
Aroma kopi merebak keseluruh ruangan. Tidak biasanya aura yang menyedihkan itu mengelilingi sebuah apartemen. Tidak ada kehangatan lagi yang terasa di apartemen itu.
Secangkir kopi masih mengepulkan asap. Sya hanya diam sembari menatap kopi itu dengan perasaan. Dia merasa begitu terpuruk dengan semua kejadian dalam hidupnya.
Tidak pernah mendapat cinta yang tulus dan terus dihianati. Hati yang awalnya memancarkan begitu banyak kehangatan. Kini berubah menjadi sedingin es.
Ya, Sya sudah menyerah akan keadaanya. Dia tidak ingin terus berjuang mendapat cinta yang sejak awal bukanlah miliknya.
"Sya." Panggil Lufas dengan perlahan.
Sya menoleh. Tanpa senyuman yang biasa dia berikan.
"Apa kau masih marah padaku?"
Pertanyaan itu membuat Sya kembali meratap tentang hidupnya.
"Sudah aku bilang Sya. Aku mencintaimu, aku dan Anna sudah bersiap cerai."
"Apa menurutmu ini begitu mudah?"
"Sya. Apa sulitnya memberikan maaf dan sebuah kesempatan."
Sya tersenyum sinis. "Ternyata aku begitu mudah memaafkan. Sampai kau mengira aku akan memberikan maaf dan sebuah kesempatan lagi."
"Kau katakan apa barusan? Sya, aku benar-benar mencintaimu. Aku tahu sejak awal aku hanya menyakitimu. Biarkan aku menebus segalanya, Sya."
"Aku tidak tahu bagaimana kau mengartikan sebuah cinta. Hanya saja, aku ingin sendiri untuk saat ini."
"Sya."
Tanpa kata Sya meninggalkan Lufas dengan kopi yang masih mengepulkan asap.
Lufas terduduk dengan tangan berada di kepalanya. Kali ini dia merasa hancur sehancur-hancurnya. Saat dia menemukan tambatan hatinya. Saat itu juga cintanya menghilang.
Ponsel Lufas berdering begitu Lufas akan masuk ke kamar Sya. Hal itu membuatnya mengurungkan niat. Dia mengangkat telfon itu dan mulai terlihat tidak biasa.
Sampai pada saat Lufas menutup telfonya dan bergegas pergi dari apartemen Sya. Sya yang melihat semua itu hanya tersenyum tipis. Dia merasa benar- benar menjadi yang ke dua.
Walaupun begitu, Sya tidak bisa melakukan apapun saat ini. Jika dia sampai mengusik hati Lufas, entah apa yang akan terjadi pada kakaknya nanti.
***
Langkah Lufas begitu cepat. Dia masuk ke ruang dokter yang menangani Anna pada saat itu. Dokter yang memang sudah menunggunya berdiri dan langsung meminta Lufas duduk.
"Ada apa sampai langsung menelfonku?"
"Kondisi Nona Anna saat ini drop. Dia membutuhkan pendamping saat ini."
"Bukankah aku sudah membayar perawat untuknya."
"Maaf. Perawat itu baru saja mengundurkan dirinya."
__ADS_1
"Apa?" Lufas menatap tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
Tok tok tok. Setelah sebuah ketukan pintu. Sya masuk ke dalam ruangan itu. Lufas yang melihat itu tidak percaya. Dia langsung berdiri dan mendekat pada Sya.
"Kenapa kau daang kesini?" bisik Lufas.
"Aku ingin melihat keadaan mantan sahabatku."
"Sya. Jangan melakukan hal aneh saat ini. Aku tidak ingin kau terluka."
Sya menatap pada Lufas. "Bukankah kau datang kesini karena kau tidak ingin Anna terkena apa-apa."
Lufas hanya berdecak dan tidak bisa berkata apapun.
"Bagaimana keadaan Anna, Dok?" Tanya Sya.
"Kondisinya saat ini begitu buruk. Apa kau bisa menjaganya saat ini. Tuan Lufas mengatakan tidak bisa."
Sya menoleh pada Lufas.
"Bagaimana?" Tanya Dokter pada Sya lagi.
"Maaf, Dok. Saya tidak bisa, tapi saya sudah membawa seseorang untuk merawatnya."
"Siapa dia?" Tanya Lufas.
"Dokter. Saya dan Lufas sepertinya perlu bicara berdua. Saat ini Lufas begitu mencemaskan Anna, jadi saya perlu mengenalkan orang yang akan merawat Anna nantinya."
Sya tersenyum dan keluar dari ruangan dokter itu. Lufas mengikutinya. Sampai di sebuah lorong sepi Lufas menarik tangan Sya dengan cukup kuat.
Sya berhanti dan memposisikan dirinya dihadapan Lufas. Mereka saling menatap saat ini.
"Apa yang sebenarnya kau mau?" Tanya Lufas. "Aku sudah mencoba menjauhkanmu dari Anna, tapi kau terlihat ingin dekat denganya."
"Kau tidak akan pernah bisa menjauhkan aku dari Anna, selama kau masih di sampingnya."
"Apa kau cemburu?" Tanya Lufas.
Sya tersenyum. "Aku tidak tahu apa ini rasa cemburu atau sebuah balas dendam."
"Apa kau yang menghentikan perawat itu?"
"Apa perlu aku jelaskan lagi?" Tanya Sya.
Lufas memegang kepalanya sendiri. Dia tidak tahu saar ini Sya sedang memikirkan apa. Jiwa mafianya kembali muncul, tanpa kata Lufas langsung menarik Sya dari sana dengan keras.
Sya mencoba mengimbangi langkah kaki Lufas tapi akhirnya dia terjatuh juga. Ya, saat itu Lufas langsung melepaskan tangannya dari Sya. Dia menatap Sya dengan tatapan yang tajam, tidak dengan tatapan penuh kasihnya.
"Menjauhlah dari Anna. Aku tidak ingin sampai Anna melukaimu."
"Apa yang kau lakukan saat ini tidak melukaiku?" Tanya Sya sembari berdiri.
__ADS_1
Plak. Sebuah tamparan berhasil mendarat di wajah Sya saat ini. Sya menelan ludah dan menatap Lufas dengan rasa yang tidak bisa dia ungkapkan.
"Selama ini aku lembut padamu karena kau penurut padaku. Kini kau mau memberontak?" Tanya Lufas.
"Aku tidak memberontak. Aku hanya ingin kau datang padaku dengan surat ceraimu dengann Anna bukan hanya sebuah omongan tentang cerai."
"Apa kau tidak percaya padaku?" Tanya Lufas sembari mendekat pada Sya.
Sya tidak menjawab. Hal itu membuat Lufas merasa dicampakan. Tanpa pikir panjang Lufas langsung meninju Sya tepat di perutnya.
Sya hanya bisa mengaduh dan tersungkur. Dia pikir Lufas sudah berubah karena cintanya. Sampai Anna muncul dan membuat hubungan cintanya dengan Lufas tidak menentu.
"Tuan Lufas," panggil seorang suster.
Lufas menoleh dan mendekat padanya.
"Nona Anna,...."
Tanpa kata Lufas dan suster itu pergi dari sana. Meninggalkan Sya yang masih merasakan sakit di bagian perutnya.
***
Mata Sya mengerjap perlahan. Dia membuka mata dan melihat ruangan yang tidak biasa. Ruangan itu bukanlah ruangan di apartemenya, juga bukan ruangan di vila Averest.
Ruangan itu begitu luas dan memiliki desain yang begitu rumit namun elegan. Sesaat Sya mengingat Xiu, hanya dia yang menyukai ruangan seperti ini.
"Kau sudah bangun?" Tanya Xiu yang masuk.
Sya menoleh dan tidak mengatakan apapun. Xiu mendekat dan duduk di sampingnya.
"Kenapa kau nekat melakukannya? Itu berbahaya Sya," kata Xiu.
Sya masih saja diam.
"Aku tahu semua yang terjadi padamu. Aku tidak menyangka jika Lufas melakukan hal itu. Kau juga begitu nekat dan keras kepala. Apa kau mengira bisa mengalahkan Anna dengan mudah?"
"Sebenarnya apa yang kamu katakan?" kali ini Sya mencoba membuka suara.
"Pulihkan dirimu dulu. Jangan lupa, kau sedang hamil. Saat ini, juahi Lufas dan Anna. Jika tidak aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada kandunganmu."
Tanpa sadar Sya memegang perutnya yang saat ini masih rata. Sya mencoba mengingta. Beberapa hari ini memang dia merasa aneh dengan badanya, apa karena kehamilan.
"Istirahatlah dulu," kata Xiu.
Sya menatap Xiu dengan penuh terima kasih.
"Sementara aku mengambil ponselmu. Kau bisa menggunakan ponsel ini saat ini. Aku akan mengunjungimu empat jam lagi."
Sya mengangguk. Dia membiarkan Xiu keluar kamar. Saat ini, Sya merasa bahagia dengan kabar kehamilannya, tapi mendengar apa yang dikatakan Xiu. Hal itu membuatnya takut untuk mengatakan pada Lufas.
***
__ADS_1
MAAF BARU BISA UPDATE. PONSEL BARU SAJA SELESAI DIPERBAIKI.