The Way Love

The Way Love
XL


__ADS_3

Rasa rindu kembali menyelimuti hati. Tidak ada yang bisa mengobati selain pertemuan yang lama dinanti. Walau pertemuan itu hanya satu detik dalam mimpi.


Tetesan air mata kembali hadir diiringi kenangan dimasa lalu. Masa yang indah dan penuh warna. Dimana uang tidak menjadi ukuran sebuah kebahagiaan.


Pelukan hangat tangan Arda membuat Sya menghapus air matanya dengan cepat. Dia tidak ingin Arda tahu apa yang sedang dia rasakan.


"Menangislah jika itu mampu mengurangi bebanmu," bisik Arda.


"Bahkan tangispun tidak akan menghidupkan orang yang sudah tiada."


"Setidaknya hatimu akan lebih tenang Sya."


Diam. Mata Sya berkeliling kearah luar jendela. Dia menatap megahnya kota dan indahnya taman di bawah kamarnya. Gedung-gedung menjulang dengan lampu yang terang.


Sya sangat ingin hatinya ramai seperti kota itu. Kini, dia menjadi sebatang kara. Untung saja ikatan suci sudah membuat Arda berada di sampingnya. Jika tidak, entah apa yang akan dilakukan Sya dalam hidupnya.


"Sya. Aku mendapat kabar tentang kakakmu," kata Arda kemudian.


Sya langsung menoleh pada Arda. Dia kaget dengan apa yang baru saja dia dengar. Walau Sya tidak bisa menutupi rasa bahagia mendengar hal itu.


"Dimana kakakku? apa dia baik-baik saja?"


"Entahlah. Aku hanya mendapat kabar jika ada seseorang yang melihatnya. Di luar kota," imbuh Arda.


Mata Sya terpejam. Dia mencoba mengatur nafasnya yang terengah-engah karena bahagia. Setidaknya dia masih memiliki harapan untuk kakaknya itu.


"Sebisaku, aku akan menemukan kakakmu."


"Kau janji?"


"Ya. Aku berjanji padamu."


Sya memeluk erat tubub Arda yang tegap. Kembali dia merasakan kehangatan disana. Dia merasa tenang dan terlindungi. Apa lagi, Arda mampu memberikan bukti bukan hanya sebuah janji. Cepat atau lambat, Sya pasti akan bertemu dengan Dava.


***


Berita tersiar keseluruh kota jika Arda Corp akan bekerja sama dengan sebuah perusahaan besar. Banyak wartawan yang datang dan mengelilingi rumah Sya kali ini.


Terganggu? jelas Sya merasakannya. Karena biasanya dia hidup damai dengan buku dan para pelayan di rumah itu. Arda bahkan menyiapkan penjagaan ketat di rumah.


"Apa berita itu benar? kenapa aku tidak tahu."


"Sya. Ini kejutan untukmu. Kau tahu, aku bekerja untuk hal ini. Hal yang lebih besar."


"Aku tahu kau bekerja untuk keluarga kita. Hanya saja aku merasa lebih tenang dengan kehidupan kita kemarin. Jika terus seperti ini, aku tidak akan tenang walau di rumah sendiri."


Arda mendekat dan mengusap kepala Sya perlahan. Dia tahu jika Sya lebih suka ketenangan dari pada ketenaran. Walau begitu, ini adalah konsekuensi untuk pengusaha besar.

__ADS_1


Kamera dan wartawan akan setia mengokuti Arda dan Sya setelah ini. Bahkan, mereka mungkin tidak akan memiliki privasi yang sama seperti sebelumnya.


"Kau harus siap. Dengarkan aku, jika nanti ada kabar yang tidak baik. Kau janji tidak akan meninggalkan aku," kata Arda dengan mata yang menatap pada mata Sya.


"Maksudmu?"


Arda menghela nafas. "Kau tahu jika wartawan sudah mengikuti kita. Mereka akan mencari berita dengan apa yang mereka lihat. Bukan kenyataanya. Aku tidak mau jika nanti kau terluka karena sebuah berita bohong."


"Asal kau jujur padaku. Aku akan setia padamu."


"Baguslah. Aku tidak akan ragu lagi dengan apa yang aku lakukan."


Senyuman Sya mengembang. Dia melihat wajah Arda merasa puas dengan apa yang dia capai saat ini. Mungkin, hal inilah yang dia tunggu sejak awal. Menjadi pengusaha besar yang tidak hanya di kenal oleh satu kota.


"Aku harus pergi untuk menandatangani kontrak itu. Kau di rumah saja."


"Ya. Cepatlah kembali."


Cup. Sebuah kecupan mendarat di kening Sya. Setelah itu Arda keluar, para wartawan mulai mendekat dan banyak bicara. Sya hanya bisa memandang dari dalam rumah.


Beberapa kali Sya menggelengkan kepalanya. Dia merasa sangat tidak ingin jika diposisi Arda saat ini. Banyak orang yang mengerumuni dan banyak bertanya.


"Nona ada telfon," kata seorang pelayan yang entah sejak kapan dia di samping Sya.


Sya menerima telfon itu dan langsung meletakan di telinganya.


"Ini siapa?" tanya Sya yang mendengar suara perempuan.


Perempuan itu tertawa. "Apa kau Sya. Aku Aila, dimana suamimu itu?"


"Untuk apa kau menelfon kesini? bukankah Arda sudah mengusirmu dari kantor."


Kali ini Aila kembali tertawa, namun tawanya bernada mengejek.


"Ya. Dia memang mengusirku dari kantor, tapi dia tetaplah teman dekatku."


"Jadi, kalian masih berhubungan?"


"Kenapa tidak. Keluarga kami bahkan sangat dekat."


Sya dibuat diam karena perkataan Aila itu. Ya, sejak awal memang Arda dekat dengan Aila. Hanya saja, Sya masih merasa tidak senang. Bahkan merasa cemburu berlebih saat Arda dan Aila bersama.


"Katakan pada Arda. Aku ingin dia membuat pesta. Aku akan membawa semua temanku," kata Aila.


"Aku ti..."


Tuuut tuuut tuut. Telfon itu sudah tertutup saat Sya kan menjawabnya. Mata Sya berubah, dia merasa benci dengan apa yang dia dengar. Rasa cemburu bahkan membuat dada Sya terasa panas. Mata Sya mulai berair, tapi Sya menahannya dia tidak ingin menangis karena Aila.

__ADS_1


"Letakan kembali telfon ini," kata Sya pada pelayan yang masih berada di depannya.


"Baik."


***


Mata Sya tidak berkedip juga tidak dia alihkan kemanapun. Saat ini dia hanya menatap TV yang sedang menyiarkan berita tentang Arda. Ada rasa senang dengan apa yang sudah dicapai oleh suaminya.


Hanya saja, hati Sya merasa takut dengan apa yang akan terjadi nanti. Saat ini saja dia sudah banyak mendapatkan ujian setelah pernikahan. Bahkan Aila juga masih berjuang untuk cinta Arda.


Pikiran Sya takut kehilangan suaminya. Mau bagaimanapun Arda adalah pria yang tampan dan mapan. Apa lagi sekarang ditambah dengan ketenaran. Wanita mana yang tidak tergoda.


Sebuah pesan masuk. Eri mengirim pesan dan menanyakan tentang kabar yang dia dapat. Sya membalasnya dengan sebuah kata, ya. Hal itu memang terjadi, dia tidak mungkin bisa berbohong.


"Hallo," ucap Sya sembari mengangkat telfon dari Mila.


"Apa berita itu benar?" tany Mila langsung.


"Ya, Kak. Aku juga baru tahu pagi ini saat sudah banyak wartawan yang mengelilingi rumah."


Kali ini nyonya Ken mengambil ponsel Mila secara paksa. Dia ingin berbicara pada Sya.


"Dia memang selalu begitu Sya."


"Mama," lirih Sya.


"Kau tenang saja. Jika Arda melakukan hal yang salah padamu atau kejam padamu. Katakan saja padaku," ucap nyonya Ken.


Sya tidak bisa menahan senyum. "Dia tidak akan melakukan hal kejam, Ma."


"Kau tidak tahu Arda, Sya. Mulai saat ini kau harus terus mengawasinya."


"Baik, Ma."


"Kalau begitu sudah dulu. Mama dan Mila sedang melihat Arda diberita."


Telfon itu terputus. Sya kembali meletakan ponselnya. Walau begitu dering telfon di rumah itu terus berbunyi. Hampir semua yang menelfon adalah teman Arda dan rekan bisnisnya.


"Aku merasa sangat benci dengan situasi ini," kata Sya.


Setelah memejamkan matanya sebentar. Sya memanggil beberapa pelayan.


"Tolong putus kabel listrik di rumah ini. Aku tidak mau merasa bising terus menerus," kata Sya.


"Baik, Nona."


"Jangan ganggu aku sampai Arda kembali. Aku akan istirahat di kamar."

__ADS_1


***


__ADS_2