The Way Love

The Way Love
LXXXV


__ADS_3

Sya masih terus berjalan. Dia bahkan merasa sangat lapar kali ini. Terakhir makan saat dia bersama dengan Anna.


Kini, dia harus menahan lapar sampai entah kapan. Semua uang, dompet, ponsel, dan barang lainnya tertinggal di mobil Sya.


"Kenapa juga aku mau menikah dengan pria gila itu. Hanya karena sebuah kebaikan aku masuk kandang macan."


Tidak henti-hentinya sya terus mengomel. Bagaimana tidak, dia sudah jauh dari tempatnya diturunkan tadi. Saat jalanpun tidak bertemu orang. Bagaimana mau bertanya tentang vila yang dia tinggali.


Sampai akhirnya Sya bertemu dengan seorang wanita yang sudah cukup berumur. Dengan bahagia Sya mendekat kearahnya.


"Nenek. Boleh aku minta bantuan?"


Nenek itu menoleh dan tersenyum hangat. Sya merasa dirinya kali ini tertolong.


"Vila itu masih sangat jauh. Apa kau mau kesana?"


"Ya. Aku tinggal disana dengan suamiku."


"Lalu dimana suamimu?"


Sya bingung harus menjawab apa.


"Nak. Disini jalanan begitu sepi, hanya ada satu bus yang akan lewat nanti malam. Apa kau mau mampir dulu?"


Sya sangat ingin mampir. Setidaknya disana dia akan meminum segelas air. Hanya saja, Sya merasa harus cepat kembali dan meminta penjelasan dari Lufas.


"Tidak perlu, Nek. Aku harus cepat kembali."


Dengan lembut nenek itu menarik tangan Sya. Merasa kasihan dan tidak enak menolak. Sya memutuskan untuk mengikutinya saja.


Sampai disebuah rumah yang sederhana dengan dekorasi rumah jaman dulu. Nenek itu menyambut Sya dengan begitu hangat.


"Kau duduk saja dulu. Nenek akan buatkan minum untukmu."


"Terima kasih, Nek."


Nenek itu masuk, tidak berapa lama sudah kembali dengan segelas air dan camilan. Kali ini, dia merasa hidupnya cukup beruntung. Walau ditinggalkan oleh Lufas begitu saja, masih ada orang yang mau menolong.


"Apa kau sudah tinggal lama di vila itu?" Tanya Nenek.


"Baru beberapa hari, Nek. Apa Nenek tahu tentang vila itu?"


Nenek menyodorkan sepiring camilan. Sya mengambil sepotong roti dari sana.


"Ya. Dulu Nenek bekerja disana. Hanya saja, Nenek harus berhenti setelah dua puluh tahun mengabdi."

__ADS_1


"Kenapa, Nek?"


"Pemilik vila itu meninggal. Vila itu diambil alih oleh musuh majikan Nenek."


"Kenapa bisa?"


"Karena majikan Nenek adalah seorang mafia. Walau dia mafia, sifatnya begitu baik. Dia tidak suka melihat orang sedih atau kesusahan."


Sya hanya mengangguk-angguk.


"Apa kau menyewa vila itu?" Tanya Nenek selanjutnya.


Sya akan menjawab ya. Hanya saja nalurinya mengatakan tidak. Jadi, Sya menjawab jika dia dan suaminya menyewa vila itu.


"Baguslah. Setidaknya kau tidak menikah dengan si pemilik."


"Memangnya kenapa, Nek?"


"Nenek dengar vila Averest sudah dimiliki oleh anak dari seorang bos mafia. Mereka cukup kejam."


Kali ini Sya menemukan titik terang tentang Lufas. Walau begitu, Sya masih belum yakin. Umur nenek ini sudah cukup tua. Jadi, kemungkinan besar anak pemilik vila itu juga sudah berumur. Walau belum cukup tua.


"Nak. Nak," panggil Nenek.


"Ada apa, Nek?"


"Ini uang untuk kamu naik bus. Sudah hampir waktunya bus itu lewat."


Sya terharu. Nenek itu sangat baik hati. Sya memeluk Nenek itu dan menerima uangnya. Lalu, dengan perlahan Nenek mengantar Sya untuk kembali ke vila.


Saat sudah naik bus. Sya melambaikan tangan yang langsung dibalas oleh Nenek. Entah kenapa, Sya merasa begitu sedih saat meninggalkan Nenek itu. Walau begitu Sya berjanji pada dirinya sendiri. Dia akan mengunjungi Nenek itu beberapa hari sekali.


***


Lufas memukul setirnya dengan cukup kuat. Dia kembali ke tempat dimana dia meninggalkan Sya. Namun Sya tidak dia temukan.


Rasa bersalah muncul. Walau begitu dia juga menyalahkan Sya. Kenapa dia harus pergi dari sana. Padahal, Sya sama sekali belum pernah ke kota itu.


Dengan rasa khawatir yang terus bertambah. Lufas mencoba menelfon Sya. Dering ponsel terdengar dari dalam mobil. Lufas menemukan ponsel Sya tergeletak di jok mobil dengan barang lainnya.


Tidak ingin menunggu lama. Lufas menelfon bawahannya. Dia meminta beberapa orang untuk mencari Sya. Malam ini, Sya harus cepat ditemukan. Jika tidak, mereka sudah tahu akibatnya.


"Aku tidak mau tahu. Kalian harus menemukan malam ini juga."


Sementara itu, Sya duduk dengan tenang di dalam bus. Matanya memandang jauh kearah luar. Matahari sudah mulai masuk ke dalam peraduannya.

__ADS_1


Ada rasa rindu yang tiba-tiba melingkupi hati. Rindu akan adanya sosok yang mampu menemaninya. Memeluknya disaat dia butuh. Kini, dia masuk ke dalam perangkap. Dia menikah dengan Lufas.


Lufas yang bahkan Sya tidak tahu siapa dia yang sebenarnya. Dia hanya tahu jika Lufas adalah teman dari Ruka.


Sampai di vila Averest. Sya turun, karena terlalu banyak berjalan tadi. Kakinya jadi lecet, hal iyu membuat kaki kiri Sya sulit untuk berjalan.


Tanpa aba-aba beberapa pelayan langsung datang dan membantu Sya. Tidak ingin bertanya, Sya hanya mengikuti para pelayan. Di ruang tengah. Lufas sudah menunggu dengan tatapan tajamnya.


Merasa tidak bersalah Sya balas menatap pada Lufas. Rasa kesal muncul kembali karena ingat kelakuan Lufas yang meninggalkannya sendiri di jalan sepi.


"Kenapa kau baru pulang?"


"Kau bertanya padaku?" Sya balik bertanya dengan nada keras.


Dengan isyarat tangan Lufas meminta para pelayan untuk pergi dari ruangan itu. Kini hanya ada Sya dan Lufas. Mereka saling bertatapam.


"Aku mencarimu sejak tadi dan kau pulang dengan kaki tertatih?"


"Kau mencariku?" Sya tertawa mendengar perkataan Lufas. "Untuk apa kau mencariku? Bukankah kau sendiri yang meninggalkan aku. Apa kau lupa."


Kini Lufas hanya diam. Dia memang bersalah karena meninggalkan Sya tanpa penjelasan. Karena alasannya mungkin tidak dimengerti oleh Sya.


"Kau tidak bisa menjelaskannya padaku, kan? Jadi, biarkan aku istirahat lebih dulu."


Sya kemudian berbalik untuk masuk ke dalam kamar. Tiba-tiba Lufas menarik tubuh Sya kesisinya. Tanpa ijin dari Sya, Lufas langsung mencium bibir tipis Sya.


Dengan sekuat tenaga Sya mendorong Lufas. Sampai ciuman dan pelukan itu lepas. Kali ini bukan hanya tatapan biasa. Sya menatap dengan rasa kesal yang memuncak.


"Kenapa kau melakukan ini padaku?"


"Ini alasanku meninggalkanmu."


Plak. Sebuah tamparan mendarat diwajah Lufas.


"Kau sudah gila." Ucap Sya.


Dengan kekesalannya Sya masuk ke dalam kamar. Dia membanting pintu dengan sangat keras. Sudah tiga hari ini Sya dan Lufas tidak berada di kamar yang sama.


Lufas yang tidak ingin mempermasalahkannya. Jadi, dia memilih untuk diam dan tidur di kamar sebelah. Kadang ada rasa muncul ingin menemui Sya. Hanya saja, Lufas memilih diam dan menahan semua itu.


Di dalam kamar, Sya menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Dia marah dengan apa yang dilakukan Lufas baru saja. Ciuman itu membuat rasa simpati Sya pada Lufas berkurang banyak.


Sya tidak tahu, jika Lufas sedang menjelaskan jika alasan dirinya meninggalkan Sya. Semua itu karena cinta.


***

__ADS_1


__ADS_2