The Way Love

The Way Love
XII


__ADS_3

Beberapa pelayan terlihat sibuk dengan tugas yang diberikan oleh Nyonya Ken. Hari ini, Nyonya Ken akan meresmikan cabang perusahaan baru sekaligus hubungan Arda dan Sya. Tentunya akan banyak tamu yang datang.


Sejak pagi, Sya sudah tidak melihat siapapun yang dia kenal. Arda dan Nyonya Ken pergi entah kemana. Sementara Jovi membawa Mila dan Sima mencari baju yang cocok untuk acara itu.


Sya tidak tahu harus melakukan apa disana. Bahkan, ingin membantu saja para pelayan tidak menggubrisnya.


"Nasibku sungguh menyedihkan," sungut Sya.


Merasa dirinya tidak diperlukan diacara itu. Sya memilih untuk membawa sebuah novel ke taman. Dia akan membaca novel itu disana. Setidaknya dia tidak akan mengganggu siapapun.


Brak. Sya menabrak seorang wanita yang baru saja masuk dari pintu utama.


"Maaf," ucap Sya.


Wanita itu tersenyum, "Tidak apa. Aku yang tidak melihat kau disini," ucapnya.


Sya mengangguk. Lalu dia kembali berjalan kearah taman. Baru kali ini Sya melihat wanita itu. Terlihat cantik dan elegan, sepertinya dia bukan wanita sembarangan. Tapi siapa dia?


***


Hampir dua jam Sya berada di taman. Dia bahkan sempat merangkai bunga disana. Walau akhirnya, rangkaian bunga itu dia buang begitu saja. Dia merasa seperti bunga itu, di buat dengan hati namun tidak berguna.


Sya melihat wanita cantik itu mendekat dan mengambil rangkaian bunga itu.


"Kenapa kau membuangnya? ini sangat cantik dan indah," kata wanita itu.


Sya tersenyum kecut, "Kau bisa memilikinya jika kau mau."


"Terima kasih. Aku akan memakainya nanti malam."


Sya mengangguk. Lalu, wanita itu mengulurkan tangan pada Sya. Sya menerimanya dengan terbuka.


"Aila. Itu namaku, namamu?"


"Syaheila. Panggil saja Sya."


"Kau pasti istri dari Arda."


Sya hanya bisa menganggukan kepalanya.


Bruummm, bruummm. Perhatian Sya teralihkan oleh suara deru mobil yang mendekat. Dia tahu itu pasti Arda dan Nyonya Ken.


Langkah Sya meninggalkan Aila di tempat. Sya bahkan tidak mengucapkan sesuatu pada Aila sebelum pergi.


"Kalian sudah pulang?" tanya Sya.

__ADS_1


Nyonya Ken turun dengan banyak barang di tangan. Sya langsung mengambil alih semuanya.


Tuk tuk tuk. Aila datang dan berlari kecil kearah nyonya Ken dan Arda. Dia memeluk Nyonya Ken dengan erat. Lalu, Aila beralih pada Arda. Dia melakukan hal yang sama.


Kepala Sya tertunduk lesu. Bagaimanapun dia memang tidak mencintai Arda. Hanya saja, jika melihat suaminya itu dipeluk wanita lain membuat hati Sya terluka.


"Kenapa kau masih disini?" tanya Nyonya Ken, "Bawa semuanya masuk."


"Baik, Ma."


Berat sekali rasanya membawa semua barang itu sendiri. Sampai di dalam rumah beberapa pelayan mendekat dan membantu Sya dengan semua barangnya.


"Terima kasih," ucap Sya pada para pelayan yang membantunya.


"Kau tahu, aku sangat merindukan kamu. Sudah lama aku baru bisa kembali kesini," kata Aila dengan senyuman.


Sya hanya bisa melihat hal itu.


Tangan Arda memeluk erat pinggang Aila. Dia bahkan tersenyum pada Aila. Iri, Sya merasa sangat iri. Sampai saat ini, Arda belum pernah tersenyum dengan tulus pada Sya. Apa lagi sampai menyentuhnya dengan mesra.


"Istirahatlah. Aku akan mengantarkan kamu ke kamar," ucap Arda pada Aila.


Mereka masuk ke sebuah lorong. Sya merasa tidak sanggup menahan sakit di hatinya. Dia berlari masuk ke dalam kamar.


Sya duduk di tepi tempat tidur. Matanya berkaca-kaca. Dia merasa ada yang salah dalam hatinya.


Tes. Sebuah bulir air mata jatuh di pipi Sya. Entah bagaimana bisa air mata itu keluar. Sya terus merasa hatinya ada yang salah.


"Kenapa kau menangis?"


Kaget. Sya langsung menghapus air matanya dan melihat Arda sudah di dalam kamar. Sya bahkan tidak tahu kapan Arda berada disana.


"Kau sudah pulang? mau aku siapkan air mandi?"


Arda mendekat, "Tidak perlu. Aku akan melakukannya sendiri."


Sya mengangguk.


Bruk. Sebuah tas belanjaan Arda lempar ke tempat tidur. Lalu dia mengatakan, "Kau pakai baju itu saat di pesta nanti."


"Baiklah."


Tok tok tok.


"Biar aku yang membukannya," kata Sya.

__ADS_1


Dia beranjak dari duduknya dan bergegas membuka pintu. Senyuman lebar langsung diberikan oleh Aila. Dia masuk tanpa permisi ke kamar Sya dan Arda.


Arda langsung tersenyum lebar dan menyambut hangat kedatangan Aila.


"Kenapa kau kesini?" tanya Arda.


"Aku ingin menyiapkan air mandi untukmu. Kau suka wangi air lavenderkan? aku akan buatkan sekarang."


Terlihat jelas jika Aila tahu semua tentang Arda. Bahkan sudut kamar Arda, Aila hafal. Sya masih berdiri di pintu. Dia tidak berkutik dengan apa yang dilihatnya.


"Kenapa kau sedih? apa kau mulai cemburu dan mencintaiku?" tanya Arda yang melihat raut wajah Sya.


Sya menggeleng, "Aku tidak mencintaimu. Untuk apa aku bersedih."


"Baguslah."


Tangan Sya meraih sebuah buku dan duduk di kursi yang dekat dengan jendela. Dia mencoba fokus pada buku yang ada di tangannya. Walau hatinya terus ingin menoleh kearah Arda.


"Wow, ini baju siapa? apa baju Sya? ini sangat cantik," kata Aila dan langsung mengambil baju yang berada diatas tempat tidur.


Kali ini Sya meletakan bukunya dan langsung mengambil baju itu dari tangan Aila. Sya menoleh pada Arda.


"Arda yang membelikannya untukku," kata Sya.


Aila tersenyum, "Padahal. Aku sangat ingin baju itu." Aila mengatakan dengan lirih, tapi masih bisa di dengar Arda dan Sya.


Arda mendekat dan mengambil alih baju itu, "Kau pakai saja baju ini. Aku akan membelikan baju lain untuk Sya."


Arda memberikan baju itu. Dengan semangat Aila menerimanya. Kembali Sya merasa terluka dengan apa yang dilakukan oleh Arda. Jelas sekali, Arda sangat tidak menginginkannya.


Aila sudah pergi dari kamar itu, tapi wajah sedih masih terpancar dari Sya. Arda tersenyum kecil melihat hal itu. Dia merasa Sya pantas mendapatkannya.


"Kau merasa terluka?" tanya Arda, "seharusnya setelah ini kau sadar. Mila juga akan merasakan hal yang sama jika kau mendekat pada Jovi."


Tubuh Sya bergetar. Apa yang dikatakan Arda benar, Mila juga pasti akan merasa sangat terluka. Kini, Sya harus benar-benar melupakan Jovi. Dia juga harus belajar mencintai suaminya ini. Walau cinta itu tidak terbalas.


Tangan Arda meraih tubuh Sya. Mata mereka bertemu. Satu memancarkan luka, satu lagi merasa bahagia.


"Jangan harap aku akan mencintaimu. Karena kau tidak pantas mendapatkan cinta. Kau hanya wanita perebut yang aku penjarakan dalam genggamanku."


Setelah mengatakan itu. Arda mendorong tubuh Sya hingga terjatuh. Lalu dia masuk ke dalam kamar mandi. Dimana Aila menyiapkan air mandi untuknya.


"Apa aku sangat tidak pantas mendapatkan cinta," ucap Sya, "hanya karena aku tidak sadar mencintai pria beristri."


Kali ini, Sya tidak menahan air matanya. Dia benar-benar manangis. Dia ingin meluapkan perasaanya. Dia tidak ingin memendam rasa sakit itu.

__ADS_1


***


__ADS_2