The Way Love

The Way Love
CXXIII


__ADS_3

Hari-hari berjalan dengan begitu cepat. Perlahan tapi pasti Sya mulai paham dengan apa yang harus dia lakukan. Dia banyak bertemu dengan orang baru. Sya mulai memperhatikan semuanya dengan seksama. Lalu mempraktikannya dengan cara yang dia miliki.


Hari minggu ini Sya sengaja keluar rumah dengan Danendra. Dia ingin mengajak Danendra ke rumah Xiu.


Sejak hari itu, Sya belum bertemu lagi dengan Xiu. Sementara Ben juga jarang sekali. Dia datang ke apartemen hanya sekedar menyapa Danendra. Lalu pergi lagi. Tidak ada hal yang mereka bicaakan dengan serius. Hanya saling bertegur sapa saja.


"Bi Sali. Tolong siapkan Danendra, saya mau keluar membawanya."


"Baik," jawab Bi Sali.


Sya sedang menyisir rambutnya di depan meja rias. Sebuah panggilan masuk, Rasti. Sya mengambil ponselnya dan mengangkat telfon itu.


"Halo."


"Maaf sudah mengganggu harimu, Bos."


"Ya. Ada apa Ras?"


"Seorang model untuk peluncuran baju mengundurkan diri secara tiba-tiba."


"Bukankah masih banyak model yang lain?"


"Ya. Hanya model itu adalah orang inti dalam peluncuran ini."


Sya menghela nafasnya dan berfikir. Tidak mungkin jika dia akan membatalkan peluncuran baju dengan desain baru. Banyak orang yang sudah menunggu hal ini.


"Bagaimana, Bos?"


"Bisa kau kirim kntaknya padaku. Aku akan datang sendiri padanya."


"Baik, Bos."


Sya menatap dirinya sendiri di cermin. Dia bukanlah Sya yang dulu hanya bisa diam di dalam rumah. Dia harus bekerja, bahkan kadang tidak ada waktu untuk Danendra. Sya begitu merasa bersalah.


Dia keluar kamar. Melihat Danendra yang begitu tampan dengan pakaian yang dia kenakan. Sya mendekat dan duduk di depan danendra. Dia mengelus kepala anaknya itu.


"Maafkan Mama. Hari ini Mama tidak bia membawamu keluar."


Danendra yang masih kecill hanya diam dan sesekali terlihat tertawa. Sya semakin merasa bersalah saja denganhal ini.


"Bi. Tolong jaga Nendra ya. Aku ada urusan di luar."


"Bukannya sama Nendra?" Tanya Bi sali.


"Ada uruan mendadak."


Bi sali hanya mengangguk.


Sya mengambil tasny dan keluar dari appartemen. Perjalanan ke tempat model itu cukuplah jauh. Sya harus menggunakan taxi selama setengah jam.


Kembali Sya melihat alamat yang diberikan oleh Rasti. Dia berhenti di depan sebuah rumah yang sederhana.


Setelah membayar. Sya turun dari taxi. Dia melangkah masuk ke pekarangan rumah itu. Sepi.


Dengan hati-hati Sya mengetuk pintu itu. seseorang terdengar melangkahkan kakinya mendekat ke pintu. Tidak lama pintu terbuka, seorang gadis dengan tubuh yang indah, wajahnya begitu cantik dan unik.


"Selmat pagi," ucap Sya.


Gadis itu menunduk tahu siapa yang datang.


"Maaf. Ada apa Bos kemari?"


"Aku ingin bicara penting denganmu."


"Masuklah Bos."


Sya masuk dan melihat rumah yang cukup berantakan. Disana juga ada tiga anak yang mungkin masih sekolah dasar. Mereka langsung pergi begitu mellhat Sya masuk.


"Mau minum apa Bos?"


"Tidak perlu. Dudklah," kata Sya.


Gads itu duduk. Dia masih saja menundukan kepalanya. Bahkan sampa sya sulit melihat wajahnya saat ini.


"Aku ingin bertanya padamu. Keenapa kau mengundurkan diri dari acara ini?"


"Maaf, Bos."


"Tidak perlu minta maaf. Katakan saja alasanya."


"Sebenarnya. Saya tidak bisa mengikuti acara itu. Saya harus beekerja paruh waktu."


Sya diam dan meendengarkan.


"Saya harus mendapatkan uang sekolah bagi adik-adik saya. Jika saya mengikuti acara itu, uang akan diberikan saat selesai. Tapi sekolah adik-adiksaya tidak bisa menunggu lagi."


Kini Sya tahu kenapa gadis itu melepas acrara yang cukup besar itu. Sya tersenyum dan memegang tangan anak itu.


"Aku tahu kamu butuh uang. Jika aku memberikannya cuma-cuma padamu. Kau pasti akan menolaknya."


Gadis itu menganguk pelan.


"Begini saja. Kamu bisa ambil bayaranmu dulu. Setelah itu baru bekerja."


"tapi, antor tidak mengizinkan."


"Aku mengizinkannya. nanti akan diurus oleh sekretarisku."


"terima kasih."

__ADS_1


"Sama-sama. Tetaplah melakukan pekerjaan sampai akhir. Aku berharap padamu."


"Baik, Bos. Saya akan lakukan yang terbaik."


Sya keluar dari rumah itu. Dia merasa kasihan dengan gadis itu. Hanya saja dia tidak boleh membedakan antar model atau karyawan.


Sya mengirim pesan pada Rasti. lanjutkan peluncuran itu, juga membaar semua model di awal. Hal itu tidak akan membuat curiga orang-orang.


***


Taxi berhenti di depan gedung apartemen. Sya turun dan melihat beberapa orang sedang mengemas barang dari tempat nenek Maria tinggal.


Penasaran, Sya mendekat dan bertanya pada seseorang disana.


"Maaf. Apa nenek Maria sudah kembali?"


Seorang wanita keluar dari sebuah ruangan. "Dia tidak akan kembali kesini," kata wanita itu dengan wajah datar.


"Keenapa? Apa ada hal yang terjadi padanya?"


Wanita itu mendekat pada Sya.


"Apa ku mengenal nenekku? Kau terlihat khawatir."


Sya tersenyum. "Ya, kami cuckup dekat saat nenek Maria masih tinggal disini."


"Pasti kau yang bernama Sya."


"Benar."


Wanita itu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah kotak biru tua.


"Nenekku menitipkan ini padamu."


Sya menerima kotak itu.


"Simpanlah dengan baik."


"Aku akan menyimpanya. Lalu bagaimana kabar nenek?"


"Dia baik. Dia akan pindah keluar kota denganku."


"Baguslah. Dia tidak sendirian lagi."


Wanita itu akhirnya tersenyum juga. Sya hampir berbalik badan saat wanita itu berkta, "Teerima kasih sudah menemani nenekku saat disini."


"Tidak perlu berterima kasih. Aku juga senang saat bersama dengan nenek disini."


Sya masuk ke dalam lift. Dia naik sampai tempat tinggalnya. Dengan lelahnya, Sya masuk ke apartemen. Dia melihat ada sepatu seseorang disana.


"Bi Sali, apa ada tamu?" Tanya Sya.


"Siapa?" Tanya Sya.


"Tuan Ben."


Sya mengangguk. Dia masuk, melihat Ben yang sedang menatap berkas di depannya. Sya meminta Bi Sali untuk membuatkan teh untuk dirinya dan Ben.


"Kau sudah pulang?" tanya Ben.


"Ya. Ada hal apa sampai kau datang dan menungguku?"


"Aku sudah mendapat kabar tentang kecelakaan itu. Memang ada yang sengaja melakukannya."


Sya terlihat gellisah. "Apa kau sudah tahu orangnya?"


Ben menggeleng. Mata Sya berkaca-kaca mendengar hal itu. Rasasakit seperti menghujam tepat di hati Sya.


"Aku masih mencari tahu. Jika ada kabar lain, aku akan kembali kesini."


Ben sudah bersia untuk pergi. Sya menghentikannya dengan memegang jas yang dipakai Ben.


"Ada apa?" tanya Ben.


"Aku minta maaf atas waktu itu. Aku membuatmu dan Xiu kesal. Seharusnya aku tidak melakukan hal itu."


"Tidak masalah. Setidaknya, kau sudah terlihat lebih baik."


"Lalu kapan kita akan bertemu bersama lagi?"


Ben menggeleng. "Aku tidak tahu. Saat ini, geng kita sedang banyak masalah. Kabar kematian Lufas membuat beberapa geng kecil mengincar kita. Padahal mereka hanya menganggu saja."


"Kalau bbegitu lakukan sja tugasmu. Aku akan melakukan tugasku disini."


Ben mangangguk-angguk.


Bel apartemen berbunyi. Sya bergegas membukanya karena Bi Sali sedang mengurus Nendra.


"Kau lagi," kata Sya saat melihat pengawal Tom datang.


Pengawal itu memberikan sebuah undangan pada Sya.


"Apa ini?"


"Tuan Tom ingin bertemu dengan Anda."


"Aku tidak ada waktu."


"Tuan Tom ingin bekerja sama untuk peluncuran model baju terbaru."

__ADS_1


Sya hanya diam.


"Dia bisa berinvestas banyak. Pikirkanlah lagi."


"Aku akan menghubungimu jika aku menginginkanya."


Pengawal itu mengangguk. "Tuan Tom sangat berharap Anda menerima tawaran ini."


Setelah pengawal itu pergi. Sya masuk kembli, Ben menatap dengan penuh tanya. Sya yang malas menjelaskan memberikan undangan itu.


Bn melihat undangan itu dengan seksama. lalu menatap Sya.


"Siapa yang mengirim ini?"


"Tom."


"Apa yang dia inginkan?"


"Dia ingin beremu dan membahas tentang investasi yang bisa dia berikan pada perusahaan."


"Apa kau menerimanya?"


"Aku belum memberikan jawaban."


"Baguslah. Diskusikan dulu denganXiu, dia akan membantumu."


Sya mengangguk.


"Aku hanya berpesan. Jika dengan Tom kau harus berhati-hati.'


"Lufas juga pernah mengatakannya."


"Kau harus ingat itu. Aku pergi dulu."


Sya mengantar Ben sampai di pintu lift. Setelah itu dia masuk kembali. Dia langsung menghubungi Xiu.


"Halo," ucap Sya.


"Ya, Sya. Ada apa?"


"Apa kita bisa bertemu?"


"Ada hal penting apa?" tanya Xiu yang terdengar sedang bersama orang lain.


Sya mengatakan semuanya.


"Besok. Bawa juga anakmu ke rumahku. Aku akan ada dirumah dan menunggumu."


"Baiklah. Sudah dulu, kau sepertinya sibuk."


"Ya. Aku memang cukup sibuk."


Telfon itu berakhir. Sya menyandarkan tubuhnya di sofa. Matanya terpejam. Karena lelah, da tidak sadar sampai terlelap dengan begitu nyenyak.


Bi Sali melihat hal itu dan memilih mengambil selimut. Menyelimuti tubuh Sya yang terlihat begitu lelah karena pekerjaanya.


***


Anna yang sedang duduk dengan majalah ditangannya tiba--tiba teralihkan fokusnya. Dia melihat pengal Tom yang kembali. Tanpa ragu, Anna mengikuti pengawal it sampai di ruangan Tom.


Dia mencobamendengarkan sara yang ada di dalam. Apa saja yang Tom lakukan tanpa sepengetahuan Anna.


"Bos. Sya masih belum memberikan jawaban."


"Apa kau sudah melakukan apa yang aku lakukan?"


"Ya, Bos."


"Apa dia masih sendiri di apartemen itu?"


Pengawal itu menggeleng. "Disana ada seorang perawat bayi. Tadi juga aku melihat sepatu pria disana."


"Pria? Apa dia sedang dekat dengan pria lain?"


"Tidak."


"Lalu siapa pria itu?"


"Akan saya cari tahu."


"Pergilah."


Pengawal berbalik dan membuka pintu. Anna yang tidak sadar dengan pintu yang terbuka masih diam. Pengawal itu menoleh ppada Tom, Tom meminta pengawal itu menarik Anna.


Anna kaget dengan tangan yang toiba-tiba menariknya masuk.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Tom.


"Aku...Aku ingin menemuimu, tapi.. aku lihat ada pengawalmu. Jadi, jadi aku menunggu di luar sampai kalian selesai bicara."


"Apa kau mendengar pembicaraan kami?"


Anna menggeleng.


"Lain kali. Jika ingin menemuiku masuk saja. Kau adlah istriku."


Anna mengangguk-angguk.


Tom memberi isyarat pada pengawalnya. Lalu Tom mulai menyentuh istrinya itu. Anna hanya bisa diam, jika dia menolak saat ini. Sudah asti jika dia akan terluka. Baik secara fisik ataupun mental.

__ADS_1


***


__ADS_2