
Sudah satu malam Sya berada dihotel itu. Sampai saat itu juga dia hanya mengenal Mira disana. Alsannya karena Lufas begitu sibuk dengan pekerjaanya. Jadi, dia tidak bisa langsung datang dan menyambut Sya.
Meskipun begitu, Sya tidak merasa sedih. Saat ini, dia hanya berharap mendapat kabar tentang Arda. Walau hanya tahu kabarnya hal itu akan membuat hatinya lega.
"Nona. Apa mau berjalan-jalan disekitar hotel?" Tanya Mira yang melihat Sya hanya memandangi ponselnya.
Sya meletakan ponsel itu. Dia lalu berdiri dan dengan semangat dia mengatakan setuju untuk jalan-jalan.
Sejak datang Sya memang sudah terpukau dengan hotel milik kakaknya itu. Hotel yang terlihat sangat mewah. Dihotel itu juga fasilitasnya begitu lengkap.
Dihotel itu menyediakan tempat bermain untuk anak. Disana juga sudah ada restoran dan sebuah mall yang cukup besar. Sya begitu bangga dengan kakaknya itu.
"Aku akan ganti baju dulu," kata Sya.
"Saya akan menunggu."
Dalam ruang ganti Sya menatap begitu banyak baju. Seperti Ruka sudah tahu jika dia akan datang kehotel mewah itu. Sya akhirnya mengambil sebuah dress selutut dengan cardigan. Ya, dia ingin terlihat santai dengan baju itu.
Rambut yang awalnya diikat kini sudah tergerai. Sya juga mengoleskan makeup tipis agar tidak terlihat pucat. Sya juga tidak menggunakan sepatu hak tinggi. Dia memilih sepatu tanpa hak.
"Ayo kita pergi," kata Sya sembari membetulkan letak bajunya.
"Mira sedang keluar."
Sya terlonjak dan menoleh keasal suara. Seorang pria sudah duduk disofa. Pria dengan rambut berwarna hitam legam dengan mata yang berwarna coklat.
Mata Sya mencoba melihat kesekeliling. Tidak ada Mira atau orang selain mereka berdua di dalam kamar itu.
"Mira yang memintaku menunggu disini," pria itu mendekat dan mengulurkan tangannya, "aku Lufas."
Sya akhirnya sadar siapa pria yang berada dihadapannya itu. Hampir saja dia menekan tombol darurat dikamarnya. Jika itu terjadi, hal yang sangat memalukan akan menimpa dirinya.
"Aku Syaheila. Panggil saja Sya, maaf aku tidak menemuimu lebih dulu."
"Tidak masalah. Aku memang sedang sibuk tadi," kata Lufas dengan nada datar.
Sya hanya tersenyum tipis.
"Karena kita sudah bertemu dan berkenalan. Bolehkah aku pergi. Aku memiliki banyak urusan."
Sya mengangguk. "Tentu."
"Terima kasih."
Saat Lufas akan pergi. Ponsel Sya berdering, ternyata Ruka yang menelfonya. Sya beralih tempat dan mengangkat telfon itu.
"Ada apa Kak Ruka menelfonku?" Tanya Sya.
__ADS_1
Mendengar nama Ruka. Lufas tidak jadi pergi, dia memilih untuk berdiri didekat pintu kamar Sya.
"Apa kau sedang bersama Lufas?"
Sya menoleh dan melihat Lufas masih ada disana. "Ya," jawab Sya.
"Berikan telfon ini padanya."
"Kak Ruka ingin bicara denganmu," kata Sya sembari menyodorkan ponselnya.
Lufas mengambil ponsel itu dan menjauh dari Sya. Sya memilih duduk di sofa sembari menunggu Lufas dan Ruka selesai bicara.
"Kakakmu begitu mencemaskanmu. Mulai hari ini, jika ada sesuatu katakan saja padaku."
"Baik."
"Kalau begitu aku pergi dulu. Besok aku akab mengajakmu berkeliling."
"Ya."
Lufas pergi dari kamar Sya. Tidak lama Mira masuk dengan seorang pelayan. Dia membawakan makan malam untuk Sya.
"Bukankah kita akan berkeliling?" Tanya Sya.
"Tuan Lufas akan mengantarmu besok. Jadi, hari ini Anda bisa istirahat lebih awal."
"Baiklah."
***
Tidak ada yang menemaninya di dalam rumah sakit. Hanya beberapa perawat yang terlihat keluar masuk dari ruangan itu.
Sementara itu, Aila baru saja keliar dari kantor polisi dengan wajah lusuh. Bahkan bajunya belum juga diganti sejak kejadian dimalam itu.
Seorang pria dengan setelan jas mendekat pada Aila. Pria itu tersenyum dan langsung menyodorkan sebuah kertas pada Aila.
"Kau siapa?" Tanya Aila.
"Saya adalah orang yang selama ini bersama Tuan Arda. Saya yang akan bertanggung jawab atas semuanya sampai Tuan Arda sadar."
"Maksudmu?"
"Tolong Anda baca lebih dulu kertas itu."
Aila membaca kata demi kata dikertas itu. Ya, kertas itu adalah sebuah kertas perjanjian. Dimana Aila harus menuruti apa yang diperintahkan Arda. Jika sampai Aila membantah, dia akan diceraikan saat itu juga.
Beberapa kali Aila menggelengkan kepalanyam Dia menatap pria bersetelan jas itu. Pria itu tidak melakukan apapun. Dia hanya berdiri dan menunggu jawaban Aila.
__ADS_1
"Bagaimana jika aku tidak mau?" Tanya Aila.
Pria itu memberikan sebuah kertas lagi. Kali ini adalah salinan surat perceraian. Aila merasa sudah sangat kalah.
"Tapi aku juga bisa memerintahmu bukan. Kenapa kau memperlakukan aku seperti ini."
"Yang bisa memberi perintah pada saya hanya Tuan Arda. Apa lagi, Anda juga sudah berbohong tentang kehamilan itu."
Wajah Aila berubah menjadi pucat. Kali ini dua sudah tidak bisa mengelak lagi. Mau tidak mau, akhirnya Aila tanda tangan diatas surat perjanjian itu.
Setelah itu, pria itu memberi perintah pada sopirnya untuk mengantar Aila kembali kerumah. Sementara dirinya pergi kerumah sakit, untuk melihat keadaan Arda.
Umpatan dan kata-kata kasar keluar dari mulut Aila. Kali ini rencananya sudah hancur. Bahkan, hidupnya juga bisa jadi neraka jika dia tidak melakukan apa yang tertulis disana.
Sampai dirumah. Aila merasa semuanya sudah sangat berbeda. Hanya ada tiga pelayan dirumah itu. Kamar Sya juga sudah disulap menjadi ruang baca. Padahal Aila berharap bisa menguasai rumah itu.
***
Malam sudah semakin larut. Hawa dingin mulai datang membuat setiap orang enggan keluar dari rumah. Sya duduk ditemani dengan ponsel ditangannya.
Dia memandang jauh kearah kota. Rasa rindu dan penasaran akan keadaan Arda membuatnya ingin kembali. Hanya saja, janji yang sudah Sya ucapkan pada Ruka harus dia tepati.
Sya berjanji untuk tidak kembali pada Arda. Apa lagi memiliki hati untuknya. Jika hanya berteman, Ruka akan diam. Jika Ruka tahu isi hati Sya, dia pasti akan merasa tidak suka.
Karena merasa bosan. Sya memilih untuk keluar kamar. Dia akan berkeliling sebentar, atau dia akan mencari cemilan agar tidak merasa bosan di dalam kamar.
Sampai dilantai bawah, banyak pengunjung yang sedang duduk santai. Mereka datang untuk makan atau sekedar nongkrong seperti biasa.
"Kau disini?"
Sya menoleh. Lufas mendekat dan menatap Sya.
"Ya. Aku merasa bosan berada didalam kamar terus menerus. Apa kau masih bekerja saat malam hari?" Tanya Sya.
Lufas tertawa kecil. "Apa aku memiliki tampang pekerja keras?"
Pertanyaan itu hanya disenyumi oleh Sya.
"Aku tinggal didekat hotel. Jadi, jika malam aku akan mencari makanan atau sekedar jalan-jalan malam disini."
"Begitu ya."
"Ya. Apa kau mau makan. Aku juga lapar," kata Lufas.
"Boleh."
Malam itu Sya tidak merasa sendiri. Mungkin karena ada Lufas yang mau menemaninya malam itu. Makan malam dan sedikit jalan-jalan disekitar hotel.
__ADS_1
Setelah merasa lelah. Lufas mengantarkan Sya kembali kehotel. Lalu mereka berpisah, Lufas kembali kerumahnya untuk istirahat. Dia harus kembali bekerja besok.
***