The Way Love

The Way Love
LXXIII


__ADS_3

Hampir satu malam ini Sya tidak bisa memejamkan matanya. Dia masih memikirkan bagaimana bisa Arda melupakannya begitu saja. Baginya, ini adalah hal yang tidak adil. Arda bisa melupakan dirinya begitu saja. Sementara Sya harus menahan rasa itu sendirian.


Bulatan hitam dilingkar mata Sya. Ya, lingkaran hitam itu muncul karena Sya tidak bisa mrmjamkan matanya walau hanya sebentar. Padahal, hari ini dia harus mengantar Ruka untuk kembali.


Tidak lama saat Sya akan memejamkan mata. Mira masuk dan membuatnya kaget. Degup jantung Sya begitu cepat.


"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu?" Tanya Sya dengan rasa kesal.


"Maaf, Nona. Saya sudah mengetuk dan memanggil nama Nona sejak tadi."


"Benarkah?" Sya turun dari tempat tidurnya. "Lalu ada hal apa kau kesini. Aku tidak memanggilmu."


"Maaf. Tuan Ruka dan Tuan Lufas sudah menunggu untuk sarapan."


Kali ini Sya menggelengkan kepala. Dia mendekat pada Mira saat itu juga.


"Apa kau tidak lihat aku? Aku terlihat begitu kusam karena tidak tidur semalam."


Mira menyunggingkan senyum. "Mungkin Anda bisa mengoleskan make-up."


Sya terlihat berfikir. Dia memang bisa make-up, tapi tidak bisa hal lain selain diajarkan oleh Eri. Akhirnya Sya meminta Mira untuk membantunya. Setidaknya Mira lebuh tahu tentang make-up dari pada dirinya.


Setelah hampir setengah jam berada di depan cermin. Sya akhirnya selesai juga dengan apa yang dia kerjakan. Untung saja dia lebih dulu mandi dan berganti pakaian.


Tidak ingin membuat Ruka dan Lufas menunggu lagi. Sya akhirnya turun untuk sarapan dengan mereka berdua.


Mira yang sudah pergi lebih dulu tidak memikirkan hal mengerikan akan terjadi. Tanpa Sya sadari dia masuk ke dalam lift. Dimana ada Aila dan Arda di dalam sana.


Awalnya tidak ada yang terjadi sampai Aila mengeluarkan suara. "Sayang. Entah kenapa aku malas untuk sarapan."


"Bukankah kau tadi menginginkannya?" Tanya Arda yang masih biasa saja.


Sementara Sya hanya melirik dengan perasaan yang campur aduk.


"Lihat. Sya juga disini, apa mungkin kita sarapan bersama?"


Sya mengulas senyum. "Maaf, tapi aku sudah ditunggu kakakku."


"Biarkan saja pelakor ini dengan yang lain. Aku tidak ingin melihatnya," kata Arda kemudian.


Dengan penuh percaya diri Sya menatap Arda. Bahkan posisi mereka saat ini saling berhadapan.


"Setidaknya aku pernah jadi hal terindah dalam hidupmu."


Mendengar kata itu Arda hanya diam. Perlahan sebuah bayangan muncul dihadapan Arda. Seperti sebuah film yang diputar tanpa permisi. Melihat keadaan Arda saat itu, Aila menjadi tidak tenang.


"Kamu tidak apa?" Tanya Aila.


Arda tidak menjawab. Sya hanya menatap dengan rasa bersalah karena sudah membuatnya seperti itu.


Tiba-tiba saja Aila mendorong tubuh Sya dengan kasar. Tepat saat pintu lift itu terbuka. Sya hanya bisa pasrah jika dia akan terjatuh, tapi sebuah tangan mendapatkan tubuhnya.


Sya menoleh dan melihat Lufas disampingnya. Dengan bantuan Lufas dia tidak sampai jatuh.

__ADS_1


"Terima kasih," ucap Sya.


Lufas langsung menoleh pada Aila dan Arda. Dimana Aila sedang memberikan sebuah obat pada Arda.


"Apa yang terjadi?" Tanya Lufas kemudian.


Sya tidak menjawab. Jika saat ini dia membela diri, dalam hatinya hanya akan ada rasa bersalah.


"Kenapa kau tidak menjawab Sya? Kau sengaja ingin membunuh Arda, kan?"


Sya menoleh, dia akan mengucapkan kalimat. Hanya saja Lufas memilih untuk tidak tahu akan hal itu.


"Kakakmu sudah menunggu," kata Lufas.


Sya mengangguk. "Ayo."


***


"Aku minta kirimkan kembali obat itu padaku."


"Tidak bisa, Anda sudah memesan obat begitu banyak sebelum ini. Efeknya bisa sangat mengerikan."


"Aku tidak peduli. Kirimkan saja obat itu padaku. Aku akan memberikan uangnya langsung."


"Baik."


Aila menutup telfon itu dan kembali duduk di dekat dengan Arda. Dia tidak ingin jika Arda kembali ingat dengan Sya. Hal itu akan membuatnya kembali dipenjara. Dia juga pasti akan diceraikan oleh Arda. Hal yang sangat mengerikan menurut Aila.


Tidak lama seseorang masuk ke dalam kamar mereka. Aila terlihat begitu lega saat itu.


"Ini," kata wanita dengan sebuah plastik ditangannya.


Aila mengambil sebuah amplop dari dalam tasnya. Mereka bertukar saat itu juga. Setelah itu tanpa kata, wanita itu keluar dari kamar Aila.


"Siapa dia?"


Aila kaget dengan suara itu. Dia menoleh pada Arda dengan senyuman.


"Siapa?" kembali Arda bertanya.


"Kau tahu. Aku sangat khawatir dengan keadaanmu. Jadi, aku meminta perawat untuk datang."


Arda mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Lalu apa ditanganmu itu?"


"Ini obat. Aku meminta dia untuk membelikannya. Aku tidak ingin jauh darimu, walau hanya sebentar."


"Kau ini," ucap Arda.


Walau begitu, Arda masih memikirkan bayangam yang tadi hadir dihadapannya. Dia melihat Sya yang tertaea bahagia dengannya. Hanya saja, Arda lebih memilih diam. Dia tidak ingin membuat Aila sampai khawatir berlebihan.


"Aila. Aku ingin makan sesuatu. Bisakah kau membelikannya untukku?"

__ADS_1


"Tentu."


Aila mengambil mantel dan juga tasnya. Dia bergegas pergi untuk membelikan makanan yang Arda mau. Tentunya agar Arda merasa senang dan Aila bisa mendapatkan segalanya.


Perlahan Arda mengetikan sebuah nama diponselnya. Dia menelfon seseorang, tentunya orang yang selama ini berada di sampingnya.


"Apa lagi?" Tanya orang yang ditelfon Arda.


"Carikan seorang dokter yang handal. Dan tentunya bisa dipercaya."


"Kenapa kau tidak cari sendiri? Bukankah kau sudah tidak ingin kenal denganku."


"Maaf. Waktu itu aku sangat marah mengetahui semuanya. Tolong aku," kata Arda.


"Baiklah. Aku akan berikan alamatnya padamu melalui pesan."


Pria yang berada ditelfon itu langsung menutupnya. Tidak butuh waktu lama, Arda sudah mendapatkan pesan itu. Setelah dia berhadapan dengan Sya. Dia selalu merasa ada yang salah dalam otak maupun hatinya.


Rasa curiga juga mulai tumbuh pada Aila. Walau Arda masih tidak tahu alasan kecurigaan itu tentang apa. Dia hanya merasa ada yang perlu dibenarkan.


***


"Kak. Sebenarnya apa yang terjadi pada Arda. Kau tahu, dia begitu mencintai Aila saat ini. Padahal, sebelum ini dia sangat membencinya," kata Sya saat berada di dalam mobil.


Ruka terlihat tidak senang.


"Kak. Aku janji akan menjauh dari Arda."


"Apa kau yakin?"


"Ya. Aku akan melupakannya. Asal kakak mau katakan apa yang terjadi sebenarnya."


Ruka menghela nafas.


"Kau tahu Arda hilang ingatan bukan?"


"Ya."


"Hal itulah yang dimanfaatkan oleh Aila. Entah bagaimana tapi Aila berhasil mengarang cerita untuk membuatmu dibenci Arda."


"Lalu?"


"Aku hanya tahu itu Sya. Jadi, tepatilah kata-katamu itu. Satu hal lagi, kau kehilangan anakmu karena mereka berdua."


Sya hanya menganggukan kepalanya dengan sangat pelan. Dia kembali ingat masa-masa itu. Masa dimana dia tidak dipercaya oleh Arda dan hanya disakiti.


Mungkin apa yang dikatakan Ruka benar untuk Sya. Menjauh dan melupakan rasa itu akan lebih baik.


"Lebih baik kau cari tambatan hati untuk saat ini," kata Ruka.


"Maksud Kakak apa?"


"Jika kau memiliki seorang pria disampingmu. Kau pasti akan melupalan Arda. Walau perlahan."

__ADS_1


Mobil itu berhenti disebuah bandara. Sya dan Ruka turun. Ya, niat awal Sya adalah mengantar Ruka untuk kembali ke kota C. Saat ini, Sya haris bertahan tanpa adanya kakak di sampingnya di kota D.


***


__ADS_2