The Way Love

The Way Love
XCII


__ADS_3

Arda baru saja turun dari pesawat. Dia memandang kemarahan sekelilingnya. Tempat baru dan suasana yang sangat berbeda. Dengan lembut Mira mendekat dan menggandeng tangan Arda.


Mata Arda menatap lembut pada wanita disampingnya. Wanita yang rela membawanya ketempat Syaheila. Bahkan mungkin tidak ada wanita yang sepertinya.


"Kenapa kau hanya menatapku? taksi sudah menunggu."


Lamunan Arda langsung hilang. Dia tersenyum dan menggandeng erat tangan Mira. Mereka masuk kesebuah taksi yang sudah menunggu.


Disisi lain, Sya sedang duduk dibandara. Dia menunggu seseorang datang. Sampai matanya melihat Mira dan Arda. Sya berdiri dan mencoba mengejarnya, tapi terlambat. Arda sudah masuk taksi.


Jantung Sya kembali berdegup dengan kencang. Perasaan itu kembali muncul dan membuat Sya kembali teringat masa lalu.


Puk. Sebuah tangan menepuk pelan pundak Sya. Sya kaget dan langsung menoleh. Seorang wanita dengan rambut pendek tersenyum padanya.


"Apa kau Syaheila?" Tanya wanita itu masih dengan senyumannya.


Sya mengangguk. Dia sudah tahu begitu wanita itu menanyakan namanya.


"Apa yang dikatakan Lufas memang benar. Kau sangat mirip dengan Nita."


Kali ini Sya tertunduk. Dia kembali ingat pesta itu. Dimana semua orang menatapnya dan memanggil nama Nita. Sangat menyakitkan.


"Jika tentang mirip. Kalian memang sangat mirip. Hanya saja sifat kalian begitu beda."


"Benarkah?"


Wanita itu mengangguk. Masih dengan senyumannya.


"Ayo Bu Xiu. Kami sudah menyiapkan mobil untukmu."


"Terima kasih."


Mereka berjalan menuju mobil. Dalam perjalanan menuju ke kantor. Pikiran Sya masih melayang jauh. Dia teringat dengan Arda. Walau otaknya beberapa kali mengatakan jika Arda tidak ada di kota itu.


Ada rasa menyesal kali ini. Jika saja dia tidak menerima permintaan Lufas menjemput Xiu. Sudah pasti Sya tidak akan melihat pria yang mirip Arda itu. Apa lagi, pria itu bersama wanita. Tangan merekapun bergandengan dengan erat.


***


Sebuah rumah besar berdiri kokoh dihadapan Arda dan Mira. Mira memiliki begitu banyak kejutan untuk Arda. Sebuah tiket pesawat, juga sebuah rumah megah yang akan mereka tempati.


Keterkejutan Arda tidak hanya itu. Saat mereka masuk ke dalam rumah. Kembali Arda dibuat kaget. Semua furnitur dan peletakannya sama persis seperti dirumahnya dulu. Rumah yang dulu di tempati Arda dan Sya.


"Apa kau suka?" Tanya Mira.


"Bagaimana caraku berterima kasih padamu?"


"Cintai aku."


Mendengar hal itu Arda mendekat dan memeluk tubuh Mira. Sampai saat ini, mereka hanya menikah untuk sebuah status. Arda belum pernah menyentuh Mira dengan mesra. Bayangan Sya yang selalu mengurungkan niat Arda.


"Kau istirahat saja dulu. Aku akan membuatan makan malam untukmu," kata Mira disela pelukan hangat Arda.


"Ya. Aku akan menunggumu memanggilku."


Semua sudah Mira siapkan. Bahkan kulkas dirumah itu juga penuh dengan bahan makanan. Mira juga menyiapkan tempat tidur yang nyaman untuk suaminya itu.


Sebelum Mira menikah dengan Arda. Dia pernah menikah dengan seorang pria. Pria yang begitu kejam dan tidak memiliki rasa ampun. Wajahnya memang tampan, hanya saja sifatnya begitu buruk rupa.


Hal itulah yang menjadi alasan Mira berada disamping Arda. Pria yang penuh kasih sayang dan lembut. Walau dulu, Arda juga melakukan hal yang sama pada Sya.


Sementara Mira masak di dapur. Arda melihat-lihat rumah itu. Dia tidak meninggalkan satu detailpun. Sampai di balkon kamarnya. Arda melihat pemandangan yang indah.

__ADS_1


Seorang wanita lewat dengan ponsel ditangannya. Wanita itu adalah Sya. Arda menatap begitu lama sampai tidak berkedip. Hampir saja dia memanggil Sya, tapi sudah terburu Mira memanggilnya lebih dulu.


"Makanan sudah siap. Ayo," kata Mira.


"Ya."


Saat dimeja makan Mira berbicara banyak hal tentang tempat itu. Jika mendengar ceritanya. Sudah pasti Mira begitu mengenal tempat itu. Hanya saja, Arda tidak mendengarkan sama sekali. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri.


Mira yang tahu akan hal itu hanya diam dan melanjutkan makan. Sudah pasti Arda melihat Sya, rumah itu memang sangat dekat dengan Vila Averest. Jadi, Mira tidak kaget lagi.


"Mira. Apa kau tahu? Aku tadi melihat wanita dengan wajah yang mirip dengan Sya."


Mira tersenyum. "Bukan mirip, itu memang Sya."


"Bagaimana kau seyakin itu?"


"Aku sangat yakin karena vila yang ditinggali Sya berada tidak jauh dari sini."


Mendengar hal itu membuat Arda merasa tidak nyaman. Bahkan rasa gelisah suda mulai menyelimuti hatinya itu.


"Nanti malam kau ada rapat. Jadi, makanlah dengan tenang," kata Mira.


"Aku akan melakukanny dengan baik. Kau tenang saja."


Mira mengangguk. Tanpa berkata-kata lagi. Mereka kembali menyantap makanan itu. Dengan pikiran dan perasaan masing-masing.


***


Dengan malas Sya masuk ke dalam rumah. Dia melihat seorang pelayan sedang membesihkan bunga di ruang tamu. Tanpa pikir panjang Sya meminta segelas jus untuk menyegarkan diri.


Belum juga jusnya datang. Sya masuk keruang kerja Lufas. Di dalam ruangan itu Lufas sedang berbicara dengan seseorang melalui telefon.


Perlahan Lufas mendekat dan duduk di samping Sya. Dia mencoba menggenggam tangan Sya, namun dengan gesit Sya menghindar.


"Bagaimana pekerjaanmu hari ini?" Tanya Lufas.


"Apa Bu Xiu begitu penting. Aku bahkan sangat lelah karena kemauanya."


"Itulah alasanku menawarimu pekerjaan ini."


"Setelah ini, kau akan membebaskan aku kan?"


Lufas terlihat berfikir. Lalu dia berkata, "Kita lihat saja nanti."


Kembali Sya dibuat kesal oleh sikap Lufas yang begitu mengekangnya. Hanya karena tidak ingin Sya terlalu dekat dengan Anna. Lufas memberikan Sya sebuah pekerjaan. Menjadi asistennya.


Berulan kali Sya mencoba untuk menolak. Lufas memiliki banyak cara hingga akhirnya Sya setuju dengan apa yang Lufas katakan.


"Aku akan istirahat dikamarku. Jika ada masalah kau bisa menemuiku," kata Sya.


"Tentu," jawab Lufas dengan senyuman.


Sy kembali ke dalam kamarnya. Dia melihat jus sudah berada diatas meja. Sya duduk sembari meminum jus itu. Kembali Sya teringat dengan sosok Arda.


Pikiran Sya masih terus menepis jika itu Arda. Perasaan rindunyalah yang membut halusinasi. Walaupun begitu, Sya masih tidak bisa menolak perasaan rindu akan cinta dimasa lalu.


Sebuah pesan dari Anna membuat lamunan Sya buyar. Dengan senyuman Sya menatap layar ponselnya. Hari ini dia akan bertemu dengan Anna. Sekedar untuk berbagi cerita.


Tanp memberi tahu Lufas, Sya keluar dari kamar dan bertemu dengan Anna. Jika Lufas tahu, sudah pasti Sya tidak akan mendastk ijin untuk pergi. Apa lagi menemui Anna.


Saat berjlan melalui jalan kecil. Sya melihat bayangan seorang pria. Buru-buru di menoleh, wajah yang tidak asing. Sya mecoba wndlat pada pria itu.

__ADS_1


Gagal. Kembali Sya tidak bis bertemu dengan sosok pria itu. Pria yang mirip dengan Arda. Dia sudah masuk kerumah dengan tenang tanpa menghirukan tatapan Sya dibelakangnya.


Sementara di dalam rumah. Arda mengatur nafasnya dengan hati-hati. Hampir saja dia bertemu dengan Sya, tapi hatiny masih belum kuat. Dia belum bisa menemui Sya saat ini.


***


Kembali Sya menyesap minuman ditanganya. Dia baru saja selesai menceritakan semuanya pada Anna.


"Apa kau yakin jika itu mantan suamimu?" Tanya Anna kemudian.


"Aku hanya penasaran. Jika ada waktu, aku ingin menemui pria itu."


"Apa kau masih mencintainya?"


Pertanyaan yang dilontarkan Anna membuat Sya diam. Sya mencoba bertanya pada dirinya sendiri. Apa perasaan itu masih ada, atau hanya perasaan yang tersisa karena kenangan.


Masa lalu memang tidak bisa dihapus. Sekuat apapun kita tidak akan bisa melupakannya. Apa lagi kenangan indah dengan orang yang kita sayangi.


"Jika kau masih mencintai mantan suamimu. Kenapa kau masih bertahan dengan suamimu saat ini?"


"Karena aku tidak bisa lepas."


"Apa karena wajahmu yang mirip dengan mantan istri suamimu?"


Sya menggeleng. Lufas berkata jika dia sudah mencintai Sya. Sya tidak tahu cinta yang dimaksud oleh Lufas. Hanya saja, saat ini Sya belum bisa lepas dari jerat pernikahan itu.


"Bagaimana jika mendiang istri suamimu kembali? Apa suamimu akan melepaskanmu?"


Belum sempat Sya menjawab. Ponsel Sya berdering. Nama bu Xiu tertera dilayar ponsel. Buru-buru Sya mengangkat telfon itu.


"Hallo, Bu. Ada yang bisa saya bantu?"


"Ya. Apa kau bisa datang dengan cepat?"


"Aku akan segera sampai."


Sya menutup telfon dan mengambil tasnya. Sebelum itu Sya berpamitan pada Anna. Tentunya agar temannya itu tidak bingung.


"Aku harus pergi. Ada pekerjaan penting," kata Sya.


"Hati-hati dijalan."


Sya menghentikan sebuah mobil taksi. Dia meminta sopir taksi untuk membawanya ke hotel dimana Xiu menginap.


Sementara Anna masih duduk dengan tenang. Dia tersenyum dengan wajah licik. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Sampai saat Lufas datang dan duduk dihadapannya.


"Aku menang," kata Anna.


Lufas tersenyum sinis.


"Lufas, Lufas. Kau tidak akan pernah bisa meyakinkan Sya jika aku adalah Nita. Kau tidak punya bukti sama sekali."


"Aku juga berharap Sya tidak tahu jika kau adalah Nita. Bagaimanapun aku tidak suk melihat Sya bersedih."


Anna tertawa mendengar apa yang diucapkan oleh Lufas.


"Jangan harap aku akan diam saja. Aku akan membuat Sya tahu keburukanmu. Dan ya, kau akan kembali kehilangan wanita lagi."


Setelah itu Anna pergi dengan mobilnya. Dia terus bersama dengan Sya bukan karena simpati. Hanya karena balas dendamnyabpada Lufas. Anna ingin melihat Lufas hancur.


***

__ADS_1


__ADS_2