
Pandangan mata Sya jatuh pada sebuah kotak berwarna hitam. Kotak itu terlihat indah dan elegan. Sya membukanya, sepasang cincin dengan model terbaru.
"Ma." Panggil Danendra.
"Ya."
Sya meletakan kotak itu dan menghampiri Danendra.
"Ada apa Sayang?"
"Mama sudah melihat hadiah dari Papa?"
"Ha..hadiah?"
"Ya. Kotak hitam itu, Papa ingin memberikannya pada Mama." Danendra menunjuk kearah kotak yang baru saja Sya lihat.
Getaran di hati Sya kembali hadir. Meski begitu Sya langsung menggeleng dengan keras. Dia tidak ingin kembali dalam cinta tanpa kepercayaan.
"Danendra. Apa Papa tadi malam datang?"
"Ya. Saat Mama dan Om Mike pergi."
Memang tadi malam Sya dan Mike pergi bersama. Sementara seorang perawat menemani Danendra. Sya tidak tahu jika Lufas semalam datang.
Di tempat parkir. Lufas masih belum turun dari mobil. Dia masih memikirkan keakraban Mike dan Sya. Mereka tertawa bersama dan bersenda gurau. Ingatan Lufas langsung kembali ke masa lalu. Dimana tawa dan cana itu miliknya.
Buk. Lufas memukul setir dengan begitu keras. Dia merasa marah pada dirinya sendiri. Kenapa dia harus meninggalkan Sya dan membuatnya terpuruk. Jika semu itu tidak dia lakukan, sudah pasti saat ini Sya masih berada disisinya.
Tok tok tok. Lufas menoleh. Kaca mobilnya baru saja diketuk seseorang. Mata Lufas langsung melihat Ben. Dengan senyum datar, Lufas membiarkan Ben masuk.
"Ada apa kau datang?" Tanya Lufas.
"Saat ini geng mafia kita..."
"Aku sudah tidak lagi mengurusinya."
"Maaf, tapi kami membutuhkanmu. Geng milik Tom muncul kembali dan sekarang lebih kuat."
"Jangan libatkan aku, atau Sya dan Danendra akan dalam bahaya."
Wajah Ben terlihat datar, tapi dia mengangguk. Setelah itu Ben keluar dan pergi menggunakan mobil miliknya.
Lufa juga turun. Dia tidak bisa terus duduk sementara Danendra menunggunya. Saat Lufas akan naik ke menggunakan lift. Di dalam sudah ada Mike dan Sya.
Tatapan Sya dan Lufas bertemu, tapi tidak ada kata. Saat ini, Mike hanya menahan senyum. Meski Sya mencoba menyembunyikan segalanya dari dunia. Tetap saja, tatapanny berkata hal yang benar dalam isi hatinya.
"Apa kita jadi pergi?" Tanya Mike.
Sya mengangguk. "Ya. Aku sudah berjanji akan menemanimu."
"Baguslah. Ayo, kita bisa terlambat."
Sya dan Mike melewati Lufas. Jika bukan di rumah sakit dan mengundang keributan. Lufas sudah menarik Sya dan membawanya kepelukan.
***
__ADS_1
Mike masih melakukan sesi pemotretan. Sementara Sya duduk dan melihatnya. Sesekali Sya mendengar komentar negatif dari penggemar Mike. Mereka mengatakan jika Sya adalah gadis murahan.
Meski merasa terluka. Sya hanya diam, saat ini Mike yang sudah membantunya. Jadi, Sya tidak peduli dengan omongan orang lain.
"Sudah selesai?" Sya berdiri dan memberikan air minum untuk Mike.
"Ya. Kita bisa menemui Nendra lagi."
"Apa kau sangat menyukai anak kecil?" Tanya Sya.
Mike tersenyum. "Ya. Apa lagi anakmu."
Mereka berdua tertawa. Tidak tahu jika ada beberapa kamera yang sedang menyorot. Ponsel Sya tiba-tiba berdering. Sya langsung terlihat khawatir melihat siapa yang menelfon.
"Apa ini dengan Ibu Syaheila?"
"Ya. Ada apa dengan Nendra?"
"Saat ini tidak baik. Pasien baru saja dimasukkan ke ruang operasi."
"Apa?!."
Sya menutup telfonya. Dia langsung berlari keluar diikuti oleh Mike. Mereka tancap gas untuk segera sampai di rumah sakit.
Langkah kaki Lufas langsung disambut oleh Danendra. Bahkan Danendra langsung meminta untuk di gendong. Dengan senang hati Lufas melakukannya.
"Bagaiman keadaanmu?"
"Aku baik. Papa?"
Danendra tertawa lepas. Saat itu muncul sebuah video di tv. Lufas dan Danendra melihat Sya yang saat ini bersama dengan Mike. Tulisan di vidio itu membuat Danendra bertanya.
"Apa itu selingkuh Papa?"
Mata Lufas melirik kearah meja. Kotak itu masih disana, hanya posisinya saja yang berubah.
"Pa. Apa ini yang membuat Mama dan Papa tidak pernah bersama?"
Lufas tidak tahu harus menjawab apa. Sampai tiba-tiba Danendra memegang kepalanya dan berteriak kesakitan. Lufas memencet sebuah tombol agar cepat ada pertolongan.
Tidak lama dokter datang. Dia memeriksa keadaan Danendra. Setelah itu meminta perawat membawanya ke meja operasi.
Lufas kaget mendengar hal itu. Dalam kegelisahan itu akhirnya Lufas bertanya apa penyakit yang di derita oleh Danendra. Dengan tenang dokter itu menjelaskan semuanya.
Saat ini Danendra sudah masuk ruang operasi. Lufas duduk dan terus menanti, dia bahkan membatalkan semua pertemuan hanya karena Danendra.
Tidak berselang lama Sya sampai. Dia berlari dan mendekat pada Lufas.
"Bagaimana keadaanya?" Tanya Sya.
Plak. Bukan sebuah jawaban yang Sya terima melainkan sebuah tamparan keras. Sya langsung menatap pada Lufas. Mike yang melihat itu langsung membantu Sya.
"Kau bermain dengan pria saat anakmu begitu membutuhkanmu. Apa itu yang kamu maksud sebagai ibu?" Nada suara Lufas begitu keras, bahkan sampai menggema di lorong.
"Dia masih baik-baik saja saat aku pergi," kata Sya.
__ADS_1
"Dia masih baik-baik saja saat melihat kalian berdua di TV. Dia bertanya apa itu selingkuh. Bahkan aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Sampai dia harus masuk ke ruangan ini."
Lufas menatap ke ruang operasi dengan mata sendu.
Sya tidak tahu jika ada yang merekam kedekatanya dengan Mike. Sya terduduk lemas. Mike dengan sigap memberikannya air minum.
***
Danendra masih koma. Saat ini penyakitnya sudah diketahui, kanker otak. Sya yang mendengar hal itu merasa jantungnya diremas dengan keras.
Beberapa tetes air mata jatuh saat Sya menatap Danendra. Anak yang begitu poloa dan ceria harus merasakan semua ini.
"Percuma saja kau menangis. Dia masih tetap merasakan sakit," ucap Lufas dengan nada kasar.
"Apa menurutmu aku ingin anakku sakit. Kau bahkan tidak ada saat dia pertama kali melihat dunia."
"Jangan terus mengungkit masalah ini. Setidaknya aku selalu ada waktu untuknya. Tidak sepertimu Sya."
Hancur. Hati Sya seperti kaca yang baru saja ditimpa batu. Selama ini Sya tidak memiliki waktu karena perusahaan itu. Kini, Sya harus kembali disalahkan.
"Kembalilah denganku Sya. Kau akan memiliki lebih banyak waktu dengan Nendra. Tanpa harus bekerja."
Sya tidak menjawab. Dia mengeluarkan ponsel dan menelfon seseorang. Dia meminta dibantu untuk mengurus surat perceraian. Dalam waktu itu, Sya hanya berharap bisa bebas dari Lufas. Dia sudah merasa begitu terluka.
Lufas menarik tangan Sya. "Saat ini kamu memilih perceraian. Anak kita sedang berjuang."
"Aku harus tetap waras saat menjaga anakku nanti. Jika aku dan kamu masih bersama dalam ikatan pernikahan yang sudah lama hilang. Aku bisa gila."
"Sya. Jangan lakukan ini. Aku mohon padamu."
Tatapan mata Sya kembali pada tubuh lemah Danendra. Dia tidak mempedulikan apa yang saat ini Lufas katakan. Saat ini Sya merasa terluka karena perkataan Lufas tentang cara asuhnya pada Danendra.
***
Berita terus menyebar. Saat ini berita perceraian Lufas dan Sya juga sudah menyebar. Penggemar Mike merasa khawatir jika Mike akan memilih bersama dengan Sya.
Saat ini Lufas sedang duduk di kantornya. Dia terus memikirkan cara agar perceraian itu tidak terjadi. Bagaimanapun, hatinya masih terpaut pada Sya.
"Sayang. Aku datang untukmu."
Lufas mendongakkan kepalanya. Dia melihat wanita yang begitu ceria dan terlihat masih muda. Dia bahkan menggunakan pakaian yang begitu seksi.
"Kenapa kau datang kesini?" Tanya Lufas dengan wajah datar.
"Aku melihat hubungan kamu dengan Sya berakhir. Jadi, aku putuskan datang untuk menghiburmu."
"Mika. Hubungan kita sudah berakhir. Kau tidak bisa menemuiku lagi. Apa lagi jika sampai Sya tahu."
Wanita yang bernama Mika itu mendekat pada Lufas. Dia bahkan berani duduk di pangkuan Lufas saat itu.
"Kenapa kau takut Sya tahu. Dia sudah tidak mencintaimu. Sekarang, hanya ada aku untukmu."
Dengan lembut Mika memeluk tubuh Lufas. Seorang pria mana mungkin akan menolak godaan itu. Apa lagi, si wanita yang sengaja memberikannya.
***
__ADS_1