The Way Love

The Way Love
XXV


__ADS_3

Langkah Sya kali ini sangat perlahan. Dia sengaja melakukannya agar tidak ada yang tahu akan kehadirannya.


Ya, Sya masuk ke ruang kerja Arda. Dia ingin melihat dimana Arda menyimpan obat itu. Dia ingin tahu reaksi Arda saat tidak meminumnya. Dia juga ingin tahu obat apa itu sebenarnya.


"Kau disini?" tanya Arda.


Sya kaget dan langsung menoleh. Dia melihat Arda sedang duduk di sofa dengan buku di tangannya.


"Apa kau mencariku?" tanya Arda lagi.


Sya mengangguk, "Aku memang mencarimu. Aku ingin mengatakan jika aku, aku, aku ingin ke pergi ke toko buku."


"Apa perlu aku mengantarmu?"


Sya menggeleng dengan cepat.


"Tidak perlu. Aku nisa sendiri," ucap Sya.


"Baiklah. Kau bisa pergi."


"Terima kasih."


Sya keluar dengan degup jantung yang sangat cepat. Dia tidak tahu harus berkata apa, dia sangat kaget. Setahu Sya, Arda sedang keluar tadi. Ternyata Arda malah berada di dalam ruang kerjanya.


Sya kembali memutar otak. Sejak dia tahu Arda meminum obat, Sya merasa khawatir. Dia tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya pada Arda. Sedangkan dia tidak tahu harus bertanya pada siapa.


"Kau sedang apa disini?" tanya Eri.


"Aku baru saja menemui Arda. Apa kau mau menemuinya?" tanya Sya.


Eri mengangguk. Lalu masuk ke ruangan Arda. Sementara Sya menuju ke dalam kamarnya. Dia berganti pakaian dan bergegas ke rumah sakit.


***


Mila menatap sendu pada Sima yang masih terbaring lemah. Dia baru saja melakukan operasi. Ibu mana yang tidak hancur melihat anaknya hanya bisa berbaring.


"Tidak usah kamu menangis. Memang sudah takdirnya dia seperti ini, akan lebih baik jika dia mati saja."


Mila langsung menoleh pada Jovi. Sejak awal, Jovi memang tidak setuju untuk mengadopsi Sima. Dia ingin memiliki anak sendiri, namun Mila tidak bisa memberikannya.


"Dia juga anakmu, Jov. Apa kau tidak kasihan padanya?"


Jovi tersenyum kecil.


"Akan lebih baik jika kau melahirkannya."


Tidak ada yang bisa Mila lakukan selain diam dan memendam luka. Penyakit radang pembuluh darah yang di derita oleh Sima yang membuat Mila bertahan dalam posisi itu.


Posisi selalu disalahkan dan selalu disakiti. Entah oleh Jovi atau nyonya Ken. Mereka tidak ada yang suka pada Sima.


"Aku pergi dulu."


Jovi keluar dari kamar rawat Sima. Sampai dia berpapasan dengan Sya di lorong. Sya terlihat cantik seperti biasanya. Hal itu membuat pikiran Jovi kembali melayang jauh.


"Apa kau ingin menemui istriku?"


Pertanyaan Jovi membuatnya langsung berhenti. Tidak biasanya Jovi memanggil Mila istri. Dia selalu memanggil namanya.


"Bagaimana keadaan Sima?"


"Kau tidak menanyakan kabarku?"

__ADS_1


Merasa pembicaraanya tidak masuk akal. Sya memilih kembali berjalan, namun Jovi menyetarakan langkahnya.


"Ayolah Sya. Beri aku kesempatan, apa kau lupa dengan kata cinta dari dirimu untukku."


Sya memilih untuk diam dan terus berjalan.


"Kau sendiri yang memelukku di pinggir jalan dan memintaku membawamu. Apa kau lupa?"


Sya langsung berhenti dan menatap Jovi. Sejak tadi, Jovi tidak mengalihkan perhatiannya dari Sya. Padahal, jika dilihat Sya dan Mila sama-sama cantik dan menarik.


Sifat Jovi lah yang selama ini selalu haus akan kecantikan dan kemewahan. Apa lagi dengan wanita baru, dia pasti akan memilihnya.


"Apa kau tidak punya harga diri?" tanya Sya, "kau sudah beristri. Bahkan memiliki anak, apa kau tidak malu melakukannya?"


"Untuk apa aku malu. Aku mencintai kecantikan. Hal itu ada pada dirimu."


"Benarkah?" Sya menyilangkan tangannya didadanya.


Jovi mengangguk.


"Apa kau tidak sadar. Mila lebih cantik dariku, apa lagi dia punya apa yang kau mau. Harta."


Kali ini Jovi terkekeh. Dia tidak tahu jika Sya kali ini bisa melawannya. Bahkan tahu jika dia bertahan dengan Mila karena harta yang belum dia dapat.


"Jika kau menceraikannya. Kau akan kehilangan semuanya, kecantikan dan juga harta akan hilang darimu."


Belum sempat Jovi menjawab. Mila keluar dari dalam ruang rawat. Dia tersenyum begitu melihat Sya berada disana.


"Bukannya kau mau pergi?" tanya Mila pada Jovi.


Jovi mengangguk.


"Ya. Aku kesini untuk menanyakan makanan apa yang mau kau pesan." Jovi mencoba menutupi apa yang baru saja terjadi.


"Bagaimana keadaan Sima?" tanya Sya.


"Lihatlah. Dia baru saja operasi, hanya saja belum siuman."


"Tidak apa. Nanti juga siuman. Oh ya, aku kesini ingin bicara denganmu. Ada hal yang mau aku tanyakan."


"Apa? kau bisa menanyakan disini."


Sya menggeleng.


"Tidak. Aku ingin bicara di luar, aku sudah meminta perawat menjaga anak kamu. Bagaimana?"


"Ok."


Sya berhasil mengajak Mila keluar dari rumah sakit. Dia bisa saja menanyakan disana, hanya saja dia tidak ingin. Dia takut mengganggu istirahat Sima. Dia juga takut jika ada yang tahu tentang apa yang dia tanyakan.


***


"Tolong bawa ke meja nomor 10," kata Sya pada seorang pelayan.


Dia memesan dua minuman untuknya dan untuk Mila. Dia ingin suasanannya nanti tidak membuat Mila kesal. Bagaimanapun, Mila sangat menyayangi adiknya itu. Tidak mungkin dia akan menjelekkannya.


"Aku sudah pesankan minuman untukmu," kata Sya sembari duduk di hadapan Mila.


"Terima kasih. Kamu mau tanya tentang apa?"


Sya menghela nafas panjang. Ada rasa ragu di dalam hatinya saat akan bertanya.

__ADS_1


"Tanyakan saja jika itu mengganggumu."


"Apa Arda sakit, Kak?"


Mila terlihat bingung.


"Kenapa kau menanyakan ini padaku. Bukankah kau selalu bersamanya."


Akhirnya Sya mengatakan apa yang dia lihat waktu itu. Mila juga baru tahu akan hal itu ternyata. Kini, Sya tidak memiliki harapan lagi. Dia tidak tahu harus bertanya pada siapa. Tidak mungkin kepada Arda ataupun nyonya Ken.


"Maaf, aku tidak tahu Sya. Jika kau tidak mengatakannya kali ini. Aku juga tidak tahu."


Sya meminum sedikit jus jeruknya.


"Apa mau aku tanyakan pada Mama?"


Sya langsung menggeleng dengan keras.


"Tidak, Kak. Aku akan mencari tahu sendiri. Jangan katakan pada siapapun."


Mila mengangguk.


Setelah percakapan itu. Mila kembali ke rumah sakit. Sementara Sya langsung menuju ke toko buku. Dia sudah mengatakan pada Arda jika dia akan kesana. Tidak mungkin dia akan berbohong.


Mata Sya membulat begitu melihat Arda berada di depan toko buku. Dia terlihat sedang menunggu seseorang.


Sya mengambil ponselnya dari dalam tas. Pesan dan panggilan dari Arda begitu banyak. Dia sengaja mematikan ponselnya tadi. Sya mengatur nafasnya dan mendekat kearah Arda.


"Arda. Kenapa kau ada disini? bukankah hari ini kau ada meeting."


Arda tersenyum dan mendekat pada Sya. Dia menggenggam tangan Sya dan membawanya masuk ke dalam mobil.


"Kau mau membawaku kemana?" tanya Sya kemudian.


"Aku sejak tadi menunggumu untuk makan siang bersama."


"Apa? kenapa kau melakukan ini. Kau bisa makan siang tanpa aku."


"Tidak. Aku ingin makan siang denganmu kali ini."


Kali ini Sya merasa lega. Arda tidak curiga padanya. Setidaknya dia bisa menghirup udara dengan bebas.


"Kau dari mana saja. Aku sudah menunggu cukup lama."


Deg, jantung Sya berpacu kali ini. Sya diam dan tidak bisa menjawab pertanyaan Arda. Dia tidak ingin berbohong.


"Apa kau menjenguk Sima lagi?"


Sya menutup matanya dan mengangguk. Arda perlahan menggenggam tangan Sya dengan erat. Sya tidak tahu maksud Arda.


"Tidak apa. Asal Mama tidak tahu, kau akan baik-baik saja."


Benar. Beberapa hari lalu Sya di marahi oleh nyonya Ken. Dia dilarang ke rumah sakit untuk menjenguk Sima. Dia mengatakan jika Sima tidak perlu perhatian lebih.


"Bagaimana keadaan Sima saat kau kesana?" tanya Arda.


"Dia baru saja operasi. Hanya saja, sampai saat ini belum siuman."


"Apa Mila menangis?"


"Dia selalu begitu."

__ADS_1


Perjalanan yang awalnya mengerikan bagi Sya. Kini terasa menyenangkan. Arda menanyakan hal yang disukai dan tidak di sukai oleh Sya. Bahkan, Arda mengajak Sya makan di tempat makan yang disukai Sya.


***


__ADS_2