The Way Love

The Way Love
XLI


__ADS_3

Matahari sudah mulai kembali keperaduannya. Walau begitu, Sya masih setia menunggu kepulangan Arda. Dia ingin kembali melihat wajah bahagia dari Arda.


Selimut tipis menyelimuti Sya yang masih setia duduk di depan TV. Berita tentang Arda masih saja berseliweran. Sya berharap ada sebuah pesan yang masuk ke ponselnya. Pesan dari Arda.


Tidak lama deru mobil membuat Sya melupakan ponselnya. Dia bergegas membuka pintu dan melihat siapa yang datang. Arda, dia pulang dengan tas ditangannya.


"Akhirnya kau kembali juga," kata Sya sembari menghambur ke dalam pelukan Arda.


Arda memberikan tasnya pada pelayan. Dia membiarkan Sya melakukan apa yang dia inginkan. Seharian ini Arda sudah meninggalkan Sya yang bosan di dalam rumah.


"Kenapa baru pulang. Bukankah kau janji akan kembali cepat."


"Maaf, tadi banyak acara."


"Baru sehari kau seperti ini. Aku merasa sangat bosan. Bagaimana jika berhari-hari," lirih Sya. Dia terlihat membuang muka dan tidak suka dengan apa yang terjadi.


"Ayolah, Sya. Jangan marah."


"Aku tidak marah. Aku hanya kesal saja," kata Sya.


"Kalau begitu. Ini untukmu." Arda menyodorkan sebuah tas belanja pada Sya.


Sya menatap pada Arda dengan penuh tanya. Tidak biasanya Arda akan datang dan membawakan hadiah untuknya.


"Aku membelikan baju dan sepatu untukmu."


"Untukku?"


"Ya. Aku akan mengadakan pesta untuk acara ini. Aku mengundang semua temanku dan juga rekan kerjaku."


Wajah Sya berubah. Dia merasa jika apa yang dikatakan Aila di telfon akan segera terjadi. Entah kebetulan atau mereka sudah bertemu sebelumnya.


"Ayo masuk. Kau harus bersiap untuk acara ini." Arda menggenggam tangan Sya.


Mata Sya menatap kosong, rasa curiga dan cemburu kini menjadi satu. Hal itu membuat tumbuhnya rasa sakit di dalam hati. Tanpa sadar Sya menggenggam tangan Arda dengan begitu kuat. Membuat Arda menghentikan langkahnya.


"Sya. Ada apa? apa kau sakit?"


Sadar. Sya menggelengkan kepalanya. Dia menatap Arda dengan senyuman. Sya tidak ingin Arda tahu jika dia merasa terluka dengan kedekatannya dengan Aila.


Perasaan cemburu itu bisa berubah menjadi sifat ingin memiliki yang berlebih. Hal itu pasti akan sangat mengganggu Arda. Apa lagi dikehidupan ini.


"Sya."


"Arda. Aku hanya memikirkan kakakku saja. Jika dia masih hidup, bagaimana keadaanya saat ini."


Arda tersenyum, dia mencoba mengerti apa yang dirasakan istrinya itu.


"Kau tenang saja. Aku masih meminta anak buahku mencari kakakmu. Dalam satu minggu, aku akan mendapat kabar darinya."


"Terima kasih," ucap Sya.


Beberapa orang datang ke rumah itu. Mereka membawa banyak barang. Mereka adalah orang yang disuruh oleh Arda untuk mendekorasi rumah itu.


Arda akan membuat acara besar malam itu. Dia juga meminta wartawan datang. Dia tidak ingin ada yang ditutupi dari luar sana.

__ADS_1


***


Beberapa kali Sya menggelengkan kepalanya. Dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat di cermin. Wajahnya tidak seperti biasanya, mungkin karena baju dan perhiasan yang dia kenakan.


Baru kali ini Sya menggunakan baju dan perhiasan yang berlebih. Terlihat mewah dan elegan, hanya saja Sya tidak terbiasa dengan hal itu.


Merasa sangat tidak nyaman dengan pakaian itu. Sya mencoba untuk melepas kembali kalung dan anting yang dia pakai. Dia ingin menjadi dirinya sendiri bukan wanita lain.


"Kenapa kau melepaskannya? apa kau tidak suka?"


Sya mengurungkan niatnya untuk melepas kalung dan antingnya. Dia menoleh pada Arda yang berdiri dan sudah siap.


"Bukannya aku tidak suka. Aku hanya merasa tidak pantas untuk semua ini. Aku tidak nyaman."


Arda tertawa mendengar apa yang dikatakan Sya. Dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Biasanya wanita akan sangat suka dengan barang mewah, berkilau dan mahal.


"Aku tidak nyaman," kembali Sya mengatakanya.


"Sya. Mulai hari ini kau harus terbiasa dengan semua ini. Kau adalah istriku, aku tidak ingin kau dipandang rendah oleh orang lain."


Kembali Sya hanya bisa diam dan mengangguk. Apa yang dikatakan Arda benar. Jika dia tidak terlihat mewah, mereka semua akan kembali menertawakannya. Hal itu akan membuat Arda malu.


Suasana di luar kamar Arda dan Sya sudah mulai ramai. Bahkan beberapa kali Sya mendengar suara kencang. Ketukan pintu juga terus menerus terdengar.


"Semua sudah menunggumu," kata Sya sembari mengulas senyum.


"Ayo kita keluar."


Diam. Sya tidak bergerak dari tempatnya saat ini. Dia maaih belum bisa menjadi apa yang Arda inginkan saat ini. Arda kembali menoleh pada Sya yang hanya menatapnya.


"Ada apa lagi?"


"Sya. Aku mencintaimu, aku akan keluar jika kau juga ikut aku."


"Arda," lirih Sya.


"Apa kau ingin aku berdansa dengan wanita lain nanti."


Mendengar hal itu membuat rasa cemburu kembali datang. Dia ingat jika Aila pasti datang untuk menggoda Arda. Hal itu membuatnya harus keluar dengan Arda.


"Ayo."


Arda dan Sya keluar dengan bergandengan tangan. Senyuman mereka mengembang. Hal itu membuat pesona mereka malam itu terasa sangat indah.


Teman Arda mulai mendekat dan mengucapkan selamat atas apa yang Arda capai. Mereka juga sesekali memandang kearah Sya. Mereka tidak percaya jika wanita yang berada di samping Arda adalah wanita yang sama saat acara reuni.


"Sya. Aku harus menyapa teman bisnisku, apa kau mau ikut?" tawar Arda.


"Tidak. Aku akan disini saja."


"Baiklah."


Diluar rumah Aila sedang mencoba membujuk Ruka. Dia meminta Ruka membantunya untuk mendekat pada Arda. Walau sebanyak apapun dia meminta Ruka tidak akan menolongnya.


"Bukankah kau sangat ingin dekat dengan Sya. Sementara aku mendekat pada suaminya. Kau bisa bersama istrinya."

__ADS_1


"Aila!"


"Jangan munafik, Kak. Kita akan sama-sama diuntungkan."


"Apa kau fikir aku mendekatinya karena cinta dan nafsu?"


"Apa lagi selain itu," ucap Aila dengan entengnya.


Ruka hanya bisa menggelengkan kepala saat mendengar jawaban Aila. Aila begitu terobsesi dengan Arda hingga dia ingin melakukan apapun untuk mendapatkannya.


Melihat Arda dan Sya sudah keluar, Ruka berniat mengampiri mereka. Sampai saat Arda menjauh dari Sya dan meninggalkannya sendiri.


"Selamat malam," ucap Ruka.


Sya menoleh dan tersenyum. "Malam."


"Kenapa kau tidak ikut menyapa yang lain?"


"Aku lebih suka seperti ini. Mau minum?" tawar Sya.


"Boleh."


Sya dan ruka duduk di sofa. Mereka minum dengan banyak canda dan tawa. Banyak hal yang membuat mereka mampu berbagi cerita dengan leluasa.


Rasa yang selama ini Sya rasakan membuatnya dia nyaman. Perasaan yang sama saat bersama orang yang selama ini dia rindukan.


"Lihatlah. Bukankah mereka begitu dekat," bisik Aila pada Arda.


"Memangnya kenapa. Temanku juga teman istriku," jawab Arda tanpa pikir panjang.


Aila tersenyum. "Setahuku istrimu itu tidak mudah bergaul dengan pria. Padahal mereka baru bertemu beberapa kali, tapi sudah sangat dekat."


"Apa kau sedang mencoba membuat aku kesal pada Sya?"


"Tidak. Aku tidak mungkin melakukannya. Aku hanya..."


"Tidak perlu mengatakan apapun lagi."


Arda meninggalkan Aila dan mendekat pada Sya. Ruka langsung berdiri begitu melihat Arda mendekat.


"Mau kemana?" tanya Arda.


"Tidak mungkin aku mengangganggu pasangan."


"Kau ini. Kita bisa duduk bersama disini," ucap Arda.


"Aku sangat berterima kasih," kata Ruka.


Mereka memiliki banyak hal untuk dibicarakan. Bahkan sampai acara akan berakhir mereka masih duduk di sofa. Sampai saatnya Ruka berpamitan karena sebuah telfon masuk ke ponselnya.


Acara malam itu terasa cepat bagi Sya. Dia harus kembali dengan kehidupannya. Ruka yang dia anggap sebagai kakaknya juga sudah pergi.


"Apa kau lelah?" tanya Arda begitu para tamu sudah pergi.


"Ya."

__ADS_1


"Kalau begitu beristirahatlah. Aku juga ingin tidur."


***


__ADS_2