sebuah kecelakaan yang mengharuskan rahimnya diangkat. Sampai saat ini, Mila masih murung jika mengingat semua itu.
***
Mohon kritik dan sarannya. 😊😊😊
__ADS_1