The Way Love

The Way Love
CXXXIII


__ADS_3

Tom meremas gelas ditanganya. Dia baru saja mendapat kabar tentang kembalinya Lufas. Dia tidak menyangka, jika selama ini kemenangan yang dia banggakan adalah palsu.


"Bagaimana kau akan menjelaskan ini?" Tanya Tom pada pengawalnya itu.


"Aku juga tidak tahu hal ini akan terjadi. Kau tahu Bos, aku sudah melakukan semuany untuk membuang bukti."


"Aku tidak mau tahu. Cari tahu bagaimana Lufas saat ini," ucap Tom.


"Baik."


Wajah Tom terlihat begitu gelisah. Dia selama ini sudah tertekan dengan Ben. Kini Lufas sudah kembali, sudah pasti jika bisnisnya akan kembali dihancurkan.


Anna yang diam-diam mendengar semuanya tersenyum. Dia merasa begitu senang mendapat kabar kembalinya Lufas. Selama ini memang dia berharap begitu.


Mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Anna buru-buru menjauh dan duduk di sofa. Dia mengambil majalah dan pura-pura membacanya.


Tom masuk dan langsung menarik tubuh Anna. Anna hanya diam, tapi matanya menatap mata Tom dengan begitu lekat.


"Apa kau sudah melupakan Lufas?"


"Dia sudah mati. Untuk apa aku mengingatnya lagi."


"Baguslah. Anggap saja dia mati."


Anna merangkul leher Tom dengan begitu mesra. Dia sengaja melakukan semua itu, tentunya agar mendapat kepercayaan dari Tom.


"Apa dia masih hidup? Kau terlihat begitu gelisah."


Tom memilih untuk tidak menjawab. Dia langsung mencium bibir Anna. Tentunya agar Anna tidak banyak bertanya lagi tentang Lufas.


Setelah melakukan hubungan itu. Anna masih berbaring di dalam selimut. Sementara Tom sudah bersiap untuk pergi dari vila. Dia ada urusan bisnis.


"Aku akan pulang malam. Kau bisa menungguku," kata Tom.


"Ya. Aku pasti akan menunggumu."


"Jangan lupa minum obatnya. Aku tidak ingin kau hamil saat ini."


Anna hanya tersenyum.


Tom pergi dari kamar. Sementara Anna memikirkan apa yang akan dilakukan selanjutnya. Saat ini, sudah pasti Lufas bersama dengan Sya. Jadi, tujuan Anna masih sama. Membuat Sya menjauh dari Lufas, bahkan menghilang.


"Dia sudah kembali. Lanjutkan lagi pekerjaanmu."


"Baik."


Anna meletakan telfonnya lagi. Dia mengambil sebuah pil lalu meminumnya. Bahkan jika Tom menginginkan anak, Anna akan melakukan apapun agar tidak terjadi. Rasa cinta Anna pada Lufas masih begitu menggebu.

__ADS_1


***


Sya sedang menyiram tanaman saat mobil Lufas terparkir rapi di depan rumah. Sya masih tetap pada pendiriannya. Mencoba untuk tidak mendekat pada Lufas lagi. Meski hati dan pikirannya hanya berisi tentang Lufas.


"Dimana Danendra?" Tanya Lufas.


Sya diam dan masih terus menyiram bunga.


"Sya. Aku bertanya padamu, dimana Nendra?"


Masih tidak ada jawaban.


Lufas yang hilang kesabaran karena dicampakan. Dia mendekat dan langsung menarik Sya ke dalam pelukannya.


Sya kaget. Dia melepaskan peganganya pada selang. Mata dan mata bertemu, tatapan Lufas yang begitu teduh hampir membuat Sya tergoda.


Air yang memercik ke kaki Sya membuat Sya langsung sadar. Dia mendorong tubuh Lufas untuk menjauh. Saat ini Lufas merasa menang, dimata Sya masih ada cinta untuk dirinya. Lufas merasa lebih tenang.


"Dimana anak kita?" Tanya Lufas lagi.


"Bukankah kau biasanya datang dan langsung menemuinya. Kau bahkan tidak pernah bertanya padaku."


"Sya aku sudah minta maaf padamu."


Sya mengambil kembali selang yang terjatuh. Setelah itu dia menoleh pada Lufas.


Lufas memang sengaja datang saat Danendra tidak di rumah. Dia melakukan ini hanya untuk mendekatkan dirinya dengan Sya. Hanya itu niatnya.


"Bolehkah aku menunggu di dalam?"


"Ya."


Lufas masuk ke dalam rumah. Bi Sali menyapa dan langsung membuatkan teh. Sya tahu, tapi dia memilih untuk diam saja. Hatinya sudah merasakan sakit yang mendalam.


Setelah selesai menyiram tanaman. Sya masuk ke rumah. Dia masih saja mengacuhkan Lufas yang terus menatapnya. Risih, tapi dia juga merindukan tatapan itu.


"Bi. Setelah ini aku akan pergi. Aku ada janji," kata Sya.


"Baik, Bu."


Sya masuk ke dalam kamar. Dia melihat jam di ponselnya. Ini saatnya untuk bersiap, dia sudah berjanji akan makan siang dengan Mike. Sebagai rasa berterima kasih untuk apa yang dia lakukan kemarin.


Tidak berlama-lama. Sya duduk di depan meja rias dengan pengering rambut ditanganya. Dia mengeringkan rambut sembari menatap dirinya sendiri.


Bayangan saat bersama Lufas muncul. Dia sering membantu Sya mengeringkan rambut. Kini, Sya sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri.


Kesal. Sya meletakan pengering rambut di meja, padahal rambutnya masih belum kering. Dia memilih untuk memoleskan make up tipis. Tidak lupa pelembab bibir.

__ADS_1


Dengan sebuah dress berwarna nude. Sya keluar dari kamar. Dia juga membawa tas kecil di bahunya.


Rambut tergerai dengan polesan wajah yang tipis tapi menawan. Lufas terpesona dengan kecantikan itu. Kini, Sya berdandan untuk pria lain. Tentu saja hal ini membuat Lufas gerah. Dia berdiri dan akan menghentikan Sya.


"Kau sudah siap?" Tanya Mike yang entah kapan sudah berada di sana.


Sya mendekat dengan senyuman. "Ya. Aku baru saja mau menelfonmu."


"Ayo berangkat."


Sya dan Mike keluar dari rumah. Lufas hanya diam sembari menahan rasa cemburu yang membakar hatinya. Dia masih begitu cinta pada Sya, tapi Sya seperti sudah mati rasa pada Lufas. Perasaan itu membuat Lufas tidak tahu harus apa.


"Kau sudah baikan denganya?" Tanya Mike saat di dalam mobil.


"Siapa maksudmu?" Tanya Sya balik.


"Lufas?"


"Kau sepertinya mengenal baik dia. Belum, aku masih enggan."


"Tapi kau masih cinta kan dengannya?"


Pertanyaan itu membuat Sya diam. Dia tidak tahu apa rasa cinta atau benci di dalam hatinya. Selama ini dia terus mengingat saat-saat bersama dengan Lufas. Entah dengan Lufas, dia bahkan tega tidak memberi kabar padanya selama lima tahun.


Mike memilih berhenti bertanya. Dia tahu Sya masih begitu mencintai Lufas. Hanya saja, dia masih belum mampu melupakan rasa sakit yang Lufas berikan.


***


Lufas, Ben dan Xiu sedang duduk di sebuah ruangan. Lufas marah besar, semua ini ide yang diberikan oleh Xiu dan Ben.


Pada awalnya Lufas tidak setuju, tapi Xiu dan Ben mencoba meyakinkan. Meski Lufas tidak pernah menemui Sya, tapi dia begitu sering menatap Sya dalam kejauhan. Bahkan beberapa kali Lufas mengirim hadiah dan kartu ucapan, tapi Lufas tidak tahu Sya tidak pernah menerimanya.


"Kalian harus bertanggung jawab akan hal ini. Kalian sudah menghancurkan semuanya."


Xiu diam.


"Fas. Kita sudah berusaha menjaga Sya selama ini."


"Kalian menjaganya, tapi kalian tidak mengatakan apapun tentangku padanya."


"Kita sudah berusaha sebaik mungkin." Ucap Xiu.


Lufas begitu kesal. Dia tidak tahu siapa yang saat ini berniat jahat padanya. Ben mencoba meraih Sya saat dirinya tidak ada. Sementara Xiu, mencoba mendekatkan pria lain.


Kali ini Lufas hanya menggelengkan kepalanya. Dia merasa begitu jatuh, apa lagi melihat Sya yang bahagia dengan pria lain.


***

__ADS_1


__ADS_2