
Mobil Lufas datang. Satpam yang berjaga langsung membukakan pintu gerbang. Di dalam sudah ada mobil yang biasa dibawa oleh Danendra. Juga ada mobil milik dokter Jo.
"Apa dokter Jo datang?" Tanya Lufas pada satpam.
"Ya, Tuan."
Lufas masuk. Dia meletakan tas dan jasnya disofa. Lalu menuju kamar Danendra. Saat ini Danendra sedang diperiksa oleh dokter Jo. Dia berbaring dengan tenang di atas tempat tidur.
"Dia baik-baik saja? Tidak biasanya dia tidur di jam seperti ini."
"Aku menidurkanya," jawab dokter Jo.
"Memangnya kenapa?"
Dokter Jo berdiri dan menatap pada lufas. Dia tahu, Lufas sudah meracuni otak anak ini. Bahkan sifat kerasnya begitu terlihat. Penolakan demi penolakan terus dilakukan Danendra saat tahu akan diperiksa.
"Dia menolak."
"Benarkah?" Lufas terlihat biasa saja saat menanyakanya.
"Fas. Jangan terlalu mencampuri pikiranya. Dia masih anak kecil."
Lufas tersenyum sembari berkata, "Karena dia anak kecil. Aku harus memaksimalkanya."
"Kau gila."
Lufas tidak menjawab. Sementara dokter Jo langsung keluar dari kamar Danendra. Dia akan kembali ke rumah sakit dimana dia bekerja. Jika bukan hubungan teman yang begitu dekat, tidak mungkin dokter Jo mau melakukan hal ini untuk Lufas.
Baru saja dokter Jo keluar dari gerbang rumah Lufas. Dia melihat bayangan wanita yang tidak asing. Syaheila. Merasa kasihan, dokter Jo akhirnya mendekat pada Sya.
"Apa kau ingin menemui Danendra?" Tanya dokter Jo.
Sya tidak menjawab. Dia hanya terus memandang ke rumah itu dengan tatapan sedih.
"Apa mau bertemu dengan Lufas?" Tanya dokter Jo lagi.
"Tidak. Aku ingin menemuimu."
Dokter Jo mengernyitkan dahi. Dia tidak tahu apa yang Sya inginkan. Hanya saja, dokter Jo mempersilahkan Sya untuk masuk ke dalam mobilnya.
Mereka menuju ke sebuah tempat untuk bicara. Di dalam mobil, Sya hanya diam. Dia tidak mengatakan sepatah katapun. Hal ini semakin membuat dokter Jo bertanya-tanya tentang Sya.
Sampai di sebuah cafe yang terletak di pinggir jalan raya. Dokter Jo menghentikan mobilnya, dia juga mempersilahkan Sya untuk masuk.
Di dalam cafe itu hanya ada beberapa orang yang sedang menikmati kopi. Sya dan dokter Jo duduk di samping jendela. Pemandangan disana membuat Sya merasa lebih nyaman.
"Ada apa kau mencariku?" Tanya dokter jo sembari memberikan kopi untuk Sya.
Sya menerima kopi itu.
"Aku hanya ingin bertanya tentang keadaan Danendra. Apa dia baik-baik saja? Apa kau juga mengizinkan dia untuk beraktifitas?"
"Apa ini alasanmu menemuiku?" tanya dokter Jo dengan sedikit tertawa.
"Jika bukan ini alasanku. Untuk apa aku mencarimu."
"Kau bisa saja mencari Lufas dan bertanya tentang hal ini."
Sya menelan ludah.
"Kau tahu hubunganku dengan dia. Jadi, jawab saja pertanyaanku tadi."
__ADS_1
"Kondisi Danendra sudah cukup baik. Aktifitas yang dia lakukan juga masih dalam pengawasanku."
Sya diam.
"Apa ada hal lain?"
Sya menatap dokter Jo. Dia ingin bertanya kembali dan meminta bantuan padanya. Hanya saja hubungan dokter Jo dan Lufas begitu dekat. Sya mengurungkan niatnya.
"Tidak ada lagi. Terima kasih untuk kopinya," kata Sya.
Sya beranjak dari duduknya. Saat itu dokter Jo memberikan sebuah kartu nama yang berisi nomor telfonya.
"Kau bisa menghubungiku saat ingin tahu kondisi Danendra."
Sya menatap pada kartu nama itu.
"Hubungan aku dan Lufas memang dekat. Hanya saja, aku seorang dokter dan kau adalah orang tua pasienku."
"Terima kasih."
Sya mengambil kartu nama itu dan keluar dari cafe. Sebuah mobil silver datang. Sya langsung masuk ke dalam mobil itu.
Dokter Jo menatap kepergian Sya. Dia yakin kali ini, wanita yang dicintai Mike dan Lufas memanglah orang yang sama.
***
Malam sudah semakin larut. Sya masih saja duduk di balkon dengan tangan membawa berkas untuk di persidangan. Kali ini dia terlihat begitu serius. Bahkan, hawa dingin yang menerpa tubuhnya tidak dihiraukan.
"Pakai ini."
Mike datang dan menyelimuti tubuh Sya. Sya menoleh dan tersenyum.
"Ya. Baru saja."
"Bagaimana pekerjaanmu?" Sya meletakan berkas itu ke meja.
"Melelahkan."
Sya berdiri dan menggandeng tangan Mike masuk. Tidak lupa dia juga menutup pintu balkon. Agar hawa dingin tidak masuk.
"Apa kau masih sedih karena Nendra?" Tanya Mike yang melihat Sya masih terlihat muram.
"Tidak. Aku hanya menunggumu pulang hingga bosan."
Mike memeluk Sya dengan lembut. Hal ini membuat Sya cukup tenang. Bahkan, dia sejenak melupakan rasa sakit di dalam hatinya.
"Mau aku temani tidur?" Tanya Mike.
"Apa kau akan menemaniku sampai pagi?"
"Jika itu maumu."
Sya tersenyum. Meski di dalam hatinya masih belum ada rasa cinta. Perlakuan Mike membuatnya nyaman dan aman.
"Apa kau marah karena aku tidak bersamamu?" Tanya sya kemudian.
"Maksudmu?"
"Kau tahu. Pikiranku hanya tertuju pada anakku, nendra. Aku istri yang bodoh bukan?"
Mike menyibak rambut Sya. Dia juga mengecup pelan kening Sya.
__ADS_1
"Tidak. kau tidak bodoh, aku malah senang denganmu yang seperti ini. Mempertahankan kewajibanmu menjadi ibu."
"Karena hal ini aku tidak memperhatikanmu," kata Sya.
"Kalau begitu. Atur pikiranmu untukku dan untuk anak kita."
Sya tertawa kecil. Mereka bicara banyak hal sampai akhirnya Mike tertidur dengan lelap. Sementara Sya masih juga belum bis tidur. Dia terus memikirkan bagaimana jika Danendra akan menolaknya di persidangan nanti.
Perasaan itu membuat Sya begitu takut. Tangan Mike merengkuhnya semakin dekat. Sya hanya diam, dia mencoba untuk tidur saat ini. Jika terus bergerak, takut mengganggu tidur Mike.
***
Pagi-pagi sekali Mike sudah bangun. Dia melihat Sya yang masih terlelap. Tidak ingin mengganggu, Mike hanya membenarkan selimut dan mengecup pelan kening Sya.
Hari ini dia berniat untuk membawa Sya pergi liburan. Dia ingin Sya menikmati waktu untuk mencintai dirinya sendiri. Tidak memikirkan orang lain saja.
Baru saja Mike akan keluar untuk sarapan pagi. Sya terbangun, dia melihat dua koper sudah siap. Sya mengerjap dan melihat lagi. Benar saja, itu koper miliknya dan Mike.
"Kita mau kemana?" tanya Sya.
"liburan."
"Benarkah? Sudah sangat lama aku tidak melakukannya."
"Kalau begitu cepatlah mandi. Kita akan segera berangkat."
Sya bergegas. Sembari menunggu Sya bersiap, dia meminta asisten Lee untuk melakukan semu tugas dengan benar. Juga menelfon Mike hanya di saat yang genting saja.
"Baik, Tuan."
Sya turun dengan dres merah muda dengan desain yang sederhana.
"Kita berangkat sekarang?" Tanya Sya.
"Kau begitu bersemangat," kata Mike.
Mereka langsung ke mobil yang sudah disediakan. Mike sendiri yang mengendarai mobil itu. Dia hanya ingin berdua dengan Sya, tanpa ada yang mengganggu.
Di dalam perjalanan Sya begitu menikmati keindahan alam yang disuguhkan. Sya tidak tahu kemana dia akan dibawa pergi. Hanya dia percaya dengan Mike.
"Kenapa kamu berhenti menjadi model?" Tanya Sya di sela keheningan yang indah.
Mike menatap Sya. "Aku ingin lebih banyak waktu bersamamu."
"Aku bertanya serius Mike."
"Aku juga, Sayang."
Sya memilih untuk mengalihkan pandanganya dari Mike.
"Aku memutuskan hal ini karena pekerjaanku yang sebenarnya sudah cukup membuatku sibuk."
"Apa kau tidak kasihan pada para fansmu?"
"Mereka masih sama. Mereka fansku," kata Mike.
"Juga hatersku."
Mike tertawa mendengar penuturan Sya. Memang benar, pernikahan Sya dan Mike sudah membuat fans mike marah. Apa lagi dengan berita jika Mike sudah pensiun dari dunia hiburan. Hal ini membuat mereka marah, bukan pada Mike tapi pada Sya.
***
__ADS_1