The Way Love

The Way Love
XXXI


__ADS_3

Arda masih sibuk dengan pekerjaanya. Apa lagi dia juga harus mengurus perusahaan yang ditangani nyonya Ken. Sampai saat ini, nyonya Ken masih belum memberikan perusahaan itu pada Arda maupun pada Mila.


Karena saat ini Arda yang menangani perusahaan itu untuk sementara membuat Jovi tidak senang. Dia merasa jika ibu mertuanya itu sudah pilih kasih. Padahal, dia sudah diberikan satu perusahaan.


"Apa kau sudah mau berangkat?" tanya Sya.


"Ya. Ada meeting pagi di kantor Mama."


"Hati-hati di jalan," ucap Sya.


Arda mendekat dan mengecup pelan kening Sya. Sya hanya bisa tersenyum dengan wajah memerah. Sampai saat ini, Sya masih setia mengurus Arda.


"Nanti siang aku akan ke kantor dan membawa makan siang."


"Baiklah. Aku tidak akan makan di luar nanti," kata Arda kemudian.


Sya mengantar Arda sampai depan rumah. Dia melambaikan tangannya. Sampai saat ini Arda dan nyonya Ken tidak tahu. Sya sudah tidak memberikan obat itu pada Arda. Dia menggantinya dengan vitamin.


Kini Sya sadar. Bukan obat yang mampu membuat Arda bertahan. Dia hanya butuh kepercayaan dan kasih sayang. Walaupun tanpa obat, Arda tetap mencintai Sya.


Setelah mobil Arda benar-benar tidak terlihat. Sya kembali masuk ke dalam rumah. Dia menutup pintu sementara para pelayan menjalankan aktivitas mereka seperti biasa.


Tok tok tok.


Sya menoleh kearah pintu. Baru saja Arda pergi, dia tidak mungkin kembali lagi. Akhirnya Sya membuka pintu rumah.


Jovi berdiri dengan kemeja yang awut-awutan dan bau alkohol. Sya melangkah mundur. Dia tahu jika ada yang salah dengan Jovi.


"Apa Arda sudah pergi?" tanya Jovi.


Sya mengangguk tanpa membuka suara.


"Kalau begitu. Kau pasti ada waktu untukku," kata Jovi yang mendekat dan akan menarik tangan Sya.


Untung saja Sya berhasil mengelak. Jovi tidak bisa menyentuhnya. Mata Jovi terlihat merah, dia terus mengejar Sya sampai di lorong rumah itu.


"Apa yang kamu mau?" tanya Sya.


"Apa lagi. Aku mau kamu saat ini," kata Jovi dengan tawa yang mengerikan.


"Kau harus pergi dari sini. Kau tidak boleh berada di rumah ini."


Tawa Jovi terdengar sangat menakutkan untuk Sya. Saat ini dia tidak tahu harus meminta tolong pada siapa. Pelayan di rumah itu sudah di latih agar buta dan bisu akan masalah di rumah itu.


"Kau sombong sekarang. Apa karena Arda sudah memberikan uang untukmu."


"Jovi. Aku bukan wanita seperti itu. Aku mencintai Arda, begitu juga Arda."

__ADS_1


"Benarkah? apa kau tidak tahu jika Arda juga punya wanita lain di luar sana. Ayolah, kita main sebentar saja."


Sya menggeleng. Dia mencoba terus menjauh dari Jovi. Bagaimanapun dia tidak boleh tersentuh oleh Jovi. Apa lagi memberikan kesempatan pada pria itu.


Sampai saat Sya berlari menjauh. Jovi mengambil vas bunga dan melemparkannya pada Sya. Sya tidak bisa mengelak hingga dia terkena lemparan vas bunga itu.


Perlahan kesadaran Sya menghilang, begitu juga darah yang mulai mengalir keluar. Saat itu, Sya hanya melihat Jovi di depannya. Sampai seseorang datang dan Sya kehilangan kesadarannya.


***


Arda langsung pergi meninggalkan ruangan meeting saat mendengar kabar tentang Sya. Dia tidak peduli dengan meeting itu. Saat ini dia hanya ingin bertemu dengan Sya. Dia ingin melihat keadaanya sekarang.


"Antar aku ke rumah sakit," kata Arda pada sopirnya.


Sementara itu, Sya masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Selang infus tersambung dengan tubuh Sya. Dava menatap adiknya dengan tatapan sendu. Untung saja dia datang dan melihat kejadian itu. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi.


Brak. Arda masuk dan langsung mendekat kesisi Sya. Beberapa kali dia memanggil nama Sya. Hanya saja Sya tidak menyahut.


"Apa kau Arda?" tanya Dava kemudian.


Arda menoleh dan baru sadar jika ada orang lain disana. Arda menatap dengan penuh tanya pada Dava.


"Aku Dava. Kakak Sya."


Arda mengangguk. "Bagaimana bisa kau disini?"


"Sebenarnya aku berniat mengunjungi adikku. Dia ingin mengenalkan aku dengan kau. Saat aku mendengar Sya menjerit."


"Aku tidak tahu siapa pria itu. Yang aku tahu, polisi memanggilnya Jovi."


Mata Arda membulat. Dia tidak percaya jika Jovi kembali mendekati Sya. Kali ini bahkan sampai Sya terluka. Merasa tidak yakin dengan yang dikatakan Dava. Arda meminta polisi yang menangkap Jovi datang.


Polisi itu menjelaskan semuanya. Dia juga mengatakan apa yang dikatakan oleh Dava. Hal itu membuat Arda percaya dengan apa yang dikatakan Dava.


"Maaf aku sudah mencurigaimu," kata Arda pada Dava.


"Tidak masalah."


"Apa kau mau minum kopi bersama?" tawar Arda.


"Boleh."


Arda memang sudah menunggu saat ini. Dia ingin mengenal Dava ini, dia ingin tahu apa benar dia kakak Sya atau bukan. Sementara Arda dan Dava pergi Sya ditemani oleh perawat yang sudah di bayar oleh Arda.


Sampai di cafe depan rumah sakit mereka memesan minuman. Arda perlahan mulai bertanya hal-hal kecil pada Dava.


"Lalu kenapa kau baru kembali pada Sya dan ibumu?" tanya Arda.

__ADS_1


Kali ini wajah Dava terlihat ragu. Dia bingung mau menjawab apa pada Arda.


"Tidak apa jika kau tidak mengatakannya padaku. Kau pasti belum percaya padaku," kata Arda.


Dava tersenyum dan terlihat lebih tenang.


"Kau bekerja apa saat ini?" tanya Dava pada Arda.


"Aku hanya memiliki perusahaan kecil. Setidaknya kebutuhan Sya bisa aku tangani," kata Arda. Dia sengaja berbohong dan ingin melihat reaksi Dava.


"Baguslah. Adikku merasakan hidup yang lebih baik."


"Memangnya hidup kalian dulu seperti apa?" tanya Arda.


Dava mulai bercerita. Dia mengatakan semuanya pada Arda tanpa ragu. Dia juga mengatakan jika Sya sulit untuk mencintai seseorang. Hal itu membuat hati Arda bangga karena bisa dicintai Sya.


Setelah banyak bercerita akhirnya Dava dan Arda berpisah. Dava kembali ketempatnya sementara Arda kembali ke rumah sakit. Dia ingin menemani Sya untuk saat ini.


***


Setelah hampir satu jam menunggu Sya akhirnya membuka mata. Dia masih merasakan pusing dan memilih untuk tetap berbaring. Tidak ada siapapun yang berada di sampingnya saat itu.


"Kau sudah bangun?"


Sya menoleh dan melihat Arda masuk. Dengan sigap Arda membantu Sya bangun. Dia juga langsung memberikan minuman.


"Apa kau yang membawaku kesini?" tanya Sya. Bagaimanapun Sya ingat dengan apa yang terjadi padanya.


"Bukan. Kakakmu yang membawamu."


"Kakak?"


"Ya."


Sya terlihat berfikir. Dia tidak memberikan alamat atau memiliki janji bertemu dengan kakaknya dirumah. Kenapa bisa kakaknya datang dan menolongnya.


"Apa dia mengatakan sesuatu?" tanya Sya.


"Tidak. Dia langsung pergi saat aku datang kesini."


Sya tersenyum. Lalu dia memegang tangan Arda. Arda mendekat, Sya langsung memeluk Arda.


"Jovi sudah diurus oleh polisi. Kau tenang saja," lirih Arda.


"Terima kasih, tapi bagaimana dengan Kak Mila dan Sima. Mereka pasti terpukul."


"Tenang saja. Aku sudah mengurusnya."

__ADS_1


Kini Sya merasa lebih tenang. Suaminya bisa membuat hatinya lega. Walaupun dia masih takut jika Jovi kembali datang dan melakukan hal yang sama.


***


__ADS_2