The Way Love

The Way Love
LXIII


__ADS_3

Setelah beberapa hari hanya berada di dalam kamar. Hari ini Sya keluar dengan senyumnya. Walau senyuman itu masih saja menyimpan luka yang mendalam.


Ruka sedang duduk dimeja makan. Beberapa menu makanan berada dimejanya. Meskipun begitu, Ruka memfokuskan dirinya pada ponsel yang berada ditangannya.


Dengan sigap Sya mengambil ponsel itu. Dia melihat ekspresi Ruka yang akan marah. Ketika mata Ruka menemukan Sya dengan senyumannya. Ruka menahan marah itu, dia mengulas senyum untuk Sya.


"Kak. Aku sudah kehilangan anakku, jadi jangan biarkan aku kehilangan kakak juga," kata Sya.


"Maksudmu?"


Sya tersenyum dan mendekat. Dia kembali meletakan ponsel Ruka kemeja.


"Kak, jangan hanya bermain ponsel dan selalu di kantor. Kakak juga harus mencari pendamping hidup."


"Jadi kau memintaku menikah?"


Sya mengangguk dengan senyuman yang tidak hilang dari wajahnya. Sebenarnya, Ruka juga sudah memikirkan hal itu. Dia hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan pada sang wanita.


Melihat menu dimeja belum juga disentuh. Sya duduk dan mengambilkan nasi juga lauk unyuk Ruka. Hari ini dia akan sarapan dengan kakaknya.


"Carikan aku wanita yang tepat. Bagaimana?"


"Tidak mau. Akan lebih asik jika kakak mencarinya sendiri."


"Kalau begitu, kakak meminta bantuanmu."


"Bantuan?" Tanya Sya.


"Ya."


"Baiklah. Bantuan apa yang Kakak butuhkan dariku?"


Melihat ponselnya kembali menyala. Ruka berniat untuk melihat pesan dari siapa itu. Sya langsung mengambil ponsel itu lagi. Dia menatap mata Ruka dengan senyum.


"Sarapan dulu saja. Lalu, kau bisa pergi kekantor."


"Baiklah."


***


Kembali Sya meletakan buku yang dia pegang. Hari ini dia sangat malas untuk membaca buku. Sya mendekat kearah jendela, diluar terlihat cerah dan menyenangkan untuk jalan-jalan.


Kali ini dia memutuskan untuk pergi. Walau untuk jalan-jalan disekitar rumah saja. Dia ingin mencari udara segar agar tidak merasakan bosan yang begitu mendera.

__ADS_1


"Mira. Aku akan jalan-jalan sebentar," kata Sya.


"Apa mau saya temani?" Tanya Mira yang langsung mendekat.


Sya menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu. Aku akan segera kembali."


"Baiklah, Nona. Jika ada apa-apa tolong hubungi saya."


"Tentu."


Baru saja Sya keluar dari pintu gerbang. Sebuah tangan menariknya menjauh dari rumah itu. Sya akan berteriak, tapi sipemilik tangan membekapnya.


Sampai dirasa cukup jauh dari rumah. Orang yang membekap Sya melepaskan bekapan itu. Sya menoleh dan melihat Arda yang berada di belakangnya.


Mata Sya membelalak. Bagaimana bisa seorang Arda melakukan hal itu. Hampir saja Sya menjerit, tapi Arda keburu memeluknya dengan sangat erat.


"Aku sangat merindukanmu," lirih Arda.


Kali ini Sya tidak bisa berkata-kata. Dia hanya diam dengan apa yang dilakukan Arda. Sampai dia ingat jika dia kehilangan kandungannya karena Arda.


Sekuat tenaga Sya mencoba untuk mendorong Arda. Pelukan itu terlepas, pandangan Sya dan Arda bertemu. Sya tidak bisa memungkiri perasaanya. Dia masih mencintai Arda, hanya saja lukanya saat ini benar-benar sulit diobati.


"Apa kau tidak merindukan aku?" Tanya Arda.


Sya hanya diam sembari menatap Arda. Dia tidak tahu harus bicara apa kali ini.


Plak. Dengan keras Sya menampar wajah Arda. Dia kira Arda datang untuk meminta maaf padanya. Ternyata, Arda datang hanya untuk mengatakan hal gila lagi.


"Apa kau marah padaku? Aku akan menerimamu Sya."


"Apa kau datang hanya untuk mengatakan semua omong kosong ini?" Tanya Sya.


"Sya. Aku sudah mau menerima kamu, kenapa kau masih saja keras kepala. Apa kau tidak mencintaiku lagi? Aku sangat mencintaimu."


"Kau bilang kau mencintaiku? Jika memang kau mencintaiku kenapa kau selalu membuat aku terluka. Kau bahkan tidak mau menerima anak dalam kandunganku."


"Sya. Kali ini aku sadar, aku akan menerimannya."


"Sudah cukup. Aku tidak mau melihatmu lagi. Aku benar-benar kecewa padamu. Kau masih saja menganggap aku berselingkuh."


Sya pergi dari hadapan Arda dengan luka hati yang bertambah. Arda mencoba untuk menghentikan langkah Sya, tapi terlambat. Sya sudah kembali masuk kedalam rumah Ruka.


Wajah Sya tidak pernah bisa berbohong. Dia tampak sedih dan kacau. Bahkan saat berpapasan dengan Mira. Sya tidak mengatakan apapun.

__ADS_1


Mira mencoba bertanya, tapi Sya memilih untuk masuk kedalam kamar dan mengunci dirinya sendiri. Mira tahu, pasti ada yang salah saat ini. Mira meminta seorang keamanan untuk mengecek CCTV disekitar rumah.


Jika Ruka tahu apa yang terjadi pada Sya. Sudah pasti Mira lah yang akan kena marah. Karena dia yang diberikan tanggung jawab untuk menjaganya. Sepenuhnya.


Di dalam kamar. Sya memeluk sebuah bantal. Dia merasakan sakit hati yang mendalam. Dia kira, Arda sudah menyadari kesalahannya. Ternyata tidak. Arda masih saja menganggapnya berselingkuh.


Arda juga masih mengira Sya mengandung anak Jovi. Padahal, Sya tidak pernah melakukan hal gila dengan Jovi. Dulu, dia memang pernah memiliki perasaan itu. Hanya saja, perasaan itu hilang dengan seiring waktu.


***


Ruang meeting sudah mulai penuh. Hanya satu kursi yang masih belum terisi. Kursi milik Arda. Ruka menatap kursi itu dengan penuh tanya. Dimana Arda dan kemana dia pergi.


Entah kenapa, Ruka juga merasakan hatinya gelisah secara tiba-tiba. Walau begitu dia mencoba tenang. Tanpa Arda, Ruka memulai meeting itu.


Meeting berjalan dengan lancar. Sampai akhirnya semua orang dibubarkan. Ruka masuk kedalam ruang kerjanya. Disana sudah ada seorang wanita yang menunggu. Aila.


"Ada apa kau sampai datang kesini?" Tanya Ruka.


Aila mengulas senyum. Lalu dia membenarkan posisi duduknya.


"Aku hanya ingin memastikan sesuatu. Sebenarnya, ini masalah Sya. Hanya saja aku tidak bisa menemuinya secara langsung."


"Apa yang ingin kau tanyakan?"


"Bagaimana keadaan Sya saat ini. Sejak kejadian malam itu. Aku merasa sangat khawatir."


Ruka hanya tersenyum tipis. Dia tidak duduk bersama dengan Aila. Dia memilih duduk dikursinya dan menyalakan laptopnya.


"Kenapa kau tidak menjawabku?" Tanya Aila yang merasa kesal karena diacuhkan.


"Adikku baik-baik saja. Kau tidak perlu merasa khawatir."


Aila tersenyum. "Kalau begitu aku akan berkunjung kerumahmu. Aku akan membawakan hadiah untuknya."


"Baiklah. Datang juga dengan Arda saat makan malam."


"Tentu. Kalau begitu aku pergi dulu."


"Ya."


Aila melirik Ruka. Bahkan sampai keluar dari ruangan Ruka. Ruka tidak menoleh sedikitpun kepadanya. Kali ini Aila merasa benar-benar tidak dihargai.


Meski tidak dihargai, Aila merasa tidak terlalu terluka. Yang membuatnya terluka karena kabar Sya. Kabar yang baik-baik saja membuat pikiran Aila kacau.

__ADS_1


Bagaimana bisa kandungan Sya baik-baik saja. Padahal racun yang dia berikan pads minuman itu sudah cukup banyak. Apa mungkin Jovi yang menukar minuman itu? pikir Aila.


****


__ADS_2