
"Bagaimana keadaan Arda saat ini, Dok?" tanya nyonya Ken pada dokter Ol.
Dokter Ol adalah dokter yang selama ini menangani Arda sejak kecil. Walaupun begitu dokter Ol masih belum bisa mengatakan apa penyakit Arda. Bagi dokter Ol, Arda hanya kurang bersosialisasi saja.
"Bagaimana setelah dia menikah?" tanya dokter Ol.
"Sudah ada perubahan, namun masih belum stabil. Kadang dia kasar dan kadang sangat perhatian."
"Apa kau selalu mengawasinya?"
"Ya."
Dokter Ol mengangguk-anggukan kepalanya. Lalu dia mengatakan, "Awasi saja. Jika ada hal yang aneh, kau bisa kembali kesini lagi."
"Terima kasih, Dok."
Nyonya Ken keluar dari ruangan dokter Ol dengan rasa yang lega. Setidaknya, sampai saat ini Arda masih bisa bersosialisasi walau sulit. Dia yang keras dan kadang dingin sulit membuatnya bisa bercengkrama dengan baik.
Ibu Zein melihat nyonya Ken yang berjalan dengan tatapan kosong langsung menghampirinya. Dia ingin mendekat dan sekedar menyapa.
"Kau disini? apa kau sedang memiliki masalah kesehatan?" tanya ibu Zein.
Nyonya Ken tersenyum, "Tidak. Kau tahu kegiatan rutinku."
"Apa tentang Arda?"
"Ya."
Kali ini ibu Zein yang tersenyum.
"Kau sedang apa disini?" tanya nyonya Ken.
"Aku harus cek kesehatan. Kau tahu bukan, aku tidak boleh telat."
"Apa kau sendiri?" tanya nyonya Ken.
"Ya. Sebenarnya Sya akan menemaniku, tapi aku melarangnya."
"Kenapa? kau bisa membawanya jika kau mau."
"Tidak. Bagaimanapun dia adalah istri Arda. Arda lebih berhak atas diri Sya."
Nyonya Ken mengecek jam di ponselnya. Hari ini tidak ada hal yang akan dia kerjakan setelah ini. Dia memutuskan untuk mengajak ibu Zein minum teh bersama.
Sejak pertolongan yang diberikan ibu Zein. Nyonya Ken tidak pernah menganggap ibu Zein orang lain. Dia selalu menganggap ibu Zein adalah kakaknya.
***
Kamar itu terlihat sama. Hanya saja suasananya yang berbeda. Kamar itu terasa lebih hangat dan ceria. Entah karena perubahan sifat Arda atau kedatangan Sya ke rumah itu.
"Aku sudah siapkan baju untukmu," ucap Sya.
Arda tidak menggubrisnya. Dia malah sibuk dengan ponsel yang berada di tangannya.
"Aku su..."
"Lain kali tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri," kata Arda.
Sya langsung diam begitu saja. Apa yang dilakukannya ternyata tidak dilihat oleh Arda. Kadang dia baik kadang juga dia kasar tanpa alasan.
"Apa kau lupa dengan statusmu? kau hanya istri pasluku. Untuk apa kau melakukan semua ini."
"Aku kira kau sudah menerima pernikahan ini."
Arda tidak menjawab. Dia mengambil sebuah jas dari dalam almari. Setelah memakainya, Arda langsung pergi begitu saja. Tanpa pamit dan tanpa kata-kata.
"Sebenarnya orang seperti apa yang aku nikahi?" tanya Sya pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Dengan tangannya sendiri Sya memasukan kembali baju Arda. Dia juga membersihkan kamar itu sendiri. Walaupun mereka sudah melakukannya. Arda dan Sya masih tidur terpisah sampai saat ini.
Tok tok tok.
Sya membuka pintu. Ternyata Eri dengan beberapa baju ditangannya. Dia langsung meletakan baju itu di sofa dan meminta Sya mencobanya.
"Untuk apa semua baju-baju ini?" tanya Sya.
"Kau pilih saja baju terbaik."
"Untuk apa?" Sya tidak paham dengan apa yang dipikirkan Eri.
Tanpa diminta Eri langsung membantu Sya memilih. Kali ini Sya hanya menurut saja. Dia tidak ingin membuat Eri terkena masalah jika dia menolak.
Setelah beberapa baju dia coba. Akhirnya di baju yang terakhir Eri tersenyum dan mengangguk setuju.
"Malam ini kau ada acara menemani nyonya Ken."
"Menemaninya kemana? kenapa harus aku?"
Eri menggelengkan kepalanya, "Apa kau bodoh. Dia akan mengenalkanmu pada semua teman dan koleganya."
Sya terlonjak dengan penuturan Eri. Dia belum siap dengan semua itu. Bagaimana bisa dia akan menemani nyonya Ken nantinya.
"Tidak usah melamun. Kita harus pergi ke salon," kata Eri.
"Tidak," Sya menggeleng, "aku belum siap dengan semua ini. Aku..."
"Siap tidak siap kau harus melakukannya."
Sya tidak percaya dengan jawaban temannya itu. Eri tahu Sya masih belum bisa melakukannya sendiri. Apa lagi dibawah tekanan Arda.
"Eri. Apa kau ingin menjatuhkan aku?" tanya Sya.
Eri yang sedang mengemas baju itu menoleh, "Apa maksudmu?"
"Kau selalu saja mendukung apa yang dilakukan nyonya Ken. Apa kau ingin aku menderita?"
"Kau menganggapku seperti itu?" tanya Eri yang dijawabi anggukan oleh Sya.
"Aku tahu, kamu akan mengira seperti ini. Hanya saja, ini adalah pekerjaanku. Tanggung jawabku."
"Tapi kenapa kau terus memaksaku."
Eri memegang pundak Sya, "Aku tidak memaksamu. Ini sudah menjadi kewajiban kamu saat ini. Kau menantu di rumah ini, kau istri dari Arda Ken. Apa kau mau karena tingkahmu Arda menceraikanmu?"
Sya diam dengan apa yang dikatakan Eri.
"Jika kamu ingin pernikahan ini berakhir. Lanjutkan apa yang kamu inginkan. Tidak usah perdulikan keluarga ini. Termasuk ibumu."
Kali ini Sya masih tidak menjawab apapun. Dia hanya tertunduk dengan rambut yang menutupi wajahnya.
Merasa Sya tidak ingin menanggapinya. Eri keluar dengan baju-baju yang tidak akan dipakainya. Dia harus melakukan pekerjaan lain, Sya sudah bisa apa yang dia ajarkan.
***
"Tolong siapkan kopi ke ruangan Nyonya Ken," kata Eri pada seorang pelayan.
Tidak lama saat Eri akan masuk ke dalam kamarnya. Sya datang dan langsung memeluknya dari belakang. Dilihat dari matanya, Sya seperti habis menangis.
"Maaf, Eri. Aku sudah salah menyangkamu. Kau benar, aku tidak ingin kehilangan ibuku dan suamiku."
Eri tersenyum.
"Ayo kita ke salon. Aku menantu di rumah ini, aku harus terlihat cantik dan elegan nanti," kata Sya kemudian.
Eri melepaskan pelukan itu dan menoleh pada Sya. Dia menatap temannya itu, teman yang sudah dianggap adik olehnya.
__ADS_1
"Masuklah ke mobil. Aku akan menyusulmu sebentar lagi."
Sampai detik ini, Sya tidak bisa membohongi perasaanya sendiri. Dia mencintai suaminya, ya Arda. Sya mencintai Arda dengan segala keanehan yang ada dalam dirinya. Hal itulah yang membuat Sya tidak ingin kehilangannya.
***
Seharian itu Sya dan Eri pergi untuk perawatan. Sya juga sudah siap untuk pergi bersama mertuanya itu. Ada rasa gugup, tapi Eri mampu membuat Sya kembali tenang.
"Apa kau juga akan datang kesana?" tanya Sya yang sudah siap dengan gaun merahnya.
Eri terlihat berfikir, "Aku tidak tahu. Jika kau memintanya, mungkin aku akan datang."
Sya tersenyum, "Aku pasti akan membawamu."
Sebuah mobil berhenti tepat di samping Sya dan Eri. Kaca mobil perlahan turun. Di dalam sudah ada Nyonya Ken dan sopirnya. Dia terlihat seperti biasa, menakutkan menurut Sya.
"Masuklah. Aku tidak suka terlambat," kata Nyonya Ken.
Sya diikuti oleh Eri masuk ke dalam mobil. Perlahan sopir mulai menjalankan mobilnya. Dia masuk ke sebuah hotel mewah dengan segala keindahanya. Sya tidak percaya jika dia bisa datang ke hotel sebesar itu.
"Simpan kekagumanmu itu, Sya. Kau memalukan," kata nyonya Ken.
Karena perkataan itu, Sya menundukan kepalanya. Ternyata hanya sebuah ekspresi saja membuat nyonya Ken tidak suka.
Rasa gugup kini kembali muncul. Sya takut membuat kesalahan dan Nyonya Ken marah. Hal itu sangat menakutkan menurut Sya.
Diawali Nyonya Ken, Sya dan Eri ikut turun. Hanya saja, Eri tidak ikut masuk ke dalam ruangan acara. Dia hanya mengantar Sya sampai di depan pintu saja.
"Kenapa kau tidak ikut ke dalam? aku yang memintamu."
"Sya. Ikuti saja apa yang aku katakan. Jangan Nyonya Ken menunggu."
"Baiklah," Sya masuk dengan wajah menunduk.
Sampai dia ingat, dia harus percaya diri karena dia adalah menantu keluarga Ken. Dia juga harus bangga karena menjadi istri Arda Ken, pemilik Arda corp.
Sya mengangkat kepalanya. Membuat setiap orang yang melihatnya bertanya-tanya tentang dirinya.
"Siapa wanita itu. Apa dia artis baru, atau model di perusahaan Ken?" tanya seorang pria pada teman wanitanya.
"Kau tidak tahu, dia adalah Syaheila Ken. Istri dari Arda Ken. Jadi, jaga pandanganmu."
Sya menemani nyonya Ken menyapa beberapa orang sampai keriuhan terjadi. Keriuhan itu disebabkan datangnya Arda Ken. Dia datang dengan pesonanya yang mampu membuat wanita jatuh cinta.
"Kenapa sifat kerasnya masih saja terpancar," lirih Sya.
Tanpa diduga Arda langsung mendekat pada Sya dan Ibunya. Dia langsung memeluk Sya dengan erat. Padahal baru tadi pagi dia menolak Sya.
"Kau sudah datang?" tanya nyonya Ken.
"Ya. Aku membelikan ini dulu untuk istriku," kata Arda yang langsung menyodorkan cincin pada Sya.
Syaa kaget dan tidak berkedip. Dia merasa pria yang berada di hadapannya ini bukanlah Arda. Dia pria romantis.
Perlahan Arda memakaikan cincin itu di jari manis Sya. Hal itu membuat para wanita merasa patah hati dan iri pada Sya. Mereka merasa lebih cantik dan pantas dari pada Sya.
"Mau berdansa denganku?" tawar Arda.
Sya tidak bisa menolak ajakan itu. Dia mengangguk dengan pipi yang merona. Entah kenapa, sifat Arda mampu membuat Sya terombang ambing dalam perasaan.
"Kenapa kau begitu romantis?" tanya Sya di sela dansa mereka.
Arda menyunggingkan senyum, "Kau istriku."
Sya merasa memiliki dua suami. Satu bersifat keras acuh tak acuh, sedangkan satunya perhatian dan romantis.
Malam itu, Sya merasa di dalam novel. Dia menemukan pria idamannya. Dia berdansa dengan sangat indah. Bahkan bisa memukau siapa saja.
__ADS_1
Arda merasakan getaran aneh di dalam hatinya. Apa lagi saat Sya berdansa dengannya. Getaran itu semakin kuat dan membuat Arda tidak ingin berhenti dari dansa itu.
***