
Setelah pertemuan Ruka dan Arda beberapa hari lalu membuat Arda sangat sibuk. Bahkan Arda sampai pulang larut dan berangkat sangat pagi. Hal itu membuat Sya merasa sangat bosan.
Malam ini, Sya sengaja meminta Arda untuk kembali lebih awal. Dia ingin membahas sesuatu dengan Arda. Dia ingin Arda tahu apa yang dia rasakan saat ini. Bukan hanya memikirkan pekerjaan.
"Apa semuanya sudah siap?" tanya Sya.
"Ya, Nona."
"Kalau begitu kalian bisa pergi."
Sya menunggu di ruang makan. Beberapa kali dia mengirim pesan pada Arda, namun tidak dijawab. Sya masih sabar dan tetap menunggu.
Beberapa kali Sya keluar ke depan rumah. Dia berharap Arda akan datang dengan mobilnya. Hanya saja Arda tidak kembali. Lalu, Sya kembali menunggu di dalam.
Kembali Sya mengirim pesan pada suaminya itu. Dia sangat berharap jika saat ini Arda akan membalas. Harapan itu hilang dengan datangnya rasa mengantuk pada Sya.
Di sofa ruang tamu. Sya memejamkan matanya. Dia lelah menunggu hingga akhirnya rasa kantuk mengalahkannya.
***
Arda meregamgkan tubuhnya sembari menatap layar ponsel yang sejak tadi menyala. Dia membuka pesan yang dikirimkan oleh Sya. Arda ingat jika hari ini akan kembali lebih awal.
"Pasti dia masih menungguku," lirih Arda.
Tok tok tok.
"Masuk," ucap Arda.
Aila masuk dengan pakaian kantornya. Hanya saja kemejanya tidak dikancing sempurna. Memberikan kesan sexsy. Bahkan Arda sampai melihat hal yang tidak seharusnya dia lihat.
"Kenapa kau belum pulang?" tanya Arda.
"Aku ingin menemanimu disini. Aku tahu, beberapa hari ini kau lelah. Mungkin aku bisa menghiburmu."
"Tidak perlu. Kau bisa pergi," kata Arda.
Mata Aila berkedip dengan perlahan. Dia mendekat dan mengambil beberapa berkas di meja Arda. Setelah menyingkirkan semua berkas itu. Aila duduk di sana dengan kaki menyilang.
Dia mengerlingkan mata pada Arda. Membuat Arda merasa ada yang salah pada dirinya. Arda mencoba menyibukan diri dengan ponsel di tangannya.
"Jangan munafik Da."
Tangan Aila sudah mulai membuka kancing baju Arda. Arda masih mencoba mencegahnya. Dia tidak ingin menghianati hati istrinya saat ini.
Brak. Pintu terbuka. Sya melihat Arda dengan pakaian terbuka. Sementara Aila duduk dengan posisi sexsy di hadapan Arda.
Sya mencoba tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Hanya saja semua itu nyata. Tes, perlahan air mata Sya menetes.
__ADS_1
"Sya," panggil Arda.
"Apa ini yang kau sebut dengan bekerja? apa ini yang kau sebut berjuang untukku?" tanya Sya dengan derai air mata.
Sementara Aila tersenyum dengan penuh kemenangan. Dia masih meletakan tangannya di tubuh Arda. Arda yang sadar langsung menyingkirkan Aila. Dia ingin mendekat pada Sya, tapi Sya sudah lebih dulu berlari.
Hati Sya terus menjerit dalam keheningan. Dia merasa sudah dihianati saat hatinya percaya. Sya merasa dirinya sangat bodoh, padahal dia tahu Aila adalah sekretaris Arda.
Bruk. Langkah Sya terhenti, dia menabrak seseorang yang tinggi. Dengan air mata yang masih keluar, Sya mendongakkan wajahnya. Dia melihat tatapan Ruka disana.
"Kenapa kau menangis?" tanya Ruka.
Syaa menggeleng dan kembali berlari. Dia tidak bisa kembali percaya pada orang yang baru saja dia kenal. Sya terus berlari walau Ruka beberapa kali memanggilnya.
Ruka melangkahkan kakinya menuju ke ruangan Arda. Dia melihat Arda sedang memarahi Aila dengan kata-kata kasar. Hal itu membuat Ruka tahu apa yang terjadi.
"Apa dia yang sudah membuat Sya menangis?" tanya Ruka tanpa basa-basi.
Aila mendekat dan memeluk Ruka dengan kedua tangannya. Bahkan bajunya juga masih terbuka.
"Kak. Arda sudah menyentuhku tanpa ijin," kata Aila.
Ruka mendorong tubub Aila. Dia mendekat pada Arda dan mengatakan, "Kejarlah istrimu. Aku akan mengurusnya."
Begitu mendengar perkataan Ruka. Arda langsung pergi mencari Sya. Dia sudah membuat hati Sya hancur berkeping-keping.
"Aku mencintainya, Kak. Jadi, aku melakukannya tanpa pikir panjang."
"Dia sudah punya istri. Kau harus ingat itu, aku menyuruhmu kesini bukan untuk cinta yang kau katakan. Aku minta kau dekati Arda dan tahu tentang dia."
"Bukankah dengan cara seperti ini aku bisa dekat dengannya."
"Dasar bodoh. Kau melakukan hal ini dan membuat Arda marah. Apa yang akan dia lakukan selanjutnya padamu. Kau pasti sudah tahu," kata Ruka.
Aila memikirkan apa yang ruka katakan. Jika dia melakukan hal itu. Sudah pasti Arda akan memecatnya. Hal itu akan membuatnya kembali jauh dari harapannya.
"Kak, tolong aku. Aku ingin tetap berada di sampingnya."
"Aku bukan kakakmu. Jangan minta bantuan padaku," kata Ruka sembari keluar dari ruangan itu.
"Kak, aku tahu kau marah, tapi tolong aku."
Ruka tetap saja berjalan tanpa menggubris panggilan Aila. Dia sudah salah memilih orang untuk tahu tentang Arda.
***
Langkah Sya terhenti tepat saat dia hampir melangkah ke jalan raya. Hampir saja dia merasa kehilangan harapan. Ibunya tiada, kakaknya entah dimana, dan sekarang suaminya melakukan hal gila dengan sekretarisnya.
__ADS_1
Sya ingat dengan perkataan Jeremy tentang Arda. Dia juga pernah mengatakan skandal Arda dengan sekretarisnya. Kini, Sya sendiri yang melihat hal itu.
"Sya. Maafkan aku."
Sya menoleh. Air mata masih mengalir deras diwajah Sya. Saat Arda akan mendekat, Sya melangkah mundur. Beberapa mobil lewat dengan kecepatan sedang.
"Jangan mendekat. Aku tidak ingin bersamamu," kata Sya.
"Maaf. Aku akan jelaskan semuanya Sya. Aku mohon jangan pergi."
"Kau sudah membuat aku terluka. Untuk apa kau memberi harapan lagi."
Arda tidak tahu harus berbuat apa. Merasa Sya dalam bahaya, Arda berlari dan menarik tubuh Sya. Diam, Sya hanya bisa menangis di dalam pelukan Arda.
Kesal, sakit hati dan cinta bercampur jadi satu. Sya tidak tahu perasaan macam apa yang sedang dia rasakan.
Setelah beberapa menit. Sya terlihat lebih tenang. Arda memegang tangan Sya dan mengajaknya kembali. Bukan ke kantor, tapi ke rumah mereka.
Dalam perjalanan. Arda terus mengatakan apa yang dia ingin katakan. Dia mencoba menjelaskan sampai Sya akhirnya menatapnya.
"Aku butuh bukti."
Arda dibuat diam oleh Sya. Dia tidak bisa memberikan bukti apapun saat ini. Aila pasti sudah membuat bukti palsu untuk memecah hubungan Arda dan Sya.
Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Arda. Dia tidak berani membuka pesan itu atau akan membuat Sya merasa sakit hati lagi.
"Apa itu dari sekretarismu?" tanya Sya dengan tatapan membunuh.
"Sya aku tidak tahu. Kenapa kau begitu marah sedangkan aku tidak membuat kesalahan."
"Lalu untuk apa kau minta maaf. Secara tidak langsung kau sudah mengakui jika kau berbuat salah padaku."
Arda menghentikan mobil secara mendadak. Dia mengambil ponsel dan menunjukan isinya pada Sya. Dia tidak sadar jika itu pesan dari Aila. Pesan yang sangat mesra.
"Maaf aku membuat istrimu marah. Sayang."
Arda membelalakan mata begitu mendengar kalimat yang diucapkan oleh Sya. Dia melihat pesan itu. Benar, pesan itu memang dikirim oleh Aila.
"Kau memang pembohong besar. Aku tidak menyangkanya. Apa mungkin apa yang dikatakan Jeremy benar. Kau sudah membunuh kakakku."
"Apa maksudmu? aku tidak membunuh siapapun."
"Mana mungkin seorang pembohong mau mengakui kesalahannya."
Sampai di rumah Sya masih diam. Dia masuk ke rumah tapi tidak ke dalam kamarnya. Sya lebih memilih masuk ke dalam kamar yang dulu ditinggali Sima. Dia ingin menenangkan dirinya dulu. Dia tidak ingin bertemu dengan Arda saat ini.
***
__ADS_1