
Satu malam Sya tidur di rumah ibu Zein. Dia tidak bisa tidur dengan lelap. Alasannya karena omongan yang dikatan ibu Zein. Dia masih bingung dengan datangnya seseorang yang mengaku kakaknya.
Beberapa kali Sya menekan nomor Arda, namun dia mengurungkan niatnya. Dia tidak ingin mengganggu suaminya itu. Apa lagi ini sudah malam, mungkin Arda sudah tidur dengan lelap.
Merasa tidak bisa tidur dengan nyaman. Sya memilih untuk pergi mengambil air minum. Sampai saat dia mendengar ibu Zein sedang menelfon seseorang.
"Ibu tahu Dava. Hanya saja, saat ini Ibu sedang tidak memilikinya," kata ibu Zein.
Sya memilih untuk diam dan mendengarkan pembicaraan ibu Zein. Dia mendekatkan tubuhnya ke tembok kamar ibu Zein. Dava adalah nama kakak Sya yang sudah lama menghilang dan kini kembali lagi.
"Baiklah. Ibu akan meminta pada Nyonya Ken. Dia pasti akan memberikannya."
Setelah itu Sya tidak mendengar ibunya menlefon. Dia hanya mendengar suara langkah kaki mendekat. Hal itu membuat Sya berpura-pura tidak tahu apa-apa.
"Kamu disini?" tanya ibu Zein yang melihat Sya berada di depan kamarnya.
"Ya Bu. Aku tidak bisa tidur. Apa malam ini aku bisa tidur di samping Ibu?"
Ibu Zein tersenyum. Dia mempersilahkan anaknya masuk ke dalam kamar. Dengan penuh perhatian ibu Zein menyelimuti anaknya.
"Tidurlah. Ibu akan menunggu disini," kata ibu Zein.
Sya mengangguk. Perlahan rasa kantuk mulai mendatangi Sya. Dia hanya mendengar suara ibunya yang beberapa kali terdengar marah.
***
Bau masakan yang khas membuat Sya terbangun dari tidur lelapnya. Dia membuka mata dan masih di tempat yang sama. Kamar ibu Zein.
Setelah merasa kantuknya benar-benar hilang. Sya bangun dan membersihkan badanya di dalam kamar mandi. Guyuran air dingin di tubuhnya membuat Sya merasa lebih segar.
"Sya. Sarapan sudah siap. Ayo makan," teriak ibu Zein dari luar kamar Sya.
"Ya, Bu."
Setelah berganti pakaian Sya keluar. Dia langsung menuju ke dapur dimana ibu Zein berada. Terdengar jika ibu Zein tidak sendirian. Walau begitu Sya merasa tidak asing dengan suara lawan bicara ibu Zein.
"Arda?"
Terlihat Arda sedang duduk dan menikmati sarapan yang ibu Zein buat. Dia terlihat lahap saat memakannya.
"Ayo Sya, kita makan bersama."
Ibu Zein menyiapkan piring dan juga peralatan makanan lainnya. Dia sendiri yang mengambilkan menu makanan di meja untuk anaknya itu.
"Kenapa kau bisa disini?" tanya Sya pada Arda.
"Sya. Makan dulu, baru kau bicarakan lagi dengan Arda," kata ibu Zein.
"Baik, Bu."
Sya mulai memakan makanan itu. Tanpa ada kata, hanya ada suara dentingan piring yang beradu dengan sendok.
__ADS_1
Setelah selesai sarapan. Ibu Zein langsung pergi dari dapur. Dia memberikan ruang untuk Arda dan Sya berbicara.
"Kenapa kau datang ke rumah ibuku?" tanya Sya.
"Aku ingin menjemputmu. Kau tahu, semalam aku tidak bisa tidur karena memikirkan dirimu."
"Benarkah kau merindukan aku? tidak ada alasan lain saat kau kesini?"
Arda mengangguk. "Tentu saja tidak."
Sya tersenyum dengan pipi yang merona. Sudah beberapa kali Arda berhasil membuat Sya tersipu dan merasa bahagia. Apa yang dilakukan Arda membuat Sya semakin bertambah akan rasa cinta.
"Apa sekarang kita bisa pulang?" tanya Arda.
"Tentu. Aku akan pamit pada ibu lebih dulu."
"Baiklah. Aku akan tunggu di ruang tamu."
Senyuman Sya menghilang saat Sya keluar dari dapur. Dia langsung menuju ke kamar ibunya. Lagi, Sya berhenti dan memilih diam. Dia kembali mendengar percakapan ibu Zein dengan orang bernama Dava.
"Dava. Cobalah kamu mengerti nak. Ibu belum menemui nyonya Ken. Ibu janji, setelah adikmu pergi dengan suaminya. Aku akan menemui nyonya Ken di kantornya."
Tok tok tok.
Sya mengetuk pintu kamar ibu Zein. Dia perlahan membuka pintu kamar itu. Ibunya sedang duduk dengan ponsel di tangannya. Terlihat sekali jika ibu Zein sedang menyembunyikan sesuatu.
"Bu. Aku dan Arda akan pergi sekarang," kata Sya.
"Apa kalian tidak menginap semalam disini?" tanya ibu Zein.
Ibu Zein mengantar Arda dan Sya sampai di depan rumah. Sebelum pergi Sya memeluk ibu Zein dengan erat. Dia berharap ibu Zein mau mengatakan apa yang sedang dia rasakan.
"Bu, aku pergi dulu," kata Arda.
"Hati-hati di jalan."
Sya dan Arda mengangguk secara bersamaan. Lalu mereka masuk ke dalam mobil.
"Bu. Suruh kakak menemuiku ya," kata Sya saat membuka pintu mobil.
Ibu Zein mengangguk dengan senyuman. Arda merasa aneh saat mendengar kata kakak dari Sya. Selama dia menikah dengan Sya, Arda belum pernah melihat keluarga Sya selain ibu Zein.
Di dalam mobil Sya masih memikirkan nama Dava itu. Apa benar dia kakaknya, lalu dia meminta apa pada ibu Zein. Sampai-sampai ibu Zein harus menemui nyonya Ken.
"Sya. Apa kau memiliki kakak?" tanya Arda yang memang penasaran.
Sya mengangguk. "Ya. Dulu aku punya kakak, sampai dia pergi dua belas tahun lalu."
"Kenapa kau tidak mengatakan padaku?"
"Bukannya aku tidak ingin mengatakan padamu. Hanya saja, aku juga merasa aneh. Dua belas tahun lalu dia pergi, lalu tiba-tiba dia kembali."
__ADS_1
Arda merasa prihatin dengan apa yang terjadi pada Sya. Hanya saja, dia juga harus menjadi suami yang baik. Dia juga harus menjadi anak yang baik.
"Apa boleh tahu siapa nama kakakmu itu."
"Dava Zein."
Arda ingat dengan nama itu. Lalu dia menunjukan sebuah foto diponselnya pada Sya. Foto orang yang keluar dari ruangan nyonya Ken saat kebakaran.
"Kenapa kau menunjukannya lagi padaku. Sudah aku bilang aku tidak tahu siapa dia," kata Sya.
Arda menghentikan laju mobilnya dan memarkirkannya di pinggir jalan. Dia melihat kekesalan di wajah Sya.
"Maaf. Aku hanya ingin mengatakan jika orang ini juga bernama Dava, hanya saja bukan Zein nama belakangnya."
"Lalu?"
"Apa kau sudah bertemu dengan kakakmu itu?"
"Belum."
"Kalau begitu. Kau harus bertemu dengannya," kata Arda.
"Apa maksudmu?"
"Jika dia memang kakakmu. Dia bukan rindu pada ibumu saja, tapi juga rindu padamu."
"Kau benar. Baiklah, aku akan meminta bertemu dengannya."
Arda mengangguk. Dia kembali melajukan mobilnya dengan pelan. Dia berhasil memancing orang bernama Dava itu. Walau dia harus mengorbankan keamanan Sya.
Meskipun begitu, Arda tidak akan pernah melapaskan Sya. Dia akan terus mengawasinya dan memberikan keamanan yang cukup.
***
"Dava. Ibu sudah bertemu dengan nyonya Ken," kata ibu Zein.
"Bagaimana dengan uangnya. Aku butuh sekarang, Bu. Jika tidak aku akan dipenjara."
Ibu Zein memegang tangan Dava dengan erat. Dia terus menerus menggeleng dan sesekali menyeka air matanya.
"Apa Ibu mendapatkan uang itu?" tanya Dava.
"Tentu saja. Ibu tidak ingin kembali berpisah denganmu. Ibu ingin selalu bersamamu."
Dava tersenyum. "Aku tidak akan meninggalkan ibu lagi."
"Oh ya. Adikmu juga ingin bertemu. Selama ini dia sangat merindukan kamu."
"Aku akan menemuinya Bu. Dia adikku yang baik dan cantik," ucap Dava.
Setelah berhasil mendapatkan uang dari tangan ibu Zein. Dava langsung memasukannya ke dalam tas. Dia langsung menaiki motornya dan melaju dengan cepat.
__ADS_1
Ibu Zein merasa sangat beruntung dengan kembalinya Dava. Dia merasa hidupnya saat ini harus lebih panjang. Dia ingin hidup bersama dengan Sya dan Dava dengan penuh kebahagiaan.
***