The Way Love

The Way Love
CXXXV


__ADS_3

Mata Sya masih terpejam saat Bi Sali menggedor-gedor pintu kamarnya. Setelah beberapa kali mengerjap Sya membuka pintu kamarnya. Bi Sali terlihat begitu panik.


"Ada apa Bi?"


"Nendra, Bu. Nendra."


"Ada apa dengan Nendra?" Tanya Sya yang langsung berjalan ke arah kamar Nendra.


Wajah Sya langsung terlihat pucat saat melihat Danendra terbaring lemah di tempat tidur. Sya mendekat dan mengecek suhu tubuhnya. Panas, bahkan tubuhnya menggigil.


"Nendra. Bangun sayang, ini Mama."


Danendra masih juga diam. Pikiran Sya jadi kacau. Dia mengambil mantel dan menggendong Danendra. Tanpa pikir panjang Sya langsung membawa Danendra keluar rumah.


Bi Sali diam melihat Sya membawa Danendra pergi. Dia memilih untuk menelfon Lufas dan meminta bantuan padanya.


Di jalan Sya terus mencoba menghentikan mobil yang lewat. Sya tidak tahu harus meminta bantuan pada siapa di jam seperti ini.


Semua orang pasti sedang istirahat. Sya benar-benar hampir putus asa. Sampai mobil hitam milik Lufas berhenti tepat di depan Sya.


Lufas turun dan langsung mengambil alih menggendong Danendra. Dia membawa masuk ke mobil. Sya masih diam, dia bahkan terlihat begitu ling lung.


"Apa yang kamu lakukan Sya. Kau mau ikut atau tidak?" Nada suara Lufas begitu tinggi, terkesan membentak.


Sya melihat Lufas membuatnya tidak nyaman. Sya bahkan berjalan satu langkah ke belakang. Meski begitu, Sya juga tidak bisa meninggalkan Danendra saat ini.


Tanpa ragu Sya menyingkirkan egonya. Dia masuk ke mobil dan duduk di samping Lufas. Danendra masih belum membuka matanya. Bahkan suhu tubuhnya semakin tinggi.


"Kenapa kau tidak menelfonku?" Tanya Lufas.


"Aku tidak punya nomormu. Aku juga tidak memiliki pikiran itu."


"Nomor suamimu kau tidak punya?" Tanya Lufas dengan nada tidak percaya.


Sya menoleh dan menatap pada Lufas. "Kita bukan suami istri lagi." Nada bicara Sya penuh dengan penekanan.


Lufas menarik tangan Sya dan meletakan di dadanya. "Sya detak jantung ini masihlah untukmu."


Dengan kasar Sya melepaskan tangannya itu. Sya kembali fokus dengan Danendra yang saat ini berada di pangkuannya.


Mata Lufas melihat Sya dengan begitu lekat. Saat ini Sya hanya memprioritaskan Danendra, hal itu membuat Lufas diam. Dia akan kembali membicarakan semuanya nanti. Saat kondisi Danendra sudah membaik.


***


Sampai di rumah sakit Danendra langsung masuk ke ruang gawat darurat. Sementara Sya dan Lufas menunggu di luar ruangan. Sya tidak bisa berhenti untuk tidak khawatir.


Lufas yang melihat Sya begitu gelisah dan terus mondar-mandir membuatnya juga merasakan kegelisahan itu. Lufas berdiri dan menarik Sya. Dengan lembut Lufas menggenggam tangan Sya.


"Tenanglah. Semuanya akan baik-baik saja."


Sya menggeleng. "Ini kali pertama Nendra sakit sampai harus di rawat. Kau menyuruhku untuk tidak khawatir?"

__ADS_1


"Sya. Tenang, Dokter saat ini sedang berusaha."


"Fas. Kau hanya perlu diam. Selama ini, aku yang di sampingnya. Aku yang mengurusnya. Kau tidak tahu jelas tentang dia."


"Lima tahun ini aku jug bersamanya."


Jawaban Lufas membuat Sya sadar. Selama lima tahun ini, hanya dia yang terus memendam sakit kehilangan. Sementara yang lain masih hidup dan merasakan hal yang sama saja.


"Sya. Maaf," ucap Lufas kemudian.


Sya menarik tanganya dari genggaman Lufas. Dia menjauh dari Lufas dan duduk di sudut ruangan. Matanya sudah berkaca-kaca. Dia mengingat semua hal lima tahun ini.


Mempertahankan keluargany juga mempertahankan perusahaan. Meski akhirnya dia merasa sendiri dan tidak dianggap selama lima tahun ini.


Saat Sya merasa begitu terpuruk. Ben dan Xiu datang. Mereka langsung di temui oleh Lufas. Mereka juga membicarakan banyak hal. Sya semakin merasa tersingkir.


Xiu melihat keadaan Sya yang begitu buruk. Dia akan mendekat, tapi saat itu pintu terbuka. Danendra berada di atas tempat tidur dorong. Sya langsung mendekat dan membantu perawat untuk mendorong. Begitu juga dengan Xiu, Ben dan Lufas.


Sampai di ruang rawat. Dokter ingin bertemu dengan orang tua Danendra. Saat itu Sya dan Lufas masuk ke dalam ruangan dokter.


"Pak, Bu. Apa selama ini Danendra pernah mengeluh?"


"Tidak. Ini juga baru kali pertama dia masuk rumah sakit," jawab Sya.


"Apa dia sering sakit saat di rumah?"


"Dia selalu sehat. Hanya kadang demam," kembali Sya menjawabnya.


Sya dan Lufas mengangguk bersamaan.


"Apa kalian bisa terus berada di sampingnya. Orang tua akan menjadi pendukung terbaik untuk anaknya," kata Dokter itu kemudian.


Lufas akan menjawab, tapi Sya lebih dulu membuka suara.


"Sepertinya hanya saya Dok. Papa Danendra begitu sibuk. Dia tidak akan sempat."


Setelah itu Sya tersenyum. Mereka keluar dari ruang dokter. Sampai di sebuah lorong yang begitu sepi Lufas mendorong Sya ke tembok.


"Kenapa kau mengatakan hal itu pada Dokter. Aku bisa melakukan apapun untuk anakku."


"Benarkah? Bukankah kali pertam aku hamil kau menolaknya. Bukankah lima tahun ini kau memilih untuk mati? Kau bahkan tidak tahu perasaanku saat Nendra bertanya tentang Papanya. Yang kau pedulikan hanya pekerjaanmu. Itu kenyataanya," ucap Sya.


"Sya. Aku selalu mengirim surat dan hadiah untumu. Setiap ulang tahunmu."


"Mana ada orang mati mengirim surat dan hadiah."


Lufas semakin mendorong Sya. Sya diam, tapi terus mencoba mendorong tubuh Lufas.


"Aku mencintaimu dan Nendra. Itu kenyataan yang harus kau tahu."


"Lima tahun ini hanya aku yang memendam rasa sakit. Kau tidak tahu itu, jadi lupakan saja tentang cinta yang kau bilang."

__ADS_1


Tubuh Lufas mundur. Sya langsung meninggalkan Lufas begitu saja. Lufas masih terus mencoba mendekat dan menjelaskan segalanya. Hanya saja, hati Sya yang sudah sering tersakiti kini perlahan menutup. Sya hanya hidup untuk Danendra saat ini.


***


Danendra masih juga belum bangun. Sya menunggu dan duduk di sofa. Xiu masuk dan langsung duduk di samping Sya. Sya tidak merespon apapun.


"Maaf." Kalimat itu terucap dari bibir Xiu.


"Untuk apa?"


"Karena aku sudah melakukan hal yang fatal. Aku tidak membiarkan Lufas memberi tahumu hal yang sebenarnya. Aku juga yang menerima hadiah dan surat Lufas."


Sya diam.


"Aku tidak tahu cintamu dan cinta Lufas begitu besar. Awalnya, aku takut kau tahu Lufas masih hidup. Aku takut kau mengatakan semuanya pada musuh-musuh kita."


"Apa kau sudah selesai bicara?" Tanya Sya.


"Ya. Aku mohon maafkan Lufas, dia tidak bersalah."


"Saat ini kau minta maaf, tapi lima tahun ini kau sudah membuatku terus hidup dalam rasa sakit. Kalian begitu kejam, untuk ukuran orang yang memiliki hati."


"Sya aku sudah minta maaf. Kenapa..."


"Keluarlah. Aku tidak ingin membahas apapun lagi dengan kalian."


Xiu keluar ruangan dengan kecewa. Dia melihat Lufas dan menggeleng. Hal ini membuat Lufas merasa kembali hancur. Dia kira, penjelasan dan sebuah kata manis bisa membuat Sya kembali.


Kini Sya sudah berubah. Dia tidak mudah untuk di taklukan. Bahkan hatinya sudah tidak mengharap sebuah cinta yang tulus lagi.


***


Sya baru saja keluar dari ruangan dokter. Air mata sudah mulai menetes. Sya terduduk di sebuah kursi tunggu. Perkataan Dokter membuat Sya merasa begitu hancur saat ini


"Bu, saat ini Danendra harus di rawat. Ada masah di dalam kepalanya. Hal ini harus kita lihat lebih detail lagi," kata dokter.


"Apa ini bahaya?"


"Kami masih belum tahu."


Sebagai seorang ibu. Hatinya pasti sakit saat mendengar kabar tidak baik dari anaknya. Sya memutuskan untuk menyeka air matanya dan kembali ke ruangan Danendra di rawat.


Baru saja Sya masuk. Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Mike yang mengirim pesan.


'Apa kau sudah melihat berita hari ini?'


'Belum.'


'Lihatlah. Kau pasti akan terkejut.'


Sya tidak membalas pesan itu. Dia memilih untuk melihat berita terbaru saat ini. Wajah Sya berubah menjadi serius. Sebuah judul berita membuat Sya merasa kesal. Istri Bos Lufas, Syaheila sudah berselingkuh dengan model ternama, Mike.

__ADS_1


***


__ADS_2