The Way Love

The Way Love
CXXX


__ADS_3

`Malam semakin larut. Banyak lampu rumah yang sudah dimatikan. Namun tidak denggya, rumah Sya masih menyalakan lampu pada malam hari. Sya sedang lembur itulah alasanya.


Setelah kembali melihat apa yang baru saja dia ketik. Dia memilih untuk menghentikan pekerjaanya. Dengan suara nafas lega, Sya mematikan laptopnya.


Suara hewan-hewan kecil diluar menjadi pengiring yang selalu didengar oleh Sya. Dia masuk ke dapur dan menyeduh secangkir kopi.


"Biar saya saja yang buatkan, Bu."


Sya menoleh dan melihat Bi Sali berdiri dengan senyuman khasnya.


"Saya bisa lakukan sendiri kok, Bi. Bi Sali belum tidur?"


"Iya, Bu. Banyak nyamuk di kamar."


"Pasang obat nyamuk saja Bi. Aku menaruhnya di laci bawah TV," kata Sya.


"Nanti akan saya pasang, Bu."


Sya mengangguk dan duduk di meja makan sembari menikmati secangkir kopi yang dia buat. Sya juga melihat ponselnya, beberapa pesan dan email masuk.


Mata Sya tertuju pada sebuah pesan tanpa nama. Entah siapa, dan hal itu mmebuasaran. Sya memuka pesan itu.


'Malam. Apa kau sedang sibuk?'


Sya memilih tidak membalas pesan itu.


'Kenapa tidak membalas. Aku Mike.'


Pesan itu masuk. Mike, Sya memikirkan nama itu. Dia merasa pernah mendengarnya. Sya mencoba mengingat-ingat. Sebuah pesan kembali masuk.


'Nona Xiu yang memberikan nomormu padaku. Salam kenal.'


Kali ini Sya ingat siapa Mike. Dia adalah model yang sudah terpilih.


'Maaf. Aku baru saja ingat denganmu'


Sya membalasnya dengan senyum.


'Baguslah jika kau mengingat aku.'


Tidak ada kata yang bisa membuat Sya membalasnya.


'Kenapa kau masih belum tidur semalam ini.'


Kali ini Sya mendengus. Semalam ini dan masih ada yang sempat memberi pesan.


'Apa kau sudah mengantuk?'


'Ya. Sangat mengantuk.'


'Kalau begitu selamat malam dan selamat istirahat.'


Sya memilih mengabaikan pesan itu dan kembali menyesap kopinya. Sya melihat Bi Sali yang hanya diam di meja makan. Hal ini membuat Bi sali penasaran.


"Bi, apa ada masalah?"


Bi Sali kaget saat Sya bertanya. Dia terlihat membenarkan anak rambut yang menutup wajahnya.


"Tidak, Bu."


"Jika ada masalah katakan saja Bi. Apa tentang anak Bi Sali?"


"Tidak kok Bu. Anak satya tidak apa-apa."


Sya mengangguk.


"Oh ya Bi. Selama Bi Sai disini, anak Bi Sali kadang datang. Saya jadi penasaran seperti apa anak Bi Sali."


"Anak saya biasa aja kok, Bu."


"Saya hanya penasaran Bi. Lain kali, pertemukan aku sama anak Bi Sali ya."

__ADS_1


"Ya, Bu. Kalau begitu saya istirahat dulu."


"Ya."


Bi Sali masuk ke kamarnya. Sya juga meninggalkan kopinya dan memilih untuk tidur saja malam ini.


Memang sejak Bi Sai bekerja dengan Sya. Sya belum pernah tahu seperti apa anak Bi Sali. Bahkan anak Bi Sali sudah sering datang ke rumah Sya. Apa karena Sya yang terlalu sibuk, atau karena anak Bi Sali yang datang saat Sya tidak di rumah.


***


Pagi-pagi sekali Sya sudah memakai pakaian yang rapi. Dia sengaja bersap lebih pagi agar bisa membantu Danendra untuk bersiap ke sekolah. Walau memiliki pembantu, Sya tidak mau jika Danendra sampai merasa terabaikan.


"Bangun sayang," ucap Sya sembari menggoyang tubuh Danendra.


Danendra mengucek mata dengan tangannya.


"Ma, aku mau bolos sekolah saja. Aku masih ngantuk."


"Nggak boleh kaya gitu. Ayo bangun, hari ini Mama yang akan mengantar kamu."


Mata Danendra langsung terbuka lebar. Dia merasa senang dengan apa yang dikatakan oleh Sya.


"Aku mau sarapan asi goreng dengan telur mata sapi," kata Danendra.


"Ok. Sekarang mandi, Mama akan siapkan sarapan kamu."


Setelah selesai mandi. Mereka duduk di meja makan dengan tenang. Sarapan kali ini Danedra yang sudah memilihnya.


"Ma, Nendra mau tanya."


"Tanya aja."


"Appa hubungan Mama sama Om Ben?"


Sya meletakan sendok di tangannya.


"Mama sama Om Ben hanya kakak adik. Kenapa Nendr tanya seperti itu sama Mama?"


"Nendra. Memangnya seperti apa Papa Nendra?"


Danendra turun dari kursi dan masuk ke kamarnya. Tidak lama dia kembali dengan sebuah foto di tangannya. Tanpa ragu, Danendra memberikan foto itu pada Sya.


Wajah Sya langsung berubah. Dia tidak menyangka jika danendra benar-benar tahu tentang Lufas. Selama ini Sya tidak pernah memberi tahu Danendra tentang Lufas, apa lagi fotonya.


"Kamu dapat dari mana foto ini?"


Danendra memeluk Sya. "Suah Nendra bilang. Papa yang memberikannya padaku."


"Mama ke kamar dulu ya sayang."


Sya meletakan foto itu dan masuk ke kamar. Saat ini tangis Sya pecah. Di atidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bagaimana Danendra tahu semuanya. Kali ini Sya berfikir jika Lufas menjadi hantu, tapi mana mungkin hantu memberikan sebuah foto.


Sya tidak tahu lagi harus berfikir bagaimana. Dia bahkan tidak menemukan jawaban yang tepat untuk semua ketidak masuk akalan yang terjadi.


"Ma, ayo berangkat. Aku nanti bisa terlambat."


"Ya."


Sya keluar dari kamar dan melihat mobil sudah siap di depan rumah. Tidak lupa Sya meminta Bi Sali untuk belanja keperluan mingguan.


Di dalam mobil Sya terus memikirkan cara agar tahu jawaban dalam semua kejadian ini. Bertanya pada Danendra hanya akan membuat Sya merasa lebih kebingungan.


Bahkan selama ini Bi sali hanya diam padahal dia yang selalu menjaga Danendra. Jika menyewa detektif, mungkin detektif itu akan mengira Sya bohong dan sedikit tidak waras.


"Ma. Aku masuk ke kelas dulu ya."


Sya akhirnya sadar dari lamunan panjangnya. Dia turun dari mobil dan mengantar Danendra sampai masuk gerbang sekolah. Sebelum itu Sya masih sempat mencium kening Danendra.


"Jika Bi Sali belum menjemput kamu. Kamu nggak boleh pulang dulu ya."


"Siap Mama."

__ADS_1


"Masuklah."


Sya kembali masuk ke dalam mobil. Dia bergegas untuk datang ke kantor. Sebuah pesan masuk ke ponel Sya.


'Apa kau berangkat ke kantor?'


Pesan itu Mike yang mengirimnya.


'Ya.'


'Bisa kita sarapan bersama?'


'Tidak. Aku sudah sarapan.'


'Bagaimana jika menemaniku sarapan?'


Sya memilih untuk memtikan ponselnya. Bagi Sya, Mike terlalu agresif. Padahal merekaa hanya kenal melalui pesan singkat.


"Semua ini karena Xiu."


Sya meminta sopir untuk lebih dulu ke rumah Xiu. Dia ingin protes dengan apa yang sudah Xiu lakukan.


Tidak membutuhkan waktu lama. Sya sampai di tempat Xiu. Saat ini Xiu sedang menikmati makanan mewah untuk sarapannya. Sementara Sya hanya duduk dan menikmati jus yang ada.


"Ada apa kau datang sepagi ini?"


"Kau memberikan nomorku pada Mike?"


"Ya." Jawab Xiu tanpa merasa bersalah.


"Kenapa kau melakukannya?"


"Aku melakukan semua ini karena tidak mau kau menangis karena Lufas setiap hari."


"Aku sudah lama tidak menangisinya."


"Lalu bagaimana saat Nendra mengatakan tentang papanya itu."


Sya diam.


"Terima saja Mike masuk ke dalam hidupmu. Dia asik, kok."


"Kenapa tidak kau saja yang bersama dengan Mike?"


"Aku tidak menyukainya. Kita hanya teman."


Sya berdecak.


"Aku tahu dia mengesalkan. nanti setelah kau kenal baik, kau akan paham dengannya."


"Aku tidak ingin melakukannya Kak Xiu," nada Sya penuh penekanan.


Xiu tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Sya. Sejak tidak ada Lufas, hanya ada Ben yang dekat dengan Sya sebagai seorang pria. Selain itu tidak ada.


"Apa kau mau dengan Tom?" Tanya Xiu kemudian.


"Aku bahkan tidak ingin mengenalnya."


"Aku kira kau akan menyukai Tom karena dia menikah dengan Anna."


"Apa maksudmu Kak?"


"Tidak." Xiu masih saja tertawa.


Sya yang kesal menenggak semua minuman yang berada di gelas.


"Aku akan ke kantor."


"Ya. Hati-hati di jalan."


***

__ADS_1


__ADS_2