The Way Love

The Way Love
L


__ADS_3

Dentingan alat dapur sudah menghiasi rumah Sya. Sebelum Eri bangun, Sya sudah memulai harinya. Dia membuat beberapa menu makanan pagi itu. Entah apa yang membuatnya begitu bersemangat.


Eri datang dengan wajah yang belum tersentuh air. Dia duduk dan langsung menuangkan air kedalam gelas. Setelah beberapa tegukan Eri meletakan kembali gelas itu dan menatap Sya yang masih sibuk. Sya bahkan tidak sadar dengan kedatangan Eri.


"Kenapa kau masak begitu pagi? apa akan ada tamu?" tanya Eri.


Sya menoleh, dia mengulas senyumnya yang manis.


"Selamat pagi, Eri."


Eri hanya tersenyum. Dia tahu jika Sya sedang sangat bahagia. Walau tanpa pertemuan, pesan singkat yang dia kirimkan pada Arda mampu membuat perasaan Sya kembali bergejolak.


"Apa kau akan kembali ke rumah itu?" tanya Eri.


Sya mengedikkan bahunya. Dia duduk di depan Eri. Semua masakan sudah selesai dia masak. Dia memikirkann apa yang dikatakan Eri.


"Jika Arda mengajakku. Aku akan kembali dan merebut posisiku di rumah itu lagi."


"Lalu bagaimana dengan rumah dan cafe?"


Sya tersenyum. "Aku tahu kau bisa mengatasinya untukku."


Kali ini Eri tidak bisa menolak permintaan dari Sya. Lagi pula, dia sudah berhenti bekerja diperusahaan Arda. Bukan karena bayaran yang kecil, tapi karena Eri tidak nyaman diperusahaan itu.


Saat mereka akan memulai sarapan. Denting bel rumah berbunyi beberapa kali. Dengan kecepatan tinggi Sya berjalan kearah pintu. Dia membuka pintu dengan semangat.


Sebuah senyum menyambut Sya. Senyuman yang selama ini dia rindukan. Pertemuan yang selama ini dia nantikan. Kembalinya sang kekasih kesisinya.


Tanpa berkata. Sya menghambur kedalam pelukan Arda. Dia memeluk erat suaminya itu. Tanpa terasa air mata mulai menetes. Air mata kebahagiaan yang mengalir dari hati Sya.


"Kenapa kau baru datang untukku?" lirih Sya dalam pelukan.


"Kau sendiri yang baru saja menghubungiku."


Sya mengangguk. Jika saja dia tidak mengganti nomornya sejak awal. Sudah pasti Arda tidak akan jauh darinya. Pelukan itu berakhir saat bau gosong mulai memenuhi ruangan.


Sya menoleh dan melihat Eri sedang mencoba mematikan kompor. Api sudah mulai menyebar kearah penggorengan dan korden di dapur.


Tanpa aba-aba Sya dan Arda langsung masuk ke dapur dan membantu Eri memadamkan api. Untung saja api itu masih bisa ditangani oleh mereka. Setelah api benar-benar padam, mereka bertiga saling pandang dan tertawa bersama.


"Apa yang kau lakukan? apa kau ingin membakar tempat ini?" tanya Sya pada Eri.


"Maaf. Aku terlalu asik menatap kalian berdua."


"Sudahlah. Ayo makan," kata Sya.


Mereka bertiga mulai sarapan dengan obrolan-obrolan yang ringan dan menyenangkan. Tanpa disadari, Eri mampu mengimbangi apa yang dibicarakan oleh Arda. Sya hanya sesekali mengangguk dan tertawa.


***


Matahari sudah mulai dekat dengan peraduannya. Sya dengan hati yang tidak tenang duduk di kursi. Matanya terus menatap keluar kaca kafe.

__ADS_1


Ya, sore ini Arda berjanji akan menjemputnya. Mereka akan kembali ke rumah mereka. Walau disana ada Aila, Sya sudah siap dengan segala konsekuensinya.


Dia siap jika harus melihat kemanjaan yang terjadi antara Arda dan Aila. Saat ini Aila sedang hamil. Dia bisa membuat alasan agar tetap berada disisi Arda.


Sementara Sya. Dia hanya memiliki cinta dan kesetiaan untuk Arda. Jika memang ditakdirkan, Sya juga ingin memiliki harapan di dalam perutnya. Buah cintanya dan Arda.


"Lihat siapa yang datang," ucap Eri.


Sya menoleh. Terlihat Ruka masuk dengan penuh wibawa. Senyumannya mampu membuat Sya tenang. Rasa nyaman itu kembali hadir.


"Apa Arda akan menjemputmu?" tanya Ruka yang melihat tas di samping Sya.


Sya mengangguk. Dia tahu, selama ini Ruka selalu mendukungnya. Walau Sya tidak tahu alasan Ruka melakukan hal ini padanya. Kembali dia teringat dengan Dava kakaknya. Rasa rindu kembali hadir.


"Kak Ruka. Terima kasih untuk semuanya. Kakak yang sudah mendukungku dan membuat Arda kembali padaku."


"Kau ini bicara apa. Cintamu dan Arda yang terlalu kuat. Tidak ada yang akan memisahkan kalian."


Sya tersenyum. Dia melangkahkan kakinya mendekat pada Ruka. Tanpa diduga, Sya memeluk Ruka dengan erat. Tanpa sadar, Ruka meneteskan air mata.


Sebelum semuanya sadar. Ruka menghapus air mata itu. Dia melepaskan pelukan Sya dan menatap mata Sya.


"Kau sudah punya suami. Jangan sembarangan memeluk lelaki."


"Apa kau mau menjadi kakakku?" tanya Sya tanpa menghiraukan perkataan Ruka.


Ruka diam. Dia tidak mampu berkata-kata saat ini. Sampai Arda masuk dan langsung mendekat pada Sya. Dengan penuh kasih, Arda memegang tangan Sya.


Sya mengangguk.


"Kau disini?" tanya Arda pada Ruka.


"Ya. Sudah beberapa kali aku membantu Sya di cafe ini."


Dahi Arda mengernyit. Secara tidak langsung Ruka mengatakan jika dia lebih dulu tahu dimana Sya. Hal itu menyulut amarah dihati Arda. Dia merasa kesal dengan temannya itu.


"Jadi. Kau sudah tahu Sya disini dan tidak mengatakan padaku?"


Ruka menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia bahkan tersenyum pada Arda. Hal itu semakin membuat Arda kesal. Hampir saja Arda melayangkan pukulan pada Ruka, tapi ditahan Sya.


"Aku yang memintanya tidak mengatakan padamu."


"Apa kau yakin?" tanya Arda.


"Ya. Awalnya aku juga tidak berniat menghubungimu."


"Lalu apa alasanmu menghubungiku? apa karena Ruka?"


"Ya, karena dia kakakku."


Jawaban Sya membuat beberapa orang yang berada disana diam. Mereka menatap Sya dengan tatapan penuh tanya. Sementara Ruka tidak hanya bisa melongo.

__ADS_1


"Apa yang kau katakan?" tanya Arda dengan suara rendah.


Sya tersenyum. "Ya. Awalnya aku juga tidak percaya. Saat aku bertemu dengan kak Ruka pertama kali. Aku merasa dekat dan familiar dengannya."


"Apa hanya itu alasanmu?"


"Tidak," kata Sya yang menoleh pada Eri, "perasaan itu membuat aku tidak tenang. Bahkan aku merasa cintaku pada Arda adalah ilusi semata."


"Lalu?" tanya Arda dan Eri bersamaan.


"Aku sengaja mendekati Kak Ruka. Aku mengambil beberapa helai rambutnya. Bahkan, aku juga mendapatkab darahnya saat tidak sengaja melukainya."


Sya menunduk.


"Aku tidak tahu kenapa bisa Kak Ruka membohongiku. Dia mengganti identitasnya dari Dava ke Ruka. Saat ini, hanya ini yang menjadi bukti jika dia memang kakakku," kata Sya sembari memperlihatkan sebuah kertas.


Kertas itu bukan kertas sembarangan. Itu adalah salinan hasil tes DNA yang dilakukan oleh Sya secara diam-diam. Dia sendiri yang melakukan itu.


Eri dan Arda mendekat dan membaca kata demi kata yang tertera disana. Selama ini Eri dan Arda sudah salah sangka terhadap Ruka. Mereka menyangka jika Ruka mencintai Sya karena cinta kekasih.


"Kak...." Sya menoleh kearah belakang.


Disana tidak ada siapapun. Entah sejak kapan Ruka meninggalkan tempat itu. Sementara Arda dan Eri masih mencoba menerima semuanya. Sya berlari keluar untuk mencari Ruka.


Ruka duduk denga kaki yang dia silang di depan cafe. Dia duduk sembari menatap kearah awan yang berjejer rapi mengantar sang matahari kembali.


Sya duduk di samping Ruka. Dia menatap orang yang selama ini melindunginya tanpa memberikan identitas aslinya.


"Apa kau sudah tahu sejak lama?" tanya Ruka.


"Belum. Aku baru tahu kemarin saat hasil tes itu keluar."


"Apa kau bahagia?" tanya Ruka.


"Tidak."


Ruka menoleh pada Sya. Dia menunduk dengan derai air mata.


"Aku tidak bahagia karena Kakak lebih memilih diam dan tidak mengatakan yang sebenarnya padaku. Apa kakak tahu? aku bahkan hampir menerima orang lain menjadi kakakku."


"Apa Jeremy?"


Sya mengangguk.


"Dia bukan teman. Kau jangan percaya padanya. Aku akan katakan alasanku mengganti namaku. Lebih baik saat ini kau kembali pada Arda. Kita akan bertemu lagi besok."


"Baik."


Ruka melangkahkan kakinya pergi. Begitu juga Sya yang melangkah kembali pada Arda. Kini, hidupnya akan terasa lengkap dengan adanya Ruka dan Arda disampingnya.


***

__ADS_1


__ADS_2