
Anna masih duduk dengan tangan bermain dengan sebuah bola kecil. Dia mengamati tanaman dengan begitu serius. Entah mengamati atau dia memikirkan hal yang serius.
Saat ini dia berada di rumah Sya. Sya yang memintanya untuk datang. Hal itu membuat Anna yang awalnya ingin bersantai di rumah memilih untuk datang. Anna hanya ingin mendengar Sya bercerita. Tentang dirinya dan Lufas, juga hubungan mereka.
Entah kenapa, Anna begitu tertarik pada kisah cinta pasangan Sya dan Lufas. Mungkin karena Sya gadis biasa sedangkan Lufas adalah pria kaya. Entahlah.
"Nona. Ini minuman dan camilannya."
Anna menoleh dan melihat seorang pelayan dengan senyuman diwajah.
"Terima kasih La."
Pelayan itu kaget saat mendengar namanya sisebut. Hal itu membuatnya diam di tempat. Tanpa basa basi Anna mengambil nampan ditangan Pelayan itu.
"Kau bisa kembali bekerja atau Lufas akan marah padamu."
Pelayan itu kembali dibuat kaget dengan apa yang dikatakan oleh Anna. Belum sempat Pelayan itu bertanya. Sya sudah datang ke taman belakang.
"Kau masih disini?" Tanya Sya pada Pelayan itu.
"Ma...maaf."
"Tidak apa. Kau bisa pergi sekarang."
Pelayan itu masuk. Walau matanya masih mencuri pandang pada Anna. Sementara Anna sudah mulai memakan camilan yang diberikan tadi.
"Apa kau menyukainya?" Tanya Sya.
"Ya. Aku sangat menyukai kue kering seperti ini. Aku bahkan memilih kue kering dari pada makan."
"Kau berbanding terbalik denganku," kata Sya.
"Tidak apa. Oh ya, dimana Lufas?"
"Aku tidak tahu. Sejak semalam dia pergi."
"Selalu saja," lirih Anna.
Sya kaget, lalu bertanya. "Apa yang kau katakan."
Anna sadar dengan apa yang dia katakan. Lalu dia meralat perkataan itu.
"Tidak. Biasanya dia akan menemuiku dan mengatakan untuk menjauhimu. Jadi, aku mengatakan untung saja dia pergi."
Kali ini Sya mengangguk-angguk. Walau masih merasakan ada yang aneh dari Anna. Bahkan, Sya juga melihat Anna berbincang dengan pelayannya tadi.
"Kau menyuruhku datang. Apa ada yang ingin kau katakan?" Tanya Anna dengan mulut penuh dengan kue kering.
Sya menggeleng. "Aku hanya ingin kau datang dan menemaniku. Apa tidak masalah?"
"Sebenarnya. Hari ini sepupuku akan datang. Jadi, aku harus segera kembali."
__ADS_1
Raut wajah kecewa muncul dihadapan Anna. Anna tahu, Sya sangat membutuhkan teman. Untuk sekedar melupakan masalahnya dengan Lufas. Hanya saja, Anna juga tidak ingin terlihat begitu ingin tahu saat ini.
"Jika tidak ada yang penting. Aku akan pulanh dulu," kata Anna.
"Baiklah. Aku akan mengantarmu."
Hari itu Anna kembali tanpa mendapat kabar apapun tentang hubungan Lufas dan Sya. Jelas Sya kesal saat dibandingkan dengan Nita. Ada rasa benci juga pada Lufas, hal itu terlihat jelas oleh Anna.
***
"Apa kau yakin dia memanggil namamu?" Tanya seorang pelayan berambut panjang.
"Ya. Aku mendengarnya dengan jelas. Bahkan dia juga mengatakan kalimat yang biasa dikatakan oleh Nona Nita."
"Apa kau yakin?"
"Kau sudah menanyakannya tadi."
Lufas mendengar semua itu. Lalu dia mendekat pada kedua pelayan yang sedang berbincang dengan senang. Kedua pelayan itu menunduk begitu tahu Lufas mendekat.
"Apa yang kalian bicarakan benar?"
"Ya, Tuan."
"Siapa wanita itu?" Tanya Lufas lagi.
"Wanita yang biasa datang menemui Nona Sya."
"Kalian bisa kembali bekerja. Ingat, jangan katakan hal ini pada siapapun lagi," kata Lufas.
"Baik, Tuan," kata dua pelayan itu serentak.
Lufas mengambil ponselnya. Dia meminta detektif bayarannya untuk mencari tahu tentang Anna. Tanpa ada yang tahu, apa lagi Sya. Jika dia tahu, Sya akan sangat kecewa pada Lufas.
Tangan Sya masih mengetik pesan dengan wata kecil. Ya, malam itu Sya masih berkirim pesan dengan Anna. Dia menceritakan segalanya. Entah kenapa, Sya begitu percaya pada Anna. Bahkan mulai meninggalkan Eri, teman sekaligu kekasih kakaknya.
Lufas membuka pintu kamar Sya. Melihat Sya yang masih asyik dengan ponsel ditangannya. Tanpa persetujuan Sya, Lufas mengambil ponsel itu dari tangan Sya.
Sya mendongakkan kepalanya dan melihat Lufas disana. Lufas meletakan ponsel itu keatas meja. Dengan begitu Sya mendekat pada Lufas.
"Apa yang kamu lakukan malam-malam begini?" Tanya Lufas.
"Apa aku salah jika memiliki teman?"
"Tidak. Hanya saja ini sudah terlalu malam."
Sya mendekat dan akan mengambil ponsel itu, tapi diluar dugaan. Lufas menariknya masuk ke dalam pelukan.
"Jauhi Anna," bisik Lufas.
Sya mendorong Lufas. Dia menatap kesal paxa suaminya itu.
__ADS_1
"Kau selalu saja memerintahku."
Sya berlari keatas tempat tidur dan menyembunyikan dirinya di dalam selimut. Lufas keluar dengan ponsel milik Sya, dia ingin tahu apa saja yang Sya dan Anna bicarakan. Ini memang tentang privasi, hanya saja Lufas tidak ingin Sya sampai terluka.
***
Arda kembali terlihat begitu depresi saat melihat foto Sya. Dia tidak tahu harus melakukan apa saat ini. Sampai saat Mira masuk ke dalam ruangannya.
"Apa kau mengingatnya lagi?" Kali ini nada bicara Mira terdengar cukup serius.
Arda merasa bersalah. Bagaimana tidak, Mira selama ini selalu menemaninya. Disaat dia terpuruk, namun hanya ada nama Syaheila di dalam hatinya. Berulang kali Arda mencoba melupakan bayangan itu, hanya saja bayangan itu semakin jelas saja.
Brak. Beberapa lembar kertas Mira letakan dengan keras di meja Arda. Arda menoleh pada Mira, dia tidak tahu jika saat ini ada dokumen yang harus dia lihat.
"Apa ini dokumen penting?" Tanya Arda.
"Tidak penting untukku, tapi untukmu."
Dengan pelan Arda mengambil kertas-kertas itu dan mulai membacanya. Dia tidak tahu jika selama ini Mira begitu keras membuat Arda tersenyum. Hari ini Mira berhasil melakukannya.
"Apa kau yang melakukan semua ini?"
Mira mengangguk.
"Kenapa kau melakukannya? Apa karena kasihan padaku?"
Dengan santai Mira duduk di samping Arda. Dia menatap wajah Arda dengan perasaan yang mendalam.
"Aku tidak pernah kasihan padamu. Aku melakukan ini karena aku mencintaimu."
Jawaban itu membuat Arda terlihat tidak senang. Dia berdiri dan hampir membuang semua kertas itu.
"Jangan dibuang."
"Untuk apa aku menyimpannya Mira. Jika kau mencintaiku, untuk apa kau melakukan hal ini."
"Aku ingin kau menemui Sya. Aku ingin kau mengatakan semua yang kau rasakan padanya. Aku hanya berharap Sya menolakmu. Dengan cara itu, kau akan kembali padaku."
"Jika dia tidak menolakku?"
Pertanyaan Arda membuat Mira tersenyum tipis. Mira berdiri dan mendekat pada Arda, perlahan Mira melingkarkan tangannya pada tubuh Arda.
"Aku akan menerima jika kau kembali padanya. Asal kau bisa tersenyum lagi."
Arda tidak bisa melakukan apapun saat ini. Pengorbanan Mira begitu besar untuknya. Hal itu membuat niat Arda goyah untuk bertemu dengan Sya. Hanya saja, rasa bersalah pada kehidupan Sya dimasa lalu membuat Arda kembali mengingatnya.
Mira melepaskan pelukan itu dan berkata, "Makan malam sudah siap. Aku akan menunggumu." Lalu dia pergi.
Kegelisahan membuat Arda tidak tahu harus apa. Jika dia menemui Sya, kemungkinan besar Mira akan terluka. Jika Arda tidak menemui Sya, dia tidak akan pernah tahu apa Sya memaafkannya atau tidak.
Untuk saat ini Arda tidak meminta solusi pada Ruka. Ruka pasti akan mencegah keputusan Arda jika ingin bertemu dengan Sya. Jadi, Arda memilih untuk menyendiri semalaman. Dia akan mencari tahu jawaban semuanya di dalam hatinya.
__ADS_1
***