The Way Love

The Way Love
CXXXI


__ADS_3

Masih dengan banyak berkas di meja. Sya mencoba fokus dan tidak mencampur masalah pribadi dengan urusan kantor.


Meski begitu Sya masih saja memikirkan Danendra. Siapa sebenarnya yang mengatakan jika Lufasadalah papanya. Juga kenapa Danendra memiliki foto Lufas.


Tangan Sya berhenti tanda tangan. Dia menatap kosong. Rista masuk ke ruangan Sya. Berkas masih banyak yang belum di cek oleh Sya. Sementara Rista melihat Sya yang sedang melamun.


"Bu, Bu Sya." Panggil Rista.


Sya terkejut. Dia menjatuhkan pulpen yang berada di tangannya.


"Biar saya saja yang mengambilnya."


Rista mengambil pulpen dan kembali memberikan pada Sya.


"Terima kasih," ucap Sya.


Rista mengangguk. "Bu Sya sedang sakit?"


"Tidak."


"Apa ada masalah yang serius?"


"Tidak Kenapa kau menanyakan hal itu?"


"Sejak tadi Bu Sya hanya melamun."


Sya terlihat kebingungan. Dia tidak tahu apa harus menceritakan kejadian di rumah pada Rista atau tidak. Hanya dia membutuhkan teman untuk bercerita. Saat ini Xiu hanya fokus mencarikan suami bagi Sya.


"Bu Sya bisa istirahat hari ini. Tidak ada jadwal yang penting."


Sya mengangguk.. Dia meletakan berkas di tangannya dan berkemas. Ponsel dan tas tidak lupa dia bawa.


"Jika ada masalah. Kabari aku," kata Sya.


"Baik, Bu."


Sebelum Sya sampai di lantai dasar. Rista sudah menelfon seorang sopir untuk menyiapkan mobil. tentunya untuk mengantar Sya.


Keluar dari lift. Seorang pria langsung mndekat pada Sya. Sya merasa tidak kenal dengan pria itu, jadi dia sedikit menjaga jarak.


"Aku akan mengatarkan kamu kali ini," kat pria itu.


"Kau bukan sopir disini."


"Ya. Aku sopir pribadimu. Nona Xiu yang memberiku pekerjaan ini."


Dari nada bicara ini membuat Sya merasa tidak asing. Sya berhenti dan menatap pria itu. Dengan terus terang Sya mengamati pria itu.


"Apa kau sudah tertarik padaku?" Pria itu begitu percaya diri.


"Mike. Kau kah itu?"


Mike mengangguk dengan bangga.


Setelah mendapatkan jawaban yang pasti. Sya kembali berjalan untuk masuk ke mobil kanyor. Saat ini dia tidak ingin diganggu siapapun. Apa lagi dengan seorang pria yang begitu percaya diri seperti Mike.


Sampai di luar kantor. Tidak ada mobil kantor yang tersedia. Tidak ada sopir kantor yang datang padanya. Syamenghela nafas kesal, dia bersiap untuk menelfon Rasti.


Baru saja Sya mengambil ponselnya. Mike dengan tenang memasukan Sya ke dalam mobil. Sya mencoba membuka pintu mobil dengan sekuat tenaga. Tidak bisa, pintu itu sudah terkunci.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Sya dengan lantang.


"Sudah aku bilang aku adalah sopir pribadimu. Nona Xiu yang meminta langsung, aku tidak mungkin menolak hal ini."


"kau bekerja sebagai model untuk perusahaanku. Lakukan saja itu, aku sudah sangat berterima kasih."


"Model adalah pekerjaan sampingan. Jadi, aku masih bebas melakukan apapun."


Tidak ingin berdebat lebih lama. Sya memilih diam diantar oleh Mike. Di dalam mobil Sya terus mengirimkan pesan pada Xiu. Dia merasa tidak senang dengan apa yang sudah dilakukan. Bagaimanapun, Mike begitu mengganggunya.


Mobil tiba-tiba berbelok ke arah lain dari rumah. Sya yang sadarr langsung menatap tjam pada Mike.


"Kau mau membawaku kemana?"


"Makan siang."


"Aku ingin pulang. Bukan makan siang."


"Aku lapar. Apa kau tega?"


"Turunkan saja aku. Aku akan pulang sendiri."


Mike tersenyum. "Tidak bisa. Aku sudah berjanji akan mengantarmu. Tapi setelah makan siang."


Dengan nekat Sya memuka pintu mobil. Hal ini membuat Mike mengehntikan mobilnya secara mendadak.


Tanpa kata Sya turun dari mobil. Mike mencoba untuk mengejar, tapi Sya sudah lebih dulu masuk ke dalam taxi yang lewat.


Hal ini membuat Mike hanya tersenyum menatap kepergian mobil taxi iu. Dia merasa kagum pada Sya.


***

__ADS_1


Sampai di rumah Sya mleakan tasnya dan minuman. Dia tidak melihat Bi Sali di rumah, mungkin sedang menjemput Danendra dari sekolah.


Suara deru mobil dari depan rumah membuat Sya beranjak melihatnya. Mobil hitam mengkilap, terlihat bukan mobil murahan. Mobil itu berhenti tepat di depan rumah Sya.


Sya penasaran siapa yang datang. Saat akan membuka pintu untuk melihat. Sya terkejut dan mengurungkan niatnya. Dia melihat bi Sali dan Danendra turun dari mobil itu.


Wajah Danendra begitu enang. Bahkan dia sempat melambaikan tangan sebelum mobil itu pergi. Rasa curiga menghamipri Sya. Hanya saat ini dia memilih untuk diam.


Bi Sali masuk. Dia melihat Sya yang sedang berada di dapur. Wajah Bi Sali langsung berubah. Dia langsung terlihat sangat gugup. Bau kali ini Sya kembali lebih awal tapi tidak memberi tahu Bi Sali lebih dulu.


"Kalian sudah pulang?" Sapa Sya dengan senyuman.


"I iya Bu. Kapan ibu kembali?"


"Baru saja."


"Kalau begitu akan saya buatkan makan siang lebih dulu."


"Ya. Aku dan Nendra akan masuk ke kamar dulu. Ayo sayang."


Sya membawa Nendra masuk ke dalam kamar. Dengan lemah lembut Sya mengganti baju Danendra sembari berbincang.


"Nendra. Mama boleh tanya tentang Papa sama Nendra?" Tanya Sya.


"Kenapa tidak boleh. Mama bisa langsung bertanya tentang Papa padaku. Aku tahu semuanya," ucap Danendra dengan gaya anak-anak.


"Papa biasanya datang dengan siapa?"


"Aku tidak tahu siapa, tapi mereka tinggi dan besar. Mereka juga suka memakai pakaian hitam."


"Biasanya Papa datang ketemu Nendra hari apa? Terus jam berapa?"


"Hari minggu saat mama tidak di rumah."


"Apa kamu yakin orang ini yang menemui kamu?" Sya menunjukan foto Lufas.


"Ya Ma. Dia Papaku."


Sya tersenyum kecil. Dia percaya dengan apa yang Danendra katakan. Anak itu masih begitu polos. Dia pasti mengatakan hal yang sebenarnya.


"Tadi juga Papa yang mengantarku pulang."


Jantung Sya terasa berhenti mendengar pengakuan Danendra. Dia merasa bingung, jika memang Lufas yang datang kenapa selama ini dia bersembunyi dari Sya. Bahkan membuat Sya terkurung dalam rasa sakit karena kehilangan.


"Mama ingin bertemu Papa?" tanya Danendra lagi.


Sya hanya diam. Dia menyelesaikan mengganti pakaian Danendra. Setelah itu dia keluar. Dia berharap Bi sali akan mengatakan semuanya dengan jelas dan jujur.


"Ya, Bu. Ada yang diperlukan?" Tanya Bi Sali.


"Apa Bi Sali tahu tentang Papa yang dimaksud Nendra?"


Bi Sali menggeleng.


"Apa Nendra pernah bertemu dengan orang yang seperti ini?" Sya menunjukan foto di ponselnya.


Bi Sali mendekat. "Tidak, Bu."


"Kalau begitu Bi Sali bisa kembali bekerja. Aku akan istirahat di dalam kamar."


"Bu Sya tidak mau makan siang?"


"Aku tidak lapar. Ajak saja Nendra, dia pasti sudah laapar."


"Baik, Bu."


Sya membuka laptop di kamarnya. Itu adalah laptop yang ditinggalkan oleh Lufas. Sya berharap ada petunjuk disana mengenai Lufas.


Bahkan Sya juga membuka berkas-berkas yang sudah pernah dia hapus. Hasilnya membuat Sya diam. Dia tidak menemukan apapun.


Meski begitu Sya tidak menyerah. Dia memikirkan cara agar bisa bertemu dengan papa yang dimaksud oleh Danendra.


Sebuah pesan masuk ke ponsel Sya. Dengan tenang Sya membuka pesan itu. Sebuah foto yang Rista kirim.


'Nona Anna mencarimu'


'Katakan saja aku tidak ingin bertemu siapapun saat ini.'


Lima menit kemudian.


'Saya sudah mencoba bicara. Nona Anna masih keras. Bahkan dia mengancam akan melakukan hal yang membuat perusahaan malu.'


'Aku akan segera sampai.'


Sya keluar dari rumah. Dia berniat menemui Anna. Jika Anna bersikeras untuk bertemu, sudah pasti ada hal yang penting. Meski kadang membuat Sya kesal dan marah.


Sya baru saja masuk ke ruangannya. Sebuah tamparan sudah mendarat di wajah Sya. Sya menoleh dan melihat Anna dengan tatapan yang begitu mengerikan.


"Sudah lama kau tidak datang. Kenapa kau datang dan langsung menamparku?" Tanya Sya.


"Kau pembohong."

__ADS_1


"Bohong? Tentang apa aku berbohong padamu?"


Anna menahan amarah sampai membuat wajahnya terlihat begitu merah.


"Anna. Aku dan Tom sudah tidak ada hubungan lagi, kau jangan marah padaku."


"Aku tidak peduli dengan Tom."


"Lalu apa masalahmu?"


"Kau berbohong tentang kematian Lufas."


Diam. Sya tidak mengatakan apapun.


"Apa kau tahu? Aku baru saja bertemu dengannya di bandara saat aku turun dari pesawat."


"Kau mungkin salah orang."


Anna tersenyum sadis. "Aku tahu Lufas. Tidak mungkin aku salah orang."


"Aku bahkan merasa aneh. Semua orang menganggap Lufas masih hidup, tapi aku tidak pernah bertemu dengannya."


"Sya. Jangan bohong lagi, selama ini kau menyimpan Lufas untukmu sendiri."


"Cukup Anna"


"Apa? Kau kira aku akan tinggal diam? Tidak. Aku akan membuat Lufas meninggalkanmu."


Plak. sebuah tamparan mendarat di wajah Anna. Kali ini wajah Sya sudah berubah. Dia terlihat begitu marah.


"Pergilah. Aku tidak ingin melihat dirimu disini."


"Sya..."


"Aku bilang pergi." Teriak Sya.


Anna memilih untuk keluar dari ruangan Sya. Sya terduduk, dia merasa benar-benar seperti akan gila karena Lufas. Jika dia benar hidup, kenapa hanya Sya yang tidak pernah melihatnya.


***


Hari berganti terasa begitu lambat bagi Sya. Sampai hari ini tiba, hari minggu. Sya sudah lama menantikan hari ini. Hari dimana dia ingin melihat langsung Papa danendra.


"Sayang. Apa kau hari ini mau ikut dengan Mama?" Tanya Sya pada Danendra yang sedang bermain di ruang tengah.


"Tidak. Hari ini kan Papa datang."


"Apa Nendra yakin Papa akan datang?"


"Ya. Dia selalu menepati janji."


Sya tersenyum tipis. Setelah itu dia mendekat pada Danendra. Dengan tenang Sya mencium kening anaknya itu.


"Mama ada urusan denga tante Xiu. Mama pergi dulu ya."


"Ok Mama."


Sya keluar dari rumah dengan mobil kantor seperti biasanya. Tidak ada yang tahu, sebenarnya Sya sudah menyewa rumah tepat di depan rumahnya. Hari ini dia ingin melihat siapa yang datang dan selalu meminta di panggil Papa oleh danendra.


Jam-jam berlalu dengan sangat lambat. Sya masih setia menunggu. Sampai akhirnya sebuah mobil berwarna hitam datang. Berhenti tepat di depan rumah Sya.


Beberapa pria turun dari mobil itu. Sya masih terus menatap. Sampai sesosok pria membuat Sya membeku. Pria itu adalah orang yang selama ini dia cari. Lufas.


Tidak perlu waktu lama. Sya keluar dari rumah yang dia sewa. Dia langsung menerobos masuk ke rumahnya sendiri.


Suasana di dalam rumah yang awalnya terlihat begitu menyenangkan langsung berubah. Hening dan cukup menegangkan.


Mata Sya dan mata Lufas bertemu. Tidak ada kata atau bahkan isyarat. Mereka hanya saling menatap saja.


Danendra mendekat kearah Sya. Dia memegang tangan Sya dan berkata. "Benarkan Ma. Papa datang."


Sya masih diam dan belum sadar sepenuhnya. Dia tidak menyangka jika Lufas benar-benar masih hidup. Kecewa dan marah datang di hati Sya. Dia merasa begitu dihianati oleh orang yang selama ini dia cintai.


"Sya. Aku akan jelaskan semuanya," kata Lufas kemudian.


Tanpa kata Sya menggendong Danendra. Dia membawa Danendra masuk ke dalam kamar, lalu menguncinya.


Lufas mendekat kearah pintu. Dia mencoba membuka dengan sekuat tenaga.


"Pergi kalian semua dari rumahku."


Hanya kata itu yang terucap dari bibir Sya. Lufas tahu saat ini Sya merasa terluka. Dia dan beberapa pengawalnya memutuskan untuk prgi dengan hati kecewa.


"Danendra. Mulai saat ini, jangan temui dia lagi."


"Tapi dia Papaku Ma."


"Nendra. Dengarkan apa kata Mama. Jika Nendra masih menemui dia. Mama tidak mau bicara dengan Nendra.


"Nendra sayang sama mama, tapi Nendra juga sayang sama Papa."


Sya diam. Dia menangis di depan Danendra. hal itu membuat Danendra merasa gusar dan gelisah. Sya memutuskan untuk meminta Bi Sali mengurus danendra lebih dulu. Sya ingin menenangkan dirinya sendiri.

__ADS_1


****


__ADS_2