
Pagi ini Sya baru saja kembali ke apartemen. Dia baru saja melakukan lari pagi. Ya, sejak semalam dia bertekad untuk hidup lebih sehat. Apa lagi saat ini dia sedang mengandung. Dia ingin melahirkan normal dengan bayi yang sehat.
Dengan keringat yang membasahi tubuh dan wajah yang terlihat lelah. Sya masuk ke dapur dan langsung membuka kulkas.
Wajah Sya langsung berubah saat melihat isi kukas yang kosong. Dia baru ingat jika mingguu ini dia belum belanja untuk di kulkas. Sya mengambil air putih dan meminumnya.
Saat ini niat Sya hanya satu. Membersihkan diri dan pergi ke super market untuk membeli kebutuhan di dapur.
Tangan Sya sudah mulai mncatat semua bahan yang habis di rumah. Tidak lupa dia mencatat bahan makanan apa saya yang dia butuhkan untuk satu minggu ini.
Belum juga Sya selesai mencatat semua kebutuhannya. Lufas sudah menelfonya. Hal itu membuat Sya menghentikan pekerjaanya. Dia memilih untuk mengangkat telfon suaminya lebih dulu.
"Kenapa kau begitu lama mengangkat telfonya?" protes Lufas begitu Sya mengangkat telfon itu.
"Maaf. Aku sedang mencatat baan dapur yang habis."
"Apa kau akan pergi keluar?"
"Ya. Aku juga baru saja lari pagi," ujar Sya.
"Apa kau sendiri saat melakukannya?"
"Ya. Aku tidak punya siapapun disini. Aku melakukannya sendiri."
Lufas menghela nafas panjang.
"Kenapa?" Tanya Sya.
"Aku akan segera kirimkan seorang asisten rumah tangga untukmu. Aku tida ingin kau keluar sendiri saat ini."
"kenapa kau melakukannya? Aku bik-baik saja dan bisa menjga diri."
"Sya. Dengarkan aku kali ini," kata Lufas.
"Aku ingin mandiri dan menjadi istri yang baik untukmu. Aku tidak ingin asisten rumah tangga. Paham."
"Aku tidak ingin terjadi apapun padamu," lirih Lufas.
"Tidak akan terjadi apa-apa. kau hanya perlu percaya pada istrimu ini."
"Tentu."
"Bagaimana keadaan Ben?"
"Dia masih dalam masa pemulihan," jawab Lufas."
"Begitu ya. Lalu kau akan kembali kesini kapan?"
"Mungkin nanti sore."
"Lalu bagaimana dengan Ben jika kau kembali nanti?"
"Aku akan memindahkannya ke rumah sakit di kota kita. Tentu saja agar aku masih bisa mengurus kantor dan menjaganya."
"Baguslah kalau begitu."
"Sya, jika kau akan keluar. Hati-hati."
"Iya sayang."
"Apa kau baru saja memanggilku sayang?" Tanya Lufas dengan nada bahagia.
Sya diam karena malu. Dia tidak tahu ada apa dengan dirinya sampai melakukan hal itu.
"Aku akan segera kembali dan memelukmu. Ingat itu."
Begitu mendengarnya, Sya langsung menutup telfonya. Dia merasa begitu malu, bahkan ada rasa aneh dalam dirinya yang membuatnya begitu bahagia.
***
Sya melangkahkan kakinya masuk ke dalam super market. Dia berenti dan menghirup udara disana. Khas super market, pikir Sya. Lalu dia mulai mengedarkan pandangan.
Dia melihat begitu banyak troli yang berjajar. Dengan langkah tenang Sya mendekat dan mengambil salah satu troli.
Tanpa diduga, saat Sya berbalik badan dia hampir saja bertabrakan dengan Anna. Mata mereka bertemu, namun tidak ada kata yang mereka ucapkan.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Anna saat Sya akan melangkahkan kakinya.
"Aku baik-baik saja."
Anna tersenyum kecut mendengarnya. Dia tahu Sya bukan hanya baik-baik saja, dia juga terlihat begitu bahagia. Anna kemudian mengedarkan pandangannya kesekeliling Sya. Sya yang melihat itu mengikuti arah mata Anna.
"Apa kau bersama Lufas?" Tanya Anna selanjutnya.
"Tidak."
"Sudah lama aku tidak bertemu dengannya."
Sya diam mendengar penuturan Anna. Ada rasa kesal karena melihat Anna yang masih berharap pada suaminya.
"Lebih baik jika tidak bertemu lagi. Aku dan Lufas saat ini begitu bahagia."
"Untuk saat ini mungkin kalian bahagia, tapi tidak untuk nanti."
"Sudahlah. Bicara denganmu disini hanya akan membuang waktuku saja. Aku pergi."
Sya berjalan dengan mendorong troli. Sebenarnya Sya bisa saja memaafkan semua yang sudah dilakukan Anna. Bagaimanapun mereka pernah dekat dan berbagi rasa, walau akhirnya Sya lah yang menerima rasa sakit paling banyak.
Dihianati dan dibohongi. Sya menghela nafas saat mengingat semua hal dimasa lalu. Kini kata maaf Sya untuk Anna telah benar- benar hilang. Saat Anna melukai Sya secara fisik dan mental hanya karena Lufas.
Sya menghentikan langkah kakinya. "Fokus Sya. Ingat niatmu datang kesini, bukan membuang neergi. Kau ingin berbelanja mingguan," kata Sya pada dirinya sendiri.
Setelah meluruskan kembali niatnya. Sya berbelanjan dengan senang hati. Dia memilih banyak macam makanan. Bahkan melebihi target dari apa yang dia tulis.
Sya mengambil banyak camilan dan minuman untuk menemaninya membaca sat diapartemen nanti. Sya sudah merencanakan semuanya dengan matang.
"Berapa semuanya?" Tanya Sya pada seorang kasir yang melayinya.
"Total semuanya satu juta dua ratus lima puluh ribu, kak."
__ADS_1
Sya memberikan uangnya dan tersenyum. Setelah mendpatkan semuanya. Sya keluar dari super market itu. Dia menunggu taksi yang sudah dia pesan secara online.
Tidak lama Anna juga keluar. Dia membawa kantung belanjaan kecil. Sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti di depan Sya dan Anna.
"Mau ikut denganku?" tawar Anna.
"Tidak perlu."
"Aku tulus melakukannya. Semua ini untuk bayi dalam perutmu. Aku kasihan padanya, belum lahir tapi sudah dibenci oleh ayahnya."
Taxi yang Sya pesan kebetulan datang. Jadi, Sya tidak perlu berhadapan lebih lama lagi dengan Anna.
"Urus saja urusanmu. Setidaknya, Lufas sudah mulai berubah saat ini. Saat kau sudah tidak menemuinya lagi."
Sya langsung masuk ke dalam taxi dengan semua barang yang dia beli. Hati Sya tidak mersa sakit saat Anna mengatakan semua it. Dia hanya merasa kesal dengan tingkah Anna yang begitu sombong dan mencoba merendahkannya.
Sampai di depan gedung prtemen. Sopir taxi membanatu Sya untuk menurunkan barang-barangnya.
"terima kasih," ucap sya sembari memberikan uang pada sopir taxi.
Sya menatap semua barang itu. Tidak mungkin jika dia akan mengangkatnya sendirian sekaligus. Saat Sya tengah berfikir, nenek Maria datang mendekat.
"Apa semua ini barang-barangmu?" Tanya nenek Maria.
"ya, nek."
"Apa kau akan membawa semua ini secara bersamaan?"
"Aku tidak tahu, Nek. Sangat banyak."
"Apa perlu nenek membantumu membawanya?"
Sya langsung menggeleng. Mana mungkin jika dia harus meminta nenek melakukan hal berat itu. saat Sya berfikir, satpam panjaga apartemen itu keluar dari posnya. Sya langsung meminta tolong padanya.
"Pak, apa bisa membantu saya membawa ini semua?"
"Ya. Kau harus membantunya, dia saat ini sedang hamil," kata nenek Maria.
"Katakanlah sejak tadi jika kau hamil. Aku pasti akan langsung membantumu," jawab pak satpam.
"Terim kasih," ucap Sya.
Satpam itu membantu Sya membawa barang belanjaan. Sya menoleh pada nenek Maria dan tersenyum dengannya. Bagi Sya, orang yang tidak dikenal dan begitu perhatian padanya adalah nenek Maria.
"Nenek mau keana?" Tanya Sya yang melihat nenek Maria menggunakan mantel hangat. Tidak seperti biasanya.
"Aku mau ke rumah cucuku. Dia punya anak kemarin malam."
"Apa kau akan datang kesana sendiri?"
"Ya. Mereka begitu sibuk dan tidak mungkin menjemputku."
Sya menggeleng pelan. Dia tidak mengerti bagaimana nenek Maria begitu besar hati. Dia tidak membenci sama sekali pada keluarganya.
Bagi Sya, keluarga nenek Maria sudah sangat kejam. Membiarkan nenek Maria untuk tinggal sendiri di hari tuanya. Hari dimana dia membutuhkan lebih banyak waktu untuk diperhatikan.
"Lihatlah. Mobil taxi yang menjemputku sudah datang," kata nenek Maria.
"Aku akan segera kembali, sayang."
Sya meihat taxi itu pergi. Sya berharap keluarga nenek Maria akan kembali berfikir untuk tidak mninggalkan nenek sendirian.
Sya teringat dengan satpam yang membawakan brang belanjaanya. Dia bergegas menyusul karena tidak mungkin si satpam tahu kode kunci untuk masuk ke dalam apartemennya.
Benar saja, saat Sya sampai di depan apartemennya. Si satpam masih berdiri mematung menunggu kedatangannya.
"Maaf, aku baru saja mengantar nenek."
Satpam itu menunjukan wajah tidak senang."
"Tolong masukkan semuanya," kata Sya sesaat setelah membuka pintu apartemennya.
Sya yang tidak enak hati pada si satpam langsung membuka dompet. Dia memberikan beberapa lembar uang untuknya. Sebagai tanda terima kaih.
Wajah satpam yang awalnya terlihat tidak senang langsung tersenyum. Sya hanya bisa mengedikkan bahunya. Dia tersenyum melihat tiingkahh aneh itu.
"Apa kau menyukainya?'
Sya menoleh. Wajah Sya terlihat sumringah saat melihat Lufas sudah berdiri di belakangnya.
"Kapan kau kembali? Bukanah kau bilang akan kembali nanti sore?" Sya tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya.
"Aku tidak ingin membiarkanmu sendiri lagi."
"Kenapa?"
"Disaat aku pergi, kau malah memilih seorang satpam."
Sya merasa jika Lufas edang mengatakan jika dia sedang cemburu.
"Apa kau cemburu? dia hanya membantuku membawa barang belanjaan ini."
"Benarkah itu?" Tanya Sya sembari menarik pinggang Sya mendekat.
Sya mengangguk dan tersenyum. Dia memelukkan tangannya pada leher Lufas. Sya merasakan hubungannya dengan Lufas semakin dekat.
"Apa kau benar-benar berbelanj sebanyak ini sendiri?" Tanya Lufas.
"Tidak."
"Lalu dengan siap?" wajah Lufas terlihat bingung.
"Anna. Dia juga di super market."
Mendengar nama Anna, Lufas langsung melepaskan pelukannya pada Sya. Sya menatap tingkah Lufas itu.
"Apa saja yang kalian bicarakan?" Tanya Lufas.
"Kami bertemu kebetulan. Dia menanyakan kabarmu, dia juga mengatakan sudah lama tidak melihatmu."
__ADS_1
"Apakah hanya itu?"
"Tentu saja tidak."
"Apa lagi yang dia katakan padamu?"
"Dia merasa kasihan pada bayiku ini," Sya mengelus perutnya sendiri, "Dia kasihan karena masih dalam kandungan, tapi sudah dibenci oleh ayahnya." Kali ini wajah Sya terlihat sedih.
"Apa kau percaya itu?"
"Entahla. aku hanya merasa sedih."
Setelah itu Sya mengambil belanjaanya. Dia membawanya ke dapur dan meletakan semua ketempatnya.
Entah apa yang terjadi pada Sya. Setelah dia mengatakan semuanya pada Lufas. Bukannya lega, Sya malah merasa sedih dan gelisah. Dia merasa dirinya terlalu bahagia, tanpa memikirkan perasaan anaknya nanti. Saat tahu jika ayahnya tidak menginginkannya.
Lufas memeluk tubuh Sya dari belakang. Dia tahu jika Sya merasa terluka dengan apa yangg dikatakan oleh Anna.
"Aku mencintaimu," bisik Lufas.
"tapi kau tidak mencintai anak kita," jawab Anna tanpa ekspresi.
"Lain kali, jika bertemu Anna. Lebih baik menghindar."
Sya hanya diam.
"Apa kaumarah padaku?"
"Tidak."
"Lallu kenapa kau tidak berbalik dan menatapku."
"Aku lelah. Aku akan mandi dan tidur siang."
Lufas memeluk Sya semakin erat.
"Aku akan mengantarkan kamu ke dokter kandungan besok. Aku ingin melihat anak kita."
Sya menoleh tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Lufas.
"Aku serius," kata Lufas yan mendapat apa itu.
"Kau janji?"
"Ya. Kau bisa istirahat sekarang."
Lufas melihat senyuman Sya yang begitu tulus. Lufas ikut bahagia. Dia memang tidak terlalu memikirkan anak itu, tapi Lufas memikirkan kebahagiaan Sya. Hanya itu.
***
Anna masuk ke vila dengan tatapan beringas. Pagi ini dia berniat untuk jalan-jalan sekaligus mencri inspirasi, tapi dia malah bertemu dengan Sya tanpa sengaja.
Hatinya yang awalnya senang langsung berubah menjadi sakit yang tidak tertahankan. Apa lagi melihat Sya yang begitu bahagia dengan kehidupannya. Mengingat hal itu Anna langsung melempar semua belanjaanya.
Iri, itulah yang dirasakan Anna. Cinta Sya dan Lufas bukanlah cinta yang dia lakukan dengan Tom. Dia dan Tom melakukan cinta yang bahkan tidak dipikirkan oleh wanita manapun.
Kekacauan hatinya membuat Anna tidak tahu harus melakukan apa. Dia meminta pelayannya untuk mengambilkan sebuah baju di lemari atas. Dia akan pergi malam in. Dia ingin bersenang-senang dalam rasa sakit itu.
"Ada apa denganmu Sayang?"
Anna menatap Tom yang berjalan masuk dan langsung memeluknya.
"Apa karena Lufas lagi? Lupakanlah dia."
"Bukan. Entahlah, aku hanya ingin sendiri," kata Anna yang mencoba untuk melepaskan pelukan Tom.
"Saat ini aku tidak ingin kau sendiri. Aku akan menemanimu."
"Apa yang sudah kau lakukan untukku?" mata Anna menatap serius pada Tom.
"Sayang, kau hanya perlu tahu jika rencanamu akan sukses."
Mendengar hal itu Anna kini hanya bisa pasrah dalam pelukan Tom. Tom yang sampai saat ini tidak memiliki cinta murni pada siapapun.
Hanya Anna lah wanita yang memberikan cinta dan tubuhnya pada Tom dengan keputus asaan. Wanita lain mendekati Tom karena uang dan kekuasaan.
Pelayan yang baru saja diperintah Anna langsung menjatuhkan baju ditangganyya. Dia kaget denan pemandangan di depan matanya.
Tom yang tahu hanya trsenyum pada pelayan itu. Seketika pelayan itu berlari pergi. Anna yang tahu jika apa yang dilihat pelayan itu tidak baik. Anna menarik Tom untuk masuk kesebuah ruangan. Dimana tidak ada yang bisa melihat itu.
***
Malam yang hingar bingar. Anna terlihat duduk di sebuah bar yang cukup terkenal. Dia duduk dan sesekali meminum minuman yang disediakan pelayan.
Dia menangis dalam diam. Hancur, saat ini di merasa dirinyaa sudah hancur. Hanya dengan Sya jatuh dan ditinggalkan Lufas. Rasa sakit dalam hati Anna akan hilang.
Tidak disangka. Malam itu Lufas juga berada disana. Dia akan bertemu dengan orang yang sudah menyerang Ben tanpa ampun.
Saat ini Lufas hanya ingin memberikan pelajaran pada orang yang sudah berani mengusik anak buahnya.
Anna melihat bayangan Lufas. Kaget sekaligus bahagia bisa melihatnya. Perlahan Anna bangundari duduknya dan mengikuti arah Lufas pergi.
Sebuah ruangan VVIP dengan beberapa penjaga. Anna yang tahu jika tidak bisa masuk hanya bisa menunggu.
Setelah Anna menunggu dan hampir menyrah. Lufas terlihat keluar. Dia membawa jasnya di tangna dengan tatapan tajam. Anna tersenyum dan langsung mendekat.
Tanpa pikir panjang Anna langsung memeluk Lufas. Kaget. Luas langsung mendorong Anna menjauh darinya. Dia menatap Anna dengan wajah tidak suka. Lalu kemudian kembali berjalan.
"Apa kau tidak merindukan aku?" Tanya Anna.
"Tidak ada alasan aku melakukannya," kata Lufas sembari terus berjalan.
"Bukankah saat ini Sya sedang hamil? dia pasti tidak melayanimu dengan baik."
"Kau hanya perlu diam dan pura-pura tidak mmmengenalku. Itu akan lebih baik bagiku saat ini," kata Lufas lagi.
Anna tidak menyerah. Dia terus mengikuti Lufas sampai saat Lufas membuka pintu mobil. Anna langsung masuk dan duduk di samping kemudi.
Tidak ingin memiliki perdebatan yang tiada habisnya. Lufas memilih untk tidak menggunakkan mobilnya. Dia menghentikan taxi dan pulang menggunakan taxi itu.
__ADS_1
Geram. Anna tidak memikirkan hal ini akan terjadi. Dia kira Lufas bisa digoda, ternyata dia masih saja menolaknya mentah-mentah.
***