The Way Love

The Way Love
CIX


__ADS_3

Tawa Anna meledak begitu mendapat laporan dari orang yang dia suruh memata-matai Sya. Anna merasa puas dengan kabar yang diberikan. Hal itu mampu membuat peluang agar Lufas kembali dekat denganya.


"Ini. Bonus untukmu, kabar ini membuat aku merasa sangat baik."


"Terima kasih."


"Kau bisa pergi dan lanjutkan pekerjaanmu."


Mata-mata itu pergi. Anna terlihat tersenyum lebar. Saat ini, dia harus datang menemui Lufas. Dia butuh seorang teman saat ini. Jika Anna mampu menghiburnya, sudah jelas jika Lufas akan kembali padanya.


Disisi lain. Ruang kerja itu terlihat gelap. Hanya lampu kecil di sudut ruangan yang terlihat menyala. Namun seperti tidak berpengaruh. Lufas sedang sendiri dalam kegelapan itu.


Tangan Lufas tidak bisa berhenti bermain dengan sebuah pulpen. Dia terus memikirkan apa yang akan terjadi jik bayi itu lahir. Apa yang akan dilakukan oleh mafia lain jika tahu. Sya dan anaknya pasti akan diincar. Lufas tidak mau hal itu terjadi.


Kacau. Lufas merasa sangat kacau, Sya begitu keras mempertahankan anak itu. Sementara Lufas tidak ingin memikirkan konsekuensinya jika dia lahir dalam keadaan ini.


"Apa kau sudah mengatakan pada Sya?" Tanya Ben sembari menuangkan kopi ke gelas.


"Dia ingin anak itu dilahirkan."


"Baguslah."


"Apa maksudmu? Kau tahu aku tidak ingin hal itu terjadi."


"Kau seorang bos. Kau kaya, kau memiliki banyak hal. Kali ini jangan pikirkan hal itu, jika kau mencintai Sya. Dukung keputusan itu."


"Aku memang mencintainya. Hanya saja aku masih merasa takut."


"Buang ketakutanmu. Demi kebahagiaan Sya."


Lufas diam. Dia memikirkan hal itu, jika Sya pergi darinya lagi. Apa yang akan terjadi padanya selanjutnya. Apa dia harus mencari lagi seperti orang yang kehilangan akal.


"Sekali lagi bicarakan dengan Sya."


"Aku akan mencobanya."


Ben keluar dari ruang kerja. Saat itu dia melihat Anna yang mendekat. Dia tahu, Anna pasti akan menemui Lufas dan menghancurkan pemikirannya lagi. Tanpa pikir panjang Ben langsung mendekat pada Anna.


"Ada apa datang kesini?"


Anna menampakan wajah sombongnya. "Aku ingin menemui Lufas. Aku merindukannya."


"Saat ini dia sedang sibuk."


"Aku tidak peduli."


Anna berjalan melewati Ben. Ben langsung menahannya. Tapi Anna tetap memaksa. Anna lolos dan masuk ke ruangan Lufas.


"Gelap." Setelah mengatakan itu Anna langsung menyalakan lampu diruangan.


"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Lufas begitu melihat Anna di depan pintu.


"Aku datang untukmu. Aku dengar kau sedang tidak baik-baik saja."


"Pergilah."


Tanpa rasa malu Anna mendekat dan duduk di pangkuan Lufas. Geram dengan kelakuan Anna, Lufas langsung mendorongnya. Meski begitu, Anna masih enggan pergi.


"Lufas. Aku mencintaimu, aku bahkan rela jika kau memintaku untuk tidak memiliki anak."


"Kita memang tidak akan memiliki anak. Hubungan kita sudah selesai. Setidaknya kau harus punya rasa malu padaku saat ini."


Anna kembali mendekat pada Lufas.


"Bahkan disaat seperti ini kau masih saja tidak menerima aku. Apa istimewanya Sya bagimu. Apa aku kurang cantik? Apa aku kurang pantas?"

__ADS_1


"Cukup Anna. Pergilah, aku akan datang menemuimu saat kau sudah tanda tangan surat cerai kita."


"Lufas."


"Jangan panggil namaku lagi. Pergilah."


Dengan berat hati akhirnya Anna mau keluar dari ruangan Lufas. Kembali Anna merasa kalah, bahkan harga dirinya sudah terinjak-injak saat ini.


Segala cara sudah dilakukan. Tetap saja Lufas tidak menoleh padanya lagi. Hanya tinggal satu cara, setidaknya cara itu akan membantu Sya dan Lufas pisah. Meskipun akhirnya, Anna juga tidak bisa memilikinya lagi.


***


Sore yang indah ditemani rintik hujan. Banyak orang yang memilih untuk mengurung diri di rumah sembari menyesap kopi panas. Hal itu tidak mempengaruhi niat Sya.


Dia sudah bersiap dengan baju hangat beserta payung yang akan menemaninya. Melihat jam tangannya, Sya masuk ke dalam lift. Dia berjanji pada Xiu jika akan datang sore ini.


Sampai di lantai dasar, Sya masih belum melihat taxi yang di pesan. Sya memutuskan untuk menunggu disana dari pada kembali ke apartemen miliknya.


"Kau mau kemana?"


Sya menoleh dan melihat nenek sedang mendekatinya. Dia terlihat baru saja membuang sampah ketempatnya.


"Aku mau kerumah kakakku," jawab Sya.


"Hari masih hujan. Mampirlah dulu ke rumah," kata nenek.


Baru saja Sya ingin mengiyakan. Taxi yang sudah dia pesan datang. Dengan senyuman Sya menolak ajakan nenek itu.


"Maaf, nek. Taxi yang aku sudah pesan datang. Lain kali, aku akan mengunjungimu."


"Baiklah. Hati-hati dijalan."


Sya mengangguk. Kemudian dia masuk ke dalam mobil. Dia mengatakan tujuannya pada si sopir taxi. Setelah jelas alamat yang dituju mobil itu perlahan mulai berjalan.


Mata Sya melihat pada spion mobil. Nenek masih menatap mobil yang dia tumpangi. Sya merasa begitu diperhatikan, walaupun nenek itu bukanlah siapa-siapa. Bahkan Sya tidak tahu nama nenek itu siapa.


Sampai dirumah Xiu. Sya turun dan langsung membuka payung yang dia bawa. Seorang satpam langsung membukakan pintu. Sya menatap kearah rumah yang beberapa hari lalu dia tinggali.


Setelah memantapkan hatinya. Sya masuk selangkah demi selangkah. Sampai di pintu utama seorang pelayan sudah menyambutnya. Membantu Sya melepas jaket tebalnya. Lalu memberikannya sebuah selimut tebal.


"Dimana Kak Xiu?" Tanya Sya.


"Nona sudah menunggu diruang kerjanya."


"Aku akan kesana."


Pelayan itu mengangguk. Sya melangkah sampai disebuah tangga. Sya masih belum tahu dimana ruang kerja Xiu. Untung saja seorang pelayan lewat. Sya langsung menghentikannya.


"Bisa antarkan aku ke ruang kerja Kak Xiu."


"Akan saya antar. Mari ikut."


Sya mengikuti langkah pelayan itu. Sampai di sebuah pintu dengan bentuk yang aneh. Pelayan itu mengetuk pintu dengan pelan.


"Siapa?" Teriak Xiu dari dalam.


Pelayan menoleh pada Sya dan berbisik. "Boleh tahu nama anda?"


"Syaheila, panggil saja Sya."


"Nona Sya sudah datang," kata pelayan itu.


Tuk tuk tuk. Suara langkah kaki mendekat kearah pintu. Tidak lama pintu itu terbuka, senyum lebar langsung menyambut Sya.


"Aku sudah menunggumu."

__ADS_1


Sya tersenyum.


"Buatkan coklat panas untuk nona Sya. Cepat," kata Xiu pada pelayan yang baru saja mengantar Sya.


"Baik."


Xiu langsung menarik Sya masuk ke dalam. Perapian diruangan itu terlihat begitu hangat. Sya memilih duduk mendekat, tentunya agar dia merasa hangat.


"Ada yang ingin kau bicarakan?" Tanya Xiu.


"Tidak. Aku hanya ingin mengunjungimu saja."


"Apa tidak ada masalah?"


Sya menoleh dengan senyuman. "Tidak ada yang terjadi. Aku dan Lufas semakin dekat, dia bahkan menerima anak ini."


"Benarkah?"


"Ya. Ternyata kau sudah bohong padaku."


"Maafkan aku," kata Xiu dengan wajah memelas.


Sya memegang tangan Xiu dengan hangat. Dia merasa begitu tenang saat bersama Xiu.


"Tidak masalah, Kak. Kau hanya terlalu mencemaskanku."


"Apa kau sudah periksa ke dokter?" Tanya Xiu.


Sya menggeleng.


"Kenapa?"


"Lufas begitu sibuk. Aku takut mengganggunya."


"Benar juga."


Mereka membicarakan banyak hal. Tentang baju, bisnis, fashion terkini, dan masih banyak lagi. Sampai saat Sya melihat jam tangannya, dia terlihat kaget.


"Ada apa?"


"Sebentar lagi Lufas pulang. Aku harus masak makan malam untuknya. Bisakah aku kembali sekarang?"


"Tentu. Sopirku akan mengantarmu."


"Aku akan naik taxi saja."


"Jangan. Sekarang banyak kejahatan, aku tidak mau kau dan bayimu kenapa-napa."


"Terima kasih."


"Tentu."


Xiu mengantar Sya sampai masuk ke dalam mobil. Setelah itu, dia masuk. Dia meminta Lufas untuk keluar dari ruangannya saat ini. Sebenarnya, pembicaraan Xiu dan Sya sudah dilihat oleh Lufas.


Tanpa Lufas sadari jika Sya begitu mencintiainya. Tanpa memikirkan apapun Sya terus memujinya dihadapan Xiu.


"Bagaimana? Apa kau masih tega melukainya?"


Lufas menelan ludah.


"Dia begitu mencintaimu. Kenapa kau tega membuatnya berbohong."


"Aku ingin pulang."


"Apa kau akan menyakitinya lagi?" Tanya Xiu dengan suara keras.

__ADS_1


"Bukan urusanmu."


Lufas meminta Ben untuk segera datang dan mengantarnya pulang. Saat ini, Lufas akan kembali kerumah yang lain. Bukan vila averest ataupun apartemen Sya. Dia ingin memikirkan semuanya sendiri. Tanpa campur tangan orang lain.


__ADS_2