The Way Love

The Way Love
LVI


__ADS_3

"Dimana Sya?" Tanya Ruka pada pelayan pribadi Sya.


"Nona ada didalam kamar."


"Apa dia merasa senang?"


"Tentu saja Tuan."


Ruka tersenyum puas. Dia berjalan menuju kekamar Sya. Perlahan dia membuka pintu, tampak Sya terbaring diatas tempat tidur. Dengkuranya yang halus membuat Ruka mengurungkan niatnya masuk.


Perlahan dia menutup pintu kamar Sya. Lalu dia masuk kekamar yang berada disampingnya. Ya, itu adalah kamar Ruka sekaligus ruang kerjanya. Dia mendesain kamarnya agar enak untuk istirahat dan untuk bekerja.


Melihat jam dinding. Ruka merasa ada yang baru saja terlewat. Dia mencoba memikirkan hal yang terlewat itu. Sampai akhirnya dia menghempaskan dirinya keatas tempat tidur.


"Apa yang sudah aku lupakan?" lirih Ruka.


Ponselnya berdering. Ruka kaget dan langsung mengambil ponsel yang berada disaku. Nama Eri tertera disana. Ruka mengangkat telfon itu.


"Apa kau lupa?" begitu tanya Eri langsung.


Ruka diam, dia terlihat berfikir dengan pertanyaan yang datang padanya.


"Kau meminta aku menyiapkan kue dan sampai sekarang kau tidak mengambilnya. Apa kau sengaja mengerjaiku?"


Tangan Ruka memukul kepalanya sendiri. Dia benar-benar lupa jika sudah memesan kue. Kue itu akan dia berikan pada Sya. Kali ini dia benar-benar merasa bodoh.


"Aku akan segera sampai," ucap Ruka.


Dia mematikan telfon itu dan bergegas keluar dari rumahnya. Dia akan mengambil kue itu sebelum terlambat. Dia tidak ingin membuat kejutan untuk adiknya gagal.


***


Sampai dicafe Ruka masuk. Cefe itu terlihat sudah sepi. Hanya ada dua orang yang sedang meminum kopi sembari bermain dengan ponsel masing-masing.


Mata Ruka mengedar. Dia tidak menemukan Eri dimanapun. Tidak ingin menunggu lama Ruka berniat untuk menelfonya.


Bruk. Satu kotak kue kini berada didepan matanya. Ruka melihat Eri dengan tatapan tajam padanya.


"Maaf, aku sebenarnya lupa."


"Aku tahu kau lupa."


"Terima kasih."


"Lain kali jangan melupakan hal sekecil ini. Apa kau tahu aku sudah menunggumu sangat lama. Aku bahkan sampai telat menutup cafe ini."


"Ya, aku minta maaf."

__ADS_1


"Apa maaf saja cukup. Jika kau mengulanginya lagi, aku tidak akan membuka cafe ini lagi. Aku akan memilih menganggur dan tidur dikos-kosan jelek."


Ruka tertawa. "Apa kau benar-benar marah?"


"Menurutmu?"


Ruka mengambil kotak itu dengan tangan kirinya. Lalu, tangan kanannya meletakan kotak lain kemeja. Kotak yang lebih kecil dengan pita biru.


Eri hanya menatap kotak itu. Dia tidak tahu apa yang sedang Ruka lakukan. Walau ada rasa bahagia jika kotak itu benar untuknya.


"Ini tanda maafku. Aku pergi dulu ya," ucap Ruka.


Tidak ada kata. Eri hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Setelah Ruka benar-benar keluar. Eri langsung mengambil kotak itu. Dia membukanya dengan kecepatan penuh.


Mata Eri tidak berkedip saat melihat apa yang berada didalam kotak itu. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dulu, dia pernah berpacaran dengan pria kaya.


Hanya saja tidak ada yang pernah memberikan hadiah semanis itu. Sebuah kalung dengan liontin berbentuk huruf E. Eri meletakan kalung itu dilehernya. Lalu dia tersenyum dengan sangat manis.


Sementara itu, Ruka hanya bisa melihat tingkah dari Eri melalui kaca cafe. Walau dia harus berhati-hati agar Eri tidak menyadari keberadaanya. Setelah tahu Eri menyukainya. Ruka memutuskan pulang. Sebelum Sya terbangun.


Dalam perjalanan. Ruka terus mengembangkan senyumnya. Bagaimana tidak, baru kali ini dia berani memberikan hadiah pada seorang wanita. Apa lagi, wanita itu adalah orang yang selama ini menjaga adiknya.


***


Perlahan mata Sya terbuka. Dia melihat beberapa barang yang tidak biasanya dia lihat. Dia langsung duduk dan mengamati ruangan itu. Senyumnya mengembang.


Dia baru ingat jika saat ini dia sedang berada dirumah kakaknya. Rasanya masih saja seperti mimpi. Mira masuk, dia membawakan satu gelas susu untuk Sya.


"Terima kasih. Aku akan mandi lalu meminumnya."


Mira mendekat. "Apa yang bisa saya bantu?"


"Tidak perlu. Aku akan melakukannya sendiri. Oh ya, apa kakakku sudah pulang?"


"Tuan tadi sudah pulang. Lalu, pergi lagi dengan terburu-buru."


Sya mengangguk. "Kalau begitu, siapkan saja makan malam untukku. Aku sangat lapar."


"Baik, Nona."


Kamar mandi itu terlihat tidak biasa. Ya, mungkin karena cat dan juga barang yang berada didalam sana. Bukan berwarna putih, tapi berwarna pink dan biru.


Hal ini membuat Sya merasa lebih tenang. Dia juga bisa berlama-lama didalam kamar mandi. Apa lagi, biru dan pink adalah warna yang dia suka.


Ruka memarkirkan mobilnya secara perlahan. Lalu dia masuk dan melihat Mira sedang membawa makanan. Buru-buru Ruka mendekat.


"Apa ini untuk Sya?"

__ADS_1


"Ya, Tuan."


"Biar aku saja yang bawa."


Ruka mengambil alih nampan berisi makanan itu. Dia masuk ke kamar Sya. Sya sedang duduk di meja rias dengan rambut yang masih basah.


"Apa kau baru saja mandi?"


"Ya. Kakak sudah pulang?"


"Baru saja aku kembali. Ini makananmu, biar aku bantu kau mengeringkan rambutmu."


Sya menggeleng. "Aku bisa melakukannya sendiri, Kak."


"Baiklah kalau begitu. Aku juga membelikan kue untukmu. Makan dan istirahatlah."


"Baik, Kak."


Melihat Sya baik-baik saja. Ruka keluar dan masuk kembali ke kamarnya. Dia langsung membuka laptopnya dan mulai meeting mendadak.


Dia dikabari jika ada meeting mendadak dengan Arda. Awalnya memang malas mendengar nama Arda. Hanya saja, Ruka masih sadar jika Arda adalah adik iparnya. Selama ini juga dia yang menjaga Sya.


Sementara itu, disebuah restoran mewah. Aila duduk dengan baju yang cukup terbuka. Disana juga ada Jovi yang datang dengan seorang wanita disampingnya.


"Kau memang bajingan, Jov."


Jovi tertawa dengan penuturan Aila. Dia duduk, sementara wanita yang berada disampingnya mengambil gelas. Gelas itu berisi minuman beralkohol tentunya.


Dengan manja wanita itu duduk disamping Jovi. Dia memberikan minuman itu pada Jovi, tentunya disambut dengan senang.


"Bagaimana dengan Arda. Apa dia masih menemui calon istriku?" Tanya Jovi.


"Tentu saja dia berusaha menemuinya. Namun aku selalu berhasil membuatnya kembali padaku."


"Lalu kapan kau akan meminta Arda menceraikannya?"


Aila terlihat berfikir. Dia memang belum memikirkan cara untuk hal itu. Saat ini dia hanya menikmati apa yang sedang dia rasakan. Hidup bahagia dengan Arda. Walau Arda masih saja acuh padanya.


"Kenapa diam?"


Aila menatap Jovi.


"Kau bagaimana? Aku bisa melakukan rencana itu jika kau berhasil membuat Ruka marah pada Arda. Tentu saja dengan drama yang sudah kau lakukan."


"Tenang saja. Ruka dan Arda akan sulit mencari kebenaran foto itu."


"Kalau begitu. Aku bisa tenang saat ini."

__ADS_1


Aila meminum minuman yang berada ditangannya. Lalu dia melihat ponsel. Jam sudah terlalu malam. Jika dia pulang terlambat, Arda pasti akan banyak bertanya. Jadi, dia memutuskan untuk segera kembali. Dia membiarkan Jovi bermain dengan wanitanya.


***


__ADS_2